Sesungguhnya mencintai seseorang dengan setulus hati itu sangatlah sederhana, tak ada alasan, tak ada tuntutan, juga tak berharap balasan, cukup melihatnya tersenyum bahagia maka hatimu akan merasa bahagia.
Seseorang yang memiliki ketulusan dalam cintanya akan terus berusaha agar orang yang di cintainya merasa bahagia, meskipun terkadang tanpa sadar telah menyakiti dirinya sendiri.
Seperti dalam kisah ini.
Seorang gadis yang setia menunggu cinta pertamanya yang hampir 3 tahun tak ada berita, tiba tiba saja di lamar oleh seorang pria yang sudah dia anggap seperti kakaknya di masa lalu. kebimbangan menimpanya,sampai akhirnya mereka menikah atas permintaan orangtuanya, perlahan diapun mulai menyukai suaminya.
Namun entah apa yang terjadi, setelah hampir satu tahun berumah tangga, suaminya merasa dirinya tak mampu membahagiakan istri yang sangat ia cintai, dia pun berusaha untuk mempersatukan kembali istrinya dengan cinta pertamanya. Apa yang terjadi?...
yuk readers ikuti kisah serunya 😉
❤❤❤
happy reading.... 😊🤗👏
=====================================
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma khusnul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Mengajar
Afifa merasa lega karena akhirnya bisa meninggalkan restoran itu. Ia berjalan cepat keluar, berusaha menahan langkahnya agar tidak terlihat terburu-buru. Begitu masuk ke mobil, ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, memejamkan mata sejenak, mencoba mengusir kegelisahan yang sejak tadi menghantui.
Tak lama, pintu mobil di sisi pengemudi terbuka. Fauzi masuk, duduk tenang di depan kemudi. Aroma parfum samar yang biasa menenangkan hati Afifa kini justru membuatnya semakin gelisah. Ia segera menegakkan tubuhnya, berusaha menyunggingkan senyum, meski terasa dipaksakan.
“Langsung pulang?” tanya Fauzi, menoleh sekilas ke arah istrinya.
“Iya... Kak Aji juga pasti capek, kan,” jawab Afifa pelan, matanya menatap dashboard, menghindari tatapan Fauzi.
“Hemmm...” Fauzi hanya mengangguk, lalu melajukan mobil keluar dari parkiran.
Keheningan membungkus mereka sepanjang perjalanan. Hanya suara mesin mobil dan denting lagu religi dari radio yang terdengar. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Afifa menggigit bibir, ingin sekali bicara, ingin menjelaskan sesuatu—apa saja—tapi kata-katanya terkunci. Ia tak berani menebak apa yang ada di benak Fauzi. Ia takut, jika ia mulai bicara, justru akan membuka pintu ke arah yang tidak ingin ia lalui.
Lima belas menit kemudian, mobil hitam itu berhenti tepat di parkiran rumah.
“Sudah sampai. Ayo turun,” ucap Fauzi datar, tapi tetap terdengar lembut.
Afifa sedikit terkejut, seolah terbangun dari lamunannya. “Oh... iya, Kak,” jawabnya tergesa, lalu turun dari mobil.
Mereka masuk ke rumah. Afifa langsung menuju kamar, menyiapkan pakaian ganti dan handuk untuk suaminya. Ia tahu betul, Fauzi baru saja pulang dari perjalanan panjang dan pasti belum sempat membersihkan diri.
Tak lama, Fauzi masuk ke kamar setelah memastikan pintu garasi dan pintu rumah terkunci.
“Mandi dulu, Kak. Fifa sudah siapkan,” ucap Afifa sambil menyerahkan handuk.
“Oh, iya. Terima kasih,” jawab Fauzi, singkat, sambil menerima handuk itu.
“Fifa ke mushola dulu. Tadi belum sempat salat Isya,” ujar Afifa, berusaha terdengar tenang.
Fauzi hanya mengangguk, lalu masuk ke kamar mandi.
Selesai salat, Afifa kembali ke kamarnya. Ia menemukan Fauzi sudah terlelap. Napas suaminya teratur, wajahnya tampak lelah namun tenang. Afifa berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang sambil memandangi sosok lelaki yang kini menjadi suaminya.
Tidakkah kau sedikit merindukanku, Kak? batinnya bergejolak. Tiga hari kau jauh, tak ada kabar selain pesan singkat. Tahukah kau betapa aku menginginkan perhatianmu, belaian kasih sayangmu? Aku ini istrimu. Hatiku sudah mantap padamu, Kak... Sejak akad itu terucap, aku berjanji mencintaimu seumur hidup. Karena bagiku, janji itu bukan hanya di hadapan manusia, tapi perjanjian besar dengan Yang Maha Kuasa.
Matanya berkaca-kaca. Ia mengulurkan tangan, nyaris menyentuh pipi Fauzi, namun mengurungkan niatnya. Ia tak tega membangunkannya hanya untuk memuaskan egonya.
Dengan hati-hati, Afifa menarik selimut, menutup tubuh suaminya yang tertidur pulas. Ia lalu membaringkan tubuhnya di sisi Fauzi, mencoba memejamkan mata meski pikirannya masih berisik. Tak lama, ia pun ikut terlelap.
