NovelToon NovelToon
LOST WAY

LOST WAY

Status: tamat
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Anak Genius / Mengubah Takdir / Penyelamat / Tamat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Kisah perjuangan sebuah keluarga, dimana sang ibu divonis menderita Leukimia stadium menengah.

"Aku tidak mau mendengar alasan apapun!! Aku tahu aku bisa menyelamatkan mamahku!! Aku sudah membaca banyak buku!! Lihat dokter!!! Semua yang tertulis disini semua benar kan!!"

Ucap Suni sangat emosional sambil menunjukkan kliping yang ia buat. Dokter Sam membuka lembar demi lembar, semua tentang Leukimia yang diderita Sia, ibunya.

Hancur perasaan dokter Sam. Gadis sebelia ini, begitu sangat bertekad membawa mamahnya kembali pulang. Rasa takut dan manja benar-benar tak tergambar sama sekali di wajah Suni. Sebagai seorang dokter , baru kali ini ia bertemu dengan anak yang memiliki keberanian setulus ini.
(cut dr chapter 20)

Mampukah keluarga ini bertahan sampai akhir? mampukah Suni, si gadis sulung berusia 10 tahun ini mampu menjadi pendonor untuk ibunya?

selamat membaca...😁

karya hanya berdasarkan imajinasi author.
mohon maaf jika ada banyak kesalahan.🙏🙏😁
Salam Author Yoshua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lost Way ---24

Cinta, cerita, nasib, jalan hidup, dan cara berakhir, semua manusia akan mengalami hal-hal itu. Namun tak memiliki kuasa untuk memilih. Semua sudah ditentukan oleh Sang Hyang Maha Pemilik.

Suara sirine ambulance bercampur sirine mobil polisi, membuat suasana pagi itu sangat gaduh mengaduh, mengadu ke dalam setiap jiwa-jiwa malang yang menyaksikan akhir dari perjalanan seseorang.

Noda-noda kemerahan melukis aspal, meninggalkan. Pesan menyayat, mengundang rintik-rintik tangis pilu di setiap mata yang terlanjur menjadi saksi perjuangan menantang panggilan sang malaikat maut.

"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Beliau meninggal ditempat kejadian, sungguh naas, kasihan sekali , aku tak tega melihatnya."

"Lihatlah, tubuhku masih gemetar, tak tega melihat tubuhnya hancur terseret."

"Aku masih tak bisa berhenti menangis, aku kaget banget."

"Kasihan itu anak perempuannya sampai pingsan."

"Semua gara-gara anak-anaknya nggak rukun."

"Aku tadi lihat anaknya bertengkar."

Begitulah dengan lugas dan tegas, berbagai macam opini terbentuk dari sebuah peristiwa. Begitu mudah manusia menggerakkan bibir tanpa mencari tahu apa dan kenapa, serta untuk apa.

.

.

.

Kabar duka tak bisa dihindari lagi. Hari ini, seharusnya Sia melakukan lab sekali lagi, begitu juga dengan Suni.

"Suni, dokter mendengar kabar kakek kecelakaan. Apa Suni akan tetap melanjutkan lab hari ini?"

"Bisakah dokter Sam membantuku melakukannya sekarang? Aku harus segera melihat kakek." mata suni berkaca-kaca.

"Dokter Sam tidak bisa bekerja sendiri, Suni. Dokter Sam harus membicarakannya dahulu dengan para dokter lain. Bagaiman kalau Suni datang ke kakek saja terlebih dahulu?"

"Pastikan mamahku akan bertahan sampai aku kembali. Dokter Sam harus berjanji akan menjaga mamahku selama aku dan yang lainnya pergi mengantar kakek."

JLEB!!

Sakit rasanya batin dokter Sam setiap mendengar kalimat demi kalimat yang terukir begitu halus dari mulut Suni, gadis belia ini.

"Suni, percayalah mamah akan sabar menanti. Mamah Sia pasti mengerti apa yang harus Suni kerjakan terlebih dahulu."

Dokter Sam mengantar Suni kembali menuju ke lobi depan ruang ICU, namun ternyata Sundan sudah berdiri di depan ruangan dokter Sam.

"Ah, sudah saya duga. Maafkan Suni jika terus merepotkan atau mengganggu dokter." ujar Sundan dengan anggukan kecil.

"Suni tidak melakukan apapun, dan aku juga tidak keberatan." senyum dokter Sam memberi ruang kelegaan bagi Sundan.

