NovelToon NovelToon
Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: fhadilah

Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

maafkan ayah nak

Klik.

Suara pintu terbuka memecah keheningan di dalam ruangan.

Pak Sanggara perlahan memasuki kamar dengan kursi roda yang ia gerakkan sendiri. Tatapannya jatuh pada sosok putri semata wayangnya.

Ada rasa rindu.

Ada rasa sedih.

Dan ada rasa bersalah yang begitu besar memenuhi hatinya.

Di luar ruangan, Garendra memilih untuk tidak ikut masuk. Untuk saat ini, ia tahu bahwa Felisyah tidak membutuhkan dirinya.

Yang dibutuhkan wanita itu adalah seorang ayah yang selama ini menjadi tempatnya pulang.

"Felisyah..."

Suara Pak Sanggara terdengar pelan dan bergetar.

Mendengar suara yang sangat ia rindukan itu, tubuh Felisyah yang sejak tadi membelakangi pintu seketika membeku.

Perlahan ia menoleh.

Dan saat melihat sosok ayahnya duduk di kursi roda dengan wajah yang masih pucat, benteng pertahanan yang sejak tadi ia bangun runtuh begitu saja.

"Ayah..."

Hanya satu kata yang mampu keluar dari bibirnya.

Namun kata sederhana itu membawa ribuan rasa yang selama ini ia tahan.

Dalam sekejap, air matanya mengalir tanpa bisa ia hentikan.

Pak Sanggara segera mendekat. Dengan tangan yang masih lemah, ia menarik putrinya ke dalam pelukan.

Pelukan yang sejak kecil selalu menjadi tempat Felisyah menyembunyikan segala rasa sakitnya.

"Maafkan Ayah, Nak..."

Suara Pak Sanggara terdengar lirih di sela getaran napasnya.

"Semua ini terjadi karena Ayah. Seandainya Ayah sehat... seandainya Ayah mampu membahagiakanmu dengan cara yang lebih baik, mungkin kamu tidak perlu mengorbankan hidupmu seperti ini."

Matanya mulai berkaca-kaca.

Ia menahan air mata yang ingin jatuh. Bukan karena ia tidak ingin menangis, tetapi karena ia tidak ingin menambah beban di hati putrinya.

Namun Felisyah langsung menggeleng kuat.

Tangannya menggenggam tangan ayahnya dengan erat, seolah takut pria yang paling berharga dalam hidupnya itu kembali menyalahkan dirinya sendiri.

"Tidak, Ayah..."

Suaranya bergetar karena tangis yang belum berhenti.

"Jangan pernah mengatakan semua ini adalah kesalahan Ayah."

"Yang paling penting bagi Felisyah adalah Ayah masih ada di sini. Ayah masih bisa membuka mata, berbicara dengan Felisyah, dan tetap menemani Felisyah."

Tangisnya kembali pecah.

"Jangan menyakiti hati Felisyah dengan menyalahkan diri Ayah sendiri."

Di antara semua rasa kecewa, marah, dan luka yang ia rasakan terhadap keadaan, ada satu hal yang tidak pernah berubah.

Cinta seorang anak kepada ayahnya.

Karena bagi Felisyah, kehilangan kebebasan untuk memilih jalan hidupnya memang menyakitkan.

Namun kehilangan sosok ayah yang telah berjuang membesarkannya akan menjadi luka yang jauh lebih besar.

"Namun, Ayah juga harus meminta maaf karena telah menyetujui pernikahan ini tanpa sepengetahuanmu."

Suara Pak Sanggara kembali bergetar. Tatapannya penuh rasa bersalah saat menatap putri yang selama ini selalu berjuang untuknya.

"Ayah tidak tahu harus melakukan apa saat itu. Ayah hanya seorang ayah yang tidak berdaya melihat anaknya mengorbankan hidupnya demi menyelamatkan Ayah."

Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.

"Maafkan Ayah, Nak. Maafkan Ayah karena tidak memikirkan bagaimana perasaanmu ketika bangun dan mendapati hidupmu sudah berubah."

Pak Sanggara menggenggam tangan putrinya dengan erat.

"Tapi satu hal yang Ayah yakin... Nak Garendra adalah pria yang baik. Ayah bisa melihat ketulusan dan tanggung jawab dalam dirinya."

Mendengar nama Garendra disebut, Felisyah terdiam.

Pikirannya kembali mengingat bagaimana pria itu dengan sabar menemaninya.

Tidak pernah meninggikan suara.

Tidak pernah memaksakan dirinya untuk diterima.

Bahkan ketika ia mengusirnya, Garendra tetap memilih menunggu di luar.

Namun, tetap saja ada perasaan asing yang belum bisa ia abaikan.

Bagaimana mungkin ia bisa langsung menerima seseorang yang baru dikenalnya beberapa hari sebagai seorang suami?

Pernikahan bukan hanya tentang sebuah ikatan.

