Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Suara roda koper bergesekan pelan dengan lantai marmer saat aku menurununi tangga rumah sambil menahan napas yang terasa aneh sejak tadi. Rumah itu masih terlalu tenang, hanya diselimuti cahaya pucat matahari yang masuk dari jendela-jendela tinggi di sisi ruangan. Di bawah sana, sebuah koper hitam sudah berdiri rapi di dekat pintu utama. Dan di sampingnya, Mason berdiri sambil menatap layar ponselnya dengan ekspresi serius seperti biasa.
Aku berhenti beberapa langkah dari anak tangga terakhir, memperhatikannya diam-diam. Bahkan dengan pakaian kasual sederhana berupa kemeja hitam dan celana panjang gelap, pria itu tetap terlihat terlalu mencolok untuk diabaikan. Bahunya tegap, rambut hitamnya tertata rapi, dan wajahnya masih menyimpan ketenangan dingin yang sama seperti pertama kali aku mengenalnya. Sulit dipercaya bahwa pria itu sekarang adalah suamiku.
Jantungku kembali berdetak sedikit lebih cepat saat menyadari kenyataan itu.
Mason akhirnya mengangkat kepala ketika mendengar langkahku mendekat. Tatapannya singgah beberapa detik padaku sebelum berpindah ke koper kecil yang kubawa. “Sudah siap?” tanyanya singkat.
Aku mengangguk cepat. “Sudah.”
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia mengambil koperku begitu saja dan berjalan lebih dulu menuju pintu keluar. Aku sedikit terdiam melihat punggungnya. Gestur itu sederhana sekali. Bahkan mungkin tidak berarti apa-apa baginya. Namun entah kenapa, aku tetap merasa hangat dibuatnya. Kadang aku membenci diriku sendiri karena terlalu mudah berharap hanya dari hal-hal kecil seperti itu.
Perjalanan menuju bandara berlangsung cukup tenang. Kota Chicago masih belum terlalu ramai pagi itu, sehingga mobil melaju dengan mulus melewati jalanan yang mulai diselimuti cahaya matahari. Aku beberapa kali melirik ke arah Mason yang duduk di sampingku sambil mengecek sesuatu di ponselnya. Wajahnya tetap serius seperti biasa.
“Aku masih tidak percaya kita benar-benar pergi,” kataku pelan, mencoba membuka percakapan.
Mason mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. “Hmm.”
Aku tersenyum kecil. “Kau pernah ke Santorini sebelumnya?”
“Sekali.”
“Untuk liburan?”
“Pekerjaan.”
Dan percakapan itu pun berakhir lagi. Aku menahan napas pelan sambil menatap keluar jendela. Aku seharusnya sudah terbiasa dengan caranya menjawab. Pendek, datar, dan selalu seperlunya. Namun terkadang aku masih berharap terlalu banyak. Berharap ia akan mulai membuka dirinya sedikit demi sedikit.
Saat tiba di bandara, beberapa staf langsung membantu membawa barang kami. Aku berjalan di samping Mason sambil memperhatikan orang-orang yang sesekali menoleh ke arah kami. Dengan tinggi tubuhnya, wajah tampan yang terlalu mencolok, dan aura dingin yang sulit diabaikan, Mason memang selalu menarik perhatian. Dan untuk pertama kalinya, aku berjalan di sisinya bukan sebagai orang lain, melainkan sebagai istrinya. Pikiran itu membuatku diam-diam gugup.
Selama proses check-in sampai boarding, Mason tetap tidak banyak bicara. Namun beberapa kali ia melakukan hal-hal kecil yang membuatku bingung harus merasa bagaimana. Seperti saat antrean mulai padat, ia menarik pelan lenganku agar aku tidak tersenggol orang lain. Atau saat kami berjalan menuju gate keberangkatan, ia memperlambat langkahnya ketika menyadari aku sedikit tertinggal.
Ia tidak romantis, tidak manis, dan tidak hangat. Tapi ia juga tidak benar-benar mengabaikanku. Dan itu justru jauh lebih membingungkan.
Di dalam pesawat, kami duduk berdampingan di kelas bisnis. Aku langsung terpukau melihat kabin luas dengan kursi nyaman dan jendela besar di sampingku. Ini pertama kalinya aku melakukan perjalanan sejauh ini, dan semuanya terasa seperti mimpi. Namun di sampingku, Mason terlihat jauh lebih tenang. Ia langsung membuka laptopnya beberapa menit setelah pesawat lepas landas.
Aku melirik layar di depannya, yang tampak dipenuhi grafik, angka dan email. “Kau masih bekerja?” tanyaku pelan.
“Ada beberapa hal yang harus diselesaikan.”
Aku mengangguk kecil meskipun sedikit kecewa. Bulan madu kami bahkan belum benar-benar dimulai, dan ia sudah kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Namun aku berusaha tidak memikirkannya terlalu jauh. Mungkin memang beginilah Mason. Pria yang terlalu sibuk hingga bahkan tidak tahu bagaimana cara berhenti.
Beberapa jam kemudian pesawat mulai mengalami turbulensi ringan. Aku refleks menegang di kursiku, dan tanpa sadar menggenggam sandaran tangan sedikit lebih kuat. Mason yang menyadarinya menoleh sebentar ke arahku.
“Tidak apa-apa,” katanya tenang. “Ini normal.”
