Lima tahun Riana menyerahkan hatinya untuk satu nama yaitu Irwan. Lima tahun pula ia percaya bahwa dirinya adalah satu-satunya.
Sampai sebuah kenyataan menamparnya dan menghancurkan segalanya.Ternyata selama ini Riana bukan kekasih Irwan tapi ia hanya... selingkuhan.
Riana ingin memutuskan untuk pergi. Ia muak. Tapi Irwan menolak melepasnya. "Kamu sudah terlalu dalam di hidupku" katanya, dengan nada yang membuat Riana takut sekaligus lemah.
Di tengah luka dan ancaman itu, hanya ada satu orang yang selalu ada dua lah Arif. Sahabat yang selalu menemaninya, yang hapal caranya menangis dalam diam. Arif yang ternyata sudah lama menyimpan rasa, tapi memilih pergi demi kebahagiaan Riana.
Kini Riana harus memilih. Bertahan dalam cinta yang memenjarakan, atau berani bebas meski harus kehilangan semuanya? Dan sanggupkah Arif tetap diam saat wanita yang ia cinta sedang tenggelam?
Lima tahun cinta, ternyata hanya lima tahun kebohongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rika nopiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
"Mah,,,," Riana menahan lengan Hana agar ibunya itu tak bisa pergi kemana-mana.
"Apa sih Ri,,,,mamah lagi sibuk nih banyak yang harus mamah siapin" jawab Hana,nadanya masih lembut seperti biasa.
"Sibuk apa mah?" Riana mengerutkan dahi, sepertinya dia tak salah dengar saat ibunya bilang akan pergi dengan teman-teman arisannya pada tanggal 12 nanti.
"Arisan lah, ibu-ibu pada pingin berendam di kolam air panas.Kenapa?kamu mau ikut?" tawar Hana pada Riana,karena memang biasanya jika sedang suntuk Riana suka ikut menemani Hana.
"Tanggal 12 bulan depan kan?" tanyanya memastikan.
"Enggak lah,Minggu ini.Bulan depan mah nanti di-"
"Mamah lupa tanggal 12 itu Riana mau nikah?!" Riana buru-buru menyela ucapan ibunya.Oh ayolah ibunya tidak mungkin melupakan hal sebesar itu bukan.
"Loh,nikah sama siapa?" Wajah Hana tampak bingung.
"Arif lah mah" jawabnya sambil merengek pada Hana.
Kini Hana malah semakin terlihat bingung "Kan gak jadi!" ucapnya linglung.
"Kok gak jadi sih mah" di sini Riana sempat terpikir untuk membawa ibunya ke dokter karna khawatir terkena penyakit demensia.
"Ini gimana sih mamah kok jadi pusing" Hana memijat kepalanya pening.
"Emang mamah dapat info dari siapa?siapa yang bilang gak jadi?" Riana penasaran.
"Ya Arif,dia bilang katanya kamu yang batalin nikah sama dia" Riana langsung mematung,apa iya Arif yang mengatakan hal itu.
"Kapan dia bilangnya?kok aku gak tau" Riana mulai gugup.
"Minggu kemarin,waktu kamu ngurung diri di kamar seharian.Arif cerita semua masalah kamu sama dia ke mamah" Hana curiga ada yang tak beres saat melihat respon putrinya " Ini semua memang mau kamu kan sayang?!" tanyanya hati-hati.
"Aku pergi dulu ya mah" ucap Riana, dia harus menanyakan hal ini langsung pada Arif.Ia lekas berlari ke luar rumah hendak memesan ojeg online tapi sepertinya membutuhkan waktu lama sedangkan ia sudah tidak sabar, beruntung ia melihat Ujang,anak bi Inah yang datang dengan sepeda motornya untuk menjemput bi Inah pulang.
"Jang,anterin gue sebentar ya.Nanti gue ganti uang bensinnya" pinta Riana langsung naik ke atas motor Ujang tanpa persetujuan pemuda itu..
Ujang mengendarai motor bututnya dengan kecepatan tinggi karna Riana berkali-kali memintanya untuk menambah kecepatan laju kendaraannya.
Akhirnya motor sampai di sebuah rumah megah dengan pagar yang menjulang tinggi.Ujang pergi setelah Riana memberinya selembar uang merah, yang di terima Ujang dengan senyum merekah penuh syukur.
Satpam di sana langsung membukakan gerbang samping sambil menghampiri Riana, karna ia memang sudah mengenal gadis itu."Cari den Arif non?" tanyanya berbasa-basi sedangkan Riana hanya mengangguk saja.
Riana duduk di ruang tamu dengan gelisah.Pembatalan pernikahan? Riana bahkan merasa tak pernah mengucapkan hal itu pada Arif.
Tak lama Arif datang dari lantai atas dengan pakaian rumahannya,wajahnya tenang,gestur tubuhnya juga santai tak menunjukan ada sesuatu yang salah.
"Ri!" sapanya singkat.Riana menatap wajah itu,namun sayangnya Arif hanya menatapnya sekilas pria itu malah sibuk menyajikan minuman yang baru saja di bawa oleh Art nya.
