Nasya Andira, sejak kecelakaan yang membuat kedua orang tua nya meninggal. Nasya terpaksa harus hidup seorang diri, beruntung ia bertemu dengan Olin. Wanita paruh baya yang begitu baik hati dan memberikannya pekerjaan.
Berawal menjadi seorang pelayan di sebuah warung makan mie milik Olin. Nasya memilih untuk pergi ke Jakarta mengadu nasib agar bisa berkuliah dengan bekerja di rumah menantu Olin untuk menjaga kedua cucunya.
Adnan Bimantara, seorang laki laki dewasa. Berstatus dia dengan dua anak. Menerima Nasya bekerja dengan nya karena sudah lelah mengurus kedua anaknya yang begitu nakal dan sering membuat ulah. Adnan berharap bahwa setelah mempekerjakan Nasya, maka pekerjaan nya mengurus kedua anaknya akan berkurang. Namun, nyatanya kini malah dirinya merasa memiliki tiga orang anak.
Bagaimana kisah Nasya menghadapi dua tuyul yang selalu membuat ulah untuk para pekerja nya. Berhasilkah Nasya membuat dua anak itu takluk padanya? Atau malah sang duda yang akan takluk padanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sensitif
...~Happy Reading~...
Sepulang dari kantor, Adnan segera masuk ke dalam rumah dan hendak menuju kamar. Namun, ia melihat pintu kamar Ryana yang masih terbuka, membuatnya menghentikan langkah untuk melihat apa yang di lakukan Ryana dan juga pengasuh nya.
Adnan bisa melihat bagaimana Nasya selalu menguap sambil membacakan buku cerita untuk Ryana, sementara anak itu sendiri sudah terlelap. Namun, setiap kali nasya menguap dan berhenti berbicara maka Ryana akan bergumam seolah tidka ingin Nasya menghentikan ceritanya.
Jam sudah menunjuk angka sembilan malam. Ya, sejak adanya Nasya yang mengasuh dua buah hatinya, Adnan sudah bisa bekerja lembur lagi. Namun, ia juga selalu menelfon anak anak nya ketika jam makan malam.
Adnan pun kembali melanjutkan langkah nya, ia membuka pintu kamar Ryan yang ternyata anak itu sudah terlelap. Adnan segera masuk ke dalam kamar nya dan membersihkan diri. Setelah selesai dengan ritual nya, Adnan kembali mengecek kamar Ryana untuk melihat apakah putri nya sudah tertidur atau belum. Dan kini, ketika ia masuk, ia malah melihat Ryana yang menangis cukup histeris.
“Hey, anak daddy kenapa hem?” tanya Adnan langsung menghampiri Ryana,
“Daddy, kak Nasya nakal. Masa kak Nasya malah bobo hiks hiks hiks,” jawab Ryana mengadu.
“Maaf Pak, tadi saya ketiduran, maaf,” ujar Nasya sedikit menundukkan kepala nya dan memang sangat terlihat dengan jelas bahwa Nasya begitu kelelahan.
“Ryana bobo sama Daddy ya, biar kak Nasya istirahat,” ucap Adnan dan langsung menyuruh Nasya agar keluar dan kembali ke kamar nya.
Dengan sesekali masih terseguk seguk, Ryana terus berceloteh mengadu kepada ayah nya tentang apa saja yang ia alami seharian ini. Sementara itu, Adnan hanya mengiyakan dan mendengarkan cerita dari Ryana. Setelah anak itu merasa lelah, barulah Adnan menyuruh nya untuk tidur. Hanya cukup dengan sebuah usapan di kening Ryana, gadis cilik itu langsung tertidur begitu pulas.
‘Kamu sudah semakin besar,’ gumam Adnan ketika memandang wajah putrinya yang tertidur.
Karena belum mengantuk dan masih harus membereskan pekerjaan nya yang belum selesai. Akhirnya Adnan turun ke lantai bawah untuk membuat kopi. Ia cukup terkejut ketika melihat bagaimana Nasya sedang duduk di depan kulkas seraya berjongkok dan bergumam seolah sedang berbicara dengan seseorang.
Ehemm!
Adnan sedikit berdeham untuk mengurangi rasa gugup nya. Bukan gugup karena melihat nasya, namun ia memikirkan mengapa pengasuh anak nya berbicara dnegan kulkas, dan entah angin dari mana yang berhasil membuat tengkuk nya merinding.
“Lah, bapak belum tidur?” tanya Nasya mendongakkan kepala nya.
“Ngapain kamu disini? Bicara sama siapa?” kata Adnan malah balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan dari Nasya.
“Saya lapar Pak,makanya mau masak mie instan. Dan saya lagi bicara sama si kulkas, dia punya bahan apaan yang bisa saya campur ke dalam mie instan nanti nya,” jawab nasya dengan polos nya, membuat Adnan langsung mendelik.
“Apa, bapak mau makan mie juga? Saya buatkan sekalian,” ujar Nasya menawarkan, namun dengan cepat Adnan menggelengkan kepala nya.
“Tidak, saya tidak makan mie instan.” Tolak nya, “Kalau bisa, saya minta tolong buatkan kopi saja.” Imbuh nya.
“Baik Pak, ada lagi?” tanya Nasya dan hanya di balas gelengan kepala oleh Adnan.
Adnan menunggu Nasya di meja makan sambil mengecek kembai pekerjaan nya di laptop. Dan setelah beberapa saat, Nasya sudah kembali menghampiri nya dnegan membawakan secangkir kopi.
“Bapak, besok mau bawa bekal lagi gak?” tanya Nasya seketika membuat Adnan langsung tersedak kopi nya dan menyembur ke pakaian Nasya.
Uhukkk hukk
Ia baru teringat bahwa tadi ia ingin melayangkan protes kepada Nasya, namun lupa karena harus menidurkan Ryana. Dan kini, ia seolah di sadarkan oleh sang pembuat kesalahan sendiri.
“Bapak kenapa sih? Sensitif banget, gak lagi dapet kan?” tanya nasya sedikit memanyunkan bibir nya. Kemarin, ketika dirinya bertanya, Adnan langsung mengusir nya. Dan kini, ia kembali bertanya, malah di sembur oleh kopi.
cerita tidak ber-liku2....