mohon maaf saya menganti nama dari Kaisar agung jadi sang pewaris darah naga.
tiktok: barxzzz
setiap hari update: 2/3 bab.
al kisah seorang pemuda Lin Xieng yang di anggap gagal oleh keluarga nya, tapi suatu ketika di dalam hutan Lin xieng menemukan bola misterius yang ternyata bola misterius tersebut adalah inti fondasi kultivasi kaisar xuan pada zaman dinastiqi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Alfatir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: jejak yang terlupakan
“Tunggu, kau kenal aku?”
Suara Lin Xieng bergema dalam ruang kosong bercahaya putih. Ia berdiri di tengah kehampaan yang hanya dihiasi oleh pantulan cahaya dari dinding tak berbentuk. Di hadapannya, siluet berjubah yang diselimuti kabut pekat tak menjawab secara langsung. Hanya satu mata yang bersinar merah samar terlihat dari balik kegelapan wajahnya.
“Pertanyaan yang sederhana… dengan jawaban yang dapat mengubah jalan hidupmu.”
Lin Xieng mengepalkan tangannya. Hembusan angin dari dalam ruang itu membawa suara-suara samar—teriakan, tabuhan genderang perang, dan bisikan-bisikan dalam bahasa naga purba yang mengalir seperti nyanyian penderitaan.
“Aku bertanya lagi,” ucapnya dengan lebih tegas. “Kau mengenalku?”
Siluet itu melangkah maju. Tiap langkahnya membuat cahaya di sekitarnya bergelombang, seolah realitas tak stabil di hadapannya.
“Aku mengenal siapa kau dahulu…” ujarnya pelan. “Dan aku melihat siapa dirimu kini. Tapi pertanyaan yang lebih penting adalah—apakah kau siap untuk menerima siapa kau sebenarnya?”
Cahaya dari kolam darah yang muncul kembali di samping mereka memantulkan gambar aneh—bukan Lin Xieng, melainkan sosok berjubah perang emas, dengan mata naga membara dan tombak bermotif langit di tangan kanannya. Sosok itu berdiri di medan perang, dikelilingi oleh jasad-jasad raksasa bersisik, sementara di belakangnya… sebuah gerbang langit terbuka.
“Siapa itu?” bisik Lin Xieng, meski dalam hatinya ia merasa sosok itu familiar, seperti cerminan dirinya… atau seseorang yang pernah ia kenal dalam mimpi-mimpi liar dan kilasan ingatan samar.
“Itulah dirimu… sebelum semua ini dimulai.”
Seketika, ledakan cahaya mengalir dari kolam darah dan menghantam tubuh Lin Xieng. Ia terhempas mundur, tubuhnya berguncang hebat, dan pandangan matanya dipenuhi fragmen-fragmen kenangan:
Api membakar langit…
Seekor naga bermata emas meraung di atas kota…
Seorang wanita berambut hitam menyentuh dahinya dan berkata: “Kau harus tidur… dunia ini belum siap untukmu.”
**
Sementara itu, di luar gerbang batu…
Yufei membuka matanya. Qi di sekelilingnya mulai menggila, seolah sesuatu dari dalam lorong itu melepaskan tekanan kuno. Reruntuhan di sekitar mulai retak, dan bayangan-bayangan hitam muncul di kejauhan, mengendap-endap seperti binatang kelaparan.
Ia berdiri dan menghunus pedangnya.
“Keluar kalian,” gumamnya pelan.
Empat sosok muncul dari bayang-bayang. Ketiganya berpakaian seperti pemburu bayangan, wajah tertutup topeng merah, sementara satu lagi adalah wanita muda dengan mata tajam—Chu Qingli.
“Kau bukan dari desa ini,” ucap Yufei datar.
Chu Qingli tersenyum lembut. “Begitu juga kau.”
“Siapa kalian?”
“Yang mengawasi, yang menunggu.” Chu Qingli melangkah pelan mendekat. “Dan aku di sini bukan untuk bertarung. Aku di sini… untuk menjemput seseorang.”
Yufei menyipitkan matanya. “Lin Xieng?”
Chu Qingli mengangguk. “Dia menyimpan kunci untuk membuka lapisan pertama Segel Keabadian. Dan aku… adalah utusan dari Sekte Awan Senja, yang sejak lama menunggu kebangkitannya.”
Sebelum Yufei sempat menjawab, tanah di bawah mereka bergetar hebat. Gerbang batu mengeluarkan cahaya merah, dan sebuah semburan qi berdarah menyembur dari dalam, mengukir simbol naga di langit.
