Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Makan Malam Pertama
Keesokan harinya, Keira baru selesai menjemur rambut di dekat jendela ketika Ningsih masuk dengan wajah seperti baru mendengar kabar buruk.
"Mbak Keira," katanya pelan, lalu menelan ludah. "Nyonya Tua meminta Mbak ikut makan malam di Ruang Makan Utama."
Sisir di tangan Keira berhenti.
Makan malam.
Dua kata itu seharusnya terdengar biasa. Untuk Keira, makan malam di rumah orang kaya berarti jebakan halus yang dibungkus taplak meja mahal.
"Aku harus pakai apa?" tanyanya.
Ningsih menoleh ke koper kain di sudut kamar. Isinya tidak banyak. Dua kaus, satu celana jeans, satu rok hitam, dan beberapa blus yang sudah berkali-kali dicuci sampai warnanya lelah. Mereka berdua berdiri memandang koper itu seperti sedang memandang masalah hidup.
Akhirnya, Ningsih mengangkat sebuah blus putih.
Kainnya bersih, tetapi bagian lengan sudah sedikit berbulu. Kancing paling atas berbeda warna karena pernah diganti. Keira menatapnya, lalu tertawa kecil.
"Kalau orang kaya lihat ini, mereka tahu tidak harganya tiga puluh lima ribu?"
Ningsih hampir menangis. "Mbak..."
"Sudah, jangan begitu." Keira mengambil blus itu. "Yang penting tidak bolong. Kalau bolong, baru malu."
Ia bercanda, tetapi perutnya mulai dingin.
Ketika langit Jakarta berubah ungu, seorang pelayan datang menjemput. Ningsih hanya boleh mengantar sampai depan koridor utama. Setelah itu, Keira berjalan sendiri melewati lorong panjang yang lantainya memantulkan bayangannya.
Semakin dekat ke Ruang Makan Utama, semakin jelas ia mencium aroma masakan. Jahe, bawang putih, minyak wijen, kaldu panas. Perutnya langsung berkhianat dengan bunyi kecil.
Keira menekan perutnya.
Jangan memalukan aku dulu.
Pintu ruang makan terbuka.
Untuk setengah detik, Keira lupa bernapas.
Lampu kristal menggantung rendah, memecah cahaya ke atas meja panjang dari kayu merah tua. Piring porselen putih berpinggir emas tertata dengan jarak yang terlalu rapi. Di tengah meja, rangkaian anggrek putih berdiri seperti patung. Setiap kursi terlihat lebih mahal daripada motor bekas yang pernah ia incar di Surabaya.
Refleks pertama Keira bukan takut.
Refleks pertamanya menghitung.
Satu set piring itu mungkin cukup buat makan warteg lima tahun. Kalau lampu itu dijual, bisa bayar kos satu gang.
"Keira."
Suara perempuan itu membuat Keira mengangkat wajah.
Di sisi kepala meja, Mama Lian duduk dengan punggung tegak. Wajahnya cantik dalam cara yang dingin, rambutnya disanggul rapi, dan gelang giok di pergelangan tangannya berkilau setiap kali ia mengangkat cangkir teh. Tatapannya menyapu Keira dari ujung rambut sampai sepatu murahnya, lalu berhenti di blus putih yang mulai berbulu.
Tidak ada sapaan.
Hanya penilaian.
Di sebelah kanan Mama Lian duduk seorang perempuan bergaun biru tua dengan potongan qipao modern. Lehernya jenjang, senyumnya halus, dan matanya terlalu tenang. Keira tidak perlu diberi tahu untuk tahu bahwa perempuan ini terbiasa masuk ke ruangan mana pun sebagai orang yang paling pantas berada di sana.
Vivienne Jiang.
Calon istri Pak Darren.
"Selamat datang, Keira," ucap Vivienne. Suaranya lembut, rapi, seperti permukaan pisau yang baru diasah. "Silakan duduk."
Keira mengangguk. "Terima kasih, Ci Vivienne."
