Nala putri, seorang gadis yatim piatu yang miskin, nekat merantau ke ibukota berbekal kejujuran dan keberanian yang membaja.
Namun, nasib membawanya masuk ke ruang wawancara PT Dirgantara Megah Utama, tepat di hadapan Adrian Dirgantara _ Sang CEO tampan yang terkenal kejam, arogan, dan sangat membenci wanita akibat penghianatan masa lalu.
Bagi Adrian, semua wanita adalah makhluk bermuka dua yanh menjijikan, Namun, saat ia mencoba menindas Nala, gadis desa itu justru menatap matanya dengan berani dan membalasnya dengan kalimat menohok yang meruntuhkan harga dirinya.
Alih-alih memecatnya, Adrian yang penasaran justru menjebak Nala dengan menjadikanya sekertaris pribadi demi menyiksanya dengan tugas-tugas mustahil. Adrian mengira Nala akan menamgis dan menyerah. ia keliru, Nala tidak sekedar bertahan, gadis itu justru perlahan- lahan meruntuhkan dinding pembatas di hati Adrian dengan ketulusannya dan ketegasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sevda Aryan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 : Rebutan Bubur Ayam, Dan Cinta pandangan Pertama
Sementara itu, di sebelah Kevin, asisten Han sedang menahan kedutan di dahi setebal tripleksnya. Di hadapannya, Sisil sedang menyantap bubur dengan sangat lahap, tanpa memperdulikan tata krama.
"Heh, Tuan kaku! Jangan lihat-lihat buburku ya. Kalau mau, pesan sendiri! Jangan mentang-mentang kaya Terus mau minta kerupukku!" semprot Sisil tiba-tiba saat menyadari asisten Han memperhatikannya.
"Nona barbar, jaga ucapan Anda. Siapa juga yang tertarik dengan kerupuk anda? Saya hanya heran, Bagaimana bisa ada wanita yang makan sekasar anda di depan umum, "balas asisten Han dingin, mencoba mempertahankan wibawanya sebagai asisten terpercaya.
"Biarin! Yang penting makan pakai uang sendiri, bukan hasil korupsi! Lagian daripada kamu, pakai jas rapi tapi mukanya ditekuk terus kaya cucian belum dijemput dari laundry!" cerocos Sisil tanpa jeda.
Asisten Han membuka mulutnya, bersiap untuk membalas dengan argumen logis dan formal andalannya. Namun baru saja ia mengeluarkan satu kata, Sisil sudah memotongnya lagi dengan rentetan kalimat yang membuat Han mati kutu. Sifat Barbar dan ceplas-ceplos sisil selalu berhasil membuat asisten Han yang berpendidikan tinggi itu kalah telak dalam adu mulut. Han akhirnya hanya bisa mendengus pasrah, sementara Sisil tersenyum puas merayakan kemenangannya.
Nyonya victoria yang duduk di kepala meja tampak memperhatikan interaksi itu dengan senyum lebar. Pandangannya kemudian beralih pada gadis cantik bule Angel, glamor yang sejak tadi sibuk mengambil foto estetis untuk media sosialnya.
"Nala sayang... Mama belum kenal dengan gadis cantik sebelah sisil ini. Siapa dia? pacarnya Kevin ya?" tanya Nyonya victoria dengan nada menggoda, membuat Kevin yang sedang meminum teh manisnya langsung tersedak hebat hingga terbatuk-batuk.
Nala tertawa kecil melihat reaksi Kevin. "Bukan, mama! ini Angel. Angel ini teman kami dulu Waktu Sekolah SMA di Jakarta. Kami bertiga dulu punya geng yang namanya Geng Three Girls, Angel baru saja pulang dari Amerika, dia bekerja jadi model di sana."
Papanya Angel orang Jakarta dan Mamanya orang Amerika. Setelah Angel lulus sekolah SMA, Angel sama mamanya, menyusul Papanya ke Amerika karena papanya Angel memiliki perusahaan di Amerika. dan Angel melanjutkan sekolah fashion model di Amerika dan meniti karir di sana! Itu cita-cita Angel waktu masih SMA. Nala menjelaskan secara detail pada calon ibu mertuanya karena Nyonya Victoria memanggil Angel dengan sebutan gadis bule!..
