Selamat membaca ...!
Navian Narendra Devandra seorang pengusaha sukses di bidang property, kehidupannya begitu sempurna, dia memiliki seorang istri yang cantik jelita seorang model papan atas, tetapi semua itu berakhir begitu saja, ketika istrinya Vianna Dewi memutuskan bercerai setelah melahirkan anaknya karena tidak ingin karirnya hancur karena tubuhnya menjadi jelek.
Dalam kekalutan, Navian dipaksa untuk menikah lagi dengan adik dari mantan istrinya yang bernama Tiara Dewi Violina, demi anaknya yang baru lahir tujuh bulan.
Apakah pernikahan mereka akan berujung cinta, atau malah kebencian yang akan terbangun?
Saksikan kisahnya hanya di sini, jika membaca tinggalkan jejak ya ges 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teriablackwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
This is just fiction.
••••••••••••••••••••••••••
Jika sudah waktunya nanti, jemput Tiara ya Pi, Tiara mau bertemu Papi, ingin memeluk Papi seperti dulu saat Tiara kecil, Papi selalu memeluk dan mencium Tiara.
Tiara merindukan itu semua.
Batin Tiara berderai pilu.
Gadis itu tak lagi mampu menahan bendungan yang sudah pecah di benaknya, tetesan beningnya berjatuhan, menggetarkan punggung dan memanaskan wajahnya, dadanya sesak akibat dirinya yang terlalu memaksakan diri untuk menahan air matanya di sana.
Tubuhnya berputar, beralih pada makam sang mami yang ada di belakangnya. Tiara duduk di kursi kecil di tengah-tengah antara makam papi dan maminya. Sebelum berbicara dengan dinding hatinya, Tiara menghela napasnya panjang, membuat rongga dadanya merasa lega.
Hai Mami ... Bisa datang ke mimpi Tiara gak Mi, Tiara kangen sama Mami, tapi jika Mami tidak bisa, enggak apa-apa kok Mi, Tiara baik-baik aja, cuman Tiara kangen sama Mami.
Tiara tak sengaja meneteskan air matanya di atas makan sang mami, cepat-cepat gadis bermata kecoklatan itu menyeka pipinya yang basah dengan punggung tangannya. Ingatannya cukup kuat mengenai hal ini, satu tetesan air mata yang masuk ke dalam tanah makam seseorang maka sang mayit di dalam akan berat.
Gadis berambut panjang lurus itu gegas memancang dan berlari tanpa berpamitan dengan Ridzwan yang ada di dekatnya, tetapi Ridzwan mengetahui dengan jelas mengapa putrinya berlaku demikian.
"Kak ... Anakmu sungguh mirip denganmu Kak, dia baik hati, penuh kasih sayang dan tangguh. Aku pamit ya Kak, aku harus nyusul Tiara," pamit Ridzwan yang juga meneteskan cairan bening hangatnya.
Ridzwan berputar, berayun kembali keluar dari pemakaman itu.
Tiara baru saja tiba di luar pemakaman, di sana dia menyaksikan seekor anjing besar ras anjing Siberian Husky, mata kiri anjing itu berwarna coklat, dan mata kanannya berwarn biru. Anjing itu hampir menyerupai serigala sehingga Tiara tidak bisa membedakan itu anjing atau serigala.
Namun, hal yang mustahil bukan? Seorang serigala berani menampakkan dirinya di tengah-tengah manusia, sementara lokasi itu jauh dari hutan, pemakaman tersebut berada di tengah-tengah pusat kota, lantas ... Apakah itu anjing atau serigala? Pikir Tiara demikian.
Matanya memicing, wajahnya condong ke depan, hanya wajahnya saja. Dengan kedua tangan yang menjuntai lemah ke bawah, sang anjing Siberian Husky itu pelan-pelan merangkak ke dekat Tiara.
Sontak saja bola mata gadis itu melebar, langkanya bergulir ke belakang secara bertahap, dadanya berdebaran, pundaknya membeku. Seperti ada yang mencengkeram hatinya, mencekik aliran pernapasan gadis itu.
"AAArgh ...." Tiara memekik sembari dia menganyam langkah ke belakang, tatapannya berjempalitan tak karuan.
Denting-denting ketakutan terkuar nyata di irama tatapannya yang sesekali menanar. Tanpa ragu dia berlari menjauhi dua anjing Siberian Husky itu menyusuri jalanan beraspal bertemankan puluhan pepohonan, di antaranya beberapa pohon tengah kekeringan, daun-daunnya berjatuh tertiup angin di sana.
