Harap bijak memilih bacaan, karena terdapat beberapa episode yang bisa mencemari kesucian otak reader.. 🤭🤭
Sadewa, nama pria dengan ketampanan dan kemapanan yang melekat erat di tubuhnya, sibuk meraih kesuksesan, membuatnya lupa bagaimana menggapai kesuksesan cinta. Karena di umurnya yang sudah 35 tahun, dia masih betah melajang, dan hal itu membuat Sadra, Sang Ibu khawatir.
Beda cerita dengan Ruby. Untukmembalas rasa terimakasihnya karena telah ditolong untuk biaya operasi adiknya, Ruby bersedia menerima tawaran Sandra sang pemilik butik tempatnya bekerja untuk dijadikannya menantu.
Tapi tidak dengan Sadewa, pria arogan itu sangat menentang keras perjodohan yang orang tuanya buat untuknya.
"Jika aku menikahi dia, itu sama saja seperti menanam benih kualitas premium miliku di Ladang gersang!" Sadewa.
"Jangan terlalu arogan Tuan Muda. Buktikan saja jika benih kualitas premium yang kamu bangga-banggakan itu bisa tumbuh di Ladangku!" Ruby
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Please Forgive Me!
Tiga hari yang tak kalah sulit untuk Ruby lalui, dia yang biasanya akan mudah terlelap hanya dengan memeluk guling kesayangannya dibuat sulit tidur, satu bulan menjadikan tubuh Dewa sebagai pengganti guling membuat Ruby jadi merindukan kehangatan guling biad*b itu, hingga membuatnya sulit tidur.
Menjelang hari pernikahan sepupunya, rumah Ruby sudah dipenuhi oleh para kerabat dan tetangga yang ikut membantu mempersiapkan pesta hajatan pernikahan.
Tak jarang diantara mereka mempertanyakan keberadaan suaminya.
"*Suaminya gak ikut?"
"Kemana suaminya?"
"Kok datang sendiri aja*?"
Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan para tetua yang ditujukan kepadanya. Dan selalu, Ruby akan menjawab jika suaminya terlalu sibuk kerja, hingga membuatnya tidak bisa menghadiri pesta pernikahan sepupunya.
Masa bodohlah dengan tanggapan orang-orang tentang Dewa, Ruby tak peduli, jika mereka menganggap suaminya sombong atau apa. Walaupun kenyataannya dia selalu memikirkan gulingnya itu.
Hari ini Ruby mengantar bibinya ke pasar untuk berbelanja kebutuhan pesta pernikahan putrinya itu.
"Bi, mukanya mani pucet. Ruby sakit?" Tanya bibinya saat mereka di dalam mobil angkot yang mereka sewa menuju rumahnya.
"Cuma kurang tidur aja. Semalem banyak nyamuk." Ruby beralasan.
"Oh sanes kangen ka si Aa?" Goda bibinya.
"Bukannya kangen sama si Aa?"
Ruby tak menjawab, dia hanya tersenyum mendengar godaan bibinya.
"Wajar kangen. Namanya geh penganten baru, keur sedeng anget-anget na." Bibinya terus saja menggoda Ruby.
"Bibinya geh yakin si Aa kasep kamu juga keur kangen ieu sekarang."
"Mana ada si Dewa sengklek kangen Bi." Ingin sekali Ruby menjawab itu, tapi hanya senyum yang bisa ia berikan.
Angkot yang mereka tumpangi telah tiba di depan pagar rumah. Ada pemandangan aneh yang Ruby lihat karena banyak anak-anak yang berkumpul di depan pagar rumahnya, seperti sedang memperhatikan sesuatu yang menarik.
"Aya naon nya? Mani rame." Ucap Bibi bingung.
"Lagi liatin yang pasang tenda kali Bi." Jawab Ruby sambil membantu menurunkan belanjaannya yang mereka beli dari pasar.
"Ja kang tenda mah besok mulai masang na geh." Jawab Bibi sambil membayar angkotnya. "Udah tunda aja di dieu. Ntar Bibi minta tulung orang buat bawa ke dapur. Ja beurat."
Perempuan yang kira-kira berusia dipertengahan 40 tahun itu berjalan masuk ke dalam halaman rumahnya. Dia langsung dikejutkan dengan penampakan pria berwajah bule dengan stelan pakaian serba putih dan sunglasses yang melengkapi penampilannya sedang duduk bersandar di ayunan rotan yang berada di teras rumahnya.
"Bi, si Aa bule datang!" Seru sang Bibi.
"Haaah?" Ruby yang sedang membantu supir angkot menurunkan barang-barang belanjaan mereka dibuat terkejut.
"Masa iya Si Penjajah itu datang jauh-jauh kemari?" Pikir Ruby.
Tapi dia pun penasaran dengan ucapan bibinya, Ruby langsung bergegas masuk ke dalam halaman rumahnya. Dan benar saja pria berbalut kemeja dan celana serba putih itu sedang duduk di atas ayunan yang berbentuk seperti cangkang telur itu.
Tak bisa Ruby dipungkiri dia terlihat gagah dengan penampilannya tersebut, dan memang Dewa selalu terlihat tampan dengan pakaian apapun.
