Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9 siapa selingkuhan suaminya
Keesokan paginya Nadia datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Wajahnya tetap tenang, langkahnya tetap anggun, dan penampilannya tetap profesional seperti partner senior yang selama ini dikenal seluruh firma. Tidak ada seorang pun yang akan menduga bahwa semalaman ia hampir tidak bisa tidur.
Namun di balik ekspresi tenang itu, pikirannya terus bekerja.
Sejak meninggalkan rumah keluarga Mahendra kemarin, satu pertanyaan terus mengganggunya.
Siapa wanita yang selama ini berada di dekat Adrian?
Siapa wanita yang pergi bersamanya ke tempat-tempat yang tidak pernah ia datangi?
Siapa wanita yang menerima perhatian yang selama ini perlahan hilang dari pernikahannya?
Nadia tidak memiliki jawaban.
Tetapi sebagai seorang pengacara, ia terbiasa mencari fakta dari hal-hal kecil yang sering diabaikan orang lain.
Dan pagi itu, tanpa sadar, matanya mulai mengamati setiap wanita yang berada di sekitar Adrian.
Biasanya Nadia tidak pernah memperhatikan kehidupan pribadi rekan-rekan kerjanya.
Ia datang untuk bekerja, menyelesaikan kasus, lalu pulang.
Namun hari ini berbeda.
Setiap kali melihat Adrian berbicara dengan seseorang, Nadia tanpa sadar memperhatikan lebih lama.
Saat seorang associate wanita menyerahkan dokumen kepada Adrian, Nadia memperhatikan bagaimana mereka berbicara.
Saat sekretaris tim Adrian tertawa karena sebuah candaan, Nadia memperhatikan ekspresi suaminya.
Saat beberapa pengacara wanita berkumpul di ruang diskusi bersama Adrian, Nadia kembali memperhatikan.
Mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu bentuknya seperti apa.
Sore harinya Nadia berdiri di balik dinding kaca ruang kerjanya sambil memandangi area kerja partner.
Dari tempat itu ia bisa melihat cukup banyak aktivitas kantor.
Adrian sedang berdiskusi dengan beberapa orang mengenai sebuah perkara besar yang akan segera disidangkan.
Namun justru itulah yang membuat Nadia semakin gelisah.
Karena jika memang ada seseorang, maka hubungan itu pasti sudah berlangsung cukup lama hingga mampu disembunyikan dengan sangat baik.
Pikirannya kemudian beralih kepada satu nama yang membuatnya tidak nyaman.
Vania.
Sahabatnya sendiri.
Wanita yang sudah dikenalnya sejak masa kuliah hukum.
Bahkan Vania termasuk sedikit orang yang mengetahui perjuangan Nadia menghadapi penolakan keluarga Mahendra saat masih berpacaran dengan Adrian.
Karena itu Nadia langsung merasa bersalah saat nama sahabatnya muncul dalam pikirannya.
Namun ia tidak bisa menghentikannya.
Vania memang dekat dengan Adrian.
Sangat dekat.
Bukan dalam arti romantis.
Setidaknya selama ini Nadia selalu berpikir demikian.
Mereka sering bekerja dalam tim yang sama.
Sering menghadiri rapat bersama.
Dan cukup sering bercanda satu sama lain.
Hal yang selama ini tidak pernah Nadia permasalahkan.
Bahkan Nadia sendiri yang sering meminta Vania membantu Adrian ketika ada kasus yang rumit.
Namun sekarang, setelah semua kecurigaan yang muncul beberapa hari terakhir, hal-hal yang dulunya terlihat biasa mulai terasa berbeda.
Saat jam makan siang, Nadia tanpa sengaja melihat Vania dan Adrian berdiri di dekat pantry.
Mereka sedang membicarakan sesuatu.
Lalu Vania tertawa.
Adrian ikut tersenyum.
Pemandangan sederhana yang mungkin tidak berarti apa-apa.
Tetapi entah mengapa dada Nadia terasa sedikit sesak melihatnya.
Bukan karena ia benar-benar mencurigai Vania.
Melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mulai meragukan orang-orang yang selama ini paling ia percaya.
Nadia langsung mengalihkan pandangan.
Ia membenci perasaan ini.
Membenci dirinya yang mulai curiga tanpa bukti.
Membenci pikirannya yang terus mencari-cari kemungkinan buruk.
Namun setiap kali mengingat ucapan ibu mertuanya, setiap kali mengingat anniversary yang dilupakan Adrian, setiap kali mengingat wanita misterius yang dikira dirinya, luka itu kembali terasa segar.
Dan semakin ia berusaha mengabaikannya, semakin kuat keinginannya untuk menemukan kebenaran.
Apa pun risikonya.