**
Di dalam lorong, tubuh Lin Xieng melayang tanpa arah. Kilasan-kilasan ingatan terus menyerangnya—pasukan berlapis baja menunduk padanya, suara teriakan “Yang Mulia Penjaga Darah!” dan tubuh naga raksasa yang terjerat rantai hitam pekat.
Ia tersentak bangun, terengah, dan menemukan dirinya kembali berdiri di dasar lorong, di depan dinding yang telah berubah. Kini ada sembilan ukiran naga mengelilinginya, masing-masing berwarna berbeda: merah, biru, perak, hitam, emas, hijau, ungu, putih, dan terakhir—warna darah.
Ukiran naga warna darah membuka matanya dan berbicara:
“Gerbang pertama telah terbuka. Kau telah melihat bayangan dari masa lalu. Tapi untuk mengklaim warisanmu, kau harus melewati Tujuh Penguji.”
“Tujuh Penguji?” tanya Lin Xieng.
“Tujuh bentuk dari dirimu sendiri… tujuh kemungkinan yang akan menghancurkan atau memperkuatmu.”
Tiba-tiba, lorong runtuh. Tanah di bawah kaki Lin Xieng amblas, dan ia jatuh ke dalam ruang lain yang sepenuhnya gelap. Di dalamnya, suara langkah kaki mendekat.
Dari dalam kegelapan, sosok Lin Xieng lain muncul—namun versi dirinya yang lebih tua, lebih dingin, dan dengan mata penuh amarah.
“Aku… adalah kau yang membunuh demi kekuatan.”
Versi itu menyerang tanpa ragu. Tombak qi muncul di tangannya, dan duel pun dimulai. Serangan mereka menciptakan gelombang qi yang saling bertabrakan, memantul di dinding ruang bawah tanah yang terbentuk dari tulang-tulang naga.
Lin Xieng hampir terdesak. Tapi dalam kepungan itu, ia mulai melihat pola: versi dirinya itu bergerak dengan kebencian, namun kehilangan arah. Sebuah jiwa tanpa tujuan.
“Aku bukan kau!” teriak Lin Xieng. “Aku bukan bayangan dari masa depanku yang kehilangan jati diri!”
Dengan satu hentakan, Lin Xieng mengaktifkan teknik Napas Langit Murni, mengumpulkan qi naga di telapak tangan dan menembus pertahanan lawan. Sosok bayangan itu meledak menjadi cahaya, lalu menghilang, meninggalkan satu segel bercahaya yang melayang dan masuk ke dada Lin Xieng.
Suara naga kembali bergema: “Penguji pertama… lulus.”
**
Di luar, gerbang naga mulai retak. Cahaya merah yang menguar berubah menjadi keperakan, dan simbol naga darah mulai berpadu dengan lambang Sekte Awan Senja yang terpampang di langit.
Chu Qingli menatap langit, lalu memejamkan mata. Ia menyentuh gelang peraknya, dan seberkas cahaya keluar, membentuk cahaya kompas naga di udara.
“Dia berhasil membuka jalur pertama. Itu berarti darahnya… asli.”
Yufei menatap Chu Qingli. “Apa maksudmu darah asli?”
Chu Qingli menatap Yufei lurus-lurus. “Lin Xieng bukan hanya pewaris naga. Ia adalah bagian dari garis darah tertinggi yang pernah terlahir di Benua Langit Tertutup—anak dari darah gabungan antara Klan Naga Langit dan Penguasa Gerbang Abadi.”
Yufei terdiam, kaget. “Itu mustahil. Penguasa Gerbang Abadi telah musnah ribuan tahun lalu.”
Chu Qingli tersenyum dingin. “Itulah mengapa dunia akan berubah. Dan Lin Xieng… adalah kunci awalnya.”
**
Lin Xieng terbangun lagi, kini dalam ruang yang berbeda. Di tengah ruangan, ada sebuah pelindung kristal yang menyegel sebutir inti naga berwarna darah. Tulisan di atasnya bersinar terang:
“Segel Pertama telah dibuka. Gerbang Kedua menanti: Warisan Jiwa.”
Tapi sebelum Lin Xieng bisa bergerak lebih jauh, suara lain muncul dari balik kristal itu.
“Kau datang… akhirnya.”
Seorang pria muncul, bertubuh kurus, rambut panjang putih, dan mata hitam seperti kehampaan. Ia mengenakan jubah naga berkepala dua dan berdiri sambil menatap Lin Xieng dengan rasa puas.
“Aku telah menunggumu selama dua ribu tahun.”
Lin Xieng mengangkat alis. “Siapa kau?”
Pria itu tersenyum. “Aku adalah penjaga warisan naga darah. Dan aku... adalah ayah kandungmu.”
Lin Xieng membeku.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