Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.
Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.
Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!
Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?
#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern
#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa
#ZeroToHero #BenciJadiCinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orientasi Karyawan Baru di Menara Ketujuh
Lampu merah perempatan Slipi malam itu terasa lebih panjang dari biasanya, seolah-olah waktu sengaja melambat demi memberi ruang bagi polusi Jakarta untuk mengendap di kap mobil perak Lina. Di dalam kabin, aroma soto ayam dari mi instan cup milik Dika sudah bercampur aduk dengan wangi jeruji besi AC yang sudah lama tidak diservis. Suasananya begitu domestik, begitu membumi, sampai-sampai Lina merasa seluruh kejadian mistis di basemen tadi cuma delusi akibat kebanyakan minum kopi instan kembung.
Dika di sampingnya masih sibuk memeras saset kecap terakhir dengan khidmat. Wajahnya lesu, matanya sayu memandang layar ponselnya yang retak seribu di bagian sudut.
"Lin, lu sadar gak sih?" celetuk Dika tiba-tiba, memecah keheningan yang sejak tadi sengaja dipelihara Lina.
Jantung Lina mencelos. Tangannya di atas setir langsung menegang. Apa memorinya mulai balik? Apa dia inget soal likuidasi total tadi? "Sadar... soal apa, Dik?"
"Ini mi instan sekarang makin dikit porsinya, tapi harganya naik dua ratus perak. Inflasi bener-bener gak ngotak. Kalau gaji magang kita gak naik bulan depan, fix gue bakal beralih ke mode fotosintesis aja lah," keluh Dika, lalu menyeruput sisa kuah mi dengan suara nyaring.
Lina mengembuskan napas panjang, separuh lega, separuh lagi merasa pedih yang amat sangat. Dika-nya yang asli—si manusia biasa yang dunianya berputar di sekitar dompet tipis dan urusan perut—memang sudah kembali. Tapi dia kembali dalam keadaan buta total bahwa jiwanya sudah digadaikan ke dalam sistem administrasi yang jauh lebih mengerikan dari sekadar pesugihan Wijaya.
Begitu lampu berubah hijau, Lina menginjak gas, membiarkan mobilnya berbaur dengan lautan motor yang saling berkejaran di bawah kolong jalan layang. Sepanjang sisa perjalanan menuju kantor cabang mereka di daerah Tomang, Lina tidak banyak bicara. Dia sibuk menyusun potongan teka-teki di kepalanya. Panti asuhan Hendra sekarang aman, setidaknya secara legalitas duniawi karena Wijaya Corporindo sudah dinyatakan pailit. Tapi Dika? Dika sekarang punya "kontrak baru" yang bahkan dia sendiri tidak tahu kapan dia menandatanganinya.
------------------------------
Keesokan paginya, suasana kantor cabang Firma Akuntansi Maju Bersama—tempat Dika dan Lina bekerja—terasa ganjil sejak menit pertama Lina melangkah melewati pintu kaca.
Biasanya, jam delapan pagi adalah waktu paling berisik. Suara mesin printer yang macet, keluhan Pak Bambang soal laporan pajak yang ditolak sistem, sampai gosip receh soal anak magang lantai tiga yang ketahuan pacaran di tangga darurat. Tapi hari ini, ruangan kubikal itu senyap seperti ruang tunggu rumah sakit di tengah malam.
Semua karyawan duduk kaku di depan monitor masing-masing. Jari-jari mereka mengetik di atas keyboard dengan ritme yang terlalu statis, menciptakan suara clack-clack-clack yang konstan dan seragam.
Lina berjalan menuju kubikalnya, melewati meja Dika yang berada tepat di sebelahnya. Dika sudah ada di sana, mengenakan kemeja flanel kotak-kotak andalannya yang sudah agak pudar warnanya. Tapi ada yang berbeda. Di atas meja kerja Dika yang biasanya berantakan oleh bungkus gorengan dan coretan kertas buram, kini bersih total. Hanya ada satu benda baru di sana: sebuah monitor hitam legam berkaca lengkung yang ukurannya tiga kali lebih besar dari monitor standar kantor.
Dan yang paling membuat Lina merinding, tali ID card biru tua dengan logo angka tujuh yang saling mengunci itu kini melingkar rapi di leher Dika. Benda itu mengeluarkan pendar tipis berwarna biru keperakan yang samar, seolah-olah sedang menyedot kehangatan dari kulit leher pemuda itu.
"Dik," bisik Lina, setengah membungkuk di sekat kubikal mereka. "Itu monitor dari mana? Sejak kapan kantor kita punya inventaris semewah itu?"
