"Gak usah sok baik sama gue. Ingat, lo tuh orang yang paling gue benci," sewot Niar saat berhadapan dengan bos sekaligus mantan saat SMA dulu. Takdir macam apa ini? mau resign sayang gaji dan fasilitas penunjang, bertahan juga harus menyiapkan mental bertemu dengan dia setiap hari.
"Gak usah jutek gitu. Nanti minta balikan," ledek Gesta yang memang senang sekali bisa bertemu dengan mantan pacar yang terpaksa putus, padahal masih sayang.
Akankah mereka akur dan bisa profesional? happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HANYA TINGGAL JANJI
Gesta membuktikan kalau dirinya tak mau putus, selama Niar sakit, dia selalu mengunjungi sang kekasih setelah pulang sekolah, meski Niar banyak diamnya. Orang tua Niar juga sudah datang, beruntung sang ibu begitu ramah hingga Gesta tak canggung saat berada di kamar inap gadis itu.
Tiga hari Niar dirawat, sore ini pulang. Gesta ikut menjemput juga, sampai - sampai ayah Niar pun menyapa dan mengajaknya minum teh. Sudah sejauh ini, masa' iya putus. Akh, Gesta tak mau.
Keesokan harinya pun Niar dijemput Gesta, kali ini pemuda itu bawa mobil dan tidak ada Angel. Niar ingin menolak, tapi kasihan, apalagi Gesta sudah seefort ini. Terpaksa pagi itu dia menerima ajakan sang mantan.
"Kapan nomorku kamu buka blokirannya?" tanya Gesta sedikit takut kalau bertanya akan merusak mood Niar.
Gadis itu kemudian mengeluarkan ponselnya, kemudian membuka blokiran nomor Gesta, "Udah aku buka!" jawab Niar datar. Ia tak mau ambil pusing, kalau Gesta masih menganggapnya pacar ya sudah, mau putus ya sudah, Niar tak mau ribet.
"Kita masih pacaran kan?" tanya Gesta memastikan.
"Lebih baik berteman kayaknya, aku udah gak percaya sama kamu," ucap Niar datar. Gesta memejamkan mata. Berurusan dengan perempuan berprinsip, apalagi menyinggung harga dirinya sebagai pasangan, tentu tak mudah membujuknya.
"Aku minta maaf banget, aku gak peka sama perasaan kamu, udah bikin kamu cemburu sedalam ini. Tapi sungguh, aku sangat menyanyangi kamu, Cay!" jelas Gesta sekali lagi.
Niar diam, tak mau menanggapi. Rasanya gimana sih, kalau capek sama hubungan. Males meladeni dan gak ada tenaga buat membalas perhatian lagi. Gesta memang berubah, dia kembali pada sosok yang Niar kenal dulu, perhatian, cengengesan, tengil, tapi Niar mulai terbiasa menganggapnya sebagai teman.
Chat pun dibalas layaknya teman, tak pernah Niar memulai dulu. Sudah tidak ada cerita tentang keseharian gadis itu, Gesta sampai menghela nafas sampai kapan Niar secuek ini.
Soal Angel, Gesta memang memberikan batasan pada gadis itu untuk tidak bergantung padanya lagi. Tak tega, tapi Gesta terpaksa harus memilih antara cinta atau sahabat.
"Masih cuek?" tanya Tyo yang melihat Gesta masih saja cemberut.
"Masih."
"Fatal sih, Angel sampai begitu. Tujuannya apa juga, berfoto gitu. Sengaja banget bikin Niar cemburu," melihat karakter Angel sejak awal, Tyo memang gak suka. Semakin ke sini terlihat kalau Angel ingin menguasai Gesta sepenuhnya.
Gesta diam, hatinya masih menganggap foto itu hanya sepele. Toh mereka masih pakai baju, dan di dalam rumah itu ada mama Gesta juga. Cuma Gesta tak mau membela diri, dua sahabatnya mengatakan bahwa Angel salah. Gesta juga tak mau terlihat membela Angel, makin salah paham nanti.
"Biarkan Niar sendiri dulu deh, Ges! Siapa tahu kalau kamu gak mengejar dia, ada rasa kangen gitu," ceplos Dion, diangguki Tyo juga. Cuma Gesta ragu, bisa jadi semakin dia menjauh Niar akan berpikir Gesta menyetujui untuk putus. Bimbang kan.
Beruntung kegiatan anak kelas XII. Try out dan tambahan persiapan UTBK menyita pikiran negatif mereka. Gesta masih sering chat dan mampir ke kelas sang kekasih, tapi sudah jarang antar jemput lagi. Bagi Niar tak masalah, lebih baik fokus belajar saja, dia juga tak berisik.
Hingga saat malam minggu, Bulan mengajak Niar jalan ke mall. Katanya mau refreshing setelah beberapa minggu bergulat dengan latihan soal. Niar pun setuju. Keduanya diantar Kak Rafly dan nanti akan dijemput.
