[Proses Revisi]
Empat orang gadis memiliki kemampuan yang semua orang tidak miliki, melihat mahluk halus? melihat masa depan? melihat masalalu? merasakan aura disekitar? Mengerikan bukan? Tentu saja. Siapa yang baik-baik saja ketika memiliki kemampuan tersebut.
Kadang melihat sesuatu yang mengerikan itu sangat melelahkan.
Tapi semua itu membaik ketika mereka bertemu dengan Kakak senior di sekolah barunya, memiliki aura yang notabenenya mereka butuhkan selama ini.
Bagaimana kisah cinta mereka dan kisah mereka dengan para mahluk tak kasat mata?
On IG: @ry_riuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KRITIS
BARA POV
Dokter yang menangani Echa masih belum keluar dari ruangannya, Bara khawatir jika Echa kenapa-kenapa. Apalagi Aira, dia masih saja menangis tidak ada hentinya.
"Kak Caca bakalan baik-baik aja, Aira jangan nangis ya." Ujar Hanin sambil menenangkan Aira yang menangis sesegukan.
"Aira, Kak Caca ga suka kalau Aira nangis, nanti Kak Caca bakalan marah sama Aira kalau nangis terus." Kata Nathan pada Aira sambil mengelus kepala Aira yang berada dipelukan Hanin.
Bara yang menghubungi teman-temannya untuk datang, entah dorongan darimana tapi firasatnya, Bara perlu bantuan mereka, ternyata benar firasat Bara, setidaknya mereka bisa menenangkan suasana.
"Kak Bara.." panggil Ivy, yang dipanggil langsung menoleh ke asal suara itu.
"Kakak juga ga usah khawatir, Caca gapapa ko. Dia kuat, meski Vivi juga sama khawatirnya kaya kakak, tapi Vivi percaya Caca bakalan kuat, percaya sama Vivi." Ujar Ivy dengan senyum manis dan mata yang sembab.
"Jangan lemah bar, inget kita itu cowo. kalau dua-duanya lemah nanti bisa down." Sahut Azka sambil menepuk pundak Bara.
"Inget Aira juga, dia belum berhenti nangisnya dari tadi." Ujar Azka sambil melihat Aira yang berada dalam pelukan Hanin.
Ada benarnya juga ucapan teman-temannya itu, Bara tidak boleh lemah apalagi dalam kondisi seperti ini, jangan sampai rasa khawatirnya itu mengendalikan dirinya.
"Aira sama Kakak yu, kasian Kak Haninnya." Ujar Bara sambil mengelus kepala Aira.
"gak mau! Kakak jahat sama Aira!" bentak Aira.
"Jahat?" tanya Bara bingung.
"Aira udah bilang! jangan deket sama perempuan jahat itu! kak Nathan sama kak Azka juga ga boleh deket sama temen-temen perempuan jahat itu!" bentak Aira dengan suara yang sudah habis karena terus menangis.
"Perempuan jahat?" tanya Bara, Nathan dan Azka kompak.
"Kak Ratu, Kak Shasa sama Kak Kayla! Aira gasuka sama mereka! mereka punya sesuatu yang jahat!" bentak Aira.
"Tapi.." belum sempat Nathan melanjutkannya Aira sudah menimpah ucapan Nathan.
"Aira udah bilang! jangan deket-deket mereka! Aira takut." Ujar Aira sambil menundukkan kepalanya.
CKLEKK..
Seorang Dokter dan Perawat keluar dari ruangan itu, dengan membawa alat yang berlumuran darah.
"Keluarga pasien?" tanya dokter itu.
"Saya dok." jawab Hanin yang langsung mendekat pada Dokter itu.
"Pasien hanya boleh di jenguk oleh dua orang saja, keadaannya masih kritis, dan nanti kami akan pindahkan pasien." Ujar Dokter itu.
"Baik dok, terimakasih." Kat Hanin yang masih menggendong Aira.
"Mba nanti setelah menjenguk silakan pergi administrasi ya." Ucap Perawat itu.
"Baik suster. terimakasih." ujar Hanin sambil tersenyum.
HANIN POV
Hanin dan Aira masuk keruangan itu. dengan menggunakan baju khusus.
"Kak Caca.." panggil Aira disamping Echa sambil memegang tangannya.
Hanin merasa sakit di dadanya melihat sahabatnya itu terbaring lemah, dengan selang infusan yang menggantung di kedua tangannya, alat bantu untuk bernafas dihidungnya, dan alat mendeteksi jantung Echa.
"Ca. Aira baik-baik aja. Hanin bawa Aira kesini, cepet bangun ya, kita semua khawatir." Ujar Hanin yang meneteskan air matanya.
"Kak Caca, Aira nangis terus tadi.. Kak Caca bangun.. Aira mau di marahin Kak Caca." Kata Aira sambil memegang tangan Echa yang tanpa tenanga itu.
