NovelToon NovelToon
Jejak Kaki Di Kotaku

Jejak Kaki Di Kotaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: A.T. Setiawan

Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.

Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.

Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Adu Siasat

Malam Minggu rame-rame dengan teman sepantaran satu sekolah sangat mengasikkan.

Walau masih ada rasa kesal dengan hukuman yang kami terima, sangga Yos Sudarso siap tampil di semua acara penilaian Kemah Bakti Sosial SMA kami.

"Kita harus kejar defisit nilai minus kita supaya semua tahu siapa kita sebenarnya." Erwin yang ditunjuk secara aklamasi menjadi ketua sangga Yos Sudarso mulai berpidato menjelang acara lomba ngeceng yang akan digelar oleh kakak kelas panitia kemah.

Setelah kerja bakti membereskan makam desa, malam keakraban menjadi momen sakral yang ditunggu semua murid peserta kemah.

Bagi kebanyakan murid laki-laki itulah momen yang ditunggu-tunggu untuk menunjukkan jati dirinya. Murid perempuan juga bebas menunjukkan pesonanya.

"Kamu ikut lomba nanti malam Pras. Tunjukkan sangga kita sebagai pilar daya tarik para gadis." Erwin mendadak menunjuk diriku mengikuti lomba itu.

"Wah .... males. Mending si Firman atau Tato aja Win !" Aku menolak mentah-mentah perintah Erwin.

"Enak aja .... Gak mau .... Malu !" Mendengar usulanku, Firman dan Tato juga menolaknya.

"Begini Pras ....," nada bicara Erwin melunak. Dari seringainya, otaknya ku tebak sudah penuh dengan tipu daya licik yang tak bisa ku bantah untuk mengikuti perintahnya.

"Pokoknya maleeees ...." bantahku lagi.

"Dengarkan dulu pren," dia mulai melakukan rayuan liciknya.

"Iya Pras. Jangan membantah ketua kalau belum selesai bicara .... Hormati ketua kita !" Juli malah pura-pura membela Erwin sambil cengengesan, membuatku membiarkan Erwin meneruskan omongannya.

"Kamu tuh walaupun gantengnya kalah denganku, tapi otakmu paling encer diantara kita semua .... Nanti kalau ada pertanyaan berapa anak pendiri Pramuka bagaimana ?" Seperti dugaan ku, bocah jabrik itu terbahak menyanjung sekaligus menjatuhkan diriku.

"Gak bakalan ada pertanyaan ngawur itu !" Aku ikut terbahak.

"Eh berjaga-jaga loh Pras. Pokoknya kalau soal tanya jawab ilmu kan kamu jagonya .... Dah tolong kami pliiiiis ....Pintu surga menantimu," lanjut si jabrik.

Tentu saja kami semua akhirnya tertawa melihat mimik memelas Erwin.

Akhirnya setelah perdebatan ngawur kami, Aku menerima tantangan mengikuti lomba ngeceng dengan satu syarat .... Tak ada yang boleh mengenaliku ....

Walau terbiasa main bola di hadapan ratusan penonton. Ikut lomba ngeceng dan berlenggak lenggok kayak peragawan bukan tipeku ....

***

"Suit suiiiit ...." Erwin mulai berisik dengan suitan nya saat lomba dimulai. Semua murid perempuan yang beraksi di tengah lapangan dikomentarinya.

Melihat tontonan lomba yang baru kulihat tentu saja membuat keringat dinginku mengucur deras.

Jika di pertandingan bola Aku tak sendirian di tengah lapangan di hadapan ratusan pasang mata yang menonton, Aku tak bisa membayangkan diriku nanti sendirian di sana .... Melenggak lenggok seperti mereka ....

"Tuh Pras .... Eliza mu !" Erwin berteriak ke arahku di tengah riuh sorakan penonton.

Melihat Eliza bergaya dengan luwes tak pelak membuat jantungku semakin berdebar kencang. Kuakui malam itu dia terlihat sangat cantik ....

"Hihihi .... gak usah grogi Pras," goda Firman melihat diriku salah tingkah di dekatnya.

"Sial bener ya, kok Aku mau-maunya ikut lomba ini," gumamku lirih.

Setiap perwakilan sangga terus beraksi dengan kelebihan masing-masing. Persaingan meraih poin setinggi mungkin semakin ketat mendekati tengah lomba.

Tidak seperti sangga ku yang lebih sering ribut daripada memikirkan acara kemah, sangga lain mempersiapkan dengan matang semua acara yang akan diikutinya.

Tak heran semua peserta lomba tampak berbeda dengan pakaian bebas yang memang sudah dipersiapkan sejak lama.

Aku yang sama sekali tidak tahu bakalan ada lomba ngeceng seperti itu tentu saja kelimpungan dengan apa yang harus kupakai untuk mengikutinya.