"Tapi,,, "

"Saya tahu Sundan, percayakan Sia padaku." ucap dokter Sam. "Ah, maksudku aku sebagai dokternya. Ini kan rumah sakit, dan pasien adalah tanggung jawabku." tukasnya cepat, menghindari terjadinya persepsi dan kesalahanpahaman lain.

"Terimakasih, dokter Sam."

Meski sebenarnya rasa cemburu begitu membara menggerogoti jiwa maskulinnya, namun sepertinya keadaan yang memaksa Sundan harus memilih mana yang akan dianggap harus didahulukan.

.

.

.

Suasana duka begitu terasa di kediaman Bu Samsi. Tak ada satupun wajah memiliki daya untuk menengadah.

Di dalam diam dan rasa kehilangan, wajah-wajah menunduk sunyi, mulut-mulut terdiam bergetar menahan pilu, mata-mata menjadi sembab keseluruhannya, dan jemari sibuk menarik, melemparkan, lalu menggulung-gulung lembaran-lembaran tisu untuk menyeka wajah mereka dari belenggu air mata.

Tiba saatnya ketika jiwa yang telah terpanggil diangkat, dan dibawa ke rumah lain dengan taman dan taburan bunga di sana, Tangis kembali pecah, menciptakan gelombang kesakitan dan pesakitan yang semakin membuncah, menarik keluar semua rasa kehilangan.

"Semua ini gara-gara aku!! Aku yang membuat ayah pergi secepat ini!!" teriak Suci dalam kekalutannya, saat ia menyaksikan raga sang ayah dibawa pergi dari kediaman mereka.

Terseok, terseret, kaki-kaki yang berjalan membentuk barisan khidmat mengiri untuk mengantar kepulangan Pak Samir kembali kepada Sang Hyang Maha Pemilik.

"Sungguh malang keluarga ini, menantu sedang sakit keras, ditambah malah selingkuh, sekarang suaminya pergi karena ulah anak yang lain."

"Jangan asal beropini, Bu. Kita tidak tahu yang sebenarnya terjadi. Kita lebih baik mendoakan agar Tuhan memberikan ketabahan dan kesembuhan untuk Bu Sia."

"Ya ampun, benar.Semoga semua kembali terkendali dan tahu dimana tempatnya masing-masing."

Doa-doa pengantar sebagai penunjuk jalan bagi jiwa yang telah dipanggil kembali dilantunkan. Seorang pemimpin pelepasan, memberikan ucapan perpisahan dan mewakili memintakan maaf pada mereka yang masih hidup, sebagai peringatan juga, untuk saling menjaga diri masing-masing.

"Kakek,,,,!!!" Kaki mungil Sean lepas dari pengawasan, menghambur ke gundukan tanah yang baru saja selesai di berikan tanda.

Mengikuti disampingnya, Suni pun memeluk gundukan tanah dengan Isak yang mengundang tangis semua mata orang dewasa yang menyaksikannya.

"Kakek keluar!! Kenapa kakek tidak membebaskan diri!!"

Meski belum mengerti sepenuhnya apa yang terjadi, namun entah kenapa tangis Sean tak bisa dihentikan siapapun. Seakan hati kecilnya mengerti ada sesuatu yang menghilang dari kebiasaan sehari-hari di hari-hari yang akan datang.

...****************...

To be continue....

1
🥑⃟Rɪᷤᴀͣɴᷠᴀ
Wah, aku bacanya sial/Sob/ ternyata siaaaa,
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
Recommend.
Novel yg penuh perjuangan, keikhlasan, dan pengorbanan.
yosh—: ahh, thanksyu2😁
total 1 replies
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
Suni pasti akan baik-baik aja
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
laahhhhhhhhh
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
Suni jgn knp2 yaaa
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
Dalem bgt kata-katanya
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
endingnya😭😭😭
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
ehhhh..... jgn Doong.....
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
Suni, anak luar biasa....
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
seru lirih. mungkin disini typo Thor.
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
suci selalu bisa di andalkan.
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
hahaha assiikkk
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
gula sih, pengikut Dajjal ini mah. Ayahnya mati malah mikirin warisan.
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
paling Gedeg deh gue sama gosip sialan.
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
perbuatan buruk akan di kembalikan kepada yg merencanakan nya.
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
perawatannya minta di lempar ke kali, JD makanan biawak.
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
betul, kebijakan di perlukan dlm situasi darurat
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
dgn senang hati dokter sam lakukan 🤭
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
org2 selalu mencari kambing hitam dlm setiap Musibah. gak seru klo gak ada yg di salahkan.
Rensᴛ⑅⃝ˢ🐈
sampe hancur dong, ya Rabb
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!