Di lanjutkan season 2.
Mohon maaf jika up nya sedikit ya, soalnya author nulis 2 judul. 🙏🙏🙏
Moli adalah seorang gadis SMA yang periang. namun di balik cerianya itu Dia adalah seorang gadis yang sangat kesepian.
hingga suatu ketika Dia beretemu dengan seseorang yang lelaki yang masih duduk di bangku SMP bernama Yoga. Seiring berjalannya waktu mereka mulai akrab.
namun di sisi lain. hubungannya dengan sang kekasih (Diki) justru mulai retak karena kedatangan wanita lain. wanita yang telah lama mengenal Diki dari kecil.
Hubungan Moli dan Diki pada akhirnya merenggang. sementara Moli kini mulai terbiasa dengan kehadiran Yoga yang menurutnya bisa membuat dirinya selalu tersenyum menggantikan ruang sepi yang selama ini terjadi.
penasara.??? yukk langsung aja kepo in???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motifasi_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duapuluhempat
Lia tersenyum ketika sesampainya di apartemen. Sifat jahatnya terlahir dari tubuhnya yang sekarang hanya karena satu orang lelaki. Sungguh jahat! “Harusnya gue berterima kasih buat yang udah nyebarin video itu...” Tawa nya hingga bergema di dalam kamar.
“Akhirnya gue bisa menyingkirkan Moli!”
Jahat hanya untuk sebuah Cinta. Kata yang bisa mewakili raga Lia saat ini.
09.34 WIB
Dua kursi kosong itu pada akhirnya menghantui Moli yang semula tak begitu menarik hatinya untuk ikut campur. Namun itu salah! Sejahat nya Diki padanya tapi bukankah mereka pernah saling jatuh cinta? Bahkan hubungannya sudah hampir mencapai 10 bulan walaupun jauh dari kata kebahagiaan.
“Hei... mikirin Diki?” tanya Mia yang baru saja selesai menata buku di dalam tas nya.
“Kok gue kasihan ya sama Diki.”
Fani yang terkejut langsung menendang kursi Moli. “Songong! Cowok kaya gitu nggak perlu di kasihanin.”
“Betul tuh Mol” sambung Mia.
“Iya gue tahu, cuma nggak tega aja kalau beritanya sampai menyebar luas, buruk juga buat citra sekolah kita kan.”
“Itu sih salah mereka, untung bukan sama elo.” tunjuk Mia pada hidung mancung Moli.
“Yeeeee... enak aja!”
“Atau jangan jangan elo udah begituan juga sama Diki?” Fani memainkan alis dengan kedua tangan membentuk moncong bebek bersentuhan.
Moli melotot menampis tangan Fani. “Gila! Nggak lah! belum pernah gue sampai cium bibir sama dia.”
“Serius?” tatap Mia tajam hingga membuat Moli menggeser pantat.
“Ck! Ya iyalah!”
Tapi ciuman pertamanya sudah di ambil oleh lelaki di bawah umur, hingga terjadi sampai dua kali. Moli bergidik mengingat ciumannya dengan Yoga? Kenapa harus Yoga? Walaupun ketika itu bukan kesengajaan namun bisa membuat jantung berdegup lebih cepat.
Mia nyengir ketika melihat wajah Moli yang tiba tiba memerah. “ketahuan lo, Bo-ong kan?”
“Ih apaan sih, sumpah deh!” Moli mengangkat kedua jarinya.
“Hebat hebat, salut gue sama lo.”
“Harus.”
Kalau di pikir pikir emang aneh ya, jangankan cium bibir cium bagian lain aja nggak pernah. Paling Cuma sekedar berpelukan dan bergandengan tangan itu. Pernah sekali Diki mencium pipi nya waktu kencan pertama kali. Just that!
“Aduh maaf, maaf.”
Ucap mereka bertiga pada seseorang yang di tubruknya ketika mau ke kantin. Seseorang itu tersenyum pada Moli, hingga membuatnya mengingat seseorang.
“Maaf ya Tante, aku nggak sengaja.” kata Moli pada wanita itu.
“Iya tante kita minta maaf, salah kita juga ngobrol di tengah jalan.”
“Nggak papa, Tante mau minta tolong, boleh?”
Mereka bertiga saling pandang. “Boleh tante.”
“Bisa anterin tante ke ruang kepala sekolah.”
Moli tak bergeming usai wanita itu mengatakan tentang KEPSEK. “Apa ini Mama nya Diki?” batinnya sebelum di senggol oleh Mia.
“Bisa tante, mari saya antarkan.” Moli melangkah bersama Santi menuju ruang di mana kepala sekolah berada.
“Kalian duluan aja.”
“oke...”
Moli terkadang melirik Santi yang ternyata senyum kepadanya. Wanita ini sangat cantik, dan mengingatkannya pada seseorang yang sepertinya Ia kenal. Dari bentuk wajahnya, Mata dan hidungnya begitu mirip dengan Yoga. “Ah Yoga, iya betul Yoga.”
Moli teringat sosok bocah itu. Betul saja, wajahnya begitu sangat mirip, mungkin ini versi ceweknya jikalau terlahir menjadi wanita. “Berarti ini kemungkinan Mama nya Yoga, dan kesini karena kasus Diki kemarin...” Moli bertanya tanya dalam hati.
“Kamu kelas berapa?” tanya Santi. Sementara yang di tanya masih terdiam melamunkan sesuatu.
Mia tersenyum. “Kamu kelas berapa?” kali ini Santi menyenggol bahu Moli hingga sedikit kaget.
“Ke... kelas XI Tante.” Moli nyengir dan sedikit membungkuk karena malu telah membuat Santi bertanya dua kali.