"Peserta berikutnya .... Beri tepuk tangan meriah untuk sangga Yos Sudarsoooo .... !"

Lalu giliran ku beraksi tiba. Erwin mendorongku untuk masuk ke tengah lapangan, "cepat Pras .... Santai aja !"

Aku melangkah dengan kaku ke tengah lapangan sambil berdoa supaya tak ada yang mengenaliku ....

"Huahahaha .... koplak !"

"Lengoooob ....!"

"Ngacoooo ...!"

Malam itu lapangan desa Tumiyang menjadi ajang uji nyali ku. Yang tak kuduga para penonton seperti histeris dengan tawa lepas melihat penampilan ku dan bersorak bareng.

Bercelana pendek dengan kain sarung terikat kencang yang ku kerudungkan di kepala dan hanya menyisakan mata ku, Aku terus berputar masa bodoh ke sekeliling lapangan .... Dengan membopong ayam jago Firman ....

"Inilah tema peserta sangga Yos Sudarso .... Jangan main hakim sendiri untuk kebaikan !"

Mendengar tema yang barusan diucapkan kakak panitia, entah kenapa hatiku merasa ada sesuatu yang aneh.

Lalu tiba-tiba saja seluruh sangga ku masuk ke lapangan. Firman dan Juli menangkap ku. Igun, Tato, dan Iwan berpura-pura memukuliku.

"Maling ayam ! .... Gebugin ....!" teriak Tato.

Tentu saja lapangan semakin ramai dengan gelak tawa melihat tontonan teatrikal dadakan yang Aku sendiri gak tahu dari awal.

Lalu Erwin nongol ..... Berakting menjadi protagonis dengan merangkul ku dan melindungi ku dari amukan.

"Jangan lakukan itu .... Dia juga manusia ! .... Kita serahkan saja ke yang berwajib !" Teriakan Erwin mengakhiri sesi lomba .... Dan yang bikin Aku kesal, si jabrik gemblung itu malah mencopot sarung yang menutupi wajahku sambil berpura-pura kaget .... "Aduh Pras, kenapa kamu lakukan ini ?" pungkasnya sambil menyeringai puas ke arahku ....

Dan anehnya ..... Tepuk tangan panjang diberikan seluruh penonton ke arah kami saat meninggalkan tengah lapangan ....

***

"Bangkrek .... Asuuuu !"

Seusai lomba sampai kembali ke tenda Aku terus menyumpahi Erwin yang terbahak puas di depanku sambil menghindari toyoran tangan ku ke kepalanya.

"Sudahlah Pras, berkat dirimu kita dapat poin tinggi loh. Kita juara favorit !" Firman ikut ikutan menggodaku.

"Bajindul ! ... Ide gila siapa ini !" seruku dengan kesal. "Kalian bedebah laknat !" ujarku lagi dengan sengit.

Siapa sih yang gak kesal .... Susah payah menghilangkan rasa grogi dan menghindari setiap orang mengenali ku malah dihancurkan oleh skenario dadakan Erwin yang berhasil menghasut sangga ku.

"Tenang aja Pras, kan pas dirimu jadi juara favorit, Eliza juara utama." Tak ada beban, Erwin terus nyerocos sambil keluar tenda. "Dah kamu sante aja dulu menikmati medali juara favoritmu, biar aku urus ayam buat dipanggang," katanya lagi sambil terkekeh.

"Los .... pergi jauh sana !" teriak ku.

***

"Pras tuh ada yang cari," suara panggilan Juli mengalihkan keasikan ku mendengarkan lagu Final Countdown-nya Europe dari Walkman Juli.

Kesal ku seperti yang sudah-sudah tak akan berkepanjangan setelah saling menyingkir sejenak dari Erwin.

Kali ini Aku mengakui kekalahan diriku dari permainan liciknya. "Tenang aja Win .... Ada saatnya pembalasan yang lebih kejam," kata hati kecilku.

"Siapa Jul ?" tanyaku sambil beranjak ke luar tenda.

"Siapa lagi kalau bukan juara utama." Juli terkekeh melihat Aku keluar tenda.

"Suit .... suit .... janjian ni yeeeee ...." Mulut usil Firman dan Tato bergantian menggodaku saat mendekati sosok yang mencariku.

Tak mempedulikan ocehan gerombolan itu, Aku mendekat ke depan tenda.

"Hihihi .... sudah dibebaskan Pras ?"

Seperti dugaanku, Eliza mulai menggoda kesialan ku kena ulah Erwin.

"Ah brengsek tuh si jabrik," gumamku. "Eh ngapain kalian ke sini rame-rame ?" ujarku heran melihat kedatangan Eliza, Arin, dan Sarah berbarengan ke tenda laki-laki.