Karena Nadia mulai menyadari satu hal yang menakutkan.
Ia mungkin masih mencintai Adrian.
Tetapi kepercayaannya kepada pria itu perlahan mulai retak. Retakan kecil yang belum terlihat dari luar, namun sudah cukup untuk membuat seluruh fondasi pernikahan mereka berguncang.
Siang itu, suasana pantry kantor tidak terlalu ramai. Hanya beberapa karyawan yang sedang mengambil kopi atau makan siang singkat sebelum kembali bekerja. Nadia berdiri di dekat mesin kopi sambil menunggu minumannya selesai dibuat.
Pikirannya masih dipenuhi berbagai hal yang sejak beberapa hari terakhir terus mengganggunya.
Ia bahkan tidak menyadari bahwa sejak tadi Vania memperhatikannya dari meja dekat jendela.
Sahabatnya itu akhirnya berdiri lalu menghampiri.
"Kamu kenapa?" tanya Vania sambil menyandarkan tubuh ke meja.
Nadia menoleh.
"Apa?"
"Kamu aneh sejak pagi."
Vania mengernyit pelan.
"Biasanya kalau lagi banyak pikiran kamu bakal tenggelam dalam kerjaan. Sekarang malah kelihatan melamun terus."
Nadia tersenyum tipis.
Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Aku kelihatan separah itu?"
"Sedikit."
Untuk beberapa saat keduanya terdiam.
Suara mesin kopi dan percakapan karyawan lain menjadi latar belakang yang samar.
Nadia memandangi cairan kopi di dalam gelasnya.
Lalu tanpa sadar sebuah pertanyaan muncul dari bibirnya.
"Van."
"Hm?"
"Kalau menurut kamu..."
Nadia berhenti sejenak.
Mencari cara agar pertanyaannya terdengar biasa.
"Perselingkuhan sama rekan kerja itu sering terjadi nggak sih?"
Vania tampak terkejut mendengar pertanyaan itu.
Namun hanya sesaat.
Setelah itu wanita tersebut mengangkat bahu pelan.
"Cukup sering."
Jawabannya begitu santai hingga membuat Nadia sedikit terdiam.
"Maksudnya?"
Vania mengambil minuman kaleng dari kulkas kecil pantry lalu membukanya.
"Kita kerja di lingkungan yang orang-orangnya menghabiskan sebagian besar waktu di kantor."
Ia tersenyum tipis.
"Kadang lebih lama ketemu rekan kerja daripada pasangan sendiri."
Nadia mendengarkan tanpa menyela.
"Rapat bareng."
"Lembur bareng."
"Perjalanan dinas bareng."
"Ngurus masalah besar bareng."
Vania kembali mengangkat bahu.
"Perasaan bisa tumbuh dari situ."
Kalimat itu membuat dada Nadia terasa sedikit berat.
Entah kenapa semua yang diucapkan Vania terasa begitu masuk akal.
Karena itulah yang terjadi di firma mereka.
Orang-orang datang pagi.
Pulang malam.
Menghabiskan sebagian besar hidupnya bersama rekan kerja.
Bahkan terkadang lebih mengenal kebiasaan rekan sekantor dibandingkan keluarga sendiri.
"Tapi tetap salah."
Vania menambahkan kalimat itu beberapa detik kemudian.
Nadia mengangkat pandangan.
Vania terlihat lebih serius sekarang.
"Sering terjadi bukan berarti benar."
Nada suaranya lebih tegas.
"Kalau sudah punya pasangan, ya harus tahu batas."
Nadia hanya mengangguk pelan.
Meski begitu, pikirannya justru semakin kacau.
"Kenapa tiba-tiba nanya begitu?"
Vania memperhatikannya dengan rasa penasaran.
Tatapan matanya seolah sedang mencoba membaca isi kepala Nadia.
Namun Nadia langsung mengalihkan pandangan ke arah jendela.
"Nggak kenapa-kenapa."
Jawaban itu terdengar terlalu cepat.
Terlalu ringan.
Dan jelas tidak meyakinkan.
Vania mengenal Nadia terlalu lama untuk mempercayai jawaban tersebut.
"Nadia."
Suara Vania terdengar lebih lembut.
"Kamu curiga sesuatu?"
Untuk sesaat jantung Nadia berdetak lebih cepat.
Ia ingin bercerita.
Ingin mengatakan semua yang mengganggunya.
Tentang anniversary yang dilupakan Adrian.
Namun pada akhirnya ia hanya menggeleng.
"Aku cuma penasaran."
Vania menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas.
Meski tidak percaya sepenuhnya, ia memilih tidak memaksa.
Namun setelah Nadia pergi meninggalkan pantry, Vania masih berdiri di tempatnya.