"Nyonya Victoria akhirnya paham, kalau Angel memiliki darah keturunan bule. "Oh! Jadi ini toh Geng three Girls yang sering kamu ceritakan itu? Wah, pantas saja semuanya cantik-cantik dan punya karakter kuat!" Puji Nyonya victoria Tulus. Wanita paruh baya itu menatap sisil yang sedang mengunyah kerupuk, dengan cepat-cepat mengunyahnya sampai berbunyi suara krek...krek!!..' sisil memakan kerupuk dengan sangat cepat dan lahap, takut di minta tuan kanebo kering. Asisten Han menatap Sisil dengan pandangan seolah gadis barbar ini baru memakan- makanan yang enak, padahal menurut asisten Han ini hanya makanan biasa! Tetapi gadis ini, seperti memakan, makanan hidangan yang mewah, dan lezat.
Nyonya Victoria tidak merasa malu dengan gadis itu atau ingin mengejeknya justru dia tersenyum, karena gadis itu tampil apa adanya! Dan justru terlihat manis dan cantik meskipun tanpa makeup, walaupun sikapnya agak barbar namun memiliki hati yang tulus.
Nyonya victoria berkata! Mama tidak akan pernah lupa dengan kebaikan anak ini?...
Adrian yang sedang menyuapkan bubur ke mulutnya langsung menghentikan gerakannya. ia menatap ibunya dengan kening berkerut. "maksud mama apa? Ibu sudah kenal dengan gadis.... Barbar dan berisik ini?" tanya Adrian, melirik Sisil yang langsung cengengesan.
"tentu saja sudah! Adrian, kamu ingat tidak beberapa hari yang lalu saat Ibu baru keluar dari supermarket, karena menunggu di luar panas Ibu berniat membawa belanjaan ke dalam mobil- namun entah datang dari mana tiba-tiba ada copet yang langsung menjambret tas ibu padahal isinya itu adalah surat-surat penting!... "untung saja ada gadis ini, dia langsung mengejar copet Dia melempar copet dengan sepatu. ketika asisten Han yang berada di lokasi tersebut dia yang hendak keluar dari kafe kelempar sepatu. Dan jidatnya benjol!...haha...Nyonya victoria tertawa ... mengingat kejadian itu! Sisil menghajar Pencopet itu sampai babak belur. iya kan, Kevin?..Nyonya Victoria Berkata sambil melirik pada Kevin. Ia nyonya jawab Kevin gugup, namun pandangan matanya masih tetap memandang Angel.
Loh Mah! Emangnya pak sopirnya ke mana...? Tanya Adrian"
Sopirnya waktu itu pas lagi ke toilet!...jawab Nyonya Victoria.
Mendengar cerita itu, asisten Han langsung menoleh ke arah sisil. Ia tidak menyangka gadis ya Sepedanya hampir ia tabrak beberapa hari yang lalu, dan yang selalu membuatnya darah tinggi karena ada mulut, ternyata adalah pahlawan yang menyelamatkan Ibu dari bosnya sendiri. Entah kenapa ada merasa bangga di hati asisten Han itu?
"wah, jadi waktu itu ibu yang kecopetan itu Nyonya Victoria? Ya ampun, dunia sempit banget ya!" seru Sisil heboh, menepuk meja dengan keras hingga mangkuk buburnya berdenting. "untuk waktu itu Sepedaku rantainya nggak lepas, Nyonya! kalau gak, si copet udah kabur ke pasar."
Nyonya Victoria tertawanya renyah, merasa sangat bersyukur karena takdir mempertemukan mereka kembali di lingkaran yang sama. Sejak awal, Nyonya Victoria memang sudah menganggap Nala seperti anaknya sendiri karena ketulusannya, dan kini mengetahui bahwa sahabat-sahabat Nala adalah orang-orang hebat, hatinya semakin mantap untuk menyambut pernikahan putranya satu bulan lagi.
Adrian menatap Sisil dengan pandangan yang sedikit melunak, meski wajahnya tetap datar. "Terima kasih karena sudah menolong Ibu saya waktu itu, "ucap Adrian singkat namun Tulus.
Sisil Melambaikan tangannya dengan santai. "sama-sama, Tuan CEO posesif! Yang penting nanti pas hari H pernikahan, menu makanannya harus enak ya!" seloroh sisil yang langsung disambut tawa lepas oleh Nyonya Victoria dan Angel.
'di seberang meja, Kevin masih terus menatap Angel yang sedang tertawa, merasa dunianya benar-benar telah berputar balik Sejak pagi ini. Sementara asisten Han hanya bisa menggelengkan kepala, menyadari bahwa hidupnya yang tenang di Jakarta akan segera berakhir karena kehadiran sisil, Si Gadis barbar penjual bunga yang kini punya "Kartu as" di depan Ibunda bosnya sendiri.