"Rif,kenapa pernikahan kita batal?" tanya Riana langsung pada intinya.
Arif menyodorkan gelas berisi lemon tea hangat kesukaan Riana selain ice latte tentunya "Minum dulu Ri".
Riana tak menggubris "Aku minta penjelasan" desaknya.
Arif menghela nafas panjang sebelum mulai berbicara "Iya,pernikahan di batalkan" ucapnya tanpa basa-basi.
"Kenapa?" tanya Riana getir, maksudnya kenapa Arif tidak berdiskusi dulu soal ini dan mengambil keputusan sepihak.
"Pembicaraan terakhir kita menyadarkan aku kalo,emang aku gak bisa memaksakan keinginan aku." jawab Arif namun masih ada senyum kecil di tersungging di wajahnya.Mungkin dia sedang menertawakan dirinya sendiri.
"Aku cuma bilang ragu sama perasaan aku Rif,bukannya minta pernikahan kita batal" sentak Riana, sedikit emosi.
"Apa bedanya Riana?" jawabnya masih dengan santai dan itu membuat Riana sebal.
"Jelas beda,saat aku bilang ragu harusnya kamu yakinkan lagi aku,usah lagi supaya gak ada ragu lagi di hati aku" mata gadis itu sudah berkaca-kaca mungkin ada sedikit kekecewaan.
"Riana, apa selama ini kamu gak bisa ngerasainnya?Bertahun-tahun ini,semua udah aku lakuin buat bikin kamu jatuh cinta sama aku.Kalo kamu kira aku orangnya memang baik ama semua orang,enggak!Itu salah Ri aku baiknya cuma sama kamu doang bahkan sama Melly pun aku gak sebaik dan seperhatian itu." Arif menjelaskan dengan sesak yang perlahan muncul.
"Apapun yang aku lakukan,hasil akhirnya tetap sama,aku selalu kalah sama masa lalu kamu itu,selalu ada tempat buat dia di hati kamu.Sedangkan aku cuma bisa jadi penonton,jadi saksi cinta kalian yang dulu begitu kamu anging-agungkan" ucap Arif sarkas.
Riana tak bisa menjawab walau enggan mengakui,tapi apa yang Arif ucapkan memang benar adanya "Tapi kenapa kamu gak diskusiin ini dulu sama aku?"
"Ayolah Ri,bahkan Ido dan Melly pun tau seberapa banyak telpon aku yang kamu abaikan!" Skakmat!Riana otomatis benar-benar terbungkam akan fakta itu.
Kata-kata Arif barusan seperti menyadarkan Riana betapa jahatnya dia selama ini pada pria sebaik itu.Sesak luar biasa datang menghantam ulu hatinya,wajahnya sudah pucat tangannya juga sudah gemetaran.Setitik air mata luruh di kelopak matanya,entah hal apa yang sebenarnya ia tangisi.
Arif mulai gelisah melihat Riana yang menangis di hadapannya,jika biasanya ia langsung menenangkan gadis itu memeluk atau sekedar mengelus punggungnya namun kali ini ia berusaha keras menunjukan dirinya tidak terpengaruh sedikitpun pada tangis itu.
"Udahlah Ri,gak usah di bahas lagi.Sekarang kamu udah bebas dari beban ini.Sorry selama ini aku terlalu PeDe ngerasa bisa buat kamu bahagia padahal jelas-jelas kebahagiaan kamu cuma ada di dia" Arif begitu lancar mengatakannya,Riana menatap wajah itu mencoba mencari jejak rasa yang ada namun nihil.
Riana mengangguk, baiklah sekarang ia merasa di buang.Perlahan ia bangkit dari duduknya bersiap pergi tampaknya tak ada yang bisa di diskusikan lagi.
"Aku pulang" ucapnya lirih.
Riana melangkah keluar namun lengannya tiba-tiba di cekal oleh Arif dari belakang. "Aku antar" ucap Arif tegas
Riana lepaskan perlahan tangan Arif dari lengannya sambil berkata "Gak usah".Namun Arif malah mendahului langkahnya menuju mobil yang terparkir di halaman dan segera membuka pintu penumpang di depan. Ia mengisyaratkan Riana untuk segera masuk tanpa membantah.
Riana sudah tak mempunyai tenaga lagi untuk berdebat ia mengikuti kemauan pria itu.Riana duduk dalam diam sambil bersandar pada kaca mobil di sepanjang perjalanan.
Arif menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Riana,mesin mobil belum di matikan pertanda pria itu tidak akan mampir. terlebih dahulu "Aku antar sampai sini aja ya,salam sama ibu"
"hmmh" jawab Riana, kemudian hening sesaat "Aku minta maaf,udah ngecewain kamu.Seharusnya sejak awal aku tolak lamaran kamu" ucapnya penuh sesal
"Its oke,selamanya itu akan menjadi salah satu bagian paling membahagiakan dalam hidup aku" ujarnya sambil kembali tersenyum kecil.
Arif menyodorkan tangan kanannya mengajak Riana untuk bersalaman,awalnya ragu namun akhirnya Riana menyambut uluran tangan itu.Jabat tangan itu menjadi penanda kesepakatan mereka untuk mengakhiri segalanya