Keduanya ke timezone, mencoba beberapa permainan, tak lupa beli minuman boba dan berbagai camilan. Mereka juga melipir ke toko aksesoris, beli bando minnie mouse, berlagak seperti dedek gemes begitulah.
"Photo box yuk," ajak Niar, baju mereka senada, dan sekarang ada bando lucu juga. Sayang kalau tidak diabadikan.
"Gas!" ucap Bulan.
Mata Bulan melotot saat tiba di antrean photo box, Gesta dan Angel keluar dari photo box juga. Mungkin Gesta kaget melihat Bulan dan Niar, hingga hasil jepretan yang ia pegang jatuh.
Niar berwajah datar, meski hatinya sakit. Ia berjongkok, mengambil hasil jepretan tersebut. Ia melihat pose Gesta dan Angel, tangan Gesta merangkul Angel, sedangkan Angel mencium pipi Gesta, tampak senyuman pemuda itu lebar sekali.
"Jatuh," ucapnya sembari menyodorkan kertas foto tersebut pada Gesta, lalu dia mengajak Bulan masuk.
"Cay!" panggil Gesta tak enak hati.
"Gue masuk dulu ya, have fun kalian!" ucapnya dengan senyum, dan hal itu membuat Gesta kelimpungan. Angel senyum saja, hatinya bersorak bahagia. Setelah sekian minggu Gesta menghindarinya, dan ini baru pertama kali mereka keluar lagi, malah tertangkap Niar.
"Jackpot!" batin Angel.
Sejak hari itu, Gesta sudah tak punya keberanian bertemu Niar, ia hanya mengirim pesan sebagai tanda kalau dia terpaksa menyetujui untuk putus.
Cay, maaf banget. Mungkin penjelasan aku juga gak bakal mengubah keadaan kita. Maaf sekali kalau aku masih saja membuat kamu cemburu.
Ada baiknya memang kita putus, terpaksa. Tapi percayalah aku masih sayang sama kamu. Sekali lagi maaf.
Niar tak membalas, dan tak juga memblokir nomor Gesta, lega malah karena dia sudah tak ada ikatan apapun. Percayalah, saat kita melepas beban hati, kehidupan kita serasa sangat lega. Sudah cukup bersedih, saatnya menyambut urusan kuliah yang lebih penting.
Gesta beberapa kali melihat Niar yang memang lebih ceria, tertawanya lebar bersama teman-temannya. Ada rasa sesal, tapi Gesta sudah sering menyakiti gadis pujaannya.
"Mami papi kita cerai," ledek Dion melihat wajah Gesta yang makin terpuruk setelah resmi putus. Seolah tak ada gairah untuk berangkat sekolah, saat pembinaan pun dia kebanyakan tidur. Tyo dan Dion sampai menggelengkan kepala, putus di saat masih sayang memang berat. Terlebih melihat sang mantan semakin bersinar.
Niar berhasil masuk PTN jalur golden ticket, dia sudah memastikan sebagai calon mahasiswa. Sedangkan Gesta, saat penjajakan oleh guru BK dia hanya bilang sekolah keluar negeri.
"Jalur move onnya jauh amat yah, sampai melewati samudra dan naik pesawat," ledek Dion dan tak digubris oleh Gesta.
Saat perpisahan, Gesta memberanikan diri menemui Niar. "Boleh minta tanda tangan?" tanya Gesta sedikit canggung. Niar tersenyum sembari mengangguk.
"Boleh, di mana?" tanya Niar santai. Sudah biasa saja pada Gesta.
Pemuda itu menyodorkan buku khusus yang menampilkan foto keduanya saat masih menjadi sepasang kekasih. Tertulis dalam buku itu, pacar pertama Gesta, Cayang Niar.
"Di halaman ini saja," ucap Gesta.
"Masih disimpan foto ini. Nanti kalau punya pasangan harus dibuang atau dibakar ya, jangan bikin pasangan kamu cemburu," ucap Niar santai sembari membubuhkan tanda tangannya. Gesta menatap wajah cantik gadis itu, sebentar lagi dia jauh dari gadis ini, dan siap menerima kabar kalau dia punya pengganti dirinya.
"Sukses ya, Ges!" pesan Niar sebelum menjauhi pemuda itu.
"Nyesek!" gumam Gesta menyesal.
lanjotkan kak🤭
sama2 terbuka...
jadi nya enak...bisa nyari solusi bareng..
tapi niar harus kenal dulu siapa zaldy..
Biarin aja Gesta emg demennya ma cwe bekasan yg udh berbuntut.. Biar nyaho tuh gesta dapetin cewe sekenan 🤣
Btw ga pantes thor tu cwe dikasi nama angel, hrsnya devil aja 🤭
i
cowo kaya gini nih...sat set...
ngajakin nikah...bukan pacaran...apalagi balikan...