***
Pukul setengah empat pagi, Afifa terbangun. Ia bergegas ke kamar mandi, lalu melaksanakan kewajiban salat. Pagi itu ia bergerak lebih cepat dari biasanya. Hari ini adalah hari Jumat, hari pertamanya magang mengajar setelah menikah. Hatinya berdebar—antara gugup dan antusias—apalagi jarak ke sekolah membutuhkan waktu 45 menit perjalanan.
Saat ia keluar kamar, Fauzi sudah duduk di ruang keluarga, menonton acara religi seperti biasanya.
“Kak... hari ini Fifa ada jadwal mengajar,” ucapnya, mencoba terdengar riang.
“Oh ya?” Fauzi menoleh singkat. “Jam berapa?”
“Jam delapan tiga puluh, Kak. Fifa harus sudah sampai di sekolah.”
Fauzi melirik jam dinding, lalu kembali menatap istrinya. “Bersiaplah. Aku akan mengantarmu.”
Afifa mengangguk, senyum kecil terbit di bibirnya. Ia segera kembali ke kamar, berganti pakaian dengan seragam dinasnya. Saat bercermin, Afifa sedikit tertegun—seragam itu membuatnya tampak lebih dewasa.
Selesai bersiap, ia keluar kamar dan menghidangkan sarapan di meja makan. “Ayo sarapan dulu, Kak,” ucapnya sambil menata piring.
“Ya,” jawab Fauzi singkat, duduk di hadapannya.
Mereka sarapan bersama, dalam keheningan yang nyaman. Meski kata-kata tak banyak terucap, Afifa merasa ada ketenangan yang berbeda pagi itu.
***
Setelah sarapan, mereka berangkat menuju sekolah tempat Afifa mengajar. Mobil hitam itu melaju pelan melewati jalanan pagi yang mulai ramai. Udara segar, sinar matahari lembut menembus kaca mobil, memantul di wajah Afifa yang tampak anggun dengan seragam dinasnya.
Fauzi sempat melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan. “Kamu tampak... berbeda,” ucapnya tiba-tiba, suaranya datar tapi nadanya hangat.
Afifa menoleh cepat, sedikit terkejut. “Berbeda gimana, Kak?” tanyanya ragu, pipinya mulai memerah.
“Lebih dewasa,” jawab Fauzi singkat. Ada jeda sejenak sebelum ia menambahkan, “dan cantik.”
Afifa terdiam. Jantungnya berdebar kencang. Kata-kata sederhana itu terasa seperti aliran listrik yang menghangatkan hatinya. Ia menunduk, menyembunyikan senyum yang sulit ia bendung.
“Terima kasih, Kak...” ucapnya lirih, hampir tak terdengar.
Keheningan kembali mengisi mobil, namun kali ini bukan keheningan yang menegangkan seperti malam tadi. Ada ketenangan, kehangatan yang samar, seolah jarak di antara mereka mulai mencair.
Tak lama, Fauzi kembali bersuara, kali ini dengan nada serius. “Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Fa. Kamu masih belajar. Kalau ada kesulitan... bilang padaku.”
Afifa menatapnya, hatinya bergetar mendengar kalimat itu. Ada rasa ingin bertanya banyak hal—tentang apa yang sebenarnya dipikirkan suaminya, tentang perasaan yang sering ia sembunyikan. Tapi lidahnya kelu, hanya mampu mengangguk pelan.
“Insya Allah, Kak,” jawabnya singkat.
Mobil hitam itu berhenti di depan bangunan sekolah berlantai dua. Suasana pagi begitu hidup—anak-anak berlarian di halaman, tawa mereka berpadu dengan sapaan guru-guru yang menyambut di pintu gerbang.
Afifa menghirup udara pagi dalam-dalam. Ada getaran haru di hatinya. Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi guru. Kata-kata gurunya di SMP dulu masih terngiang jelas: menjadi guru bukan hanya pekerjaan, tapi ibadah. Mendidik anak-anak untuk menemukan jati dirinya, menguatkan keimanan mereka, agar kelak bisa meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Fauzi menoleh lagi ke arahnya, kali ini senyumnya lebih tulus. “Semangat, Bu Guru,” ucapnya pelan, namun dengan nada hangat yang menenangkan.
Afifa menoleh, senyum merekah di wajahnya. “Terima kasih, Kak,” jawabnya lirih. Dan untuk sesaat, kegelisahan semalam seolah memudar, digantikan harapan baru bahwa pernikahan mereka perlahan mulai menemukan jalannya.
*****
Bersambung...😊❤
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Slow dulu ya, akan ada kejutan di sekolah 😊
InsyaAllah dibaca SCA 2 nya, semakin menarik sepertinya dan bikin penasaran dengan kisah Fauzi dan Afifa, Farid dan Wulan bagaimana ya 🤔🤔🤔
Semangat kak Rahma dan teruslah berkarya
👍👍👍🤗🤗🤗
😊😊😊
🤣🤣🤣
Doa terbaik buat kak Rahma dan keluarga, sehat sehat dan sukses selalu 🤗🤗
🤗🤗🤗
🤧🤧🤧
🤔🤔🤔