Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Alasan di Balik Kepergian
Malam itu suasana di dalam rumah masih terasa berat, meski suara mobil Arkan sudah tak terdengar lagi. Grey duduk di tepi tempat tidur, punggungnya sedikit membungkuk, tatapannya kosong menatap lantai. Di sampingnya, pria itu—Raka, nama yang selalu Grey sebut dengan penuh kasih sayang—duduk diam, tangannya terus mengusap lembut punggung wanita itu, berusaha menenangkan getaran yang masih terasa di tubuhnya.
“Kamu tahu… sebenarnya ada hal yang belum aku ceritakan sepenuhnya soal dia,” ucap Grey pelan, suaranya nyaris berbisik. Ia menoleh menatap Raka, matanya berembun. “Dulu, kami hanya saling suka. Tidak ada ikatan yang terikat kuat, tidak ada janji abadi. Hanya dua orang yang merasa nyaman satu sama lain.”
Raka mengangguk pelan, mendekatkan tubuhnya agar bisa memeluk bahu Grey. “Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk bercerita kalau belum siap. Tapi kalau itu bisa melegakan hatimu, aku ada di sini, mendengarkan semuanya.”
Grey menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Kenangan lama itu kembali berputar di kepalanya, jelas sekali seolah baru terjadi kemarin.
“Waktu itu Arkan bukan siapa-siapa. Dia orang biasa, sama sepertiku. Kami bertemu di tempat kerja paruh waktu, dan perlahan rasa suka tumbuh di antara kami. Kami sering menghabiskan waktu bersama, tertawa, berbagi cerita, tapi tidak pernah ada kata-kata yang mengikat kami menjadi pasangan resmi,” lanjut Grey. “Dia orang yang baik, tapi punya satu sisi yang selalu dia sembunyikan: rasa tidak percaya diri yang besar.”
“Karena apa?” tanya Raka lembut.
“Karena kondisi ekonominya,” jawab Grey, matanya menunduk menatap genggaman tangan mereka. “Dia sering bilang kalau dia tidak pantas untukku. Bahwa aku berhak mendapatkan seseorang yang lebih mapan, yang bisa memberiku kehidupan yang lebih baik. Dulu aku selalu menepisnya, bilang kalau aku tidak peduli soal harta. Bagiku, cukup ada dia di sampingku sudah lebih dari cukup.”
Suara Grey sedikit bergetar saat melanjutkan, “Tapi Arkan berbeda. Dia punya ambisi yang tinggi, tapi juga rasa malu yang besar karena belum punya apa-apa. Semakin lama kami bersama, semakin sering dia diam, semakin sering dia menatapku dengan pandangan yang campur aduk—antara rasa sayang dan rasa rendah diri yang mendalam.”
“Ia pergi begitu saja, kan?” tebak Raka.
Grey mengangguk, air mata satu jatuh membasahi pipinya. “Ya. Satu hari dia menghilang. Tidak ada pesan, tidak ada perpisahan. Hanya hilang begitu saja. Aku sempat bingung, sempat mencari, tapi tak ada jejak. Lama kelamaan aku mengerti… dia pergi karena merasa tidak cukup baik untukku. Dia ingin pergi mencari apa yang dia sebut ‘kelayakan’ itu. Dia ingin menjadi orang yang punya segalanya, baru berani kembali.”
“Dan sekarang dia kembali, mengira dengan harta dan kekuasaan yang dia punya, dia berhak mengambilmu kembali,” ucap Raka, nada bicaranya sedikit menajam, penuh ketidaksetujuan. “Dia tidak mengerti bahwa nilai seseorang tidak diukur dari apa yang dia miliki, tapi dari siapa dirinya dan bagaimana dia memperlakukan orang yang dicintainya.”
“Itu yang paling menyakitkan,” sahut Grey, menatap Raka dengan pandangan penuh kepastian. “Selama ini dia salah paham. Aku tidak pernah menginginkan dia menjadi kaya atau berkuasa. Aku hanya menginginkan dia yang dulu—yang sederhana, yang jujur, yang ada bersamaku apa adanya. Tapi dia memilih pergi demi hal yang salah, dan sekarang dia kembali dengan pemikiran yang sama salahnya.”
Grey merangkul leher Raka, menyandarkan wajahnya di dada pria itu, merasakan detak jantung yang tenang dan menenangkan. “Dia tidak tahu, bahwa saat dia pergi, dia sudah kehilangan kesempatannya. Dan saat dia kembali dengan segala kemewahan itu, dia tidak akan pernah mendapatkan apa yang dulu dia buang. Karena hatiku sudah memilih tempatnya, dan itu bukan lagi milik masa lalu.”
Raka mengecup puncak kepala Grey dengan lembut. “Dia tidak akan pernah mengerti, dan tidak perlu dia mengerti. Yang penting, kamu sudah tahu apa yang kamu inginkan. Dan aku akan terus ada di sini, memastikan dia tidak bisa lagi mengganggu kedamaianmu.”
Di luar, angin malam berhembus pelan, tapi ketenangan di dalam pelukan itu membuat Grey yakin satu hal: alasan kepergian Arkan dulu hanyalah bukti bahwa dia tidak pernah benar-benar memahaminya. Dan kembalinya dia sekarang, hanyalah upaya sia-sia seseorang yang masih terjebak dalam pemikiran yang salah, sementara Grey sudah melangkah jauh menuju kebahagiaan yang sesungguhnya.
Namun, di balik ketenangan itu, bayang-bayang ancaman Arkan masih terasa menggantung. Kata-katanya yang mengancam tadi sore terus terngiang di telinga Grey: Ini belum selesai.
Grey tahu, perjuangannya belum usai. Arkan tidak akan mundur begitu saja, dan konflik ini baru saja memasuki babak yang lebih rumit.
Bersambung...