Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.
Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.
Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.
Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Suara Seberang
...
Jarum jam dinding di kamar anak-anak kediaman Arkatama berdentang pelan, menunjukkan pukul sembilan malam lewat beberapa menit. Keheningan yang pekat kembali merayap di dalam rumah mewah itu, namun di dalam kamar bernuansa biru muda ini, atmosfernya terasa begitu hidup oleh binar ket ketidaksabaran.
Ryan dan Riana sudah duduk rapi di atas karpet bulu premium, mengabaikan jajaran mainan mahal mereka yang teronggok di sudut ruangan. Empat pasang mata bulat itu menatap lurus ke arah tangan Zidan yang tengah memegang ponsel pintar, menunggu nada sambung yang tengah berdering.
Zidan duduk berlutut di belakang kedua anaknya. Kemeja kantornya sudah kusut, dua kancing teratasnya sengaja dibuka untuk memberi ruang bagi dadanya yang terasa kaku dan sesak sejak sore tadi. Pria dingin itu menahan napas saat layar ponselnya mendadak berubah, menampilkan kilasan gambar kamar atas Kedai "Selasih" yang asri.
Cklek.
"Mama!" seru Riana bersemangat, tubuh mungilnya langsung condong ke depan, nyaris menubruk layar ponsel.
...
Di seberang sana, Pamela duduk di tepi ranjang jatinya yang rendah. Wajah manisnya tampak begitu lelah setelah seharian penuh mengurus dapur kedai, namun begitu melihat wajah kedua buah hatinya, seulas senyuman tulus dan hangat langsung terukir di bibirnya yang pucat tanpa riasan. Kelembutan seorang ibu memancar jernih dari sepasang matanya yang sembap.
"Halo, Sayang. Sudah wudhu dan ganti baju untuk tidur?" tanya Pamela, suaranya terdengar sangat renyah dan merdu, mengalir laksana oase di tengah gersangnya hati anak-anaknya.
"Sudah, Mama! Ryan sudah pakai piyama yang gambar dinosaurus pilihan Mama dulu," sahut Ryan, menepuk dada kecilnya dengan bangga ke arah kamera.
Zidan yang sengaja memposisikan dirinya di sudut gelap belakang anak-anak agar tidak tersorot kamera sesuai dengan ketetapan hati Pamela siang tadi hanya bisa terdiam membeku. Tangannya yang besar dan kokoh memegang ponsel dengan sudut yang pas agar anak-anak bebas berinteraksi, sementara matanya sendiri tidak berkedip menatap wajah mantan istrinya di layar kaca.
Obrolan malam itu mengalir dengan begitu natural. Ryan menceritakan tentang nilai tugas matematikanya yang sempurna, sementara Riana dengan menggebu-gebu mengadu tentang susahnya memasang tali sepatu sendiri tanpa bantuan Mama. Setiap kali Pamela menyahut dengan petuah lembut dan tawa tipisnya yang khas, dada Zidan terasa seolah dihantam oleh gada besi yang teramat besar.
Mendengarkan suara seberang yang begitu dekat namun terasa jutaan kilometer jauhnya, Zidan mendadak tak kuasa menahan rasa rindu yang teramat pekat. Rasa rindu itu datang bagai air bah, menghantam seluruh dinding keangkuhannya hingga hancur berkeping-keping.
Selama tujuh tahun pernikahan mereka, suara lembut inilah yang selalu menyambutnya setiap kali dia pulang kerja dalam keadaan stres. Suara inilah yang selalu menawarkan secangkir teh hangat dan menanyakan bagaimana harinya berjalan. Namun dulu, dengan sifat dingin dan egonya yang setinggi langit, Zidan selalu menganggap suara itu sebagai gangguan. Dia sering kali mendengkus kasar, menyuruh Pamela diam, atau sengaja memakai headphone hanya untuk mengabaikan eksistensi istrinya.
Kini, demi bisa mendengarkan suara itu lagi, dia harus bersembunyi di balik punggung anak-anaknya sendiri seperti seorang pengecut.
Rasa kesal yang teramat sangat pada dirinya sendiri mulai membakar batin Zidan. Di dalam kegelapan sudut kamar, rahang tegap pria itu mengeras, urat-urat di lehernya menonjol kemerahan menahan gejolak emosi pekat yang mengiris kewarasannya. Dia mengutuk otaknya yang dulu begitu bodoh, mengutuk hatinya yang begitu beku, dan mengutuk setiap tindakan kekerasan psikologis yang pernah dia lakukan pada wanita suci di seberang layar itu.