"Ca.. please wake up." Ujar Hanin sambil menatap Echa.
Beberapa menit berlalu Hanin dan Aira sudah keluar dari ruangan itu, mengajak Echa berbicara meski tak direspon, semoga saja Echa mendengar perkataan sahabatnya.
Kemudian digantikan dengan Ivy dan Azka .
IVY POV
Mereka berdua masuk ke ruangan Echa untuk melihat seberapa buruk keadaan Echa yang katanya kritis. Semoga saja yang mereka lihat tidak seburuk apa yang mereka pikirkan.
"Ca, gak mau bangun gitu?" tanya Ivy.
"Ca, ayo dong jawab." ujar Ivy.
"Udah Vi, kasian Caca jangan digituin." kata Azka sambil memegang pundak Ivy agar tenang.
"Tapi Kak, Caca gak mau bangun." ujar Ivy sambil meneteskan air matanya.
"Kakak tau, biarin Caca istirahat sebentar dari dunianya, mungkin Caca terlalu lelah, Kakak tau kamu sedih, tapi semua gak bakalan merubah keadaannya, sekarang bukan waktunya menjadi lemah." Kata Azka sambil menatap mata Ivy.
Refleks Ivy langsung memeluk Azka, entah kenapa tapi perkataan Azka itu selalu saja membuatnya sadar dan kuat. Tapi untuk saat ini Ivy memperlihatkan kelemahannya pada Azka.
"Sekarang, nangis dulu sepuasnya, buat nanti sama kedepannya gak boleh lemah." Ujar Azka membalas pelukan Ivy.
Hal yang paling membahagiakan datang dari orang terdekat dan terkadang hal yang menyakitkan juga datang dari orang yang sangat dekat, entah itu sahabat ataupun teman.
Beberapa menit berlalu, Ivy melepaskan pelukannya pada Azka, sekarang hatinya dan kekhawatirannya sudah sedikit berkurang.
"Makasih Kak." Kata Ivy sambil menatap mata Azka.
"Sama-sama." ujar Azka sambil menghapus sisa air mata Ivy.
Ivy dibuat diam dengan tingkah Azka yang sangat manis, Ivy tidak sadar tangannya yang sudah menggenggam tangan milik Azka.
Mereka berdua masih diam sambil menatap satu sama lain, melihat ciptaan Tuhan yang begitu indah untuk dipandang.
"e-eh mm-aa-af Kak." kata Ivy yang tersadar dari tatapan itu.
Azka menjadi salah tingkah sendiri, membuat ruangan yang awalnya hangat menjadi canggung.
"Ca, cepet bangun ya, istirahat-nya jangan lama-lama." Ujar Ivy sambil mengelus kepala Echa.
Mereka berdua keluar dari ruangan itu, setelah Ivy menyampaikan apa yang dia ingin sampaikan pada Echa.
BARA POV
Setelah Ivy dan Azka keluar sekarang giliran Bara, Nathan? Dia mengantar Hanin dan Aira untuk mengurus administrasi.
Diruangan yang dipenuhi alat medis ini, hanya ada Bara dan Echa.
"Ca." panggil Bara. Namun, tidak ada respon apapun.
"Cepet bangun, semua pengen ngeliat kamu senyum lagi." ujar Bara sambil menggenggam tangan Echa yang sedikit pucat.
"Maafin Kakak, Kakak yang udah buat kamu kayak gini." kata Bara sambil mencium punggung tangan milik Echa.
Bara sadar dengan perlakuannya itu, yang ingin Bara lakukan saat ini hanya memandang wajah Echa yang tersenyum padanya seperti waktu itu. Senyum yang indah dan memukau, siapapun bisa terhipnotis oleh senyuman Echa.
Bara mengelus kepala Echa, adik manisnya ini kenapa harus terbaring lemah lagi. Kenapa Bara harus melihat ini untuk kedua kalinya, dan kenapa harus kelemahannya lagi yang dia lihat.
"Tidurnya jangan lama-lama, kakak sayang sama kamu." ujar Bara.
Dia sadar dengan perasaannya, menyayangi bukanlah hal yang buruk, hanya saja seperti apa batasan dalam hal menyayangi. Bara hanya bisa mengungkapkannya saat Echa tidak sadar, dia belum berani mengatakannya, mungkin suatu saat Bara akan mengatakan perasaannya pada Echa.
setelah 3 thun lalu aku baca 3 kali, tahun ini baca lagi yng ke empat saking bagusnya ni cerita 😍😍
di baca deh, di jamin bakalan nagih 🥳👍
saking suka buat nama panggilan jdi caca🤭
but thanx ya.....lanjut ghostvilla......bye²
Othorr TANGGUNG JAWAB!!!😭😭😭😭
di online pengen ad yg jual tp semua nihil
hbsnya greget sma lnjutnn si teror