Winter melakukan kesalahan fatal! Ia menabrak orang dan kabur begitu saja. Ia merasa dirinya adalah orang paling egois dan jahat di dunia ini. Tapi ia terlalu takut untuk mengaku.
Suatu hari, ia bertemu Daffin Prakasa, sosok cowok populer dikampus yang juga merupakan kakak kandung dari gadis yang ditabraknya.Tanpa diduga ia malah jatuh cinta pada pria itu.
Seiring berjalannya waktu, keduanya makin dekat. Namun ancaman demi ancaman mulai menghampiri hidup Winter. Yang membuat Winter harus memilih, mengakui kesalahannya atau menjauh dari kehidupan Daffin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Sebelum baca, mohon vote-nya ya🙏
Daffin terus mengamati rumah mewah dihadapannya. Rumah Winter ini besarnya sebelas dua belas dengan rumahnya. Ya, Daffin dan mamanya memang masih tinggal di rumah mewah, tapi pembantu mereka tinggal satu. Mamanya hanya mampu membayar satu pembantu mengingat pengeluaran mereka yang sangat besar beberapa tahun terakhir ini.
Sebenarnya Daffin berencana menjual rumah itu dan pindah ketempat yang lebih kecil, tapi kata mamanya itu adalah rumah pemberian almarhum kakeknya ketika Daffin lahir. Jadi mamanya tidak mau menjualnya. Demi almarhum kakeknya, juga rumah itu memiliki banyak sekali kenangan masa kecilnya. Setelah berpikir berulang kali, Daffin juga merasa tidak tega.
"Rumahmu sebesar ini, kenapa masih kerja di cafe?" Daffin menatap Winter curiga, sedang gadis yang ditatap cepat-cepat memutar otaknya mencari alasan.
"Ahh, aku ingin hidup mandiri. Mama dan papaku jarang sekali memanjakanku. Mereka ingin aku tahu kalau ternyata hidup di dunia ini itu sangat keras. Jadi mereka senang dengan keputusanku. Malah ingin aku memiliki penghasilan sendiri." kata Winter panjang lebar. Ia takjub sendiri dengan karangan luar biasanya. Padahal kalau orangtuanya sampai tahu dia pasti akan langsung dilarang melakukan pekerjaan kasar itu.
Daffin menatap gadis itu lama. Sedikit tidak percaya dengan apa yang dia dengar, tapi masuk akal juga sih. Tidak ada yang salah dari ucapan Winter. Hanya saja kalau pria itu yang menjadi orangtuanya, ia tidak akan mengizinkan Winter melakukan pekerjaan tersebut. Untuk apa bekerja kasar begitu kalau memiliki orangtua yang punya segalanya. Sudah pasti dia akan sangat memanjakan anaknya. Tentu saja tidak lupa memberikan didikan dan moral-moral yang baik pada anaknya.
"Masuklah, aku harus pergi sekarang." kata Daffin akhirnya. Ketika melirik ke jam dinding. Jam sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam. Sudah waktunya ia ke rumah sakit. Ia tidak sadar sudah hampir satu jam dirinya menghabiskan waktu bersama Winter. Dia bahkan hampir lupa waktu kalau tidak segera sadar.
"Terimakasih sudah mengantarku." gumam Winter masih agak kaku. Daffin mengangguk lalu menghidupkan mesin motornya dan pergi dari tempat itu. Winter masuk setelah Daffin menghilang dari pandangannya.
Gadis itu bersiul-siul gembira ketika masuk ke dalam rumah. Walau hari ini sangat melelahkan, ia juga sangat senang. Karena bisa berinteraksi dengan Daffin, dan mereka selangkah-demi selangkah menjadi lebih dekat.
"Tadi itu siapa?"
"Ahhh!" Winter memekik kuat dan hampir melompat saking kagetnya.
"Mama, aku kaget tahu. Lagian, kenapa mama duduk diam-diam di situ sih?" gerutu Winter mengusap-usap dadanya.
"Mama nggak diam Winter, kamunya aja yang terlalu asyik melamun sambil senyum-senyum sendiri." balas Loly, wanita berumur 40-an yang cantik dan modis. Meski begitu wajah Winter lebih mirip papanya dibanding sang mama. Gayanya juga urakan dan terkesan asal, tidak modis seperti mamanya. Untung papanya tampan, jadi penampilan urakan gadis itu terselamatkan karena karena wajah cantik yang dia dapat dari papanya.
"Duduk sini dulu sayang, ceritain ke mama cowok tadi itu siapa, pacar kamu?" Loly terdengar bergebu-gebu.
"Nggak kok mama. Daffin bukan pacar aku. Dia senior aku dikampus. Kita kebetulan bertemu di jalan depan dan dia nawarin buat anterin aku, itu aja." Winter kembali mengarang cerita, meski tidak sepenuhnya bohong.
