Kakak laki-lakinya disandera oleh bos gangster karena tidak bisa membayar hutang setelah kalah dalam pemainan judi. Adik perempuannya dijual untuk dinikahkan dengan pria yang sedang koma.
Seperti sebuah kutukan, dia menyebrang dan menjadi adik perempuan itu.
Dan di dalam kisah ini dia bukan protagonisnya. Setelah terbangun dari koma, suaminya mengajukan cerai.
Ketika dia melihat nominal tiga ratus juta yang menjadi harta gono-gini bagiannya. Tanpa nostalgia, dia menandatangani surat perceraian itu dalam satu tarikan nafas.
Saat dia hendak berbalik badan, suaminya yang akan segera menjadi mantan suami itu merobek surat cerai yang baru dia tandatangani dan berkata. "Tiga ratus juta setiap bulan selama kau masih menjadi istriku."
Dengan spontan dia berbalik badan, senyum ribuan watt di wajahnya. "Suamiku~~"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chu Seldom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Cinta Segitiga dan Masa Lalu
"Dia bahkan tidak mengingatmu."
Ketika Zhang Bing mendengarnya dia sedang mencuci tangannya di wastafel, tubuhnya menegang sejenak sebelum dia melanjutkan mencuci tangannya seolah dia tidak mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Hao Mei.
"Sampai kapan kau akan berlagak bodoh seperti itu? Dia tidak mengingatmu Zhang Bing." Hao Mei berteriak dengan nada frustasi, matanya yang berkaca-kaca menatap punggung pria itu yang diam seperti gunung.
Zhang Bing mematikan keran, dia mengambil dua lembar kertas tissue untuk mengeringkan tangannya. Meraih apron yang tergantung di dinding dan memakainya kemudian dia memutar tubuhnya dan berjalan melewati Hao Mei yang berdiri di belakangnya, dia menatapnya sekilas sebelum kembali mengacuhkannya.
"Zhang Bing, berhenti menunggunya. Kumohon." ucap Hao Mei serak. Kedua tangganya yang menggantung pada kedua sisi tubuhnya mengepal erat.
Kali ini Zhang Bing memutar tubuhnya dan menatap Hao Mei, "Hao Mei berhenti membawa-bawa dia. Masalah pribadiku kau tidak berhak mengaturnya." ucapnya kemudian kembali sibuk mengaduk adonan.
Hao Mei membeku, perkataan Zhang Bing itu seperti menusuk jantungnya. Perih dan sakit.
Sepuluh tahun dia mengejar pria itu, teman-temannya bilang dia terlalu rendah hati dalam mencintai, tapi apa yang bisa dia perbuat. Dia hanya terlalu mencintai pria itu. Tapi berkali-kali perasaannya itu telah menghantam tembok. Dia sudah lama merasa lelah tapi masih belum rela untuk menyerah.
Dua tahun lalu dia pikir kesempatannya telah datang. Dia kembali memberanikan diri untuk mengejar kembali pria itu. Dia bahkan sampai menentang kedua orang tuanya dan bersikeras untuk terus berada disisi pria itu dan menunggunya untuk melihatnya. Dia pikir jika dia terus berusaha, pria itu akan membuka hatinya untuknya, tapi lagi-lagi dia harus kecewa. Karena pada kenyataanya dari awal pria itu sama sekali tidak pernah melihatnya.
Hao Mei mendongak, berkedip untuk mengontrol air matanya. Mungkin sekarang sudah saatnya untuk berhenti.
"Baiklah," Hao Mei menarik nafas, "Aku tidak akan mengganggumu lagi." lanjutnya dengan susah payah untuk tidak menangis di sini. Dia melihat pria itu untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan dapur.
Zhang Bing membanting centong kayu di tangannya hingga membuat adonan muncrat dari baskom dan mengotori meja. Dia menutup matanya dan menarik nafas dalam-dalam, dia tahu kalimatnya telah menyakiti Hao Mei dan dia tidak pernah menginginkan hal seperti itu terjadi. Dia dan Hao Me sudah mengenal sejak lama, dia juga tahu wanita itu menyukainya karena Hao Mei memang tidak pernah menyembunyikannya.
Selama ini bukannya dia tidak pernah memikirkan untuk mencoba membuka hatinya, usaha Hao Mei yang begitu besar dia juga tersentuh. Dia pernah berpikir untuk mencobanya dengan Hao Mei, mungkin hubungan baru akan membantunya melupakan senyuman itu.
Tapi ada hal yang tidak pernah bisa dia kendalikan, hatinya masih berdebar hanya karena mendengar namanya. Dari situ dia tahu jika dia hanya akan menyakiti orang lain jika dia belum menyelesaikan perasaan itu. Dan dia tidak ingin melukai siapa pun, terlebih lagi Hao Mei.
