Bebas dari tuduhan konspirasi penculikan yang dirancang mantan kekasihnya, Michaela Hokked (24) memilih mati demi melepaskan diri dari masa lalu yang busuk.
Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam.
Pelariannya menuju Los Angeles hancur bersama taksi yang ia tumpangi dalam kecelakaan maut yang meremukkan wajahnya.
Enam bulan koma dan melewati enam
Kali operasi wajah, Michaela terbangun dengan rupa baru: wajah cantik milik Cecilia Lynch, wanita bermata teduh yang kecelakaan bersamanya.
Kini, Michaela terjebak sebagai 'Cecilia' di hadapan Killian Vale-Knight (28 th) pria berkuasa yang mengaku sebagai kekasih jarak jauh Cecilia.
Tanpa kecurigaan, keluarga miliarder itu menghujaninya dengan kasih sayang yang tak pernah ia miliki.
Namun, kenyataan pahit menghantam: Cecilia asli tewas dalam keadaan hamil, Mencuri identitas Cecilia adalah tiket kebebasannya, atau justru awal dari labirin misteri yang mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
018
Kamar Killian & Michaela
Ketegangan di kamar utama penthouse mewah itu masih belum memudar, meskipun jeritan kemarahan Michaela telah digantikan oleh napasnya yang memburu dan berat.
Killian masih terpaku di tempatnya berdiri, menatap strip obat kontrasepsi darurat di tangannya, lalu beralih pada sprei putih yang menampakkan noda merah yang kontras.
Pikiran Killian berkecamuk hebat.
Ego lelakinya yang terluka, yang selama enam bulan ini dipupuk oleh rasa dendam karena mengira dirinya dikhianati oleh seorang penipu ulung dari sindikat Madam's Roses, mendadak hancur berantakan oleh satu fakta biologis: dia adalah pria pertama bagi wanita ini.
Namun, alih-alih menurunkan harga dirinya dan meminta maaf, Killian memilih untuk menegakkan punggungnya.
Sifat keras kepala keluarga Vale-Knight menolak untuk terlihat lemah di hadapan wanita yang statusnya masih abu-abu di dalam hidupnya.
Dia meletakkan botol air mineral dan obat itu di atas nakas dengan ketukan yang pelan namun tegas.
"Aku tidak mengatakan kau menjijikkan, Cecilia," ucap Killian, suaranya melunak beberapa tingkat, kehilangan nada baritonnya yang mengintimidasi.
Dia memanggil nama 'Cecilia'—nama yang dia tahu sebagai identitas wanita ini—dengan nada yang lebih mirip bisikan frustrasi.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang dunia tempatmu berada sekarang. Obat ini... ini bukan karena aku tidak sudi. Ini karena situasi di luar sana tidak seaman yang kau pikirkan."
Michaela, yang masih berdiri di atas kasur dengan air mata yang membasahi pipinya, tertawa sumbang.
Suara tawa itu terdengar begitu menyedihkan sekaligus tajam.
Dia menghapus air matanya dengan punggung tangan secara kasar, menolak untuk terlihat rapuh lebih lama lagi di depan pria egois ini.
"Kau pikir aku peduli dengan alasanmu?" desis Michaela, matanya menatap Killian dengan kilat permusuhan yang pekat.
"Sejak awal, kau membawaku ke sini hanya untuk menjadikanku budak pemuas nafsumu, bukan? Kau melemparkan uang ke wajahku, kau memperlakukanku seperti barang yang bisa kau beli dengan ratusan dolar! Dan sekarang kau berlagak peduli pada keselamatanku? Jangan munafik, Killian!"
Killian mengembuskan napas panjang, menahan diri agar tidak terpancing emosi oleh makian wanita itu.
Dia mendekati ranjang, menatap lembaran uang ratusan dolar yang berserakan di sekitar kaki Michaela.
Ada rasa sesal yang mendalam di sudut hatinya yang paling gelap karena telah melakukan tindakan serendah itu, namun dia terlalu gengsi untuk mengakuinya.
"Terserah apa katamu," ujar Killian dingin, kembali memasang topeng angkuhnya.
Dia memungut beberapa lembar uang yang terjatuh di lantai, lalu memasukkannya kembali ke saku celananya tanpa menatap Michaela lagi.
"Obat itu akan tetap ada di sana. Jika kau cukup cerdas untuk bertahan hidup, kau akan meminumnya. Aku ada urusan di luar. Jangan mencoba melarikan diri dari apartemen ini, karena seluruh akses pintu dan lift sudah kukunci dengan kode privasiku."
Tanpa menunggu jawaban dari Michaela, Killian berbalik dan melangkah lebar meninggalkan kamar.
Suara pintu yang tertutup dan bunyi klik dari sistem pengunci otomatis terdengar bergema, menegaskan bahwa Michaela kini benar-benar terkurung di dalam sangkar emas milik pria itu.
Michaela perlahan menurunkan kakinya dari atas kasur, terduduk di tepi ranjang dengan tubuh yang gemetar karena sisa-sisa amarah.
Dia menatap obat di atas nakas, lalu beralih pada ponselnya yang tadi sempat menampilkan foto Gabriella.