Senyum Vivienne tidak berubah, tetapi mata Mama Lian bergerak sedikit. Mungkin terkejut karena anak panti ini tahu memanggil Ci, bukan Mbak.
Di sisi lain meja, Felicia Tanuwidjaja menyandarkan punggungnya. Anting berliannya berkilau ketika ia menoleh.
"Jadi ini yang dibawa Darren?" katanya, tidak repot menurunkan suara. "Darren nemu kamu di mana? Pasar Tanah Abang?"
Udara di ruangan itu menegang.
Keira menarik kursi. Kayunya berat. Ia duduk perlahan, menaruh kedua tangan di pangkuan agar tidak terlihat gemetar.
Pasar Tanah Abang, pikirnya. Setidaknya di sana orang masih menawar sebelum menghina.
Namun ia tidak mengatakan itu. Belum.
Di ujung meja yang berseberangan dengan Mama Lian, Darren duduk diam. Inilah pertama kali Keira melihat wajahnya dari dekat sejak suara di Kolam Teratai kemarin. Jas hitam, kemeja putih, rahang tegas, mata gelap yang tidak menunjukkan apa pun.
Ia tidak menatap Keira terlalu lama.
Justru itu yang membuat dada Keira lebih sesak.
Pria dalam api itu memeluk mayat perempuan sambil memanggil nama. Pria di depannya memegang cangkir teh dengan tenang, seolah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang cukup penting untuk membuatnya bergerak lebih cepat.
Apakah mereka orang yang sama?
"Keira."
Mama Lian akhirnya bicara. "Kamu sudah pulih?"
Pertanyaannya terdengar seperti formalitas, bukan kekhawatiran.
Keira menunduk sopan. "Sudah, Tante. Terima kasih."
Felicia tertawa kecil. "Tante?"
Vivienne mengangkat cangkir untuk menutupi sudut bibirnya.
Keira pura-pura tidak melihat. Ia tahu panggilan itu benar untuk posisinya sekarang. Belum Mama. Tidak mungkin Mama. Ia juga tidak sudi memanggil orang yang belum menerima dirinya dengan panggilan terlalu dekat.
Makanan mulai disajikan. Satu demi satu piring datang. Sup bening dengan aroma herbal, ikan kecap mengilap, sayur hijau dengan bawang putih, ayam rebus Hainan, daging hong berwarna cokelat pekat. Semuanya tampak cantik dan membuat lapar, tetapi di samping piring Keira ada terlalu banyak alat makan.
Sumpit porselen. Sendok sup. Sendok kecil. Mangkuk kecil. Piring kecil. Serbet kain.
Keira menatapnya seperti menatap soal ujian yang belum pernah diajarkan.
Ia pernah makan dengan tangan. Dengan sendok plastik. Dengan daun pisang. Dengan tutup kotak bekal jika sedang apes. Tapi sumpit porselen yang licin itu jelas bukan temannya.
Felicia memperhatikan kebingungannya.
"Ada yang perlu diajari?" tanya Felicia manis. "Atau di tempat asalmu memang tidak ada sumpit?"
Panas merayap naik ke leher Keira.
Ia bisa berpura-pura. Bisa mengambil sumpit lalu menjatuhkannya. Bisa menunggu sampai orang lain selesai dan berharap tidak ada yang melihat piringnya kosong.
Tapi ia sudah terlalu sering lapar hanya karena takut memalukan orang lain.
Keira menarik napas, lalu mengambil sepotong daging hong dengan tangan.
Seluruh meja membeku.
Daging itu masih hangat. Sausnya menempel di ujung jarinya. Keira memasukkannya ke mulut, mengunyah pelan, lalu mengambil serbet dan membersihkan tangannya dengan tenang.
Felicia tertawa.
Vivienne menurunkan cangkirnya sedikit lebih lambat dari seharusnya. Mama Lian berhenti mengangkat sumpit. Pak Ji, yang berdiri di belakang Darren, menunduk semakin dalam seolah lantai mendadak sangat menarik.
Keira menelan.