'Kenapa baru sekarang, Zidan? Kenapa setelah semuanya hancur dan dia pergi, kamu baru merangkak mengemis suaranya?' batinnya berteriak histeris, menyiksa dirinya sendiri dengan penyesalan suami yang kian membusuk di dalam dada.
"Mama, besok rambut Riana mau dikepit dua sama Papa, tapi Papa gak bisa. Kemarin rambut Riana ketarik sampai sakit," adu Riana dengan bibir dikerucutkan, memutus lamunan kelam Zidan.
Di seberang layar, sorot mata Pamela mendadak berubah menjadi sangat dingin saat mendengar nama Zidan disebut. Meski matanya tetap menatap Riana, ada riak emosi sad dan ketegasan mutlak yang terpancar di sana.
"Riana bilang pada Papa... kalau tidak bisa, minta bantuan Bi Minah saja. Jangan dipaksakan," ucap Pamela, suaranya sengaja ditekankan, dingin dan tajam bagai sembilu yang langsung menusuk tepat ke ulu hati Zidan yang mendengarnya di balik layar. Pamela sengaja mengirimkan pesan tersirat itu, menegaskan bahwa Zidan memang tidak pernah berguna untuk urusan domestik keluarga.
Zidan menunduk, menyembunyikan wajah kuyunya yang kian memerah menahan perih. Air mata penyesalannya kembali mengambang di sudut matanya yang lelah, namun dia sekuat tenaga tidak mengeluarkan suara agar tidak merusak momen bahagia anak-anaknya.
Waktu terus bergulir hingga hampir satu jam. Perlahan, kuapan demi kuapan mulai lolos dari mulut mungil Ryan dan Riana. Kepala mereka mulai terkantuk-kantuk, bersandar satu sama lain di atas karpet bulu.
"Sudah malam, anak-anak pintar Mama harus tidur ya? Besok telat bangun nanti dihukum Ibu Guru," bujuk Pamela dengan bisikan yang teramat lembut, seolah sedang membelai pucatnya pipi mereka dari jauh.
"Besok... telepon lagi ya, Mama..." gumam Riana dengan mata yang sudah terpejam sepenuhnya.
"Iya, Sayang. Mama janji. Sekarang naik ke kasur bersama Papa ya."
Mendengar instruksi itu, Zidan perlahan menurunkan ponselnya. Dia meletakkan benda pipih itu di atas meja kecil dengan posisi kamera yang sengaja dia balik menghadap langit-langit, lalu mengangkat tubuh mungil Ryan dan Riana satu per satu ke atas ranjang tingkat mereka dengan gerakan yang teramat hati-hati. Dia menyelimuti kedua darah dagingnya hingga sebatas dada, lalu mengecup kening mereka dengan ketulusan seorang ayah yang baru saja lahir dari badai penderitaan.
Setelah memastikan anak-anaknya tertidur lelap, Zidan kembali berjalan mendekati meja kecil. Dia mengambil ponsel itu, namun tidak mematikan sambungan. Dia membawanya berjalan keluar kamar, menutup pintu ganda kayu itu dengan sangat pelan, lalu melangkah menuju ruang kerja pribadinya yang sunyi dan gelap.
Zidan menyalakan lampu meja kerja yang redup, lalu menegakkan kembali posisi ponselnya. Di layar, Pamela ternyata belum mematikan sambungan. Wanita itu masih duduk di tepi ranjang jatinya, menatap lurus ke arah kamera dengan sepasang mata yang sedingin es dan rahang yang mengeras. Atmosfer romance yang dulu ada di antara mereka kini telah menjelma menjadi perang dingin emosional yang mencekik leher.
"Ada yang ingin kamu sampaikan lagi, Zidan?" tanya Pamela langsung, suaranya terdengar sangat datar, renyah, namun begitu mematikan tanpa ada sisa ruang untuk negosiasi masa lalu.
Zidan menatap wajah mandiri mantan istrinya dengan tatapan yang sarat akan kehampaan batin yang teramat pekat. Sifat angkuhnya runtuh total malam ini, digantikan oleh kepasrahan seorang pria yang siap menerima hukuman seberat apa pun dari wanita yang telah dia sia-siakan.
...
Thor: Hah... Zidan... Zidan... Nyesel kan lu!
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
masa orang kaya bodoh gitu
jangan diulang ulang
makasih
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