Sorot sang baskara terjatuh mengikuti ke mana Tiara berayun, mengayuh langkahnya dengan kecepatan tinggi yang dia mampu, dia mengingat suatu kejadian yang telah terjadi beberapa tahun yang lalu, tepat saat dia berumur sembilan tahun, satu tahun sebelum kecelakaan pesawat merenggut kedua orangtuanya.
"AAArgh ... Jangan ikuti aku ... AAaah tolong ... Tiara masih mau hidup, jangan makan Tiara ...." teriak Tiara dalam pengembaraan larinya.
Gadis itu berlari sampai kakinya lemah dan beberapa kali terjatuh, melukai kakinya hingga lecet dan menimbulkan sedikit darah di antara luka itu, angin menerjang rambut halusnya bergelombang di udara.
Di depan sana, Navian berdiri di bibir jalan tengah memerhatikan ponselnya, dia terdiam sejenak, samar-samar suara teriakan menyelinap masuk ke dalam telinganya. Masih menggenggam ponsel, Navian menoleh ke arah suara berasal.
Navian memicingkan mata. "Tiara ... Kenapa dia lari-lari begitu?" seru Navian yang tidak mengetahui apapun.
Perlahan dia melangkah mendekati Tiara. Gadis itu berlari sambil memastikan ke area belakang di mana anjing-anjing itu masih mengejarnya, seketika netra Navian melebar, panik melanda lelaki itu.
"Tiara ...!" panggil Navian panik.
"Kak Navian ... Tolong Tiara ...!" Tiara menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Navian, dia berderai dengan tubuh yang bergetar.
Bukan hanya tubuh gadis itu yang menggetar, tangan dan kakinya pun itu mengeletar, terlebih di area mata Tiara, tatapannya meruyup ketakutan. Tanpa segan atau merasa canggung Navian memeluknya erat tubuh sang mantan adik iparnya.
Pelan-pelan, Navian mengarahkan salah satu tangannya ke belakang, masuk ke dalam saku celana, mengambil dua buah sosis berukuran besar yang dia beli untuk disantap nanti, tetapi sepertinya sosis itu bukan rezekinya.
Navian melempar sosis itu jauh ke depan sehingga kedua anjing yang terus menggonggong dan mengejar Tiara, berbalik arah mengejar dua sosis yang melayang mengudara dan terjatuh di salah satu sudut ruas jalan itu.
"Sudah tenang ...," bujuk Navian melingkari pinggang Tiara dengan salah satu tangan kekarnya, sementara tangannya yang lain dia gunakan untuk mengelus lembut rambut gadis itu.
Tiara tidak berhenti menangis, tangisan gadis itu semakin pecah, tubuhnya terjatuh. Tangan yang melingkari leher Navian, tiba-tiba saja meleleh. Navian terkejut Tiara melepaskan dirinya ke bawah.
Navian melihat punggung gadis berumur 23 tahun itu menggetar, tangisannya berhamburan membanjiri pipinya, kedua kakinya ditekuk, wajahnya tenggelam di antara kakinya.
"Papi ... Tiara takut, papi tolong Tiara seperti dulu, papi ... papi ... papi ...," kata Tiara lirih, dia tadahkan kedua tangannya yang menggeligis.
Tetesan beningnya berjatuhan menyentuh tanah beraspal. "Papi ...."
Navian tersentuh. Dia mengkerut, bingung, panik, dan iba menjadi satu kesatuan yang utuh. Lutut Navian meleleh, tangannya terjatuh di pundak Tiara, perlahan meluruh ke pinggang Tiara, dia genggam pinggang kecil itu seirama dengan tubuhnya yang mencondong ke depan, memeluk gadis cantik di depannya.
Pria bermata kecil itu menarik sang gadis ke dalam pelukannya, perlahan dia gerakkan tangan Tiara untuk memeluknya lagi, seperti tadi. Dengan terisak Tiara melingkari leher Navian dengan erat, pria berparas tampan itu memeluk Tiara, membelai rambutnya dengan lembut.
"Tenang ya ... Jangan takut, anjing itu sudah pergi," bujuk Navian mencoba menenangkan Tiara.
Walau Navian sendiri kebingungan harus melakuka apa, dia hanya bisa memeluk gadis itu, mencoba mengalirkan energinya untuk menenangkan Tiara. Ini kali pertama dia melihat Tiara dalam ketakutan yang membuncah seperti ini.
