"Saya berharap dimasa depan nanti kita akan berjumpa lagi, tapi tidak sebagai teman. melainkan sebagai pasangan yang sudah terikat secara Agama mau pun Negara. Saya akan menjadi seorang Ayah, sedangkan kamu menjadi seorang Ibu bagi anak-anakku kelak." Itulah kata-kata yang diucapkan oleh seorang siswa laki-laki kepada Yuri saat kelulusan sekolah, akankah mereka berdua bisa dipertemukan kembali dikemudian hari? Lalu siapakah siswa laki-laki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pajar Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
“Saya memang sudah berniat untuk membelikan
ini semua buat kamu, saya berjuang keras dari bawah. Sampai saya bisa setinggi
ini, ini semua saya lakukan buat kamu.” Aku terdiam tidak bisa lagi berkata
apa-apa lagi.
...
“Terima kasih sudah antar saya pulang,” ucapku
sampai di tempat kostanku, padahal aku bisa pulang sendiri. Tapi bingung bawa barangnya,
mau tidak mau aku harus diantar pulang menggunakan mobilnya.
“Jadi kamu tinggal di sini?”
“Iya.” Kulihat ia terus memperhatikan
kostanku, setelah melihatnya ia menganggukkan kepalanya sambil mengusap
dagunya. Aku tidak mengerti apa yang ia pikirkan saat ini.
“Tempat kostan kamu bagus, kapan-kapan saya
boleh ya main ke sini. Kalau gitu saya pulang dulu ya.”
Akhirnya Kak Alex pulang juga, untuk barang
belanjaannya sudah disimpan di depan pintu kostanku.
...
“Wih, IPhone baru nih. Kayanya ada yang baru
dapat rezeki nomplok nih.” Airin menyenggolku dengan sikunya, ia senang sekali
menggodaku jika aku mempunyai sesuatu apa pun itu.
“Kamu beli di mana? IPhone kamu yang lama ke
mana?”
“Rusak! Kemarin jatuh kena aspal, langsung
hancur enggak bisa hidup lagi.”
“Wow, sayang banget. Tapi untung deh, kamu
masih punya uang. Kan sudah ganti yang baru.” Ia tidak tahu kalau IPhone ini
dibelikan oleh Kak Alex, kalau aku ceritakan, aku yakin sekali dia pasti tidak
percaya.
“Aku enggak punya uang buat beli IPhone baru,
dulu aku beli IPhone aja harus kumpuli uang sampai 3 bulan, itu juga dibantu
sama orang tuaku di kampung.”
“Hah! Masa sih? Lah, terus kamu beli IPhone
ini pakai uang siapa?” tiba-tiba ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya,
Airin langsung mendekat padaku dan membisikan sesuatu.
“Jangan bilang kalau IPhone ini, dibelikan
sama Pak Adi,” bisiknya membuat aku langsung memukul lengan Airin.
“Sembarangan kalau ngomong!”
“Aduh! Sakit!” Airin mengelus lengannya yang
tadi aku pukul, kesal juga kalau dibilang IPhone ini dibelikan sama Pak Adi,
heran deh. Kenapa sih selalu saja disangkut pautkan sama Pak Adi.
“Ya, terus kalau bukan sama Pak Adi sama siapa
lagi dong!”
“Rahasia!” kesalku, aku langsung melanjutkan
pekerjaanku yang belum selesai.
“Yuri,” panggil Adi.
“Iya, Pak.”
“Hari ini kamu ikut sama saya ya, saya ada tugas
dari atasan untuk datang ke perusahaan Daya Makmur, kebetulan sekretaris saya
Lisa lagi cuti.”
“Loh, kenapa harus saya Pak? Saya enggak
ngerti Pak masalah pekerjaan Mbak Lisa .
“Nanti saya kasih tahu tugas kamu pas sudah di
sana, kamu jangan takut. Hitung-hitung kamu belajar juga!” aku menggarukan
kepalaku yang tidak gatal, kalau aku ikut ke sana bisa-bisa pekerjaanku semakin
banyak. Enggak mungkin juga aku minta bantuan terus sama Airin, soalnya kemarin
dia sudah bantu aku.
“Gimana? Kamu mau kan? Saya tunggu kamu di
ruang kerja saya.” Di saat Adi melangkah keluar, aku langsung berlari ke
arahnya.
“Pak, tolong jangan saya Pak. Pekerjaan saya
masih banyak banget.” Aku terus memohon agar dia tidak memaksa aku untuk pergi
bersamanya.
“Terus kalau kamu enggak mau ikut saya sama
siapa? Lisa lagi cuti.”
“Ada Airin sama Mbak Lia.” Aku menunjuk ke
arah mereka berdua, tiba-tiba Airin berjala ke arah kami. Aku kira dia akan
setuju, nyatanya aku salah.
“Saya enggak bisa ikut, pekerjaan saya masih
banyak. Jadi silakan Pak Adi bawa dia saja.”
“Saya juga setuju dengan usulan Airin,” timpal
mbak Lia.
“Nah, dengarkan apa kata senior kamu? Mereka
masih sibuk, jadi hanya kamu saja yang akan menemani saya ke sana! Saya tunggu
kamu di ruang kerja saya 15 menit lagi!” Tanpa mendengar keluhanku lagi, Adi
langsung keluar begitu saja.
“Airin, Mbak Lia. Kok kalian berdua tega sih
sama aku? Tugas aku kan masih banyak,” keluhku lagi sambil memajukan bibirku
2cm.
"Ri, kamu ikut aja samaPak Adi, jangan suka tolak. Gitu-gitu kan
dia atasan kamu, jangan bikin dia marah. Dulu aku sama Airin juga begitu kok.
Suka ikut Pak Adi kalau Mbak Lisa cuti," ucap mbak Lia, aku hanya bisa
pasrah. Mau tidak mau aku harus ikut sama Pak Adi. Dengan rasa malas, aku
membereskan kerjaanku sebelum pergi ke ruang Pak Adi, tak lupa aku membawakan
tas.
Di tempat parkiran mobil.
"Kamu sudah siap?” tanya Adi
"Saya sudah siap Pak.”
“Jangan lupa pakai sabuk pengaman, kalau
terjadi sesuatu di jalan kita sudah terlindungi dengan sambuk pengaman,”
jelasnya, aku hanya menganggukkan kepalaku, tak lama mobil keluar dari parkiran
kantor. Butuh waktu 1 jam untuk sampai di perusahaan Daya Makmur.
“Kita sudah sampai, ayo turun.”
“Pak, kalau boleh saya tahu. Kita datang ke
sini ada urusan apa ya?”
“Kita mau bahas masalah acara yang akan
diadakan oleh kedua belah pihak karena sudah berhasil menjalan kerja sama
antara perusahaan kita dengan perusahaan DM. Seharusnya yang datang ke sini
atasan kita langsung, tapi karena beliau masih sibuk sama tugasnya. Jadinya
saya yang diutus.”
“Hoh, gitu ya.” Akhirnya kami berdua turun
dari mobil, dan disambut oleh asistennya kak Alex bernama Ali.
“Selamat datang Pak Adi,” ucap Ali menyambut
kedatangan kami berdua, setelah bersalam kami diajak ke lantai atas di mana
para atasan sudah menunggu kami.