Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Mencari cara
Nadine berpikir, bagaimana cara ia mendapatkan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan dirinya dan sang anak. Ia tidak ingin menggantungkan dirinya ke sang om dan tante.
“Bagaimana caranya supaya aku dapat penghasilan, ya?”
Nadine membuka tas miliknya untuk mencari barang yang bisa saja ia jual untuk pegangan sementara.
“Apa ini?” Nadine mendapatkan sebuah kartu debit di dalam tasnya. “Aku tidak pernah memasukkannya ke dalam tasku atau mungkin aku lupa? Tidak mungkin aku lupa. Ini pasti Adinata yang melakukannya.”
Kartu debit yang terlihat asing di mata Nadine dibolak-balikkan sambil berpikir tujuan Adinata memberikan kartu ini untuk Nadine.
“Bukannya pasangan bercerai tidak perlu lagi bagi sang suami untuk menafkahi mantan istrinya, ya? Apa maksud Adinata kasih aku kartu ini disaat dia yang bilang sendiri kalau aku keluar dari rumahnya tanpa membawa sepeserpun harta miliknya,” ucap Nadine. “Perlukah aku cek kartu ini ke ATM?”
Nadine menggelengkan kepalanya. Ia memberi usapan ke perutnya.
“Tumbuh yang sehat di perut mama, ya, Nak. Mama janji tidak akan bikin kamu sedih.”
Nadine mulai merasa baik ketika berada di rumah sang tante. Sedikit demi sedikit ia mulai berdamai dengan keadaan. Ia juga sudah mengenal beberapa tetangga di sekitar rumah sang tante. Semua ramah dan menerimanya dengan tangan terbuka.
Untuk kali ini Nadine merasa bahagia karena telah diterima dan ditemani dengan baik.
“Mama tidak akan mengulang trauma dari keluarga mama dan papa kamu di kamu, Nak. Mama akan memberi seluruh kebahagiaan untuk kamu. Akan mama usahakan dengan nyawa mama di kehidupan ini, tapi maafkan mama, ya karena menyembunyikan kamu dari papa kamu. Mama hanya belum siap.” Elusan tangan Nadine di perutnya kian melambat. “Kita susun bahagia kita berdua, ya, Nak. Mama dan kamu.”
“Nadine!”
Andin masuk ke dalam kamar Nadine dengan wajah terkejut bercampur senang. Ia berlari masuk ke dalam kamar Nadine dan memeluk tubuh Nadine dengan erat.
“Aku kangen.”
Nadine membalas pelukan Andin tidak kalah eratnya.
“Kenapa kamu tidak bercerita denganku, Nadine?! Harusnya kamu bercerita kalau kamu sudah berhasil cerai dari Adinata.”
Nadine meringis. Ia mengajak Andin untuk duduk di atas kasurnya. “Aku bingung, An. Kemarin hanya tindakan spontan yang aku lakukan.”
“Kok spontan? Kamu ‘kan sudah dari lama menyiapkan persyaratan untuk perceraian kamu, Nad.” Andin menggenggam tangan Nadine.
Nadine menganggukkan kepalanya. “Awalnya aku tidak berniat memberikannya langsung ke Adinata. Aku hanya berniat untuk menitipkannya ke sekretaris Adinata, tapi memang keadaan di rumah Adinata yang membuat emosi diriku.”
“Kamu diapakan mertua lampir itu?”
“Rambutku sempat dijambak dan aku hampir didorong dari lantai 2 rumahnya. Untungnya aku bisa kabur dan pergi mencari bantuan ke Tante Almi. Tante Almi juga yang membantu mencari pengacara untukku,” ucap Nadine. Nadine tersenyum tipis menatap Andin yang matanya berkaca-kaca.
“Kamu tidak apa-apa ‘kan, Nad?” Pundak Nadine dipegang Andin.
Nadine terkekeh. “Aku dan anakku tidak apa-apa, An.”
Andin menganggukkan kepalanya, tapi setelahnya kedua matanya membulat. “Sebentar? Anak kamu?! Kamu hamil??!”
Nadine menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“WOW!” Andin kembali memeluk tubuh Nadine. “Selamat, Nadine! Akhirnya impian kamu untuk menjadi seorang ibu dikabulkan oleh Tuhan.” Andin melepas pelukannya.
“Terima kasih. Aku sempat tidak berpikiran untuk mempunyai anak ketika berhadapan dengan ibunya Adinata, tapi Tuhan memang Maha Baik, An. Aku diberi kepercayaan untuk mempunyai momongan walaupun aku sendiri yang membesarkannya.”
Andin menatap perut Nadine. “Aku boleh usap perut kamu, Nad? Aku ingin berkenalan dengan keponakan aku.”
Nadine menganggukkan kepalanya sambil tertawa. “Boleh, An. Sini tangan kamu.”
Nadine memegang tangan Andin dan membantu Andin mengusap perutnya.
Andin terkikik geli. “Akhirnya aku punya keponakan. Sebentar lagi aku resmi dipanggil Aunty, Nad.”
“Aunty Andin,” ucap Nadine. Keduanya lalu tertawa bersama.
“Adinata mengetahui kehamilan kamu tidak, Nad?”
Nadine menggelengkan kepalanya. Ia menatap pintu kamar yang ada di belakang tubuh Andin. “Aku belum ingin memberitahunya, An. Aku takut kalau kehamilanku sampai ke telinga ibunya Adinata. Aku tidak ingin anakku mendapat kemarahan dan dipermalukan di depan keluarga besarnya.”
Andin menganggukkan kepalanya. “Tidak apa-apa, Nad. Sekarang ada aku yang temani kamu. Nanti kita rawat anak kamu bareng-bareng, ya.”
Nadine tertawa kecil. “Kamu bukannya kerja di kota sebelah ‘kan?”
“Iya, tapi kayaknya aku akan mengundurkan diri saja. Aku memilih temani kamu disini sambil bantu-bantu di toko punya ayah.”
“Jangan, An. Mendingan kamu tetap kerja disana. Itu ‘kan impian kamu.”
Andin menggaruk rambutnya. “Bagaimana bilangnya, ya, Nad. Aku kerja disana ‘kan karena kamu menikah dengan Adinata, Nad. Aku menjadi tidak punya teman di rumah ini, jadi aku memilih melamar kerja disana.”
“Kamu, ya.” Nadine memukul pelan tangan Andin. “Kamu tidak perlu sebegitunya, Andin. Kamu tidak kasihan lihat ayah dan bundamu yang khawatirkan kamu.”
“Ayah dan bunda sudah mengetahui alasanku, Nad, tapi aku yang bilang kalau aku tidak ingin dicegah atau dilarang.” Andin tertawa. “Sekarang ‘kan kamu tinggal disini, aku juga akan tinggal disini. Biarkan aku keluar dari pekerjaanku.”
“Padahal aku ingin bertanya kepadamu, adakah pekerjaan untukku, An.”
“Kamu tidak usah bekerja, Nad. Kamu cuma perlu sampaikan kebutuhan ke ayah dan bunda atau aku juga tidak masalah, Nad.”
“Tidak tahulah.”