Sambil mencengkeram sprei dengan kuat, dia berbisik pada dirinya sendiri, "Aku bukan Cecilia Lynch, Killian... Aku Michaela. Dan aku akan memastikan kau membayar setiap tetes air mata yang keluar dari mataku hari ini."
...****************...
Di sudut lain kota Los Angeles, di dalam kamar tidurnya yang bernuansa mewah namun berbau maskulin dari parfum mahal yang sering digunakannya untuk menyamar, Gabriella Margareth berdiri di depan jendela besar.
Tatapannya kosong, memandang lampu-lampu kota yang mulai menyala di bawah kegelapan malam.
Senyum mengerikan yang sempat tersungging di bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi dingin yang penuh perhitungan.
Kematian Julian di San Francisco enam bulan lalu adalah rahasia terbesar yang dia sembunyikan dari ibunya, Madam Margareth.
Dia tahu, jika ibunya tahu dia menggunakan keahlian membunuhnya hanya demi membalas dendam pribadi untuk adiknya, ibunya tidak akan segan-segan menjatuhkan hukuman cambuk yang biasa diterima oleh para Roses yang membangkang.
Tok, tok.
Suara ketukan pintu memecah lamunan Gabriella.
Dia berbalik dengan cepat, mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi tenang dan anggun seperti biasa sebelum membuka pintu. Di sana, salah satu pelayan setia berdiri dengan kepala tertunduk.
"Nona Gabriella, Madam Margareth meminta Anda untuk segera menemuinya di ruang bawah tanah. Target baru untuk Cecilia Lynch sudah dikonfirmasi, dan Madam ingin Anda memeriksa rinciannya," ucap pelayan itu dengan nada formal.
"Aku akan segera ke sana," jawab Gabriella datar.
Gabriella menutup pintu kamarnya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debaran jantungnya.
Dia melangkah menyusuri lorong-lorong mansion tersembunyi itu, menuruni anak tangga menuju ruang bawah tanah yang berfungsi sebagai pusat operasional mereka.
Di sana, Madam Margareth sudah menunggu di depan sebuah layar monitor besar yang menampilkan profil seorang pria paruh baya yang merupakan salah satu taipan real terbesar di California.
"Duduklah, Gabriella," perintah Margareth tanpa menoleh, matanya tetap tertuju pada data-data keuangan di layar.
Gabriella duduk di kursi di samping ibunya. "Siapa targetnya, Madam?"
"Alexander Vance," jawab Margareth, senyum licik terukir di wajah paruh bayanya yang masih kencang.
"Aku ingin Cecilia mendekatinya dalam acara gala amal dua hari lagi. Jika Cecilia berhasil memikatnya, kita tidak hanya mendapatkan akses ke dalam finansial Vance, tapi kita juga bisa menggunakannya untuk memata-matai pergerakan pesaing dari jarak dekat."
Gabriella mengepalkan tangannya di bawah meja, menyembunyikan rasa cemasnya.
"Madam, seperti yang kukatakan tadi... Cecilia baru saja pulih. Apakah tidak terlalu berisiko mengirimnya langsung? Bagaimana jika Killian atau kaki tangannya mengenali wajahnya di acara itu?"
Margareth tertawa rendah, suara tawa yang penuh dengan kekejaman dan pengalaman bertahun-tahun di dunia kriminal.
"Itulah indahnya rencana ini, Gabriella. Killian mengira dia sudah membunuh Cecilia Lynch di San Francisco enam bulan lalu. Dia mengira jasad wanita hamil di dalam taksi itu adalah Cecilia. Kehadiran Cecilia yang 'hidup kembali' di Los Angeles akan menjadi teror psikologis yang sempurna untuk pria angkuh itu. Dia akan mulai mempertanyakan kewarasannya sendiri."
Margareth berbalik, menatap Gabriella dengan pandangan mengintimidasi.
"Dan satu hal lagi... mengenai adikmu, Michaela. Aku sudah mengerahkan tim untuk melacak keberadaannya di kota ini. Jika dia benar-benar ada di Los Angeles, aku ingin kau yang menjemputnya. Bawa dia ke hadapanku. Sudah saatnya anak liar itu belajar bagaimana menjadi seorang Margareth yang sesungguhnya, daripada membusuk di jalanan sebagai sampah."
Gabriella hanya bisa mengangguk patuh, "Baik, Madam. Aku yang akan mencarinya sendiri."
Namun di dalam hatinya, Gabriella merasakan ketakutan yang luar biasa.
Dia tahu persis betapa kejamnya ibunya.
Jika Michaela tertangkap dan dibawa ke dalam organisasi ini, adiknya yang berjiwa bebas dan murni itu akan dihancurkan, dibentuk ulang menjadi monster penipu seperti dirinya dan Sahabatnya Cecilia.
Gabriella bersumpah di dalam batinnya, dia harus menemukan Michaela lebih dulu sebelum anak buah ibunya berhasil mengendus keberadaan adiknya.
Dia harus melindungi satu-satunya kembaran yang dia miliki, bahkan jika dia harus mengkhianati organisasi Madam's Roses yang telah membesarkannya.
itu Mischa kenapa muntah? mungkin kah hamil 🤨🤨🤨