Karena keadaan keluarganya, Arimbi ingin membawa ibu dan neneknya pindah ke tempat baru yang di mana tidak ada orang yang tahu asal mereka. Tentu semua itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Sampai suatu saat tawaran datang dari seorang gadis kaya yang menjanjikan uang yang menggiurkan, membuat Arimbi pergi ke kota dan nekat menerima tawaran itu. Apa yang selanjutnya terjadi dengan Arimbi gadis cantik dan polos yang berasal dari desa itu?
Hati-hati ya, ceritanya bikin sakit perut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anny Djumadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak mungkin selamanya
"Wah istri mu cantik sekali Pak Hugo! Selama ini kau sembunyikan terus ya!" goda salah satu tamu yang sudah berusia sekitar lima puluh tahun, yang baru saja memberikan selamat kepada Hugo. Fani yang baru menjauhkan wajahnya dari Arimbi menatap kesal ke arah tamu yang dia kenal itu. Sedangkan Hugo hanya tersenyum canggung.
"Nah ini si Fani! Om dulu malah kira kau bakalan jadian sama si Hugo, Fan! Ternyata Hugo memang pintar, begitu punya calon istri cantik dia sembunyikan untuk dirinya sendiri!" ujar pria itu lagi sambil tertawa.
Arimbi yang mendengar perkataan pria itu merasa tidak enak dan menatap ke arah Fani dengan serba salah. Setelah mendengar kata Fani sepertinya menyumpahinya itu, membuat Arimbi semakin menyesali kejadian malam itu sehingga dia memaksa Hugo menikahinya.
Fani sendiri tidak bisa apa-apa, hanya bisa tersenyum kecut, karena pria itu adalah teman bisnis ayahnya. Fani hanya bisa mengutuk dalam hati dan merasa dendam pada Hugo karena merasa sudah dipermalukan
Akan ku buat kau menyesal sudah menikahi perempuan ini, aku akan membuat mu sakit hati seperti sakit hati ku ini. Mengapa semua orang tidak tahu kalau aku kekasih mu saat kita menjalin kasih? Apakah ini memang sudah kau sengaja, karena kau sebenarnya hanya ingin mempermainkan aku? pikir Fani menjadi curiga, dan dia baru sadar kalau selama ini tidak ada yang tahu kalau dia adalah kekasih Hugo, kecuali keluarga Hugo saat dia diajak ke mansion Hugo. Fani memilih segera berlalu dari pada mendengar kata-kata menyakitkan pria itu lagi. Keinginannya untuk menakuti Arimbi sudah hilang semua, bahkan sebelum acara resepsi selesai, Fani sudah memutuskan pulang dan sialnya bertemu dengan musuh nya lagi.
"Lho! Kok cepat banget pulangnya Fan? Sudah makan belum? tanya Clara tersenyum ramah dan sok perhatian.
Fani tentu tahu kalau Clara hanya mengejeknya saja, Fani pun berusaha sabar karena di sekitarnya banyak orang.
"Ada keperluan mendadak Clara, terimakasih!" sahut Fani sopan dan segera berlalu dari tempat itu. Clara pun langsung tersenyum menang.
*********
Acara resepsi pernikahan Hugo dan Arimbi berjalan dengan lancar, sepertinya Clara memang berbakat menjadi wedding organizer. Semua tamu yang hadir cukup puas, apalagi hidangannya enak semua.
Malam ini otomatis Hugo membawa Arimbi pulang ke apartemennya. Sedangkan baju dan barang Arimbi yang di Mansion sudah dibawa supir, mansion sebelumnya. lagipula tidak terlalu banyak.
Ketika mereka berdua sudah berada dalam mobil, suasana hening dan tidak ada pembicaraan apapun. Bahkan supir mobil penganten yang mengantar Hugo dan Arimbi beberapa kali mencuri pandangan ke belakang karena merasa aneh dengan pasangan penganten baru itu, sama sekali tidak terlihat dekat dan mesra.
"Terimakasih pak, bapak sudah boleh pergi!" ujar Hugo ketika mereka sudah sampai di apartemen Hugo. Arimbi sempat melihat Hugo memberikan amplop, sepertinya memberi bonus pada supir itu.
Setelah itu Arimbi berdiri mematung, menunggu Hugo sambil melihat tempat di sekitar kawasan Apartemen. Arimbi dibikin terkagum-kagum dengan gedung pencakar langit di sekitarnya. Belum lagi taman-taman nuansa modern yang tentu sulit buat dia temui di desanya. Arimbi tidak tahu kalau apartemen Hugo adalah Apartemen elite yang terletak di pusat kota, sudah pasti bangunan dan sekitarnya terlihat elegan. Harganya saja lebih mahal dari sebuah rumah mewah.
"Apa yang kau tunggu? Ayo ikut aku!" instruksi Hugo yang membuat Arimbi tersadar dari lamunannya.
"Ba..baik?" sahut Arimbi yang segera mengikuti langkah Hugo menuju ke dalam gedung Apartemen.
