Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Tante Thania mendongak, menatap Nenek Fia dan Mama Dania dengan tatapan memohon di sela air matanya. "Ibu... Mbak Dania... Tolong jangan salahkan Sherly terus. Dia juga tidak sengaja... Pria itu... pria itu berjanji akan bertanggung jawab, tapi dia malah kabur entah ke mana saat tahu Sherly hamil," bela Tante Thania setengah merengek.
"Bertanggung jawab? Omong kosong!" sergah Papa Freddy yang baru saja masuk ke ruangan itu dengan langkah berat.
Wajah Papa Freddy tampak sangat gelap, urat-urat di pelipisnya menonjol menahan amarah yang hampir meledak. Papa Freddy berhenti tepat di depan Sherly dan menatap anak keponakannya itu dengan pandangan jijik dan kecewa yang mendalam.
"Pria itu sudah kabur membawa uangmu dan kamu masih mengharapkannya? Sadarlah, Thania! Perjodohan antara Sherly dan Brian dari keluarga Raymond sudah diatur sejak satu tahun lalu! Dan semua orang sudah tahu tentang perjodohan ini!" ucap Papa Freddy.
"Kalau kita membatalkan perjodohan ini secara sepihak tanpa alasan yang jelas, bukan cuma rasa malu yang kita dapatkan, tapi kerja sama proyek properti senilai ratusan miliar rupiah akan diputus seketika! Perusahaan kita akan bangkrut dalam hitungan hari dan kita semua akan menjadi gelandangan!" bentak Papa Freddy, meluapkan seluruh ketakutan terbesar yang selama ini menghantui hidupnya.
Ruangan itu kembali terdiam, menyisakan suara isakan tangis Tante Thania dan Sherly yang semakin menjadi-jadi. Tidak ada seorang pun yang berani bersuara, kepanikan merayap ke setiap sudut ruangan dan mencengkeram leher mereka tanpa ampun.
Di luar jendela besar, di balik rimbunnya tanaman hias teras samping, Kyra berdiri dengan tenang. Melalui celah kaca yang tembus pandang, ia menyaksikan seluruh drama keputusasaan yang sedang melanda keluarga kandungnya itu, bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin.
"Kalian takut miskin, takut kehilangan kehormatan dan takut diinjak orang lain. Padahal, rasa takut itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan neraka yang kalian ciptakan untukku selama dua puluh delapan tahun ini," gumam Kyra.
Di dalam rumah, Tante Thania menyeka air matanya dengan kasar dan matanya yang sembap tiba-tiba menatap tajam ke arah pintu kaca samping. Di luar sana, siluet tubuh Kyra yang sedang berdiri tampak jelas dari balik kaca.
"Semua ini salah anak sial itu!" jerit Tante Thania histeris dan menunjuk ke arah Kyra dengan jari telunjuknya yang gemetar.
Semua orang di ruangan itu menoleh ke arah yang ditunjuk Tante Thania. Papa Freddy, Mama Dania, hingga Nenek Fia langsung memasang raut wajah penuh kebencian.
"Benar kata Thania! Semenjak anak pembawa sial itu menginjakkan kaki di rumah ini, masalah langsung datang bertubi-tubi! perjodohan Sherly hancur, keuntungan perusahaan Freddy juga mulai turun dan keluarga kita di ambang kehancuran! Anak itu benar-benar membawa sial!" ucap Nenek Fia penuh emosi.
Mama Dania mengepalkan tangannya erat-erat dan matanya menyalang penuh amarah, "Suruh dia masuk! Biar anak kurang ajar itu tahu akibat dari kesialan yang dia bawa ke rumah ini!" bentaknya pada pelayan.
Tak berselang lama, pintu kaca digeser paksa dari luar. Dua orang pelayan pria mencengkeram kedua lengan Kyra dan menyeretnya masuk ke ruang keluarga yang megah, lalu melemparkannya hingga jatuh berlutut di atas lantai marmer yang dingin.
Kyra tidak melawan, ia sengaja membiarkan tubuhnya terlihat rapuh dan menundukkan kepalanya dalam-dalam sembari memasang ekspresi ketakutan yang luar biasa. Namun, di balik rambutnya yang terurai menutupi wajah dan bibir Kyra tersenyum sinis.
'Mereka selalu mencari kambing hitam untuk menutupi kebusukan mereka sendiri,' batin Kyra.
"Kamu dengar apa yang terjadi, Hah!" bentak Tante Thania, berdiri dan mendekati Kyra lalu menjambak rambut gadis itu dengan kasar agar wajahnya terdongak ke atas.
"Gara-gara kamu datang ke rumah ini, keluarga ini terkena kutukan! Perjodohan Sherly dan Tuan Brian juga terancam batal!"
