Jalur mature book, yang masih piyik jangan masuk 📌🙏🏻
Kenzo yang di khianati kekasih di masa lalu membuat dia tak mau dekat dengan wanita manapun. mantan kekasihnya adalah ibu tirinya saat ini.
Bagi Kenzo cinta adalah omong kosong, cinta cuma bisa di buktikan di atas ranjang, setelah itu tak ada ikatan apapun.
Kenzo Eko Armanta saat ini adalah sosok dingin, arogan, cuek, semaunya dan kejam.
Tiba-tiba saat seorang gadis bernama Vinda yang menjadi sekretaris baru masuk ke lingkungan hidupnya, gadis itu bisa memporak-porandakan kebekuan Hati Kenzo, saat itu lah dia baru sadar jika cinta itu masih ada.
Kenzo bisa kembali bersikap manusiawi dan mempercayai cinta lagi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. cinta yang seperti berjarak
Area no piyik.....;) skip jika blm ckp umur.
Apartemen Mewah, Sudirman Jakarta.
Sepanjang perjalanan mereka banyak mengobrol. Kenzo menjelaskan pada Nayyara begitu anak Larasati lahir akan dilakukan tes DNA supaya jelas itu benar anak ayahnya. Pernikahan ini semata demi menyelamatkan nama baik keluarga dan LG indah Group, karena skandal itu membuat masyarakat bereaksi keras.
Malam itu mereka sampai di apartemen Kenzo. Duduk di sofa abu‑abu seperti biasa, pria itu terus memeluknya, enggan melepas sedikit pun.
"Kamu seperti mengurungku saja, mas, ya ampun biarkan aku duduk di sofa yang benar."
"Tak mau! Aku masih rindu padamu."
Vinda mengeluh kesal tapi tetap membelai rambut hitam pria-nya, melingkarkan tangan di leher pria itu, masih betah duduk di pangkuannya. Dia mendongak saat Kenzo mengecup lehernya dengan rakus, lalu meremas lembut dadanya di balik gaun.
Bibir mereka bertemu dalam ciuman panas dan basah, saling berkelit, menggeliat saat tubuh tak sengaja bersentuhan meski masih terhalang kain, menciptakan tegangan setrum rendah.
"Eugh… sstt… mas~~" Vinda mendesah tak tenang, menggeliat geli saat tangan Kenzo menyelinap masuk ke balik gaun, mengusap punggung lalu bergerak naik meremas buah dadanya yang makin kencang dan terlihat mengundang. Kedua tangan lentik Vinda menyentuh tengkuk dan sesekali meremas rambut Kenzo saat dia merintih, terasa sedikit perih namun nikmat.
Ciuman itu makin dalam, saling gigit kecil, lidah bertemu bertukar rasa. Ini ciuman paling gila bagi Vinda, tak ada pria lain yang pernah sejauh ini menjelajahi tubuhnya, kecuali Kenzo si 'bos nakal' yang seolah menular nakalnya, membuat Vinda tak bisa menolak.
"Sstt… sudah mas… ah…"
"Bentar lagi, Sayang…" Vinda menikmati rasa basah dan geli di dada, bibir pria itu dengan rakus memainkan benda yang menjadi favoritnya. Tak sadar Kenzo sudah membuka kancing gaunnya, memperlihatkan gundukan pydara yang segera dia cumbu hingga basah dan lengket.
Brak!
Keduanya terlonjak kaget mendengar suara benda dibanting. Vinda refleks menjauh, melepas pelukan, sementara Kenzo langsung menoleh ke arah pintu.
"Kamu?! Mau apa kamu ke sini?!"bentaknya keras. "Kenapa? Bukankah ini juga rumahku? Kamu lupa Ken, besok kita menikah?"
"Sialan! Kenapa tak datang saja besok pagi?!"
Erang Kenzo makin kesal sekali.
"Hmm, kamu marah karena kesenanganmu dengan kekasih gelap kamu terganggu ya?"
"Cukup, Larasati!" Vinda mundur menjauh, memunggungi mereka berdua yang bertengkar, buru‑buru dia merapikan atasannya yang berantakan karena malu. Kenzo malah berdiri menatap tajam dan memarahi wanita yang mengganggu mereka.
"Tak kusangka apartemen yang akan ku tempati ternyata jadi sarang kotor kalian berbuat tak senonoh! Dasar pasangan menjijikkan!" Larasati masuk dengan angkuh sambil mendorong kopernya yang tadi dibanting, lalu menatap tajam ke arah Vinda yang menunduk malu.
"Nona, kamu masih muda lho Sayang sekali harus jadi simpanan pria macam dia. Kalau kamu ada di posisiku, pasti juga tak terima suamimu punya wanita lain kan?" Vinda mendongak kaget menggigit bibir gelisah. Kenzo langsung menarik kasar lengan Larasati.