Tubuhnya yang menggetar sudah memberikan jawaban jika Tiara bukan hanya takut, tetapi juga mengguncang mentalnya, pikir Navian mungkin saja Tiara mengalami suatu kejadian buruk sehingga membangunkan trauma yang membuatnya hari ini seperti ini.
Papa Ridzwan mungkin sedang mencari Tiara.
Batin Navian menggema, tiba-tiba saja dia mengingat Ridzwan.
Tiara kembali tenang, hanya saja isaknya masih terus mendekap gadis itu dengan utuh. Dia kesulitan untuk menenggelamkan isak yang membukit itu. Wajahnya terjatuh di pundak Navian, dia kebingungan harus bagaimana.
Pelukan Navian terlalu membuatnya nyaman, tipis-tipis rasa kantuk melandanya. Seperti biasa, Tiara akan tertidur setiap kali dia menangis hingga histeris dan menguras seluruh bendungan air matanya.
Hal itu terjadi saat ini, perlahan Tiara terlelap dan bersandar di pundak Navian. Tak peduli apapun, gadis itu hanya ingin tertidur dan melupakan kejadian buruk yang baru saja terjadi. Ini adalah cara Tiara melenyapkan ingatan-ingatan buruknya.
Genggaman Navian mengerat kala dia merasakan tubuh Tiara yang semakin memberat, tatapannya meleleh pada Tiara yang menunduk, pelan-pelan dia menyibuk ke wajah gadis itu. Navian tercengang, gadis yang selalu menghindarinya ternyata lemah di pundaknya.
Navian menyeka rambut yang menutupi wajah Tiara, dia selipkan di telinga gadis itu. "Bisa-bisanya tidur habis nangis," ujar Navian mengeratkan genggamannya pada pinggang Tiara.
Ridzwan :
Tiara ada sama kamu Nav?
Notifikasi pesan masuk dari Ridzwan segera terbaca oleh Navian, tetapi dia tidak bisa membalas pesan Ridzwan karena tangannya yang lain masih dia gunakan untuk menopang tubuh Tiara.
Navian adalah sosok pria yang lembut dengan penuh ambisi, dia tidak pernah melepaskan apa yang menjadi keinginannya, tetapi dia juga sosok yang keras. Sehingga Tiara tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung pada lelaki itu.
Mungkin saja jika dia terbangun nanti, Tiara akan memerah, tubuhnya meleleh atau bahkan dia tidak memiliki wajah untuk bertemu dengan Navian, gadis itu selalu berlari jika ada hal yang tidak dia sukai, atau suatu hal yang membuatnya malu.
Navian meletakkan Tiara dengan lembut di atas ranjang pribadi milik gadis itu, Ridzwan ada di sisi lain dari Navian. Tanpa bersuara, kedua pria itu keluar dari kamar Tiara dengan sangat pelan, seolah mereka berjinjit kecil takut membangunkan gadis itu.
"Nav, makasih ya Nak, udah mau mengantarkan Tiara pulang, jujur Papa tadi khawatir banget, karena Tiara tiba-tiba menghilang, masalah nangis di makam itu memang sudah terbiasa," ucap Ridzwan merasa lega Tiara bertemu dengan orang yang tepat.
Navian tersengih kecil. Dia adukan kedua tangannya untuk saling menempel, sedikit menggeseknya. "Iya Pa, kebetulan Nav ada di sana, Tiara takut anjing?" jawab Navian dengan tambahan pertanyaan.
Saat tadi ketakutan Tiara tidak bisa dianggap remeh, gadis itu seperti takut akan dikunyah hidup-hidup oleh anjing Siberian Husky itu, dan hal itu benar-benar membangunkan rasa penasaran Navian pada sang mantan adik iparnya itu.
"Tiara itu waktu usianya sembilan tahun pernah dikejar anjing Siberian Husky, sepulang dari sekolah, dan anjing itu rabies, untuknya papinya, orangtua kandung Tiara datang menolongnya, makanya dia kalau bertemu anjing memanggil nama papinya terus," jelas Ridzwan.
Seperti biasanya, Ridzwan tak pernah segan menceritakan sosok Tiara pada Navian, seolah Ridzwan berharap bahwa Navian lah yang akan menggantikan posisinya untuk menjaga Tiara di masa depan.
...See you next part....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
mampir juga di karyaku yaa
yuk mampir juga di karyaku
"Mencintaimu dalam DIAM"
Jangan lupa like, komen dan subscribe