“Berarti kenal Diki?”
“I... iya Tante, kita satu kelas malahan.”
“Oh ya, kebetulan sekali.”
Santi menyilakkan rambut Moli yang menutupi mata. Moli sempat kaget dengan perbuatan Santi pada nya. Seketika perasaannya menjadi berbunga bunga, Ia seperti mendapat sebuah perhatian dari sosok Ibu. “Baik sekali wanita ini...” pikirnya.
“Tante itu Mama nya Diki?”
“Iya...”
Moli manggut manggut. Ternyata memang benar Santi adalah Ibunya Yoga sekaligus ibu tirinya Diki. Pacaran udah lama tapi baru kali ini ketemu orang tuanya, dan itu pun karena nggak sengaja. Kok bisa ya?
“Itu ruangan nya Tante, aku antar sampai sini ya.” Moli menunjuk sebuah ruangan dengan pintu terbuka di sebelah kiri kelas XB.
“Trimakasih ya, Tante masuk Dulu."
“Silahka Tante.”
Moli menarik nafas panjang dan berbalik. Kalau saja hubungannya masih baik baik saja dengan Diki, mungkin akan ada kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Mama nya itu. Sepertinya wanita itu baik, terlihat dari senyum tulus di wajahnya dan ucapannya yang begitu lembut. Ah! Andai saja itu Mama yang selama ini di harapkan.
Bibir tipis itu mengerucut, sadar akan sebuah kenyataan yang memang jauh dari angan angan. “Mama, tahukah engkau anakmu ini merindukan kasih sayangmu?”
Kedua sahabatnya masih uduk di kursi no 5 di kantin. 2 mangkuk kosong bekas bakso sudah tertumpuk di sisi kiri mereka. Mia yang masih memainkan sedotan di dalam gelas es teh nya, sementara Fani sedang bercermin di kaca kecil yang selalu di bawanya dimana pun Ia berada.
“Hoi!!”
Suara itu membuat mereka berhenti dari kegiatannya masing masing.
“Udah nganterinnya?”
“Udah.”
Moli duduk menyerobot minuman Mia yang dari tadi masih di aduk aduk menggunakan sedotan. “Buat gue aja sini, haus gue.”
“Dasar!” semprot Mia. “Tadi siapa Mol?”
“Tadi siapa... siapa?”
“Ya yang tadi nyari ruang KEPSEK.”
“Oh itu... Mama nya Diki.”
Mia menggeser duduknya mendekati Moli.
“Serius?”
“Mungkin karena kasus yang kemarin kali...” sambung Fani tanpa menoleh. Jarinya sibuk menjentikkan bulu matanya di depan cermin
kecil tadi.
“Bisa jadi.”
“Calon mertua dong.” Mia terkekeh dengan menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.
“Betul juga tuh.” Timpal Fani menyikut Moli yang sudah merengut.
Keadaan hening sejenak. Obrolan itu tak mereka lanjutkan kembali. Sepertinya kedua sahabatnya mengerti bahwa candaannya tadi tidaklah membuat Moli senang. Hingga tiba tiba bibir Moli menyemburkan sebuah pertanyaan.
“Eh gais... kalian masih penasaran nggak sih... kira kira siapa yang nyebarin video itu?”
Kedua sahabatnya langsung terjaga membulatkan mata mendengar pertanyaan itu. “Ah iya ya, sampai sekarang belum ada yang tahu loh.”
“Gue juga nggak tahu sih, soalnya yang ngirim nomor orang tak di kenal, tapi gue yakin orang itu ada di dekat kita.”
Mia dan Moli menatap tajam wajah Fani.
“Kenapa elo bisa yakin kalau orang itu ada di dekat kita, maksud lo Moli?”
Moli melotot pada Mia. “Sembarangan!”
“Ck! Jelas bukan Moli.” Fani merekatkan tempat duduknya pada kedua sahabatnya yang sudah begitu serius mendengar kelanjutan dari ucapannya. “Menurut gue, orang yang nyebarin itu, bisa jadi orang yang benci sama Diki atau mungkin.”
Ucapan itu terhenti. Fani memainkan jemarinya seperti sedang menimang nimang pendapatnya. “Atau mungkin orang itu, yang pernah di tolak Si Lia.”
“Daren!”
Ucap Moli dan Mia bersamaan. Mereka duduk tertegak ketika menyadari hal itu. Fani memang pintar untuk masalah yang seperti ini, Dia memang ratu dalam urusan percintaan.
“Ok fix! Pasti Daren orangnya, kalau bukan Dia siapa lagi? Cinta dia kan di tolak Lia gara gara Diki.” cerocos Mia dengan yakin.
“Itu berarti misi balas dendam dong?” Timpal Moli sedikit belum percaya.
“Nah, betul tuh Mol. Balas dendam yang licik tapi pintar, hebat si Daren.”
Benarkah semua itu perbuatan Daren? Moli masih tak percaya, pasalnya Daren pernah bilang padanya untuk tak terlalu pusing dalam hal ini. “Udah jalanin aja.” seperti itulah kata yang di ingatnya. Betul atau salahnya tetapi Moli bisa tahu Daren sudah bersikap biasa kala itu. Lalu motifnya apa menyebarkan video itu?
***
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
semoga jd novel terbaik 😍😍😍
maaf ya thor kalau aq kasih kritikan ✌️✌️✌️
semoga lebih teliti lagi ya thor
Truss hubungan nya Ama season 1 apa?
Jangan lupa mampir di cerita saya yang berjudul Cinta Abdinegara dan Putih Abu-Abu di tunggu feedback nya 🤗🤗🤗
Terimakasih 🙏🙏🙏