Naya Arindi Putri (Naya) dan Naura Nur Aini (Naura) adalah dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kelas 7 SMP. Kedekatan mereka begitu hangat, bahkan sering dianggap seperti saudara sendiri.
Namun, semuanya berubah saat kelas 8 semester 2. Kehadiran seseorang yang iri perlahan merusak hubungan mereka. Memasuki kelas 9, jarak di antara mereka semakin terasa-hingga persahabatan itu hampir runtuh.
Hingga suatu hari...
"Plak!"
Tamparan itu bukan sekedar suara. Itu adalah awal dari sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xara ∅p, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[Part 24] Berhasil
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
...~Selamat membaca~...
...Jangan lupa like dan komentar ya...
Naya berjalan menyusuri koridor sekolah untuk mencari sahabatnya. Setelah beberapa menit berkeliling, akhirnya ia melihat Naura dan Kayla sedang mengobrol dengan begitu asyik hingga tak menyadari kehadirannya.
"Haii" sapa Naya sambil tersenyum, dan mereka berdua langsung menoleh. "Naya, sini!" ajak Kayla sambil melambaikan tangan. Naya mengangguk, lalu menghampiri mereka. "Ehh gimana tadi?" tanya Naura penasaran. "Kamu terima nggak, Nay?" lanjutnya.
"Pasti diterima deh," sahut Kayla dengan penuh percaya diri. Naya hanya tersenyum tipis dan berucap, "aku, tolak." Ucap Naya. Seketika raut wajah Naura dan Kayla berubah. "Hah? Kenapa ditolak, Nay?" tanya mereka hampir bersamaan.
Naya menghela nafas pelan. "Nggak apa-apa. Kalian nggak perlu tahu alasannya sekarang. Nanti, kalau waktunya tepat, aku bakal cerita ke orang yang memang berhak tahu." Ucap Naya.
"Oh iya, Nay," ujar Naura tiba-tiba. "Kita kan belum tos." ucap Naura. "Iya juga ya," jawab Naya sambil terkekeh. "Tumben inget. Sama bestinya lupa, giliran sama temennya nggak lupa." ucap Naya menggunakan majas sarkasme.
Naura langsung mencubit pelan lengan Naya. "Kamu marah ya, Nay?" Tanya Kayla.
"Yo jelazz-" Naya sengaja menggantung ucapannya. "Eh, maksudnya enggak. Ngapain juga marah." Oceh Naya. Saat itu juga, pandangan Naya jatuh pada tangan Naura dan Kayla yang masih saling bergandengan. Dengan wajah jahil, Naya langsung melepaskan genggaman mereka. "Maaf ya, ini besti gue." Katanya sambil tersenyum. "Iya Nay, maaf." Naya hanya mengangguk pelan.
Melihat itu, Naura langsung berpindah ke samping Naya dan mencoba menggandeng tangannya. Namun Naya perlahan menarik tangannya. "Nggak usah gandeng, Nau. Lenganku lagi berkeringat." Ucap Naya sengaja mencari alasan. "Nggak apa-apa Nay," Naura kembali mencoba menggandengnya.
"Oh ya, maaf saya ada urusan penting yang harus saya selesaikan. Kalian kalau mau ngobrol silahkan, kan seru ya kalau ngobrol berdua. Byee" Ucap Naya langsung pergi, Naura sedikit terdiam.
"Nay!" Panggil Naura. Namun Naya terus melangkah, pura-pura tidak mendengar. "Ihh, baru kemarin baikan, masa mau marahan lagi sih," gumam Naya pelan.
"Nay, tunggu!"
"Tumben ngejar, biarin lah." Naya yang nggak peduli dengan Naura dan pura-pura nggak dengar. "Nau, mau kemana?" tanya Kayla. "Mau nyusul Naya." Tanpa menunggu jawaban lagi, Naura langsung berlari mengejar sahabatnya.
Langkahnya semakin cepat hingga akhirnya ia berhasil meraih pergelangan tangan Naya. "Nay," Naya berhenti, lalu menoleh. "Kamu ngambek ya?" Tanya Naura. "Naura, kamu ngapain?" Tanya Naya pura-pura tidak mengerti. "Nay, kamu ngambek?" Naya tersenyum tipis.
"Ngapain aku marah? Nggak ada gunanya. Buang-buang waktu aja, kaya gak ada kerjaan lain." Jawab Naya lantang. "Bener?"
"Iya, cintakuu." Jawaban itu justru membuat Naura semakin yakin kalau ada yang disembunyikan. "oh iya," lanjut Naya, "Kayla mana? Kasihan loh ditinggal sendirian." Ucapnya sambil melepas tangan yang tadi di pegang Naura.
"Nggak apa-apa. Nanti dia nyusul ke kelas."
"Nay" suara Naura kembali melembut. "Aku tahu kamu masih kesel." Naya menggeleng pelan. "Enggak, Nau. Beneran."
"Kalau aku ada salah, maafin aku ya." Naya tersenyum kecil. "Kamu nggak perlu minta maaf terus, aku baik-baik aja."
"Bener?" ucap Naura sambil mengulurkan jari kelingkingnya. Naya tersenyum lalu mengaitkan jari kelingking mereka.
"Janji?"
"Janji."
Naura akhirnya tersenyum lega. "Yuk, balik ke kelas." Ajak Naura, Naya mengangguk. "Tapi, Kayla?" Ucap Naya. "Udah nggak apa-apa. Dia tahu jalan ke kelas sendiri. Mereka pun berjalan berdampingan.
Di tengah perjalanan, Naya hanya tersenyum kecil sambil menatap halaman sekolah. "Huh, ternyata menjaga persahabatan itu jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan. Kalau begini terus, aku benar-benar belum kepikiran buat pacaran. Aku masih punya banyak mimpi yang harus dikejar. Semoga saja, kalau memang Allah mengizinkan, suatu saat nanti dipertemukan dengan seseorang melalui jalan yang baik, mungkin lewat ta'aruf." Batin Naya secara tiba-tiba.
"Aduhh," Naura langsung menoleh. "Kenapa, Nay?" Naya tersadar dari lamunannya. "Hehe, nggak apa-apa kok."
"Yakin?"
"Iya" Naya mengangguk pelan. Sesampainya di depan kelas, mereka saling berpandangan lalu tersenyum. Walaupun hubungan mereka belum sepenuhnya kembali seperti dulu, setidaknya hari itu mereka sama-sama memilih untuk memperbaikinya, sedikit demi sedikit.
Dan dari kejauhan, Kayla yang melihat mereka berjalan berdampingan ikut tersenyum, walaupun rasanya ingin memisahkan mereka berdua.
Gimana dengan bab ini?
Kalau ada yang mau disampaikan, tulis aja dikomentar ya
Maaf bila ada kesalahan kata dalam menulis 🙏
...Terimakasih sudah membaca...