Dika menoleh, wajahnya tampak sangat bersih—terlalu bersih untuk ukuran cowok yang biasanya datang ke kantor dengan sisa belekan di ujung mata. "Oh, ini? Tadi pas gue dateng jam tujuh, udah ada di meja, Lin. Kata Pak Bambang, ini fasilitas baru dari investor yang baru aja beli saham mayoritas firma kita. Keren kan? Resolusinya udah 4K, pas banget buat ngeliat selisih angka di Excel sampai ke akar-akarnya."
Lina memicingkan mata. "Investor baru? Siapa?"
Belum sempat Dika menjawab, suara langkah kaki yang anggun namun tegas terdengar dari arah koridor utama. Suara ketukan ujung sepatu hak tinggi yang berpadu dengan lantai granit kantor. Tuk. Tuk. Tuk.
Lina membalikkan badan, dan seketika itu juga seluruh bulu kuduknya berdiri.
Wanita berpayung hitam yang kemarin sore berdiri di trotoar jalan kini sedang berjalan ke arah mereka. Dia tidak lagi memegang payung, melainkan sebuah map kulit premium berwarna abu-abu arang. Setelan blazernya dipotong dengan sangat presisi, membungkus tubuhnya yang tegap dan berwibawa. Rambut hitamnya disanggul rapi tanpa ada sehelai pun yang keluar dari jalur. Di dadanya, tersemat pin emas berbentuk lingkaran angka tujuh—simbol yang sama dengan yang ada di ID card Dika.
"Selamat pagi, semuanya," suara wanita itu tidak keras, namun entah bagaimana, suaranya terdengar begitu jelas di telinga setiap orang di dalam ruangan, membungkam suara ketikan keyboard seketika. "Perkenalkan, nama saya Arini. Saya adalah Direktur Sumber Daya Manusia dan Integrasi Aset dari The Seven Actuaries."
Semua karyawan di dalam ruangan serentak berdiri dan membungkuk hormat dengan gerakan yang sangat sinkron—termasuk Pak Bambang yang biasanya paling malas kalau ada kunjungan dari pusat. Mereka bergerak seperti boneka tali yang ditarik oleh satu tuas yang sama. Hanya Lina yang tetap mematung, tubuhnya gemetar menahan tekanan energi yang mendadak memenuhi ruangan.
Arini berjalan melewati kubikal Lina tanpa meliriknya sedikit pun, seolah-olah Lina hanyalah sebongkah perabot kantor yang tidak memiliki nilai buku. Langkahnya berhenti tepat di depan kubikal Dika.
"Saudara Dika Pradipta," Arini tersenyum, sebuah senyuman yang sangat profesional namun tidak memiliki kehangatan manusia sama sekali. "Hari ini adalah hari pertama Anda diposisikan kembali ke departemen yang seharusnya. Selamat atas selesainya masa 'magang' Anda di dunia bawah."
Dika ikut berdiri, wajahnya tampak agak linglung namun tangannya refleks menjabat tangan Arini. "Eh... iya, Bu. Terima kasih. Tapi... departemen apa ya maksudnya? Saya kan cuma bagian input data jurnal umum di sini."
Arini tidak langsung menjawab. Dia membuka map kulit yang dibawanya, lalu mengeluarkan selembar kertas tebal bertekstur kuno yang di atasnya tertulis rincian tugas baru dengan tinta emas yang berkedip pelan. Lina yang mengintip dari balik sekat bisa membaca judul besarnya: "DEPARTEMEN AUDIT FORENSIK KAUSALITAS MAKRO."
"Mulai hari ini, tugas Anda bukan lagi mencatat transaksi uang kertas, Dika," Arini menyerahkan dokumen itu, yang langsung diterima oleh Dika dengan tangan bergetar—bukan karena takut, melainkan karena energi di dalam dokumen itu mulai sinkron dengan tanda pengenal di lehernya. "Tugas Anda adalah memeriksa laporan sirkulasi jiwa dari perusahaan-perusahaan yang mengajukan pinjaman keberuntungan kepada firma kami. Tugas pertama Anda sudah menunggu di dalam layar tersebut."
Arini menunjuk ke arah monitor lengkung raksasa di meja Dika.
Begitu Dika menatap layar tersebut, monitor yang semula mati mendadak menyala, menampilkan sebuah program spreadsheet yang tampilannya sangat mirip dengan Microsoft Excel, namun baris dan kolomnya tidak berisi angka nominal rupiah.