Nyonya Victoria masih terkekeh melihat kehebohan Sisil. Sambil melirik Adrian dan Nala yang tampak begitu serasi. Sang nyonya besar tiba-tiba menjentikkan jarinya, mendapatkan sebuah ide cemerlang yang tak terduga.
"Ah! Kebetulan sekali" serunya Nyonya Victoria, menatap Sisil dengan mata berbinar-binar. "Sisil, toko bunga tempat kamu bekerja itu namanya apa?"
"florist toko bunga, Nyonya. Saya cuma karyawan biasa di sana yang tugasnya merangkai sama mengantar bunga," jawab Sisil jujur sambil mengunyah kerupuknya.
"Bagus! saya mau ke toko tempat kamu yang bekerja itu yang memegang seluruh dekorasi bunga altar untuk pernikahan Adrian dan Nala bulan depan! Dan saya mau kamu yang jadi penanggung jawab lapangannya. Ibu tidak mau tahu, pokoknya harus kamu!" perintahnya Nyonya victoria mutlak.
UHUK!
Bukan sisil yang tersedak, melainkan asisten Han. pria kaku itu langsung meraih gelas air putihnya dengan tangan sedikit gemetar. "Tapi, Nyonya...vendor pernikahan Tuan Adrian sudah dikelola oleh tim profesional berskala internasional. Jika diserahkan ke toko bunga biasa -"
"Tidak ada tapi-tapi Han" potong nyonya Victoria dengan lambaian tangan Anggun yang tidak bisa diganggu gugat. "Sisil sudah menyelamatkan dompet penting ku dari copet, dan Nala adalah menantuku. Ini urusan keluarga. Jadi, Han...mulai besok, kamu yang bertanggung jawab menemani Sisil rapat dan mengurus semua kebutuhan bunga ini di kantor. Pastikan semuanya sempurna!"
Sisil Langsung melempar tetapan mengejek, menjulurkan lidahnya sedikit ke arah asisten Han. " dengerin tuh, Tuan kanebo kering! Bos Besar sudah bersabda. siap-siap aja ya sering ketemu mukaku yang cantik jelita ini." bisik Sisil dengan nada barbar khasnya yang memancing emosi.
Asisten Han hanya bisa mengepalkan tangan di bawah meja. Rahangnya mengeras menahan dongkol, sering bertemu dengan gadis cempreng ini di kantor? Membayangkannya saja sudah membuat Han merasa kepalanya akan pecah.
Di sudut meja yang lain, kevin memanfaatkan momen kehebohan itu. Dengan gerakan pelan yang sangat hati-hati, ia menggeser posisi duduk plastiknya agar lebih dekat ke arah Nala. Ia menyenggol siku Nala dengan sangat pelan, sambil matanya melirik ketakutan ke arah Adrian yang sedang sibuk mengelap sendok bubur untuk Nala.
"Nal...Nal..."bisik kevin dengan suara Ultra rendah, seolah sedang membagikan rahasia negara.
Nala menoleh heran. 'Ada apa kak kevin? Kok kayak maling ketakutan gitu?"
"Nal, tolongin gue demi kakak luh yang jomblo ini?, pinta Kevin dengan tetapan memelas, otaknya yang biasa encer kini tampak buntu. " Gue...mohon banget, tanyain nomor whatsapp-nya Angel dong! Atau luh ketik sekarang di bawah meja, ntar kirim ke gue. Sumpah, Nal, dari tadi otak gue macet total kalau mau ngomong langsung sama dia. Jantung gue mau copot !"
Nala menahan senyum geli melihat wajah Kevin yang memerah sampai ke telinga. Sebelum Nala sempat menjawab, sebuah suara Bariton yang dingin menyela dari sampingnya.
"kevin, Sedang apa kamu berbisik-bisik terlalu dekat dengan calon istriku?" tanya Adrian tajam. Matanya menyipit penuh selidik, aura posesifnya langsung keluar mendeteksi adanya ancaman.
"E-eh Engak, Tuan Adrian! Ini...Saya cuman mau nanya bubur di sini pakai merica apa enggak! "dusta Kevin panik, langsung memundurkan kursinya tiga meter ke ke belakang dengan wajah pucat, membuat Angel yang memperhatikannya langsung tertawa renyah.
Hari Senin pagi di kantor PT Dirgantara megah utama. Kevin berjalan mondar-mandir di ruang divisi kreatifnya seperti setrikaan. Sejak kejadian di taman hari minggu kemarin, Ia tidak bisa tidur semalaman - di tangannya sebuah nomor telepon baru berkode International sudah tersimpan berkat bantuan Nala yang menyelundupkannya pagi-pagi sekali setelah dipaksa Kevin.
