Banyu dan Alia sudah lama menjalin kasih, sejak mereka masih dibangku SMU sampai mereka sudah sama - sama bekerja. Banyak mimpi dan harapan yang ingin mereka wujudkan tapi semua itu terhalang oleh restu orang tua.
Banyu biru Aji berasal dari keluarga biasa saja pemilik restoran kecil yang sudah turun temurun warisan dari kakek dan nenek banyu, sementara keluarga alia berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya.
Diam diam orang tua aliya tidak menyetujui hubungan mereka bahkan mereka sudah menyiapkan jodoh dan rencana untuk memisahkan aliya dan juga banyu.
Akankan cinta mereka bisa berlanjut atau akan menyerah dan kalah????
" Hai.....aku come back setelah lama tidak menulis.... semoga karyaku ini bisa dibaca dan diterima banyak pembaca"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bondan wardoyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 Teman baru Jenar
Dari kejauhan ada sebuah mobil yang di dalamnya ada seseorang yang melihat rumah Banyu dari kejauhan. Dia terus mengamati rumah itu sejak beberapa menit lalu. Dan yang ditunggu keluar juga. Sang tuan dan nyonya yang punya rumah.
Dihalaman rumah yang tidak berpagar tinggi, dengan taman kecil yang astri dan juga garasi mobil, Banyu, Jenar dan Bagas baru saja keluar dari dalam rumah mereka dihalaman sudah terparkir mobil Banyu, hari ini mereka pergi tanpa memakai supir. Banyu menyetir sendiri mobilnya dan Jenar duduk di bangku depan sementara Bagas duduk di belakang.
Terlihat sekali keluarga kecil yang sangat bahagia. Banyu lalu melajukan mobilnya setelah semua siap untuk berangkat. Setelah itu tak berapa lama mobil hitam itu pun mengikuti mobil Banyu dari kejauhan.
" Ikuti mobil itu pak, jangan sampai kehilangan jejak."
"Baik....."
Banyu dan Jenar tidak sadar ada yang mengikuti mereka sampai di sebuah mol. Mereka bertiga berjalan beriringan tak jarang Banyu mengandeng mesra istrinya dan membiarkan Bagas berlarian di bawah pengawasan mereka tentunya. Akhirnya mereka memilih sepeda yang akan di beli. Bagas memilihnya sendiri, warnanya modelnya juga tidak ketinggalan helmnya.
Bagas dangat bahagian akhirnya bisa memiliki sepeda yang sudah lama sekali di dambakannya. Setelah mendapatkan sepeda mereka lanjut pindah ke sebuah toko pakaian untuk membeli beberapa keperluan Bagas. Jenar sibuk memilih-milih baju untuk Bagas sementara itu Bagas dan Banyu berada di toko mainan disamping toko baju.
Jenar melihat ada baju yang bagus dan sepertinya cocok untuk Bagas. Tapi sewaktu Jenar akan mengambilnya tiba-tiba saja ada seorang perempuan yang juga mengambil baju yang sama. Jenar langsung melepaskan baju itu.
" Maaf silahkan jika anda mau mengambilnya mbak."
"Oh....Mbak juga mau baju ini ya, kalau begitu buat mbak saja."
"Gak papa tadi saya baru mau melihat dulu kuk, silahkan kalau mau diambil."
"Anaknya umur berapa mbak."
"Umur lima tahun."
"Oh....sama anak saya juga umur lima tahun laki-laki."
"Sama kalau begitu." Jenar sambil memilih baju yang lainya.
"Kalau begitu terima kasih ya Mbak bajunya untuk anak saya."
"Iya sama-sama."
Setelah menemukan baju yang lainya Jenar segera kekasir untuk membayar belanjaanya. Dan tiba-tiba wanita yang tadi tidak dia kenal menghampirinya dan memberikan kantong belanja kepada Jenar.
"Mbak ini sebagai tanda terima kasih saya, kebetulan tadi saya bertanya kepada pelayan ada warna lain yang kebetulan anak saya suka dan ukuranya sama jadi baju yang tadi untuk anak mbak saja."
"Lho mbak tapi, saya tidak bisa menerima ini, saya ganti uangnya."
"Tidak usah mbak, kebetulan saya baru pindah dan belum punya banyak teman, jadi ini sebagai hadiah."
"Mbak tunggu, saya tidak bisa menerima ini dengan cuma-cuma, ini toko kue saya kalau ada waktu mampir ya Mbak.....?"
"Oh...iya saya Lia, panggil aja Lia biar lebih akrab." Sambil mengulurkan tangan untuk berjaba tangan.
"Saya Jenar." Jenar menyabut uluran tangan Lia.
"Baik, kalau begitu saya duluan masih ada yang mau saya beli, kapan-kapan saya mampir ke toko kuenya."
"Iya, saya tunggu."