Memperhatikan sahabatnya yang berjalan menjauh di koridor.
Ada sesuatu yang tidak biasa.
Sesuatu yang jelas sedang disembunyikan Nadia.
Dan untuk pertama kalinya, Vania mulai merasa bahwa masalah yang sedang dihadapi sahabatnya mungkin jauh lebih serius daripada yang terlihat dari luar.
Sore itu, setelah percakapannya dengan Nadia di pantry, Vania kembali ke ruang kerjanya dengan pikiran yang masih dipenuhi berbagai pertanyaan.
Ia mengenal Nadia sudah bertahun-tahun.
Karena itu ia tahu sahabatnya sedang menyembunyikan sesuatu.
Meski Nadia berusaha terlihat biasa, ada kegelisahan yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan dari orang yang mengenalnya dengan baik.
Vania menghela napas pelan sambil membawa beberapa berkas menuju divisi litigasi.
Namun langkahnya terhenti sesaat ketika melihat sosok yang cukup familiar keluar dari area kerja tersebut.
Bianca.
Vania memperhatikan wanita itu dari kejauhan.
Bianca berjalan dengan tenang sambil membawa map tipis di tangannya. Penampilannya seperti biasa, profesional dan rapi.
Namun yang membuat Vania mengernyit bukanlah Bianca.
Melainkan fakta bahwa wanita itu kembali keluar dari divisi yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya.
Sudah beberapa minggu terakhir Vania menyadari hal tersebut.
Bianca cukup sering terlihat berada di area divisi litigasi.
Padahal ia berasal dari divisi yang berbeda.
Kasus-kasus yang ditanganinya pun sebagian besar berkaitan dengan korporasi dan merger perusahaan.
Sedangkan litigasi memiliki tim dan perkara yang berbeda.
Secara teknis, tidak ada alasan yang mengharuskan Bianca terlalu sering berada di sana.
Awalnya Vania tidak memikirkan hal itu.
Di firma hukum besar, perpindahan antar divisi bukan sesuatu yang aneh.
Orang-orang sering berdiskusi atau meminta pendapat satu sama lain.
Namun semakin lama, frekuensinya mulai terasa berlebihan.
Terlalu sering untuk disebut kebetulan.
Terlalu rutin untuk dianggap urusan pekerjaan biasa.
Beberapa staf bahkan mulai menyadarinya.
Meski tidak ada yang membicarakan secara terbuka, sesekali Vania menangkap tatapan-tatapan penasaran dari karyawan lain saat Bianca kembali muncul di area tersebut.
Namun karena Bianca memiliki posisi yang cukup tinggi, tidak ada yang berani berkomentar secara langsung.
Semua memilih diam.
Atau pura-pura tidak memperhatikan.
Vania sendiri bukan tipe orang yang suka bergosip.
Ia lebih memilih fokus pada pekerjaan daripada mengurusi kehidupan orang lain.
Namun ada sesuatu dalam sikap Bianca yang membuatnya kurang nyaman.
Wanita itu terlalu pandai membawa diri.
Terlalu pandai membuat orang merasa diperhatikan.
Dan terkadang, menurut Vania, sedikit terlalu pandai menggunakan pesonanya.
Beberapa kali Vania melihat Bianca berbicara dengan para partner pria di firma.
Namun Bianca memiliki kemampuan alami membuat lawan bicaranya merasa menjadi pusat perhatian.
Ia mendengarkan dengan penuh fokus.
Mengingat detail kecil.
Memberikan pujian pada waktu yang tepat.
Hal-hal sederhana yang sering kali membuat orang mudah merasa dekat dengannya.
"Dia memang punya karisma."
Salah satu associate pernah berkomentar saat melihat Bianca memimpin rapat.
Dan tahu cara membangun hubungan profesional dengan sangat baik.
Namun terkadang Vania bertanya-tanya apakah semua itu selalu murni profesional.
Atau ada sesuatu yang lebih dari sekadar itu.
Dari balik kaca ruang rapat, Vania kembali melihat Bianca berbicara dengan beberapa atasan firma.
Wanita itu tertawa kecil atas sesuatu yang dikatakan salah satu partner senior.
Seolah sudah lama menjadi bagian dari kelompok tersebut meski baru enam bulan bergabung.
Vania menggeleng pelan lalu kembali berjalan.
Mungkin ia terlalu banyak berpikir.
Mungkin semua itu memang bagian dari kemampuan bersosialisasi Bianca.
Namun entah kenapa, jauh di dalam hatinya, ada perasaan bahwa wanita itu sedang mengejar sesuatu.
Dan Vania belum tahu apakah sesuatu itu berkaitan dengan karier... atau seseorang yang berada di dalam divisi litigasi tersebut.
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah