Di lorong-lorong megah Université Paris-Sorbonne, Xienna Elizabeth Mapelli Mozzi dikenal karena dua hal, kecantikannya yang ningrat dan cintanya yang mencekik terhadap Brandon Alton Everett.
Namun, ketika cinta itu hancur secara publik, Xienna justru terperangkap dalam radar pria paling berbahaya di Paris, Denzzel Lambert Riccardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Putus Asa
Tiga bulan telah berlalu, sejak malam berdarah di Normandia. Paris sedang berselimut musim dingin yang membeku, namun dinginnya salju tak sebanding dengan kekosongan yang dirasakan Xienna.
Vittorio, yang merasa putrinya telah membuktikan kesetiaan dengan menusuk Denzzel, mulai melonggarkan pengawasan.
Bagi dunia, Xienna adalah pahlawan Mapelli Mozzi yang berhasil meloloskan diri dari cengkeraman psikopat Riccardo. Namun, di balik gaun-gaun high fashion yang ia kenakan untuk menutupi tubuhnya yang kian kurus, Xienna menyimpan rahasia yang setiap hari berdenyut di dalam rahimnya.
Seminggu yang lalu, dunianya benar-benar berhenti.
Hasil tes laboratorium yang ia lakukan secara sembunyi-sembunyi mengonfirmasi ketakutannya, Positif. Benih dari malam-malam penuh gairah dan kegilaan di Karibia itu kini tumbuh menjadi nyawa.
Sebuah nyawa yang merupakan percampuran antara darah Mapelli Mozzi dan Riccardo dua kutub yang seharusnya tidak pernah bersatu.
Xienna duduk di sudut perpustakaan pribadinya, gemetar hebat. Ia tidak bisa menyembunyikan ini lebih lama lagi. Jika ibunya melihat perubahan pada selera makannya atau mual di pagi harinya, rahasia ini akan terbongkar, dan Vittorio tidak akan ragu untuk menghabisi janin itu atau dirinya sendiri.
Dengan tangan berkeringat, ia mengeluarkan ponsel satelit yang ia sembunyikan di balik sampul buku tua. Ia menekan nomor yang selama tiga bulan ini hanya ia pandangi setiap malam. Nomor Denzzel.
Ponsel itu tidak lagi aktif di jaringan publik sejak skandal video terakhir meledak. Denzzel seolah ditelan bumi. Kabarnya, ia pergi ke pengasingan untuk pemulihan, namun tak ada yang tahu pastinya.
Tuut... tuut...
Xienna menahan napas. Jantungnya berdegup hingga ke kerongkongan.
"Kumohon, Denzzel... angkat," bisiknya terisak.
Tepat saat ia hendak menyerah, panggilan itu terhubung. Tidak ada suara di seberang sana. Hanya keheningan yang berat, namun Xienna bisa merasakan kehadiran napas seseorang yang sangat ia kenali. Napas yang dulu sering memburu di ceruk lehernya.
"Denzzel?" suara Xienna pecah. "Aku tahu kau di sana. Aku tahu kau membenciku. Aku tahu kau ingin aku mati setelah apa yang kulakukan."
Masih tidak ada jawaban, namun panggilan itu tidak diputus.
"Aku melakukannya untuk menyelamatkanmu, bajingan!" teriak Xienna tertahan, air mata mulai jatuh ke pangkuannya. "Ayahku ingin mengebom vila itu. Aku harus menusukmu agar mereka membawaku pergi dan membatalkan serangannya! Aku tidak peduli jika kau tidak percaya... tapi sekarang..."
Xienna menjeda sejenak, mengelus perutnya yang masih rata.
"Denzzel... aku hamil. Ini anakmu. Dan jika kau tidak menjemput ku sekarang, ayahku akan membunuh anak ini saat dia tahu siapa ayahnya."
Di sebuah kabin kayu terpencil di pegunungan Alpen yang gelap, Denzzel berdiri diam menatap salju yang turun di luar jendela. Tubuhnya jauh lebih berotot dari sebelumnya, dan bekas luka tusukan di perutnya telah mengering, meninggalkan tanda permanen yang setiap hari ia sentuh untuk mengingatkannya pada Xienna.
Mendengar kata "hamil", cengkeraman Denzzel pada ponselnya begitu kuat hingga layar kacanya mulai retak. Matanya yang semula dingin dan penuh dendam, seketika berkilat dengan kegilaan yang baru.
Bukan rasa takut, bukan rasa marah. Itu adalah rasa memiliki yang mutlak.
"Denzzel? Jawab aku!" isak Xienna di telepon.
Denzzel akhirnya mendekatkan ponsel itu ke bibirnya.
Suaranya terdengar begitu rendah, dingin, namun penuh dengan otoritas yang tak terbantahkan.
"Jangan menangis, Cara," ucap Denzzel. "Tunggu di balkon kamarmu tepat jam dua pagi. Jangan bawa apa pun selain nyawamu dan anakku."
"Denzzel, pengawalan di sini sangat ketat..."
"Aku tidak peduli," potong Denzzel tajam. "Aku sudah membakar setengah dari dunia ini hanya untuk menemukan alasan memaafkan mu. Dan sekarang kau memberiku alasan itu. Jika ayahmu menyentuh sehelai rambutmu atau anak itu, aku akan memastikan Mapelli Mozzi hanya tinggal nama di batu nisan."
Klik.
Panggilan terputus.
Xienna terduduk lemas di lantai. Ia tahu, pelarian kali ini tidak akan ada jalan kembali. Denzzel akan menjemputnya, bukan sebagai kekasih yang lembut, tapi sebagai iblis yang menuntut hak atas darah dagingnya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading 🥰
simple tapi penuh makna