Rasanya enak. Sangat enak. Sayang sekali situasinya tidak memungkinkan ia meminta tambah.
"Maaf," katanya, menatap Mama Lian lebih dulu karena perempuan itu pemilik meja ini. "Saya tidak bisa pakai sumpit. Tapi saya tidak munafik."
Tidak ada yang bicara.
Keheningan turun begitu berat sampai suara air conditioner terdengar jelas.
Keira merasakan lututnya mulai lemas di bawah meja. Ia takut. Tentu saja ia takut. Orang miskin yang berani di depan orang kaya biasanya hanya punya dua kemungkinan: dipuji karena lucu, atau dihancurkan karena tidak tahu diri.
Ia tidak tahu dirinya masuk yang mana.
Lalu Darren bergerak.
Gerakannya kecil. Hampir malas. Ia mengambil sumpit, menjepit sepotong ikan kecap dari piring tengah, lalu meletakkannya di piring Keira.
Hanya itu.
Ia tidak berkata bahwa Keira benar. Tidak menegur Felicia. Tidak menatap Mama Lian, tidak menjelaskan apa pun kepada Vivienne. Setelah ikan itu berada di piring Keira, Darren kembali menaruh sumpit seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun seluruh ruangan berubah.
Mama Lian menyipitkan mata.
Jari Vivienne mengencang di serbet putihnya.
Tawa Felicia berhenti di tengah tenggorokan.
Pak Ji hampir salah menuang sup ke mangkuk yang sudah penuh.
Keira menatap ikan di piringnya.
Ia tidak bodoh. Di meja seperti ini, satu potong ikan dari Darren bukan sekadar lauk. Itu tanda. Bukan tanda cinta, jangan mimpi terlalu jauh. Tapi setidaknya tanda bahwa malam ini, di depan orang-orang yang menunggunya jatuh, ia tidak sepenuhnya sendirian.
Dada Keira terasa hangat.
Ia mengambil sendok, memotong ikan itu kecil-kecil dengan kikuk, lalu memakannya sampai habis.
Makan malam setelah itu berjalan seperti acara pemakaman yang terlalu mewah. Mama Lian sesekali bertanya hal pendek. Vivienne menjawab dengan anggun. Felicia tidak lagi tertawa, tetapi matanya beberapa kali menusuk Keira dari seberang meja. Darren tetap diam.
Keira juga diam.
Ia menghabiskan nasi sedikit demi sedikit, bukan karena lapar saja, tetapi karena ia menolak membiarkan mereka melihat tangannya gemetar.
Begitu makan malam selesai, Keira menunduk pamit dan berjalan keluar. Langkahnya tetap lurus sampai pintu tertutup di belakangnya.
Baru setelah sampai di koridor sepi, lututnya nyaris menyerah.
Ia menempelkan punggung ke dinding, menutup mata, dan mengembuskan napas panjang. Jantungnya memukul-mukul rusuk seperti orang mengetuk pintu saat kebakaran.
"Mbak Keira!"
Ningsih berlari dari ujung koridor. Wajahnya panik. "Mbak tidak apa-apa? Mereka marah? Mbak dimarahi?"
Keira membuka mata, mencoba tersenyum. "Belum mati."
"Mbak!"
"Aku makan daging mahal pakai tangan. Itu mungkin lebih parah dari mati di rumah ini."
Ningsih kelihatan ingin menangis sekaligus tertawa. Tapi sebelum ia menjawab, seorang pelayan tua dari arah lain mendekat dan membungkuk kaku.
"Mbak Keira," katanya. "Nyonya Tua menyampaikan pesan. Besok pagi, setelah sarapan, Anda diminta datang ke Pavilion Mama."
Sisa tawa di wajah Keira hilang.
Ningsih membeku di sampingnya.
Keira menatap lorong panjang yang menuju taman gelap. Di ujung sana, lampu-lampu compound menyala seperti mata yang tidak tidur.
Baiklah.
Malam ini ia selamat dari meja makan.
Besok, rupanya giliran pengadilan.