Walaupun masih sangat kesal dan marah Ruby menghampiri suaminya yang sepertinya belum mengetahui kedatangannya.
"Dasar si Narsis, mau dimanapun tetap saja dia selalu ingin jadi pusat perhatian. Dia pikir rumahku ini pantai apa?" Gumamnya.
"Wa?" Tegur Ruby tepat di hadapan Dewa.
Tak ada jawaban dari Dewa, bahkan bergerak pun tidak.
"Dewa?" Kali ini Ruby sedikit mengguncang guling b*adabnya itu.
Melihat tak ada respon dari suaminya membuat Ruby curiga, perlahan dia melepaskan sunglasses yang menempel di wajahnya, dan benar saja sang target yang sedang ia ajak bicara sedang tertidur pulas dalam ayunan itu.
Ingin sekali Ruby memeluk sambil menjambak rambutnya. Karena Ruby tak bisa membohongi hatinya jika ia pun merindukan pria yang tengah terlelap itu.
"Ajak ke dalem. Suruh tidur di kamar." Ucap sepupunya Melda yang juga adalah calon pengantin.
"Biarin aja. Sebangun-bangunnya aja. Capek pastinya dia kesini." Jawab Ruby sambil melirik wajah lelah suaminya. "Kesini sendiri apa sama supir?"
"Sendiri aja. Ya udah atuh kamu temenin atuh suami kamu, bisi ada nu ngarungan." Melda cekikikan seraya masuk meninggalkan sepasang suami-istri yang sedang berkonflik itu.
Hampir satu jam Ruby dengan setia menemani tidur suaminya.
"Bi?"
Ruby terhenyak mendengar suara suaminya, ternyata dia pun ikut terlelap di kursi teras.
"Aku lapar." Kata pertama yang Dewa ucapkan, setelah tiga hari berpisah. Bukan maaf apalagi rindu, tapi lapar. Ruby kecewa.
"Lalu?" Ruby langsung memasang wajah juteknya, dia bangkit dan berjalan ke dalam rumah.
"Kamu mau kemana?" Dewa mengikuti langkah istrinya ke dalam rumah.
"Bi!" Panggil Dewa.
"Honey!" Kali ini Dewa memanggilnya dengan lantang.
"Berisik! Ini bukan apartemenmu. Disini banyak orang." Ruby mengingatkan suaminya sambil melirik ke arah dapur yang kini telah dipenuhi orang-orang yang sedang menonton mereka.
"Makanya jangan seperti ini." Dewa menarik lengan istrinya hingga Ruby mengahap ke arahnya.
"Oke. I'm so sorry." Ucap Dewa, sambil menatap wajah cemberut istrinya, tapi entah mengapa hal itu terlihat lucu hingga membuatnya tersenyum.
"Cih." Ruby kembali kesal melihat senyum suaminya. Ruby memalingkan wajahnya saat Dewa terus menatap wajahnya.
"Please forgive me!" Dewa mengiba, ini kali pertama dalam hidupnya dia meminta maaf kepada orang lain kecuali orang tuanya tentunya.
Ruby seolah tak mendengar permintaan maaf suaminya. Hingga para keluarga dan orang-orang yang sedang membantu persiapan pesta di rumahnya mengerti jika si cantik Ruby sedang merajuk kepada suaminya.
"Maaf untuk apa? Memang apa yang kamu lakukan hingga meminta maaf kepada Si Ladang gersang ini?" Ruby masih sewot.
"For everything I've done."
"Untuk semua yang telah aku lakukan."
Dewa menundukkan kepalanya seolah menyesal atas apa yang telah ia perbuat.
"Memang apa yang kamu lakukan? Aku bahkan sudah lupa." Kali ini Ruby menaikan harga dirinya, dia terlalu sakit hati atas apa yang diperbuat Dewa. Ruby sengaja memojokan suaminya.
"Apa aku harus menjabarkan semua yang telah aku lakukan padamu disini?" Tanya Dewa sambil melirik ke arah orang-orang yang sedang mendengarkan pertengkaran mereka. "Apa aku harus reka ulang adegan yang kemarin agar kamu ingat apa kesalahan pria tampan ini?"
"Diam! Tutup mulutmu!" Teriak Ruby.
Ruby menutup mulut suaminya, sedangkan Dewa langsung menarik pinggang istrinya dan membuka handle pintu kamar yang ada tepat di belakang Ruby kemudian mendorong tubuh ramping Ruby untuk masuk ke dalamnya.
"Apa yang kamu lakukan!" Teriak Ruby, dari dalam kamar saat Dewa menutup pintu kamarnya, membuat para orang-orang yang sejak tadi menonton perdebatan mereka tersenyum dengan kelakuan pengantin baru tersebut.
Kalo abis masuk kamar kira-kira mereka mau ngapain ya? 🤔
Akankah adegan hareudang yang selalu mencemari otak klean akan terjadi di episode selanjutnya?
Kalo Otor kan otaknya suci.. 🤗🤗
Jangan lupa ritualnya gengs!
Like, komen and Vote!
baca lagi Sadewa & Ruby ahhhh🩷