"Kan nengok maling ayam ketangkep .... hihihi ...." ujar Arin. Tawa renyahnya diikuti Eliza dan Sarah.

"Sudahlah .... Apa kalian masih belum puas melihat ulah Erwin terhadapku ?"

"Iya iya .... kami tahu itu pasti ulah Erwin .... Sekarang mending kamu ikut kami ke tenda panitia," ajak Eliza setelah tawa mereka mereda.

"Ngapain ?"

"Katanya sih besok pagi kita disuruh menemani ketua panitia menghadap pak Kades untuk menyerahkan bantuan," jawab Eliza.

"Ikut dong ...." Erwin tiba-tiba ikutan nimbrung.

"Ah jangan ketua .... Ayam panggang kita siapa yang urus !" teriak Firman dari jauh. Rupanya dia ikutan menguping obrolan di depan tenda.

"Iya, selesaikan dulu dong ketua !" Juli ikutan berteriak sambil mengangkat ayam dari air mendidih di panci.

"Iya tuh Win, nanti kita ke sini lagi kok." kata Arin. Tatapannya sengaja disayukan ke arah Erwin.

"Waow jika itu memang kehendak mu, aku rela menunggu kedatangan love ku lagi," ujar Erwin dengan seringai liciknya.

Paham Erwin akan berbuat ulah, Eliza menggamit tanganku, "yuk Pras ketemu dulu sama kakak panitia. Jangan sampai kita telat," ajaknya lekas.

Tentu saja Aku girang dengan ajakan Eliza di depan hidung Erwin. Apalagi Arin turut memanas manasi dengan melingkarkan tangan nya ke pinggangku. "Dadaaaah dulu ketua." Aku terbahak sambil melambaikan tangan ke arah Erwin yang mendelik sengit ke arahku.

"Hati-hati si Pras pakai susuk loh say !" Dari jauh si Jabrik berteriak rusuh melampiaskan gejolak hatinya ....

***

*Ngeceng : jual tampang untuk memikat lawan jenis.

1
Dhatu Lukita
⭐5 sama 🌹 buatmu thorr,💪💪💪
Dhatu Lukita
ahhh matakuuu 😄. kukira ngac*ng🤭🙏
Wawan: 🤭🤭🤭... ada tuh di Gugel ngeceng ... tren 80an .... sekarang jadi mejeng kali biar gak salah baca 😄🤣
total 1 replies
Dhatu Lukita
🌹❤️
Dhatu Lukita
klo di daerah ku ndableg itu nakal, heheheh
Wawan: angel dikandani 😄✍️
total 1 replies
Dhatu Lukita
oh iya2 ceritanya tahunny masih dibawah 2000 ya, jaman dulu kata mak sih udh banyak uang 200 rupiah ya bang.
Wawan: SD sangu masih 5 perak 🤣🤣🤣
total 1 replies
Dhatu Lukita
menjejeli wae lo😄
Dhatu Lukita: nyuweni og😄
total 2 replies
Wawan
Gug gug ✍️
Zed Analytical Number Nine
boy itu hewan apa?
penulismisterius
ini walaupun latarnya tahun 80, tapi jokes dan ceritanya tidak lekang oleh waktu. tetap cocok di baca kapanpun 🐳🐳
hehe ada ada aja kelakuan Pras sama teman-temannya
Wawan: Tengs atensi nya .... 💪✍️
total 1 replies
penulismisterius
tolong Erwin di karungin dulu, biar tidak mengganggu Eliza🐳
Wawan: 🤣🤣🤣... mau bagaimana lagi .... dalam satu tongkrongan pasti ada biang kerok
total 1 replies
penulismisterius
ternyata ospek jaman dulu begini😭,
sebagai gen z merasa bersyukur karena ospek paling pake name tag kardus, cari tanda tangan osis, 😭😭🐳
Wawan: Wah pokoknya penuh dengan rasa dendam turun temurun 🤣✍️
total 1 replies
SenandikaMaret
malah jadi bahan tontonan 😅
Wawan: bocah laki-laki baru gede tahun 90an ya kayak gini hiburannya sebelum ada hp dan segala macam digital
total 1 replies
SenandikaMaret
berita bohong itu biasanya emang lebih dipercaya 😂 sabar yaa 🤣
Wawan: Begitulah putih abu-abu .... menyenangkan👍
total 1 replies
penulismisterius
3 kali bunga mawar untuk pras, semangat terus thor updatenya
penulismisterius: yoiii sama-sama , thor wawan
total 2 replies
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Bagi dong beberapa ekor
Tio Buki
Ayuk, kemana
Tio Buki
Hahaha. Hahaha.Hahaha...
Tio Buki
Eh, malah minta tolong dia
Tio Buki
Rasain kamu🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!