Dua sahabat memutuskan untuk lebih terikat dengan menikahkan putra putri mereka , perbedaan hidup bagai bumi dan langit bukan sebuah penghalang untuk mereka karena berpikir cinta mampu mengalahkan semuanya .
Tanpa mereka sadari jika kedua anak mereka menjalaninya dengan berdasar sebuah perjanjian hitam di atas putih . Jika mereka hanya akan terikat selama seratus hari , dan masing masing tetap akan menjalankan kehidupan sebelum terjadi pernikahan ini .
Dimas Arkatama sang kaya raya akan tetap setia dengan kekasih hatinya , sedang Kanaya si biasa saja akan fokus dengan karirnya .
Akankah cinta bisa mengalahkan perjanjian yang sudah disepakati ? Atau mereka akan menemukan pasangan sejati setelah perpisahan ini ?
Tidak akan ada yang tahu karena cinta akan menemukan jalannya sendiri .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lindra Ifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Darwati menugaskan Mang Yusup untuk mengantar Nana sampai ke depan pintu ruangan Dimas karena Nana belum mengetahui letak kantor suaminya . Lagipula orang orang disana belum satupun mengenal sosok Nana kecuali Devan .
Baru sampai di lobi depan ternyata Devan sedang ada di sana , terlihat pria itu sedang berbicara dengan resepsionis . Tampaknya ada seseorang yang sedang ditunggu oleh pria itu .
" Lhohh Mang Yusup ... Nyonya Muda ?! "
Nana meletakkan telunjuk jarinya di atas hidungnya , dia tak ingin panggilan seperti itu di tempat umum seperti ini karena sudah ada perjanjian jika berada di luar rumah dia dan Dimas adalah orang asing . Dan Devan sepertinya juga sudah mengetahui tentang itu karena terdengar pria itu langsung meralat kata katanya .
" Ehh .. Nana , bisakah aku hanya memanggil nama saja ? Mang Yusup bisa kembali biar saya yang antar Nana ke atas . Mau bertemu Dimas kan ? "
" Tentu saja ... panggilan itu lebih enak di dengar , ini tadi Mama memintaku mengantar ini pada Abang . Dia ada di kantor kan !? "
Devan terlihat mengangguk canggung , seperti ada yang ingin disampaikan tapi tersangkut di tenggorokannya . Setelah bicara sebentar dengan resepsionis pria muda itu segera mengantar istri atasannya itu ke lantai atas .
Dia merutuki Dimas yang dengan beraninya malah membawa kekasihnya itu ke gedung Arkatama . Akan menjadi bencana jika Nugraha atau Darwati mengetahui tentang hal ini . Bukan hanya Dimas , tapi dirinya pun akan memakan getahnya jika itu terjadi .
" Kantor Dimas ada disana tapi maaf aku tidak bisa ikut menemanimu masuk karena aku harus kembali keruanganku . Jika dia tak mau memakannya maka Kakak siap menampungnya " kata Devan menunjuk rantang rantang yang dibawa oleh Nana .
" Tidak apa apa , terimakasih Kak ! "
" Sama sama cantik " sahut Devan sambil berjalan ke arah ruangannya sendiri yang berada tepat disebelah ruangan milik Dimas .
Dan langkah gadis itu terhenti tepat di ambang pintu ketika melihat apa yang terjadi di depannya . Nana melihat Dimas duduk berdampingan dengan seorang gadis yang sangat cantik . Mereka tak hanya berbicara , tapi juga saling berpelukan .
Nana yakin jika gadis dalam pelukan suaminya adalah kekasih yang selama ini disebut sebut Dimas sebagai pemilik hatinya . Tapi seharusnya Dimas tak melakukan itu karena pria itu sudah berjanji untuk menghormati pernikahan mereka walau hanya akan berjalan selama seratus hari .
Dengan langkah di hentak Nana masuk ke dalam ruangan tak peduli jika dia insan itu sangat terkejut dengan kedatangannya . Tanpa ragu ia meletakkan rantang rantang makanan yang ia bawa di atas meja yang tepat berada di depan sofa .
" Hai ! Selamat siang tuan Dimas Arkatama ... makan siang anda sudah siap !! Apakah perlu saya nyalakan lilin agar suasana lebih romantis !!? "
" Nana .... !?? " lirih Dimas reflek melepaskan rengkuhannya pada tubuh Nisa .
" Siapa dia !? "
Dimas tak menjawab tapi dari gestur tubuhnya menunjukkan jika pria itu seperti sedang menjauh darinya , dan Nisa tidak menyukainya . Nisa tidak suka jika ada wanita lain yang bisa membuat Dimas tunduk .
" Ooohhh ... pasti ini istri seratus harimu "
" Nis .... " Dimas menekan lembut pundak Nisa yang ingin bangkit untuk mendekati Nana . Dia membawa gadis itu untuk menjauhi masalah , bukan untuk mencari masalah di kantornya sendiri .
" Hai aku Annisa Saraswati ... Tidak mungkin kau tidak mengenalku bukan ?? Dan sayangnya aku adalah kekasih suamimu "
Tapi betapa kesalnya Nisa karena Nana seperti tidak menganggap kehadirannya , gadis yang jauh lebih muda darinya itu sama sekali tidak menanggapi kata katanya .
" Dia ... Atau Nana yang keluar ! Sudah Nana katakan dari awal jika selama seratus hari Abang bisa menjaga pernikahan kita !! "
" Aku yang membawanya ketempat ini jadi .. "
" Ok , jadi Nana yang pergi !! "
Tanpa berkata apa apa lagi Nana segera melangkahkan kakinya keluar ruangan , dan tentu saja itu membuat Dimas khawatir . Tanpa gadis itu bicara panjang lebar tapi Dimas menyadari jika ia salah . Dia masih egois dengan mengedepankan kepentingannya sendiri padahal Nana sudah membantunya selama ini .
" Nana ... Heiii !! Jangan pergi , kita bisa bicarakan ini " tapi langkahnya terhenti ketika Nisa menarik kasar lengannya .
" Jangan coba coba mengejar gadis kampungan itu !! Kau milikku Dimas ... Jadi jangan pernah mencoba meninggalkan aku walau hanya satu langkah sekalipun !! "
" Ckk .... aku mohon tunggu aku disini "
" Dan aku melompat dari jendela ruangan ini jika kau berani meninggalkan aku !! " pekik Nisa kalap , dia sudah benar benar tidak bisa mengendalikan dirinya lagi .
Baru tadi dia ditolak dan direndahkan seorang pria yang merupakan CEO Perkasa Corp , dan sekarang pria yang sudah ia manfaatkan selama empat tahun juga akan meninggalkannya demi gadis yang notabene bukan siapa siapa .
Tidak !!! Dia tak akan membiarkan Dimas meninggalkannya , apapun caranya dia harus menang dari istri seratus hari dari kekasihnya !!!
Diboongin Mama kau Na...
awas aja kalo sebelum 100 hari km bersikap diluar nurul Dimas...
timpuk bareng2 ..