"Yakin bukan?" mamanya menyipitkan mata.
"Tapi kamu keliatan suka sama dia."
Winter langsung gelagapan.
"Ih mama apaan sih." cetusnya malu.
"Pacaran juga nggak apa-apa kok anak mama sayang. Lagian kamu udah bukan anak remaja lagi. Kembaran kamu aja udah ada pacar di sana, masa kamu kalah sih. Apalagi cowok tadi wajahnya ganteng banget mama liat. Rugi tahu kalau nggak pacaran sama cowok sekelas pemain film itu."
"Udah ah ma, jangan bahas itu lagi. Aku ke kamar dulu." lalu Winter meninggalkan mamanya naik ke lantai atas dengan wajah merah.
Gadis itu langsung membanting tubuh di ranjang besar nan empuk miliknya. Pandangannya menerawang ke langit-langit kamar. Dan kembali senyum-senyum sendiri. Ah, betapa bahagianya dia kalau bisa menjadi pacar Daffin. Tapi itu tidak mungkin kan?
Memang sikap Daffin padanya akhir-akhir ini sering membuatnya bingung. Perhatian pria itu membuatnya merasa kalau pria itu memiliki ketertarikan padanya, namun mungkin saja kan dia saja yang terlalu berlebihan. Winter tidak mau terlalu berharap.
"Sebaiknya aku mandi saja." gumamnya kemudian. Ia butuh mandi agar tubuh dan otaknya fresh kembali.
***
Besoknya dikampus,
"Winter, Winter ! Ada yang cari kamu diluar!" seruan heboh Eva itu membuat Winter dan Mimi saling berpandangan bingung. Siapa yang mencarinya sih sehingga cewek-cewek dikelasnya mendadak heboh begini.
"Ya ampun, sumpah demi apa kamu dicari sama Daffin!" Seru Eva lagi. Mendengar nama Daffin jelas Winter kaget dan cepat-cepat berdiri dari bangkunya.
"Daffin cari aku?" ia menatap Eva yang langsung mendapat anggukan dari cewek itu. Lalu dengan secepat kilat Winter berjalan ke arah pintu keluar.
Benar saja, Daffin sedang berdiri didepan pintu. Banyak gadis yang terus menatapnya dengan raut wajah penuh minat. Saat Daffin menyadari kehadiran Winter, cowok itu tersenyum tipis dan menyapanya. Detik itu juga Winter langsung merasakan aura-aura tidak mengenakan karena tatapan-tatapan tidak suka dari cewek-cewek yang berada tak jauh dari situ.
"Bicara di sana aja." ujar Winter menunjuk tempat yang lebih sepi. Daffin mengangguk. Mereka berjalan berdampingan dan berhenti di gang kecil dekat tangga menuju rooftop.
"Ke... Kenapa mencari ku?" tanya Winter berusaha menutupi rasa canggungnya. Lalu Daffin menyodorkan sebuah buku padanya. Gadis itu tampak bingung.
"Kau ingatkan kemarin aku bilang akan membantumu menulis surat permintaan maaf? Jangan bilang lupa." ucap Daffin menatap Winter lekat-lekat.
Ah benar. Winter meringis pelan. Kenapa dia lupa sekali. Ia bahkan lupa ada hukuman itu. Ya ampun.
"Ambillah," Daffin menyodorkan buku ditangannya. Winter mengambil buku tersebut dari tangan Daffin.
"Thank's ya." ucapnya. Daffin tersenyum. Rasanya Winter ingin menjerit saking senangnya. Pria itu jarang sekali tersenyum, tapi sekalinya senyum, langsung membuat Winter tambah jatuh cinta.
"Apa sekarang hubungan kita sudah bisa dibilang berteman?" Winter mengangguk. Ia masih tidak menyangka seorang pria dingin seperti Daffin ternyata punya sisi hangat seperti ini.
"Kalau begitu aku bisa minta nomormu kan?" tentu Winter mengiyakan tanpa pikir panjang. Ia langsung mengeluarkan hapenya.
"Jadwal kerja kita sama, kalau kau tidak keberatan, kita bisa pergi ke King's Cup bareng-bareng setelah pulang kampus. Helm untukmu sudah ada." kata Daffin lagi. Ia bisa lihat gadis didepannya sedang berpikir.
"Bagaimana?" tanyanya lagi. Lalu setelah berpikir panjang, akhirnya Winter mengiyakan. Mereka berdua tersenyum. Tapi tak jauh dari situ, mereka tidak sadar ada seseorang yang tengah mengamati keduanya dalam kegelapan dengan raut wajah jahatnya.