Apartemen Hugo terletak di lantai sembilan belas, selama di dalam lift pasangan itu juga sama sekali tidak berbicara, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Setelah sampai di dalam apartemennya, Hugo baru membuka pembicaraan lagi. Hugo mulai memberitahukan ruangan-ruangannya kepada Arimbi. Arimbi menatap kagum semua ruangan yang tertata rapi dan bersih itu, bahkan terlihat banyak pajangan antik yang menghiasi lemari kaca.
"Nah! Ini kamar mu," ujar Hugo sambil membuka pintu kamar. Arimbi menengok sekitar kamar yang terlihat lumayan luas itu. Isinya lengkap, ada lemari, meja rias, bahkan ada kamar mandi dalam. Tapi tempat tidurnya hanya single bed saja.
"Memang tempat tidurnya muat buat kita berdua?" tanya Arimbi polos.
"Kau itu bodoh beneran atau berlagak bodoh sih? Kau pikir aku akan tidur berdua dengan mu? Aku tentu akan tidur di kamar ku sendiri!" sahut Hugo langsung.
"Tentu kita akan sekamar! bukankah di mana-mana yang namanya suami istri itu pasti tidur sekamar?" sahut Arimbi teringat pesan Clara agar mengambil hati Hugo. Kalau mereka tidak sekamar dan seperti orang asing, bagaimana dia harus mengambil hati Hugo dan membuat Hugo suka padanya? Sekarang saja sifat Hugo begitu dingin, seperti es.
"Tapi kita berbeda! Kau tahu sendiri kalau aku menikah dengan mu karena terpaksa!" sahut Hugo.
"Aku tahu kalau kita menikah karena terpaksa. Tetapi bukankah kita bisa mencoba agar hubungan kita menjadi lebih baik dan saling mengenal. Siapa tahu setelah kak Hugo mengenal ku, kak Hugo bisa menyukai ku? Bagaimanapun kita sudah menikah, mengapa kita tidak mencoba menjaga pernikahan kita," tawar Arimbi.
"Maaf Arimbi! Aku tidak suka dengan segala hal yang namanya coba-coba. Aku suka yang pasti! Lagipula bukankah waktu itu kau pernah bilang kalau setelah menikah semua terserah pada ku? Aku mau menceraikan mu saja kapan saja kau sudah siap, dan kau tidak akan menuntut apapun dari ku. Akan ku buktikan pada mu kalau aku pria yang bisa menahan nafsu ku, aku yakin saat itu aku sudah diberi obat, hanya aku tidak tahu siapa. Dan aku tidak mau memanfaatkan mu, pada akhirnya kita akan bercerai, jadi aku tidak akan melakukan apapun pada mu. Tunggu beberapa saat, aku akan menceraikan mu seperti yang kau mau. Ku peringat kan pada mu, kau jangan berharap apa pun dari ku, apalagi sampai aku jatuh cinta pada mu!" ujar Hugo tanpa perduli perasaan Arimbi.
"Tetapi saat itu aku hanya emosi kak Hugo! Apakah kak Hugo menganggap sebuah pernikahan itu hanya main-main saja?" tanya Arimbi.
Mendengar itu tentu membuat hati Arimbi terasa sakit, sepertinya tidak ada kesempatan untuk dia membina pernikahan yang baik dengan Hugo. Dengan mata berkaca-kaca Arimbi menatap ke Hugo, tapi Arimbi berusaha menahan air matanya.
Ayo Arimbi! Kau jangan terlihat lemah di hadapan pria ini, ujar Arimbi menyemangati dirinya sendiri.
Hugo sebenarnya sempat tidak tega setelah melihat raut wajah Arimbi yang sedih, tapi dia tetap berusaha mengeraskan hatinya sendiri.s
"Bukankah kau memang seperti itu? Kau memaksa ku menikahi mu, padahal kita baru mengenal satu hari saja? Bahkan aku sampai sekarang masih curiga kalau kau sudah menjebak ku? Bagaimana mungkin aku bisa menyukai mu kalau aku sudah curiga dan membenci mu? tanya Hugo berusaha membuang rasa tidak teganya. Entah mengapa setiap melihat ke Arimbi, Hugo merasa kesal dan ingin menyalahkan Arimbi.
"Aku sudah memenuhi keinginan mu dan Clara, aku juga sudah menikahi mu. Entah kau atau Clara yang bilang, lebih baik menjadi janda daripada gadis tapi tidak perawan. Ini adalah cara ku menebus kesalahan ku yang sudah merenggut kesucian mu, tapi maaf cinta tak bisa dipaksakan. Aku tidak mungkin hidup dengan orang yang tidak ku cintai sepanjang hidup ku!" ujar Hugo yang langsung meninggalkan Arimbi tanpa menunggu jawaban Arimbi lagi.
Bersambung..........
Bersambung..........,
"
aduh othor sayang, ku candu dengan cerita mu, sehat sehat biar up teratur 🫰❤️
semangat othor kesayangan