Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur
Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24: Jejak Bahaya yang Semakin Dekat
Setiap hari, ingatan Lira terus muncul perlahan—sepotong demi sepotong, samar namun nyata. Kadang rasa, kadang suara, kadang bayangan masa lalu yang lewat sekilas. Semakin ia ingat, semakin kuat hatinya pada Raga, tapi semakin dalam pula rasa cemas yang menyelimuti hati pria itu. Ia tahu, orang-orang Lingkaran Emas tidak akan diam saja melihat rencana mereka gagal. Semakin cepat Lira sadar, semakin cepat bahaya akan datang.
Tanda-tanda itu mulai muncul, halus namun cukup membuat darah mereka berdesir.
Pagi itu, Lira kaget menemukan dompetnya hilang. Ia mencarinya ke seluruh sudut rumah tapi tidak ketemu. Raga berusaha menenangkan, meskipun hatinya sudah merasa tidak enak. Namun saat pulang kerja, dompet itu sudah ada kembali di tempat semula, utuh sama persis, tanpa ada satu barang pun yang hilang. Pintu dan jendela rumah tetap tertutup rapat, tidak ada tanda dibobol sedikit pun.
Wajah Raga seketika menegang. “Mereka sudah masuk ke sini. Mereka tahu tempat kita tinggal, mereka bisa datang kapan saja tanpa kita sadari.”
Lira menatapnya takut. “Siapa mereka?”
“Lingkaran Emas,” jawab Raga pelan namun dingin. “Mereka yang sengaja menabrak mobil kita dulu, berharap kita mati bersama. Mereka musuh keluarga kita, orang-orang kejam yang tidak mau ada halangan di depan jalan mereka. Dulu mereka gagal, dan sekarang mereka takut kamu ingat semuanya.”
Seketika itu, kilatan bayangan wajah-wajah dingin dan suara ancaman samar melintas di kepala Lira. Ia gemetar menyadari kenyataan pahit itu—mereka tidak hanya kehilangan ingatan, mereka juga terus diburu nyawanya.
“Mereka mau membunuh kita?” tanyanya suara parau.
Raga mengangguk pelan, lalu memegang erat tangannya. “Iya. Tapi kali ini aku tidak akan biarkan itu terjadi. Selama aku ada, tidak ada satu pun jari mereka boleh menyentuhmu.”
Keesokan harinya, saat sampai di toko baju, pemilik toko menyerahkan selembar kertas terlipat. “Ada yang menitipkan ini untukmu, katanya pesan dari teman lama.”
Lira membukanya perlahan. Tulisan kasar di atas kertas itu membuat darahnya membeku:
Jangan ingat masa lalu. Lupakan orang yang bersamamu, dan hidup seperti yang kami atur. Jika kamu terus melawan, apa yang terjadi dulu akan terulang. Kali ini tidak akan ada yang selamat. — Lingkaran Emas
Kertas itu jatuh dari tangannya. Raga yang datang menjemput segera mengambil dan membacanya. Amarah besar seketika meledak di dadanya. Ia meremas kertas itu sampai hancur, matanya memancarkan api kebencian yang belum pernah Lira lihat.
“Mereka semakin nekat! Mereka berani mengancam langsung!” hardiknya tertahan. “Pesan ini bukan sekadar kata-kata. Mereka sungguh-sungguh berniat buruk.”
“Lalu kita harus bagaimana? Kita lari lagi?” tanya Lira cemas.
“Tidak,” jawab Raga tegas. “Dulu aku lari karena aku lemah dan hanya ingin kamu selamat. Sekarang aku sadar, lari tidak akan selesai masalah. Di mana pun kita pergi, mereka akan menemukan kita. Kali ini kita tidak akan lari. Kita bertahan, kita lawan, dan kita akhiri semua ini selamanya.”
Mata Raga bersinar tajam penuh tekad. Ia berjanji akan menghubungi orang-orang setia keluarga, mengumpulkan bukti kejahatan mereka, dan menjatuhkan kekuasaan Lingkaran Emas sampai ke tanah. Mulai hari ini, mereka tidak boleh berpisah sedetik pun. Ke mana pun Lira pergi, Raga harus selalu ada di dekatnya.
Dua hari kemudian, mereka berjalan-jalan sebentar di pasar malam untuk sedikit menenangkan hati. Keramaian, cahaya lampu warna-warni, dan suara riang orang-orang sempat membuat mereka lupa sejenak pada bahaya yang mengintai. Tangan mereka saling menggenggam erat, berjalan pelan di tengah kerumunan.
Namun bahaya datang tiba-tiba.
Sebuah gerobak besar penuh toples kaca berat tiba-tiba terlepas, meluncur kencang menuruni jalan miring tepat ke arah tempat Lira berdiri. Kecepatannya tinggi, isinya tajam dan berat—jika tertabrak, luka parah bahkan kematian tak bisa dihindari.
“LIRA, MUNDUR!!!”
Raga berteriak keras, seketika menarik tubuh Lira ke belakang, melindunginya dengan seluruh tubuhnya sendiri tepat sesaat sebelum gerobak itu meluncur lewat dan menabrak tembok dengan suara keras, pecah berantakan menjadi ribuan kepingan tajam.
Orang-orang berteriak kaget. Raga segera memeriksa seluruh tubuh Lira dengan cemas. “Kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit?”
Lira menggeleng, napasnya masih tersengal karena kaget. “Aku baik-baik saja… Terima kasih, kamu selamatkan aku lagi.”
Saat Raga menoleh, ia melihat pemilik gerobak itu berdiri jauh dengan wajah dingin tanpa rasa bersalah, lalu perlahan menghilang masuk ke kerumunan.
Itu bukan kecelakaan. Itu disengaja.
Mereka sudah tidak puas hanya mengancam. Mereka sudah mulai bertindak nyata, berani mencelakai Lira di tempat ramai sekalipun, seolah semua itu hanya kebetulan biasa.
Malam itu, mereka pulang dengan hati penuh ketegangan. Di kamar yang tertutup rapat, Raga berkata dengan suara serius: “Besok aku mulai bergerak. Aku akan taruh kamu di tempat aman, dijaga orang-orang yang bisa dipercaya, di tempat yang tidak bisa mereka temukan. Aku tidak boleh biarkan kamu terus terpapar bahaya begini.”
Lira mengangguk paham, lalu memeluk pinggang Raga erat. “Aku percaya padamu. Lakukan apa yang harus kamu lakukan. Aku akan tunggu sampai kita benar-benar bebas.”
Raga membalas pelukan itu, hatinya penuh rasa takut namun juga penuh kekuatan. Ia tahu perjuangan ini akan berat, penuh risiko, dan mungkin memisahkan mereka sementara waktu. Tapi itu satu-satunya jalan untuk mendapatkan kedamaian dan cinta yang abadi, tanpa ancaman lagi selamanya.
Di luar, angin malam bertiup kencang, awan hitam mulai menutupi bulan. Badai besar benar-benar akan segera datang, dan mereka harus siap menghadapinya bersama.
Bersambung ke Episode 25