"Tutup mulutmu! Jangan kamu pikir karena aku mau menikahi mu kamu bisa sembarangan mengatur hidupku dan menghina Vinda! Dia jauh lebih berhak memiliki aku, dari pada kamu! Jangan campuri urusan kami!"
Larasati membuang muka. Dia ingin menangis—tak pernah Kenzo kasar seperti ini padanya selama sepuluh tahun kenal, tapi dia berusaha kuat dan menatap Vinda dengan wajah memelas.
"Kalau masih punya hati nurani, lebih baik kamu pergi saja, Nona. Aku sungguh kasihan padamu."
"Wanita ini benar‑benar kurang ajar…!" Kenzo makin kesal. Larasati berjalan santai ke lorong kamar setelah puas bicara, diikuti Kenzo sampai depan pintu kamar tidur.
"Mau apa kamu di sini?!"
"Tentu saja membawa barang‑barangku ke kamar kita. Kamu lupa besok kita harus tidur satu kasur?"
"Sialan! Cepat bereskan barangmu lalu keluar dari rumahku!"
"Ini rumah kita, Kenzo sayang. Kamu lupa ya?"
"Cih—rumah kita?! Ingat, begitu bayimu lahir, segera pergi jauh dari sini! Aku tak sudi menampung kamu di rumah ku!" Teriaknya menggelegar dengan penuh emosi.
Kenzo berbalik pergi. Larasati bersandar lemas di daun pintu, meremas tangan, mengusap air mata yang jatuh. Dia menyesal, seandainya dulu dia berani berjuang sepenuhnya demi Kenzo. Kalau dulu mereka menikah, mungkin bayi dalam rahimnya adalah anak Kenzo, bukan anak Hardi Armanta.
"Vinda, aku antar pulang ya… maafkan aku."
Vinda sudah memakai jaket dan sepatu, tersenyum getir.
"Tak usah, aku bisa pulang sendiri. Urus saja calon istrimu itu mas."
"Kamu marah? Tolong jangan dengar omongan wanita gila itu. Tunggu sebentar aku ambil jaket dulu, aku antar pulang ayo—"
"Mas tunggu…" Vinda menahan lengannya, menggeleng lemah.
"Sebaiknya kita tak usah bertemu lagi. Maaf, aku merasa tak sanggup melanjutkan ini. Aku pergi… terima kasih untuk semuanya."
"Vinda?! Vinda‑ah?!"
Blam!
"Aish sialan!" Kenzo mengacak rambut kesal, menatap pintu yang ditutup Vinda, meremas tangannya kuat‑kuat.
"Larasati brengsek! Dia sengaja membuatku ingin mencekiknya ya?! wanita itu benar-benar monster"
**
Sesampainya di depan pintu rumah kontrakan, Vinda tak sanggup lagi menahan tangis. Dia merosot jatuh di lantai, meremas rambut panjangnya, isak tangisnya terdengar sampai ke dalam rumah.
"Aduh, Vinda! Kenapa kamu, Nak?!"
Ayahnya, pak Agus segera menarik tubuh lemas anaknya, membopongnya ke sofa dan bersedia mendengarkan segala keluh kesahnya.
"Ayah… hiks… Ayah…"
"Sstt… jangan menangis terus. Cerita saja kenapa pulang menangis lalu dengan wajah seperti itu?"
"Ayah… aku mencintainya… hiks… aku tak mau kehilangan dia." Pak Agus tahu betul siapa yang dimaksud. Dia menggeleng sedih lalu memeluk putrinya yang terisak hebat.
"Kalau memang dia jodohmu, Pak Kenzo pasti akan kembali padamu."
"Ayah… kenapa hidupku begini saja? Baru saja aku temukan pria yang sangat kucintai, Tuhan masih menyiksaku. Sejak kecil aku cuma punya Ayah, sering dihina karena miskin, sekarang malah dihina lagi dibilang simpanan pria beristri." Vinda meluapkan semuanya di bahu ayahnya sampai lega, menikmati belaian tangan kasar namun penuh kasih sayang itu.
"Sabar, Nak. Kebahagiaan pasti datang suatu hari nanti. Ayah akan selalu mendoakan mu."
"Ayah… aku sayang Ayah…" Pak Agus tersenyum, lalu mengelus rambut putrinya.
"Ayah juga sangat menyayangimu. Sudah jangan menangis lagi, harus sabar. Kalau dia sungguh mencintaimu, dia pasti akan mencari mu dan datang padamu."
Vinda mengangguk pelan. Hati yang sesak sedikit lega setelah bercerita pada ayahnya.