Dengan tangan gemetar, Kevin mengetik sebuah pesan di WhatsApp:
"Selamat pagi, Angel. Ini Kevin yang kemarin di Taman Menteng...Kalau kamu tidak sibuk , Bolehkah saya mengundangmu minum kopi siang ini?"
Pesan terkirim, satu menit, Dua menit, belum ada balasan! Kevin menggigit kuku jarinya, merasa menjadi pria paling tidak berdaya di Jakarta. Padahal biasanya, dialah yang paling pandai merayu klien- klien besar dengan humornya yang segar.
Sementara itu di lobi utama gedung, suasana mendadak senyap saat pintu kaca berputar terbuka. Angel melangkah masuk dengan sangat anggun. Sebagai model papan atas, ia mengenakan kacamata hitam, gaun Mini kasual yang memperlihatkan kaki jenjangnya, serta tas jinjing mewah. Kedatangan sebenarnya Untuk mengantarkan beberapa dokumen contoh dekorasi internasional dari majalah Amerika ya mungkin bisa menginspirasi Nala.
Begitu Angel melewati kubikel divisi kreatif, matanya menangkap sosok Kevin yang sedang Menatap layar ponsel dengan wajah frustrasi. Angel tersenyum tipis ia merogoh ponselnya sendiri membaca pesan dari Kevin, lalu mengetik balasan singkat tetap berjalan tanpa menghentikan langkahnya.
BZZZ! Ponsel Kevin bergetar.
"Boleh. Jam 1 siang di kafe lantai dasar gedung ini, Jangan telat ya! Cowok pemalu."
kevin langsung melompat dari kursinya, hampir saja menabrak meja kubikel. Otaknya yang sempat blank kini dipenuhi kembang api kebahagiaan.
Berbeda dengan Kevin yang dipenuhi bunga-bunga Asmara, di ruang rapat lantai dua justru sedang terjadi "perang dunia ketiga".
Sisil datang dengan pakaian kasualnya- celana jeansnya dan kemeja kotak-kotak longgar- membawa seikat besar contoh bunga mawar dan dedaunan dekorasi dari florist toko Bunga. Ia duduk di kursi kulit mewah ruang rapat, sementara asisten Han duduk di hadapannya dengan tumpukan berkas anggaran pernikahan.
"Nona sisil, Tolong lihat draft kerjasama ini! Ucap asisten Han dingin sambil menyodorkan tabletnya. "pihak hotel meminta agar semua bunga yang masuk harus disterilisasi dari getah berlebih. Dan anggaran transportasi yang anda ajukan ini...Mengapa ada biaya tambahan untuk 'asuransi sepeda tua legendaris'?"
Sisil langsung menggebrak meja ruang rapat yang berlapis kaca itu hingga asisten Han tersentak kecil.
"Heh, Tuan kaku! Kamu tahu gak, Jakarta itu macet! Aku harus bolak-balik koordinasi bawa bunga ini pakai sepeda tua legendarisku! sepeda yang kemarin kamu Senggol pakai mobil mewah mu itu!" semprot sisil dengan mata melotot.
"Gunakan mobil boks dari florist toko bunga tempat anda bekerja, Nona Barbar! Mengapa Anda begitu keras kepala menggunakan sepeda tua itu?!" balas Han, suaranya mulai naik satu oktav, memecah profesionalisme kaku yang selalu ia agungkan.
"mobil boks toko cuma ada satu dan dipakai buat antar pesanan besar lain! Lagian, sepedaku itu sepeda tua legendaris pembawa keberuntungan. Buktinya, gara-gara sepeda itu aku bisa ngejar dan Nabrak copetnya Nyonya Victoria sampai babak belur! Kamu mau meragukan keputusan ibunya bosmu, Hah?!" Sisil memajukan wajahnya menantangkan dengan senyum kemenangan yang sangat menyebalkan.
Hallo, semuanya gimana kabarnya? Semoga kalian semua sehat selalu- ( Amin). Mohon maaf jika saya sering telat waktu uploadnya karena keterbatasan waktu jam istirahat saya.
Terima kasih sudah mampir dan membaca di karya pertama saya ini, kisah ( Pesona Gadis Desa dan CEO Arogan) Menurut kalian gimana tentang di Bab ini, sisil dan Asisten Han yang selalu perang Dunia terus! Apakah akan tumbuh benih-benih cinta di antara mereka berdua?...jika kalian suka jangan lupa kasih like dan komentar karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author- Terima kasih.
*(Happy Reading)*