kisah seorang gadis yang terpaksa menjadi simpanan Sugar Daddy demi bisa mendapatkan jaminan hidup layak setelah keluarga nya di kucilkan oleh keluarga besar mendiang sang ayah,mula nya kehidupan gadis bernama Ayana itu serba berkecukupan,tapi setelah ayah nya meninggal, seluruh aset kekayaan almarhum di kuasai oleh sang adik yang rakus akan harta kekayaan kakak nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winda Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
"Hari ini kakak pulang ya ma?"
Devan dan Devin sangat antusias menunggu kedatangan kakak nya setelah hampir satu tahun lama nya Ayana tidak menginjakan kaki ke rumah.
"Iya, maka nya hari ini Mama masak banyak buat menyambut kedatangan kakak mu. "
Bu Dini tampak sibuk menyiapkan beberapa menu makanan kesukaan Ayana, beliau begitu senang dengan kabar ke pulangan Ayana.
Sudah hampir satu jam mereka menunggu dengan perasaan campur aduk.setelah menyelesaikan pekerjaan nya, Bu Dini berdiri di ambang pintu utama menunggu kedatangan Ayana yang kata nya sekitar sepuluh menit lagi ia tiba di rumah. suara deru mobil terdengar Sayup-sayup dari kejauhan, segera Bu Dini berlari menuju halaman menghadang kedatangan mobil tersebut yang di yakini adalah Ayana. benar saja, mobil itu berhenti di halaman rumah Bu Dini, tak lama Ayana terlihat turun dari mobil itu sambil menenteng tas nya.
Bu Dini langsung memeluk Ayana tanpa memperdulikan barang bawaan nya. sementara koper dan satu kardus berukuran sedang di turun kan satu persatu oleh supir Travel dari bagasi.
"Sudah semua ya mbak?" tanya pria tersebut sambil mengecek barang yang baru saja di turunkan nya.
" Iya Pak ini aja kok barang nya, makasih ya pak." ucap Ayana sambil mengulurkan sejumlah uang. Devan dan Devin menyusul keluar membantu membawa barang milik Ayana lalu membawa nya masuk ke rumah, mereka saling berpelukan melepas rindu, Bu Dini tak henti-henti nya memandangi wajah putri sulung nya itu, nampak beberapa perubahan terjadi pada Ayana, termasuk rambut dan tubuh nya yang semakin terawat, dia tidak seperti bekerja menjadi seorang pelayan, lebih tepat nya seperti seorang wanita karir.
"Nak, Mama lihat kamu banyak berubah ya?"
Bu Dini tampak ragu-ragu membuka obrolan di ruang meja makan. mereka berempat berkumpul guna menikmati makan malam yang sudah di masak sejak sore tadi oleh Bu Dini.
" Maksud Mama?" Ayana sama sekali tidak memahami maksud dari ucapan Mama nya, dia tetap fokus mengunyah makanan yang hampir memenuhi mulut mungil nya.
"Begini, maksud Mama, badan mu, rambut mu, seperti nya, kamu tidak kerja jadi pelayanan di restoran ya? "
"uhuk.. uhuk.."
Ayana terbatuk-batuk mendegar penuturan Mama nya yang ternyata memperhatikan dengan jeli perubahan fisik pada nya. sejak menikah siri dengan Om Wijaya, Ayana memang sering sekali melakukan perawatan kecantikan yang mengubah diri nya semakin cantik dan mulus,sial nya Ayana sampai tidak bisa berfikir sejauh itu tentang perubahan pada fisik nya menjadi dampak dan pemicu kecurigaan Mma nya,
"Anu-Ma, aku-aku, aku pakek skincare aja kok Ma, kan emang dari dulu kulit aku udah putih ma, keturunan dari Papa. "
Ayana tertawa kecil berharap alasan ini bisa menepis kecurigaan mama nya.
"Iya Ma, kan kakak emang asli nya putih, eh terus dia tinggal di kota, makin mulus deh tu kulit nya, apa lagi kalau jarang kena sinar matahari. " sahut Devan yang membuat Ayana manggut-manggut.
Bu Dini hanya mengangguk pelan dengan bibir yang terlihat senyum, mereka asik menikmati makan malam sambil bercengkrama,setelah mengobrol panjang lebar, Bu Dini meminta Ayana untuk segera beristirahat karena sudah larut malam, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ayana masuk ke dalam kamar nya dengan perasaan campur aduk, ia mengingat beberapa kenangan tentang kamar itu, langkah kaki nya berjalan menuju sebuah laci yang tak jauh dari jangkauan nya.
