“[Ikan Langka! Hadiah 100 Emas!]”
Beni hanyalah nelayan miskin yang hidup penuh penderitaan. Ia dikhianati istrinya, dijebak hingga terlilit hutang, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun saat berlayar di tengah badai, ia malah tersesat ke lautan misterius yang dipenuhi bahaya. Di sanalah sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dengan bantuan sistem pengumpul emas, bisakah Ye Fan mengubah nasibnya dan menjadi orang terkaya di lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Ngakak
"Prtt... hahaha!" Beni terkekeh pelan, menutup mulutnya agar suaranya tidak terdengar sampai ke dalam. "Benar-benar drama keluarga yang sangat indah. Karma tidak pernah salah alamat, Serena. Dulu kalian memperlakukan aku seperti keset kaki, sekarang kalian merangkak di kubangan lumpur yang kalian gali sendiri."
Beni menghabiskan jajanannya, membersihkan tangannya, lalu berdiri. Hiburan di rumah itu rupanya belum selesai.
Serena, dengan sisa-sisa keberanian dan keputusasaannya, tiba-tiba bangkit berdiri, menghapus air matanya, dan berlari keluar dari rumah melalui pintu belakang dengan tergesa-gesa.
Tampaknya, ia berniat untuk langsung menemui Kai demi meminta keadilan terakhir.
Beni yang penasaran segera mengikuti Serena dari jarak aman. Ia ingin melihat sejauh mana kehancuran mantan istrinya itu akan berlanjut.
Serena berjalan setengah berlari menuju ke arah dermaga utama, tempat di mana Kai biasanya berkumpul dengan teman-teman gengnya di sebuah posko pemuda dekat balai desa.
Di sana, Kai yang sudah agak reda dari mabuknya tadi sedang duduk santai di atas motor sport besarnya, merokok sambil tertawa bersama beberapa pemuda desa lainnya.
"Kai!" teriak Serena dengan suara serak saat ia tiba di depan posko.
Kai menoleh, alisnya bertaut melihat penampilan Serena yang berantakan dengan mata sembab. "Hah? Ngapain lagi kau ke sini, Serena? Bukankah sudah kukatakan kemarin jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di depanku?"
"Kai, tolong jangan begini... aku hamil, Kai! Ini anakmu!" Serena menerjang maju, mencengkeram jaket jeans yang dikenakan Kai dengan pandangan memohon yang amat sangat. "Aku sudah diusir oleh orang tuaku, Beni juga sudah menceraikanku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kau! Tolong bertanggung jawab, Kai..."
Para pemuda desa yang ada di sekitar posko langsung terdiam, saling berpandangan dengan ekspresi terkejut. Namun, Kai justru menunjukkan reaksi yang sangat berbeda.
Wajahnya mengeras, lalu dengan kasar ia mendorong tubuh Serena hingga wanita itu jatuh terduduk di atas tanah berpasir.
"Hamil? Anakku?!" Kai tertawa terbahak-bahak, tawa yang penuh dengan penghinaan. "Hei, Serena! Jangan coba-coba memeras keluargaku dengan menggunakan perutmu itu! Semua orang di desa ini tahu kalau kau itu istrinya Beni! Kalau kau hamil, ya itu jelas anak si nelayan miskin itu! Kenapa kau malah menuduhku?!"
"Tapi kita sudah melakukannya berkali-kali, Kai! Kau tahu sendiri Beni bahkan jarang menyentuhku karena lelah atau aku menolak!" jerit Serena histeris, mencoba membela diri.
"Halah! Persetan dengan ucapanmu!" Kai meludah ke samping, menatap Serena dengan jijik. "Kau itu cuma wanita murahan yang gila harta. Kau mendekatiku karena mengira bisa menguras uangku, kan? Sekarang setelah suamimu menceraikanmu, kau mau menjebakku? Dasar pelacur sialan!"
Beberapa warga desa dan nelayan yang sedang memperbaiki jaring di sekitar dermaga mulai berkerumun karena mendengar keributan tersebut. Serena melihat ke arah mereka, mencoba mencari pertolongan.
"Tolong... tolong saya Bapak-Bapak... Kai tidak mau bertanggung jawab atas anak di kandungan saya..." tangis Serena meminta iba pada warga.
Namun, reaksi dari para warga membuat hati Serena benar-benar runtuh. Tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak untuk membantunya.
Mereka semua memandang Serena dengan tatapan dingin, berbisik-bisik sinis, dan sebagian besar langsung membuang muka.
Di desa ini, tidak ada satu pun warga yang berani ikut campur atau berurusan dengan masalah pribadi Tuan Muda Kai, sang anak Kepala Desa yang memegang kendali atas ekonomi dan keamanan desa.
Selain karena takut pada kekuasaan ayah Kai, para warga juga sama sekali tidak mempercayai ucapan Serena.
Di mata warga, Serena adalah seorang istri yang tidak tahu diuntung, yang berselingkuh dari suami sebaik Beni, dan kini sedang menerima ganjaran atas kebohongannya sendiri.
"Sudahlah, Serena. Jangan bikin malu di sini. Pulang sana, tidak ada yang percaya dengan bualanmu," celetuk salah satu ibu-ibu desa dengan nada sinis sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Beni yang berdiri bersandar di balik tiang gudang penyimpanan ikan di dekat dermaga menyaksikan seluruh adegan itu dari awal hingga akhir.
Ia menatap Serena yang kini menangis meraung-raung di atas tanah, diabaikan oleh semua orang seperti hama yang menjijikkan.
Beni tersenyum dingin, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu berbalik untuk berjalan pulang ke rumahnya sendiri. Kepuasan batin yang ia rasakan sore ini benar-benar tidak ada tandingannya.
"Menangislah sepuasmu, Serena. Ini baru permulaan dari kehancuran kalian," bisik Beni dalam hati sembari menatap langit sore yang mulai menggelap. "Malam sudah tiba. Saatnya aku kembali ke laut, menaikkan levelku, dan menjelajahi lautan."