Ujian rumah tangga tak selalu datang dari orang luar, namun terkadang datang dari orang-orang terdekat. Salah satunya adalah mertua. Begitu juga dengan kisah yang dialami oleh tokoh yang ada didalam kisah ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
" Ginaa, hati-hati jangan lari kamu gin ingat bayi dalam kandungan kamu! " triakanku sukses meghntikan gina. Aku tak perduli beberapa pasang mata menatapku dengan tatapan aneh.
Aku hanya menghawatirkan kslamatan gina dan bayinya.
Stelah gina berhenti, aku langusng menysulnya.
" Siapa mereka gin? Apa itu mantan suami dan mantan mertuamu? " gina menatap wajahku dana stelahnya mengangguk sembari trisak.
" Mbaa, aku tidak mau lagi bertemu dengan mereka mba, aku takut suatu saat mereka mengambil anakku mba. " Ucap gina dengan suara bergetar, aku bahkan kaget saat melihat wajahnya yang seketika menjadi pucat.
" Sudah-sudah kamu aman bersama mba, ayo pulang biar mba antar kamu pulang dulu stelah itu mba kerumah anjaz sendrian saja. Mba tidak mau membuat kamu merasa tidak nyaman disana dalam keadaan sprti ini. " Ucapku namun gina justru menggeleng.
" Jangan mba, aku akan baik-baik saja aku gak mau membuat mba anye repot bolak balik. Kita langusng kerumah pak anjaz aja langsung mba. Bukankan sudah dekat dari sini? " Mendengar jawaban gina aku tersenyum dan meraih tanganya.
Ku gandeng gina dan kami berjalan menuju tempat mobil kami terparkir.
Sementara tiga orang itu tengah ribut didalam sana, sinta trlihat sangat marah saat mlihat arul begitu antusias ingin mencari tau kebenaran tentang kehamilan gina.
" Pokoknya aku gak mau ya mas kalau kamu kembali dekat dengan dia, bukankah kamu dulu ingat jika dia pergi dalam keadaan tidak hamil! Bisa saja kan dia itu stelah keluar dari rumah kamu dia jadi wanita malam dan brakhir hamil, bisa juga sbenarnya dia tak mau hamil anak kamu karna dia selingkuh dibelakang kamu! " Sinta terus saja meracuni pikiran Arul dan mertuanya.
Aswita terlihat merenungi apa yang sinta ucapkan namun tidak dengan arul.
" Itu mungkin bisa saja trjadi, tapi menurutku gina tak srendah itu dan tak sburuk itu. Aku ingat betul dulu gina memintaku pulang dan dia mengatakan ingin menyampaika kabar baik untukku. Apa mungkin dia hamil anakaku dan dia tak membritahukan itu padaku karna aku sudah terlanjur membrikan talak tiga kepadanya? " Ujar Arul sembari mengingat apa yang terjadi dulu.
" Tidak, tidak itu tidak mungkin mas! Kenpa kamu malah berharap dia hamil anak kamu si mas? Kalapun iya itu bukan urusan kamu lagi, dia bukan lagi istri kamu. Aku mas istri kamu akuuu! Aku sedang mengandung anak kita, ingat ini mas ingaat! " Sinta mulai bersungut sementara Wita masih memikirkan fakta yang baru saja dia lihat.
Melihat aswita yang trlihat merenung sinta berdecak semakin merasa kesal karna suami dan mertuanya kini malah jadi memikirkan gina padahal niat mereka datang krumah sakit untuk memeriksa kandungan sinta.
" Jangan bilang mama juga sedang memikirkan wanita itu? " Ucap sinta dengan wajah yang sudah nampak semakin merah karna menahan amarah.
Sinta terlihat smakin kesal kala aswita tak meresponya dan malah mengambil ponselnya yang ada dalam tas .
Karna kesal sinta berjalan meninggalkan dua orang yang tengah larut dalam fikiranya masing-masing.
" Gara-gara perempuan sialan itu mas arul dan mamah jadi mengabaikanku! Awas kamu gina aku bakal buat perhitungan dengan kamu, tunggu saja pembalasanku karna sudah beranu muncul didepan suami dan mertuaku! " Sinta menghentakan salah satu kakinya dan masuk keruang pemeriksaan karna namanya sudah dipanggil oleh suster.
****
Dikediaman Anjaz kini Anita terlihat glisah lantaran tidak biasanya anye datang terlambat saat diundang kerumah anjaz, apa lagi kini anye sudah terlambat satu jam lebih dari waktu yang sudah dijanjikan.