Dan mereka berdua berpisah didepan toko. Bagas menghampiri Mamanya dan berkata jika dia sudah sangat lapar. Sementara Banyu membawa dua kantong kresek mainan yang di belinya bersama Bagas tadi. Akhirnya mereka bertiga mencari tempat untuk makan siang. Jenar menceritakan kejadian di toko tadi kepada Banyu.
" Ya mungkin rejekinya Bagas dapat baju yang kamu pilih tadi."
"Iya sih Mas, tapi kan gak enak gak kenal lho sama orangnya dan dia baik jadi aku undang saja ke toko."
" Nah itu juga bagus kamu bisa kasih dia kue-kue kamu yang enak-enak itu Ma...."
"Bisa aja."
"Lho beneran enak kuk, gak ada yang seenak kamu biki kuenya."
"Kalau itu berlebihan."
Disaat mereka sedang makan sambil bercanda, ada seseorang yang melihat mereka dari kejauhan. Dibalik kacamata hitamnya dia tak sadar meneteskan air mata dan memilih untuk segera pergi dari tempat itu.
Beberapa hari kemudian Jenar tengah sibuk backing di dapur bersama karyawanya. Seperti biasa setiap hari toko kue Jenar menyedian kue-kue fres dari oven. Di jam seperti ini baru sibuk-sibuknya didapur. Tapi karena Jenar sangat suka dengan pekerjaanya jadi semua dia lakukan dengan senang hati.
Lia akhirnya memenuhi undangan Jenar untuk datang ke toko kue milik Jenar.Turun dari mobil mewahnya, Lia melepaskan kaca mata hitam LV dan juga menenteng tas merek sama. Dia masuk ke dalam toko, melihat-lihat sekeliling toko dan dia lalu bertanya kepada salah seorang pelayanan. Dimana dia bisa bertemu dengan Jenar. Akhirnya pelayan itu meminta untuk menunggu di kafe saja dan mempersilahkan duduk dan memintanya untuk menunggu sebentar saja. Jenar segera menghampiri Lia di kafe setelah salah seorang karyawannya memberitahunya.
Jenar menyabut kedangan Lia dengan ramah dan segera menawarkan minum dan juga camilan. Dan mereka berdua duduk sambil mengobrol banyak hal. Lia banyak bertanya kepada Jenar, tentang toko kuenya, anak nya bahkan Lia juga bertanya tentang suami Jenar.
"Wah luar biasa kuenya enak, saya gak sangka kamu pintar membuat kue, saya kira awalnya kamu seorang dokter atau perawat."
"Bukan saya ini hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa saja dan kebetulan saya suka backing dan akhirnya cita-cita saya memiliki toko kue dan kafe yang jadi satu."
"Wah suami kamu gak masalah gitu kamu kerja."
"Jauh sebelum saya bertemu suami, cita-cita itu sudah ada dan toko ini saya miliki sebelum kami bertemu dan setelah menikah dia tidak mempermasalahkannya."
"Oh begitu ya, berbeda dengan suami saya, dia maunya saya hanya menjadi istrinya dirumah dan mengurus anak, saya salut kamu bisa memiliki usaha sendiri."
"Ibu rumah tangga juga pekerjaan mulia."
Rupanya Jenar seperti mendapatkan teman baru, setelah beberapa menit mereka duduk dan mengobrol. Lia pamit kepada Jenar untuk pulang karena sebentar lagi anaknya akan segera pulang dari sekolahnya. Jenar membawakan beberapa koyak kue dan juga roti untuk Lia sebagai ucapan terima kasihnya untuk baju yang diberikanya waktu itu. Lia sempat menolak tapi karena paksaan Jenar akhirnya dia menerimanya. Jenar mengantarkan Lia sampai ke depan pintu. Setelah itu mereka saling melambaikan tangan tadi mereka juga sempat bertukaran nomor telfon.
Mobil mewah yang membawa Lia masuk ke dalam rumah mewah dikawasan elit. Dia segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
"Nyonya ini kue-kuenya, mau di taruh dimana?", tanya salah seorang asisten rumah tangganya.
"DIBUANG SAJA BIK."
"Sebanyak ini mau dibuang nyonya?"
"Apa kurang jelas, saya ngomong."
"Ba....baik Nyonya."
Dengan kesal Lia memarahi Art nya, dia tidak suka mengulang-ulang perintahnya. Lia lalu naik ke kamarnya. Dan Art ini segera pergi ke dapur dan melaksanakan perintah majikannya.
Siapkah Lia yang sebenarnya, kenapa wanita ini seperti memiliki dua kepribadian. Baik dan buruk.
Bersambung.
Halo semua terima kasih yang sudah mampir membaca karya aku si penulis yang masih amatir ini semoga suka dan bisa menghibur kalian semua, yuk semangatin aku dengan like dan komen di halaman ini. Terima kasih