Ayana membuka laci tersebut dan menemukan beberapa kenangan masa di mana ia duduk bangku sekolah menengah atas, rupa nya ia menyimpan foto kenangan dengan teman-teman nya termasuk Regan.
"gimana kabar mereka sekarang? " guman Ayana sembari memandangi foto yang nampak usang.ia duduk di sisi tempat tidur dengan wajah sendu, tak terasa waktu begitu cepat berlalu, namun tidak dengan perasaan nya pada Regan, Ayana menarik nafas lalu kembali menyimpan foto tersebut dan bergegas tidur, rasa kantuk nya sudah tidak lagi dapat tertahan, apa lagi perjalanan tadi membuat tubuh nya terasa pegal-pegal.
Sebuah alarm mengagetkan nya tepat pukul tujuh, matahari sudah tinggi menyingsing hingga cahaya nya masuk ke celah-celah jendela kamar, Ayana duduk sambil mengucek kedua mata nya berusaha menghalau rasa ngantuk. ketukan pintu membuat nya turun dari atas tempat tidur sambil mengikat rambut nya yang panjang sebahu.
Bu Dini berdiri di depan pintu kamar Ayana menunggu pintu ter buka.
"Mama?" Ayana masih terlihat menguap beberapa kali dengan mata yang terlihat menyipit.
"Eh anak Mama baru bangun? ayok buruan mandi terus sarapan ya, Mama mau kerja. "
Bu Dini berjalan menuju meja makan yang di ikuti oleh Ayana dari belakang.
"Aku cuci muka aja ya Ma."
Ayana bergegas menuju kamar mandi, suasana rumah tampak sepi dan lengang.
"Devan sama Devin udah berangkat sekolah ya ma? "
tanya Ayana sambil menarik salah satu kursi di lingkup meja makan.
"Iya adik mu sudah berangkat dari tadi."
Bu Dini sibuk mengambil kan Ayana nasi dan beberapa lauk pauk. mereka berdua Sarapan bareng.
" Habis ini Mama mau berangkat kerja, kamu di rumah aja istrahat. "
Pinta Bu Dini yang di jawab anggukan kepala oleh Ayana.
Ayana kembali ke kamar setelah memastikan Mama nya pergi, kedua mata nya beralih pandang melihat handphone nya yang tergeletak di atas meja rias, beberapa panggilan masuk dan chat sudah menumpuk di notifikasi layar utama,dengan cepat Ayana membuka isi chat tersebut dan membalas nya, ia takut sugar daddy nya itu akan marah jika lama-lama membalas pesan nya, belum sempat Ayana mengirimkan pesan, tiba-tiba panggilan vidio masuk, segera Ayana mengangkat nya lalu duduk dengan posisi senyaman mungkin di atas tempat tidur.
Om Wijaya memang tidak bisa jauh-jauh dari Ayana, beliau akan selalu menganggu Ayana di mana pun dia berada.Devan yang mendadak sakit kepala akhir nya meminta izin pada guru untuk pulang lebih awal, sejak pagi tadi dia sudah merasa kurang enak badan, tapi Devan tetap memaksakan diri berangkat ke sekolah dan berfikir tubuh nya akan membaik dengan sendiri nya, tapi ternyata ia salah, kepala nya semakin sakit bahkan tubuh nya menggigil dingin.
beberapa kali Devan mengetuk pintu rumah yang ternyata tidak di kunci, salam yang ia ucapkan juga tidak di jawab oleh Ayana, Devan mendorong pintu utama dengan pelan karena tubuh nya yang agak sempoyongan dengan bibir sudah pucat pasi. Devan berjalan menuju kamar nya yang bersebelahan dengan kamar Ayana,pintu kamar kakak nya itu terlihat tertutup rapat, samar-samar Devan mendengar suara Ayana tengah mengobrol dengan seseorang lewat telepon.
Devan segera menajamkan Indra pendengar nya saat sebuah kalimat membuat nya sedikit risih.
"kakak ngobrol sama siapa sih? kok di panggil Om?" lirih Devan.
Devan menempelkan telinga kanan nya tepat ke daun pintu, berharap bisa mendengar obrolan nyeleneh yang membuat rasa penasaran nya kian memuncak.
untuk si Sera semoga mendapatkan karma nya lagi