"A-ampun, Tante... Kyra tidak tahu apa-apa," lirih Kyra dengan suara bergetar parah, sengaja mengeluarkan air mata palsu untuk memperkuat sandiwaranya.
"Diam kamu! Kamu memang pembawa sial sejak lahir! Kehadiranmu di sini hanya membawa masalah!" sergah Mama Dania dengan suara melengking.
Papa Freddy memijat pelipisnya yang berdenyut hebat, ia menatap Kyra dengan pandangan jijik bercampur frustrasi, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya kembali kepada keluarganya. Masalah utama saat ini bukanlah melampiaskan amarah pada Kyra, melainkan bagaimana menyelamatkan masa depan keluarga mereka dari kebangkrutan total.
"Cukup, marah pada Kyra tidak akan menyelesaikan masalah, keluarga Raymond sudah menjadwalkan pertemuan makan malam lusa untuk membahas persiapan pernikahan Sherly dan Brian. Kalau kita membatalkan atau menolak pertemuan itu secara mendadak, mereka akan murka," ucap Papa Freddy.
"Lalu kita harus bagaimana, Om?" tangis Sherly histeris dari lantai.
"Perutku sudah mulai membesar dalam beberapa bulan ke depan! Tidak mungkin aku berdiri di altar pernikahan dengan kondisi seperti ini! Keluarga Raymond pasti akan melakukan tes kesehatan atau setidaknya mereka akan mencari tahu kan," ucap Sherly.
"Kalau perjodohan ini batal, saham perusahaan kita akan terjun bebas dan bank akan menyita rumah ini!" tambah Tante Thania semakin panik.
Suasana kembali diliputi keheningan yang mencekam, masing-masing dari mereka terjebak dalam keputusasaan yang diciptakan oleh keserakahan dan kebohongan mereka sendiri.
Tiba-tiba, Nenek Fia memukul lantai dengan tongkatnya dua kali. Matanya yang tua menatap tajam ke arah Papa Freddy, lalu perlahan beralih menatap sosok Kyra yang masih berlutut di lantai dengan kepala menunduk.
Sebuah ide gila, keji. Namun, sangat masuk akal bagi jalan pikiran seorang wanita tua yang putus asa terlintas di benak Nenek Fia.
"Freddy," panggil Nenek Fia dengan suara seraknya yang menusuk.
Papa Freddy menoleh, "Ada apa, Ma?" tanyanya.
Nenek Fia menunjuk Kyra dengan ujung tongkatnya, "Kenapa kamu harus pusing memikirkan Sherly yang sudah tidak suci dan mencoreng nama keluarga?"
Papa Freddy mengernyitkan dahi, bingung. "Maksud Mama...?" tanyanya.
"Gantikan posisi Sherly," tandas Nenek Fia dingin tanpa belas kasihan.
Sontak, seluruh orang di ruangan itu terperanjat kaget. Tante Thania dan Sherly saling berpandangan dengan mata membelalak, sementara Mama Dania menatap ibu mertuanya dengan napas tertahan.
"Gantikan... maksud Ibu, menggantikan Sherly menikah dengan Tuan Brian dari keluarga Raymond?" tanya Papa Freddy memastikan, suaranya terdengar ragu.
"Iya! Anak pembawa sial ini tidak punya masa depan, tidak punya status sosial dan tidak berguna! Kalau dia mati atau menderita di tangan keluarga Raymond, itu sudah menjadi takdirnya. Tapi setidaknya, keluarga kita tidak akan terkena dampaknya, bukannya perjodohan ini untuk menyatukan dua keluarga dan tidak ada kesepakatan siapa yang harus menikah dengan Tuan Brian bukan? Lagipula dia ini anak kandungmu, tentu saja masih termasuk keluarga Andreas," ucap Nenek Fia tegas.
"Lalu, Sherly?" tanya Papa Freddy.
"Kita cari Ayah dari anak yang dikandungnya, dia harus menikahi Sherly," ucap Nenek Fia.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu
Panggilan sederhana ini membawa dampak emosional yang luar biasa mendalam.
Perasaan hangat dan pemulihan jiwa yang hadir dalam momen tersebut merupakan pemulihan luka masa kecil.
Rasa sakit karena dibuang oleh ibu kandung sejak kecil perlahan terobati oleh penerimaan yang tulus.
Penebus kerinduan keinginan mendalam selama bertahun-tahun untuk mengucapkan kata "Mama" akhirnya terwujud.
Rasa tidak diinginkan di masa lalu digantikan oleh perasaan sangat dihargai.
Kehangatan dan rasa aman, akhirnya menemukan sosok ibu dan pelukan keluarga yang seutuhnya.
Status menantu lebur menjadi status anak kandung yang disayangi tanpa syarat.
Air mata yang keluar bukan lagi karena sedih, melainkan haru karena merasa berharga...🥴🥹🤧