"Keluar, tapi kenapa? bukankan kita bertiga baik-baik saja. Tidak, tidak jangan membuat keputusan sekarang. Sebaiknya sekarang kau pulang dan istirahat. Kita akan membahasnya setelah perasaanmu membaik." samar-samar terdengar suara Lun Ying dari luar.
"Aku tidak perlu memikirkannya lagi. Yang kuperlukan adalah aksi Lun Ying. Kau juga tahu jika aku memikirkannya lagi, hasilnya aku hanya akan kembali dengan bodoh dan menunggunya. Kedua orang tuaku sudah tua dan aku sudah tidak punya waktu lagi untuk disia-siakan." Hao Mei berkata dengan tegas.
Lun Ying terdiam untuk beberapa saat. Dia mengerti dilema yang sedang dialami oleh Hao Mei, di satu sisi dia ingin mengejar cintanya tapi di sisi lain dia juga harus memikirkan keluarganya, apalagi dia adalah anak satu-satunya.
"Baiklah, tapi aku tidak bisa mengembalikan uang mu sekarang."
"Aku tahu. Kau bisa mengembalikannya saat restoran sudah stabil." Hao Mei berkata, itu yang seharusnya karena dia yang tiba-tiba ingin keluar. "Terimakasih sudah mau mengerti, aku akan pergi sekarang." lanjutnya.
Ketika mendengar Hao Mei akan pergi, Zhang Bing berlari keluar, tapi langkahnya berhenti ketika satu kakinya telah melewati pintu. Dia berhenti beberapa waktu kemudian seolah tidak ada yang terjadi dia kembali ke dapur.
Pada saat itu Lun Li yang sedang menunggu Jiang Yi mendapatkan pesan dari pria itu yang mengatakan jika dia sudah sampai.
"Lun Li." Hao Mei yang sengaja menunggunya memanggilnya begitu dia keluar.
Lun Li menoleh. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sungguh, pria yang tidak bisa melepaskan masa lalunya dan menikmati dikejar adalah pria brengsek. Kamu layak mendapatkan yang lebih baik." Dia tidak menutupi jika dia tadi memang mengintip. Sebenarnya dia hanya penasaran seperti apa hubungannya dengan Zhang Bing dan ingin bertanya langsung pada orangnya tapi tidak menyangka malah menemukan dirinya terlibat dalam cinta segitiga.
"Dia bukan pria brengsek."
Lun Li berdecak, "Masih membelanya.Kalau dia bukan pria brengsek, kamu sudah lama berhenti mengejarnya."
Hao Mei ingin membantah, tapi menemukan dirinya kehilangan kata-kata. Karena memang seperti itu kenyataanya, Zhang Bing memang tidak pernah menolaknya dengan tegas dan dia tidak mau membuka matanya untuk melihat kenyataan. Dia sendiri yang dengan bodohnya menganggap jika ketidak tegasan pria itu adalah peluang untuknya. Dia berpikir begitu dan mendorong dirinya sendiri ke dalam kesengsaraan dan berakhir patah hati.
Seperti sekarang ini, dia belum mau mengaku kalah dan ingin menyeret orang lain untuk menderita bersamanya. "Apa kau tidak penasaran seperti apa hubungan kalian?"
Lun Li tersenyum miring, sebenarnya dia penasaran tapi dia tidak ingin mengetahuinya dari wanita ini. Dia bisa melihat dengan jelas jika Hao Mei menyalahkannya atas cintanya yang bertepuk sebelah tangan. "Aku bisa melupakannya berarti dia bukan orang yang penting. Dan dengan dia yang tidak berani muncul di hadapanku, itu artinya dia bukan orang yang layak untuk dipikirkan. Seperti apapun hubungan kami semua itu hanya masa lalu. Jangan mencari ku kalau ingin bermain opera sabun, aku tidak tertarik."
Lun Li memutar tubuhnya dan meninggalkan Hao Mei sambil menggerutu. "Orang seperti apa yang Lun Ying jadikan teman." Ah, terserah. Selama restoran ayam itu menghasilkan keuntungan dia tidak akan peduli.
Melihat Lun Li yang tidak terpengaruh, tangan Hao Mei mengepal, dia merasa tidak adil. Kenapa orang yang tidak berusaha bisa mendapatkan semuanya sedangkan dirinya yang mati-matian berjuang dilirik saja tidak. "Kalian adalah sepasang kekasih. Saling mencintai dan sudah merencanakan untuk menikah." dia berteriak dengan sengaja membuatnya cukup keras agar bisa di dengar oleh pria di dalam mobil itu. Jika hubungannya tidak berhasil maka dia tidak akan merusak hubungan orang lain.