Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.
Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Aku berdiri di depan kompor, dengan rapen mengaduk sambal ikan yang aromanya begitu menggugah selera. Sementara itu, putra kecilku dengan setia menungguku di kursi meja makan sembari menopang dagu.
"Mama... perut aku sudah lapar sekali," keluhnya pelan dengan wajah memelas.
"Sabar ya, Nak. Sebentar lagi matang," jawabku sembari menoleh dan melemparkan senyuman menenangkan.
"Mana suamimu, Yas?" tanya Mama yang baru saja melangkah masuk dari pintu belakang dapur.
"Ada di teras depan, sedang minum teh hangat bersama Bapak," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari wajan.
"Oh, iya. Sebentar lagi Mama mau ikut Bapakmu pergi ke kebun. Kemungkinan besar kami akan bermalam di pondok sana," kata Mama memberi tahu.
Aku mengangguk paham. "Kebetulan, rencana saya juga mau ikut Bapaknya Jayan keluar sebentar, Ma," ucapku balik memberi tahu rencana kami pagi ini.
"Hah? Mau keluar ke mana?" tanya Mama kebingungan.
"Bapaknya Jayan ajak saya keluar untuk melihat lokasi tanah yang rencananya mau dibangun rumah penangkaran walet," ucapku pelan.
"Jadi suamimu itu mau bangun rumah walet juga di sini?" tanya Mama memastikan, yang langsung kubalas dengan anggukan kepala mantap.
Seketika, senyuman di wajah wanita tua itu semakin merekah lebar penuh binar kebahagiaan.
"Mak... kenapa senyum-senyum begitu?" tanyaku heran melihat gelagatnya.
"Tidak ada apa-apa, Yas. Hanya saja Mama merasa bangga sekali punya menantu yang jago usaha dan pintar di banyak bidang seperti Nak Jalal. Pasti kalau tetangga-tetangga tahu suamimu itu pintar kerja sembarang dan royal, mereka semua akan iri sama Mama," ucap Mamaku dengan nada sangat bangga.
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Mama, lalu beralih menatap Jayan. "Abang! Tolong panggilkan Bapak sama Kakek di depan. Bilang ke mereka, mari kita sarapan dulu," perintahku pada bocah kecil itu.
Setelah Jayan berlari ke depan, tak lama kemudian terdengar langkah kaki beriringan disusul suara obrolan hangat antara Jalal dan Bapak.
"Ayo, Bapaknya Jayan, kita sarapan dulu! Mari, silakan makan," ucap Bapak dengan ramah mempersilahkan menantunya begitu tiba di area meja makan.
Suamiku mengangguk sopan lalu menduduki salah satu kursi kayu. Dengan telaten, aku mengambilkan piring dan menyendokkan nasi serta lauk pauk untuk suamiku, lalu disusul menyiapkan piring untuk Jayan. Tak lupa, aku juga mengambil porsi nasi untuk kumakan sendiri. Pagi ini kami sekeluarga sarapan bersama, menikmati momen kebersamaan hangat yang selama tiga tahun ini sangat jarang bisa kurasakan.
Setelah selesai sarapan dan merapikan meja makan, aku kembali ke area dapur untuk mencuci piring. Tanpa kusadari, sepasang lengan kokoh tiba-tiba melingkar di pinggangku, memelukku dengan erat dari arah belakang.
"Yas, habis cek lokasi tanah nanti, kita jalan-jalan ke tempat wisata, yuk," bisik Jalal tepat di samping telingaku.
"Jalan-jalan ke tempat wisata mana, Pak?" tanyaku bingung, sedikit memiringkan kepala.
"Ke pemandian air terjun!" jawabnya riang, lalu tiba-tiba mendaratkan kecupan-kecupan kecil di ceruk leherku. Aku refleks memejamkan mata sesaat, menikmati sensasi geli dan debaran yang seketika meremang di sekujur tubuhku.