Kolom A berisi: Nama Subjek (Jiwa Hidup).
Kolom B berisi: Sisa Jatah Umur (Tahun/Bulan/Hari).
Kolom C berisi: Nilai Konversi Keberuntungan Bisnis.
Kolom D berisi: Status Agunan (Kesehatan Fisik/Keturunan/Ketenangan Jiwa).
Lina menutup mulutnya menahan ngeri. Itu bukan laporan keuangan. Itu adalah buku besar perdagangan nasib manusia. Dan di baris paling atas, sedang berkedip sebuah nama yang sangat familiar bagi mereka: Yayasan Panti Asuhan Hendra.
"Tunggu dulu..." Lina akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Dia melangkah maju, memotong pembicaraan sebelum Dika sempat menyentuh keyboard-nya. "Ibu dibilang kemarin kalau panti asuhan itu sudah bebas! Wijaya sudah bangkrut, dan kontraknya sudah dilikuidasi total oleh... oleh Dika yang kemarin!"
Arini membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Lina dengan sepasang mata yang sedingin es di dasar samudra. Senyumnya tidak hilang, justru semakin melebar dengan cara yang intimidatif.
"Nona Lina, Anda sepertinya salah paham tentang cara kerja birokrasi kami," Arini melangkah satu tapak mendekati Lina, membuat udara di sekitar Lina mendadak terasa tipis dan mencekik. "Di The Seven Actuaries, tidak ada aset yang benar-benar hilang. Likuidasi yang dilakukan oleh rekan Anda kemarin memang menghapus utang Wijaya, namun hal itu menciptakan sebuah entitas baru yang disebut 'Bad Debt'—piutang tak tertagih. Dan dalam hukum akuntansi, piutang tak tertagih tidak pernah lenyap. Benda itu hanya dipindahkan ke neraca induk kami untuk ditanggung oleh sang penjamin."
Arini kembali menunjuk ke arah Dika yang kini sudah duduk kembali di depan monitornya, matanya mulai terpaku pada deretan nama anak-anak panti asuhan yang tertera di layar.
"Dan penjamin dari seluruh utang panti asuhan itu... adalah Dika Pradipta sendiri," Arini berbisik, suaranya terdengar seperti desiran angin malam yang membawa pesan kematian. "Jika Dika tidak bisa menyeimbangkan neraca ini dengan cara melakukan audit dan memanen energi dari target-target baru yang kami tentukan... maka sistem secara otomatis akan menarik agunannya langsung dari sisa umur anak-anak panti itu sendiri. Dan Dika... akan dipaksa menyaksikannya dari meja kerja ini."
Lina menoleh ke arah Dika. "Dik! Jangan diisi! Jangan sentuh keyboard-nya, Dik! Itu jebakan!"
Tapi Dika seolah-olah tidak mendengar teriakan Lina. Jemarinya sudah melayang di atas keyboard mekanikal barunya yang mahal. Matanya yang semula sayu kini mulai memancarkan pendar biru keperakan yang dingin—pendar warna ID card milik The Seven Actuaries. Jiwa manusianya yang polos perlahan-lahan mulai diselimuti oleh logika sistem yang kejam dan mutlak.
"Baris pertama..." Dika bergumam, suaranya terdengar datar dan tanpa emosi, kehilangan seluruh nada santai khas pemuda slengean yang tadi malam makan mi instan bersamanya. "Subjek: PT Sinar Abadi Sentosa. Pengajuan: Kenaikan Omset 300% dalam Kuartal Pertama. Agunan: Umur Produktif 50 Karyawan Magang. Status: Approved."
Tek. Dika menekan tombol Enter.
Di layar monitor, grafik neraca langsung bergeser, dan di sudut kanan bawah, angka saldo "Utang Karma Panti Hendra" menyusut sebesar 0,02%. Sebuah sistem kerja yang efisien, bersih, dan sepenuhnya mematikan hati nurani.
Arini mengangguk puas, lalu berbalik meninggalkan kubikal Dika, berjalan menuju pintu keluar kantor tanpa memedulikan Lina yang kini luruh ke lantai dengan air mata yang mulai mengalir.
"Selamat bekerja di Menara Ketujuh, Dika," ucap Arini pelan sebelum pintu kaca kantor tertutup rapat, meninggalkan Lina yang tersadar bahwa mulai hari ini, sahabat terbaiknya telah resmi berubah menjadi monster birokrasi yang bertugas menghitung hari kematian orang lain demi membayar utang masa lalunya sendiri.