Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.
Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.
"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."
Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."
Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Solusi
"Kamu bercanda, kan?" Suara Cala pecah seketika, mengoyak keheningan mencekam di sudut ruang kerja itu.
Ronan tidak menjawab. Mata tajam pria itu masih terkunci pada layar monitor yang menampilkan struktur mengerikan serbuk sari lili putih. Tangannya dengan cepat menekan tombol pintas di papan ketik, mengirimkan data terenkripsi langsung ke server pusat kepolisian.
"Jawab aku, Dokter!" Cala menggebrak meja kaca di depannya. Rasa takut yang sedari tadi ia tekan kini meledak menjadi kepanikan luar biasa. "Kalau orang gila itu tahu persis kita ada di sini, kenapa kita masih diam saja? Kita harus lari! Hubungi komandan sekarang juga!"
Ronan menekan tombol pengeras suara di ponselnya yang tergeletak di atas meja. Nada panggil berbunyi cepat. Dalam hitungan detik, suara bariton komandan kepolisian terdengar memenuhi ruangan.
"Laporan diterima, Ronan. Aku sudah melihat hasil pindai serbuk sari yang kamu kirim," ucap komandan tanpa basa-basi. Suara pria paruh baya itu terdengar bergetar menahan amarah dan ketegangan. "Sialan. Mereka benar-benar menantang kita secara terbuka. Ini peringatan maut kelas satu."
"Pelaku berhasil meretas celah keamanan visual di pintu luar dan mengirimkan sinyal ancaman biologis tanpa memicu sensor bahan peledak," lapor Ronan datar, sama sekali tidak terpengaruh oleh nada panik komandannya. "Target sudah sepenuhnya masuk dalam radar perburuan mereka."
"Aku akan mengirim tim penyerbu taktis ke Apartemen Zenith detik ini juga," putus komandan cepat. Terdengar suara kursi digeser kasar dari seberang telepon. "Kita harus segera memindahkan Cala. Siapkan kendaraan lapis baja. Kita evakuasi dia ke bungker militer di luar kota. Tidak ada tempat yang aman di wilayah ini."
"Ditolak," sahut Ronan memotong kalimat atasannya dengan sangat tajam.
Cala membelalakkan matanya lebar-lebar. Ia menatap Ronan seolah pria berjas kemeja hitam di depannya baru saja menumbuhkan dua tanduk di kepalanya.
"Ditolak bagaimana maksudmu?" teriak Cala ke arah ponsel. "Bungker militer terdengar sangat aman bagiku! Biarkan aku sembunyi di sana sampai rambutku memutih!"
"Kamu tidak mengerti cara kerja predator, Cala," balas Ronan dingin. Pria itu menyilangkan tangannya di dada, menatap lurus ke arah pengeras suara ponsel. "Memindahkan sarang saat diawasi sama dengan bunuh diri. Begitu kita melangkah keluar dari lobi gedung ini dengan pengawalan ketat, mereka akan langsung tahu kita ketakutan dan berusaha kabur. Konvoi kendaraan lapis baja sangat mudah disergap di jalan tol. Satu roket anti tank, dan kalian semua tamat."
Hening sejenak. Komandan di seberang sana pasti sedang mempertimbangkan logika kejam dari ahli forensik jenius tersebut.
"Lalu apa solusinya, Dokter?" Suara komandan terdengar berat. "Kita tidak bisa mengurungnya terus-menerus di apartemenmu. Mereka bisa saja menyabotase saluran ventilasi atau meracuni pasokan air gedung."
"Solusinya adalah hadapi secara terbuka," jawab Ronan tenang. Pria itu mulai berjalan mondar-mandir dengan langkah teratur. "Predator sangat menyukai mangsa yang lari bersembunyi. Itu memicu insting berburu mereka. Tapi jika mangsanya berdiri di ruang terbuka, bertingkah normal seolah tidak ada ancaman apapun, predator akan kebingungan. Mereka akan ragu dan terpaksa mengubah pola serangannya."
Cala memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. "Bertingkah normal bagaimana maksudmu? Menunggu di tengah jalan raya sampai orang itu datang menembak kepalaku?"
berasa nonton adegan action