Ada kehidupan panjang yang harus mereka jalani bersama.

Dan semua itu terasa begitu cepat baginya.

Padahal, keputusan menerima tawaran itu memang datang dari dirinya sendiri demi menyelamatkan sang ayah.

"Felisyah..."

Pak Sanggara kembali memanggilnya lembut.

"Ayah tidak memaksamu untuk menerima semuanya saat ini juga."

"Setiap luka memiliki waktunya sendiri untuk sembuh."

"Jadilah dirimu sendiri, Nak. Kenali Nak Garendra dengan caramu sendiri. Mungkin, rasa percaya dan cinta akan hadir seiring berjalannya waktu."

Air mata di sudut mata Felisyah kembali jatuh.

"Tapi, Ayah..."

"Semuanya terasa begitu asing. Entah kapan Felisyah bisa menerimanya sepenuhnya."

Pak Sanggara tersenyum lembut.

Ia mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Ayah mengerti, Nak. Ayah tidak akan memaksamu."

"Yang terpenting sekarang adalah kamu menjaga dirimu dulu. Kamu sudah terlalu banyak menangis."

Pak Sanggara memperhatikan wajah putrinya yang masih terlihat pucat.

"Bagaimana keadaanmu sekarang?"

Felisyah menarik napas pelan lalu mencoba tersenyum.

"Felisyah baik-baik saja, Ayah. Tubuh Felisyah sudah lebih baik. Mungkin Felisyah sudah tidak membutuhkan perawatan lagi."

Pak Sanggara menggeleng kecil sambil tersenyum.

"Tetap saja kamu harus menjaga kesehatanmu. Kamu sudah membuat Ayah khawatir."

Ia melirik makanan yang masih berada di atas meja.

"Kalau begitu, makan dulu. Biar Ayah yang menyuapimu."

Untuk pertama kalinya setelah sekian banyak air mata yang jatuh hari itu, senyum kecil menghiasi wajah Felisyah.

Senyum yang sederhana, namun mampu membuat hati seorang ayah terasa jauh lebih tenang.

Felisyah mengangguk pelan.

"Baik, Ayah."

Di luar ruangan, tanpa mereka sadari, ada seseorang yang masih setia menunggu dengan hati penuh harap.

Seorang pria yang memilih menunggu, bukan karena menyerah.

Tetapi karena ia percaya, hati yang terluka tidak bisa dipaksa untuk menerima.

Di luar ruangan, Bayu berdiri tidak jauh dari tempat Garendra menunggu.

Tatapannya sesekali mengarah kepada sosok sang bos yang berdiri tegak dengan wajah datarnya.

Di mata orang lain, Garendra Pratama masih terlihat seperti biasa—dingin, berwibawa, dan sulit ditebak.

Namun, bagi Bayu yang telah lama mengenalnya, ia bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.

Ada kesedihan yang berusaha disembunyikan di balik tatapan tajam itu.

Ada kegelisahan yang terus ia tahan demi wanita yang kini berada di balik pintu tersebut.

"Kenapa Bos kali ini terlihat begitu menyedihkan?" gumam Bayu dalam hati.

"Padahal biasanya Bos adalah orang yang paling sulit dikalahkan oleh keadaan."

Bayu menghela napas panjang.

Ia tahu selama ini begitu banyak wanita yang berusaha mendekati Garendra.

Wanita-wanita cantik dari kalangan atas, bahkan yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan perhatian sang pewaris keluarga Pratama.

Namun satu per satu mereka ditolak.

Bukan karena Garendra tidak mampu mencintai.

Melainkan karena ia tahu, banyak dari mereka hanya tertarik pada nama besar dan kekayaan yang ia miliki.

Dan kini...

Pria yang selama ini menolak banyak wanita itu justru harus berjuang keras demi mendapatkan hati seorang wanita yang tidak mengejar harta, tidak terpesona oleh kedudukannya, bahkan belum mampu menerima keberadaannya sebagai seorang suami.

Sungguh ironis.

Cinta yang selama ini tidak ia cari, justru datang dan membuat pria setegar Garendra merasa takut untuk kehilangan.

Bayu menatap pintu ruangan itu sekali lagi.

"Semoga saja, Nyonya bisa melihat ketulusan Bos," gumamnya lirih.

"Karena untuk pertama kalinya, saya melihat Bos berjuang sebesar ini demi seseorang."

Hening sejenak.

Sebuah pertanyaan kembali memenuhi pikirannya.

Akankah kisah cinta Bosnya akan terus berjalan penuh air mata?

Ataukah kesabaran dan ketulusan Garendra akhirnya mampu meluluhkan hati Felisyah?

Hanya waktu yang akan memberikan jawabannya.

Bersambung...

1
Alia Chans
Hadir thor, like + bunga🌹
semangat✍️😉
fhadilah: Masha Allah, makasih 😍😍komentar pertama.. bkn hsru😍🙏🙏makasih sayang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!