"Saya sudah menyuruh Rudi untuk membeli beberapa ekor ayam. Nanti di sana kita bisa bakar-bakar ayam... sekalian saya juga sudah suruh Rudi masak nasi dari rumah untuk dibawa," ucapnya tanpa beban.
"Oh iya, ajak juga Andra sama Andri, sekalian pacar mereka masing-masing biar suasananya tambah ramai. Tapi sayang sekali Mama sama Bapak tidak bisa ikut karena harus ke kebun, padahal kalau mereka ikut pasti akan jauh lebih seru," lanjutnya lagi dengan nada agak menyesal.
Aku perlahan membalikkan tubuhku di dalam kungkungan pelukannya. Aku mendongak menatap wajah tampannya. "Pak, apa badan Bapak tidak terasa capek? Dari kemarin kita jalan terus, loh," tanyaku lembut sembari refleks mengalungkan kedua tanganku pada pundak dan leher tegapnya.
Jalal tersenyum manis, membalas tatapanku dengan tatapan damba yang tulus. "Tidak, Yas. Kalau tidak kita manfaatkan sekarang, kapan lagi? Kita harus menikmati momen-momen kebersamaan seperti ini. Nanti kalau Jayan sudah besar, dia pasti akan sibuk sendiri dan momen seperti ini jarang ada, kan?" katanya memberi pengertian.
"Ya sudah, saya mau. Kalau begitu, saya mau bersiap-siap ganti baju dulu, yah," ucapku tersenyum lebar.
Jalal mengangguk setuju lalu melepaskan pelukannya untuk berjalan ke teras luar. Aku segera bergegas masuk ke dalam kamar untuk berpakaian. Agar kelihatan kompak, sengaja kusamakan tema bajuku dengan pakaian yang dikenakan Jalal pagi ini. Aku memilih memakai kaos putih berukuran oversize, celana cutbray kain jatuh berwarna hitam, serta luaran cardigan berwarna biru muda yang senada dengan jaket jins biru muda milik suamiku.
Tak ketinggalan, Jayan pun kudandani dengan gaya yang sama persis seperti Bapaknya; kaos putih polos, celana chino hitam, lengkap dengan jaket jins mini. Tubuh gempal dan berisi milik putraku itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan dalam balutan pakaian itu, membuat siapa saja yang melihatnya pasti ingin langsung menggendong dan mencium pipinya.
Sebelum keluar, aku menyempatkan diri mengetuk pintu kamar adik kembarku. "Andra, Andri! Ikut Kakak yuk!" seruku pada si kembar yang rupanya masih asyik bersantai di dalam kamar.
"Mau ke mana, Kak?" tanya mereka kompak sembari menoleh.
"Bapaknya Jayan ajak kita jalan-jalan ke arter (air terjun). Komorang (kalian) ikut nah! Di sana kita mau bakar-bakar ayam, siapa tahu nanti ada ikan juga. Eh, ajak juga pacar kalian. Kalau misal ada teman dekat kalian yang lain, ajakmi (ajak saja) sekalian biar ramai. Tapi jam sembilan kita harus sudah siap jalan, ya? Saya mau keluar duluan ikut Bapaknya Jayan untuk mengecek lokasi pembangunan rumah walet," jelasku panjang lebar.
Si kembar langsung menganggukkan kepala dengan antusias. Mereka berjanji akan ikut dan berencana mengajak dua teman cowok, satu teman cewek, serta pacar mereka masing-masing.
Setelah memastikan semua beres, aku melesat keluar dari dalam rumah menuju halaman depan. Di dekat mobil, aku melihat suamiku sedang asyik berbincang serius dengan Rudi mengenai urusan bisnis, sembari lengan kekarnya dengan mudah menggendong tubuh berat Jayan di pundaknya.
"Abang!" panggilku setengah berteriak sembari melangkah menghampiri mereka.
Mendengar suaraku, secara refleks kepala Jalal dan Jayan menoleh serentak ke arahku dengan gerakan yang sangat kompak, sedangkan Rudi hanya melirik sekilas dengan senyum tipis. Aku sontak tersenyum geli melihat kekompakan alami antara ayah dan anak itu.