" Ada apa ma, kenapa mama trus saja melihat ponsel mama? Apa ada seseorang yang mama tunggu? " tanya anjaz saat melihat ibunya duduk disofa namun raut wajahnya terlihat sangat hawatir dan matanya trus saja fokus melihat ponsel yang tengah ia genggam.
" Eh anjaz kamu sudah rapih nak bukanya kamu libur? " bukanya menjawab anita malah bertanya balik pada anjaz dan saat anjaz hendak menjawab terdengar suara salam dari arah pintu depan.
" Mah ada tamu, biar anjaz yang kedepan! " ucap anjaz kemudian pergi kearah pintu dan alngkah trkejutnya anjaz saat membuka pintu dan melihat siapa tamu yang tengah ditunggu oleh sang ibu.
" Siapa yang datang njaz? " Karena merasa tengah menunggu seseorang ahirnya anita mnyusul putranya kedepan.
" Haaai anjaz, apa kabar? " Sapa anye pada anjaz yang kini justru menatap gina yang terlihat menggemaskan dengan pakaian santai untuk ibu hamil.
" Anyee, tante fikir kamu tidaj datang nak karna ini sudah sangat terlambat! " ucap anita sembari berjalan menerobos putranya yang berdiri diambang pintu.
" Looh ada gina juga, kamu sehat sayang? Bagaimana dengan bayimu, apa dia sudah menendang apa dia sehat? " mendapat brondongan pertanyaan dari anita sktika wajah gina menghangat, ia sungguh tak menyangka ibu dari bosnya begitu memprhatikan dia.
" Maaf tante kita sedikir terlambat tadi anye nganter gina dulu kerumah sakit buat priksa kandunganya dan tadi ada sedikit masalah disana jadi itu alasan kenapa anye trlambat. " Ucap anye merasa tak enak hati lantaran anita sudah lama menunggunya.
" Tidak apa-apa nye, harusnya kamu bilang sama tante ini malah jadi tante yang merasa gak enak karna sudah menyela ditengah kseibukan kamu. " Ucap anita dan kini tatapanya beralih menatap gina lagi.
" Kemari sayang, bagaiman keadaan bayi dalam kandungan kamu. Kamu belum jawab pertanyaan tante! " Ucap anita sembari mengusap perut gina yang sudah terlihat membuncit.
" Allhamdulillah sehat tante, bayiku sangat aktif daj dia berjenis kelamin laki-laki! " ucap gina dan anita makin trlihat antusias mengusap perut gina .
Wajah anita berbinar kala tanganya menempel diperut gina dia merasakan gerakan halus dari sang bayi yang ada dalam perut gina.
" Heeiii kamu menyapa oma begitu nak? Waaaw kamu aktif sekali! " Ucap anita sambil trus mengusap perut gina namun mata anita melotot kala ia melihat ada tangan lain yang hendak mengusapnya juga. Sektika anita memukul tangan itu dan yang empunya tangan langsung bersungut.
" Mama apaan si mah, kenapa mama pukul tangana anjaz? " sungut anajaz merasa marah dengan ibunya.
" Kamu ini yang apa-apan, ngapain kamu mau ngusap perut gina? Gak boleh njaz, bukan muhrim kamu tau itu! " Ucap anita mengingatkan putranya.
" Iya mah aku tau, tapi aku gemas dan pengin tau sprti apa gerakan bayi didalam perut! " ucap anjaz lirih seketika anye dan anita terbahak mendengar apa yang anjaz ucapkan nmun berbeda dengan gina yang justru memerah wajahnya karna merasa malu dengan apa yang hendak anjaz lakukan.
" Sudah anye, gina ayo masuk jangan hiraukan anjaz biar dia mati penasaran makanya cpt nikah dan buat istrimu hamil jadi nanti kamu bisa ngrasain gerakan bayi dalam perut. Ayo nye, eyang sudah menunggu semalaman dia tidak bisa memejamkan matanya. " Kemudian anita menuntun gina dan anye brjalan disampingnya mereka berjalan menuju kamar wina.
Sementara anjaz kaget karna dia baru tau jika eyangnya tidak enak badan.
" Maaa, kenapa mama gk kasih tau anjaz kalau eyang sakit maaa? " teriak anjaz.
" Lupaaa! " ucap anita dari kejauhan
Abang gak asik nih gak bisa diajak krjasama bohong.