Suaranya tetap datar. Namun entah kenapa, aku langsung merasa sedikit lebih tenang. Dan aku membenci diriku sendiri karena sesederhana itu dipengaruhi olehnya.
Perjalanan panjang itu membuatku akhirnya tertidur. Saat terbangun beberapa waktu kemudian, aku menyadari sebuah selimut sudah menutupi tubuhku dengan rapi. Aku sedikit terdiam sebelum menoleh ke arah Mason. Pria itu masih fokus pada tabletnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku tidak bertanya. Dan ia juga tidak menjelaskan. Namun sepanjang sisa perjalanan, aku diam-diam memeluk perasaan hangat itu sendiri.
Setelah transit panjang dan penerbangan berikutnya, akhirnya kami tiba di Santorini menjelang sore. Langit terlihat begitu biru, dan udara laut langsung menyambut begitu kami keluar dari bandara kecil itu. Aku bahkan sempat berhenti beberapa detik hanya untuk melihat pemandangan di sekelilingku.
Bangunan-bangunan putih berdiri indah di atas tebing, sementara laut membentang luas dengan warna biru yang nyaris tidak nyata. Tempat ini benar-benar terlihat seperti kartu pos.
“Indah sekali…” gumamku pelan.
Mason berdiri di sampingku sambil menunggu koper kami. “Hmm.”
Aku tertawa kecil. “Apa tidak ada jawaban lain selain itu?”
Untuk sepersekian detik, sudut bibir Mason tampak bergerak tipis sebelum ia kembali berjalan lebih dulu. Dan aku langsung membeku beberapa detik karena reaksi kecil itu. Astaga, Apa tadi ia tersenyum?
Perjalanan menuju resort berlangsung sekitar tiga puluh menit. Aku duduk di dalam mobil sambil terus menatap pemandangan di luar jendela seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia. Laut biru. Jalanan kecil berbatu. Rumah-rumah putih dengan bunga bugenvil merah muda yang menjuntai di dinding. Semuanya terasa terlalu indah.
“Aku masih tidak percaya kita benar-benar ada di sini,” kataku pelan.
Mason menoleh sebentar. “Kau akan terbiasa.”
Jawabannya tetap khas Mason. Tidak romantis dan tidak manis. Namun kali ini tidak terasa menusuk.
Saat akhirnya kami tiba di resort, aku benar-benar kehilangan kata-kata. Suite yang kami tempati berdiri tepat di tepi tebing dengan pemandangan laut lepas yang luar biasa indah. Infinity pool kecil membentang di depan balkon kamar, sementara cahaya matahari sore memantul di permukaan air dengan cantik.
Aku berjalan perlahan memasuki kamar sambil menahan napas kagum. Mason meletakkan koper kami di dekat sofa. “Kau bisa memakai sisi kanan lemari.”
Aku menoleh ke arahnya. Bahkan di tempat seindah ini, caranya berbicara tetap terdengar seperti pembagian ruang kerja. Namun kali ini aku hanya tersenyum kecil. Setidaknya, ia tidak memberiku kamar terpisah.
Aku berjalan menuju balkon dan berdiri di sana cukup lama. Angin laut bertiup lembut menerbangkan rambutku, sementara matahari perlahan mulai turun di balik cakrawala. Tempat ini terlalu indah untuk dijelaskan dengan kata-kata.
Di belakangku, Mason sedang membalas pesan di ponselnya. Dan anehnya, untuk pertama kalinya sejak menikah, aku tidak terlalu merasa sendirian.
Malam pun mulai turun perlahan ketika ponselku tiba-tiba berdering. Nama Ibu muncul di layar. Aku langsung tersenyum sebelum mengangkat panggilan itu.
“Halo, Bu.”
“Hazel!” suara ibuku langsung terdengar antusias. “Bagaimana Santorini? Apa tempatnya seindah di foto?”
Aku tertawa kecil sambil kembali memandang laut di depanku. “Bahkan lebih indah.”
Dari seberang sana, aku mendengar suara lain ikut menyela. Suara Sarah. “Sudah kuduga.” katanya penuh semangat. “Aku tahu kalian pasti akan menyukainya.”
Aku sedikit terkejut. “Kalian bersama?”
“Kami sedang makan malam,” jawab ibuku. “Ayahmu, Rowan, dan Sarah ada di sini.”
Aku langsung bisa membayangkan mereka duduk bersama sambil membicarakan kami. Pikiran itu terasa hangat sekaligus membuatku malu.
Sarah tertawa kecil dari seberang sana. “Nikmati waktu kalian baik-baik, Hazel. Jangan terlalu memikirkan apa pun.”
Aku melirik ke arah Mason yang kini berdiri beberapa langkah di belakangku. Ia tampak sedang melihat pemandangan laut dengan tenang.
“Kami baik-baik saja,” jawabku pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku merasa mungkin kalimat itu tidak sepenuhnya bohong.
lebih baik di cinta dari pada mencintai mencintai seorang diri tuh cape ya kalau kamu ikhlas di madu ya ga papa sih zel cinta level dewa
kalau bisa jangan kembali ke rumah itu biarkan mereka bahagia cinta level dewa kalau kembali cintamu level kacrut 🤭
betul" nih kamu zel muka tembok hati bebal orang ga cinta kamu paksa
gumussss aku
mungkin suatu saat nanti mason ada hati ke kamu untuk sekarang mundur lah ihhhj ga ada harga diri memaksa