Cedric Heffernan—iblis murni yang menyamar sebagai manusia, terikat kontrak pada Gabriella Paradox—seorang wanita manja yang merupakan cucu dari teman lamanya, Theo. Saat ia mulai menyadari perasaannya pada Gabriella, bahaya mulai mengincar nyawa Gabriella. Bisakah ia menjaga nyawa Gabriella. Bisakah ia menjaga nyawa Gabriella seperti yang ia janjikan pada teman lamanya?
Terima kasih buat kalian yang sudah membaca karyaku. Jangan lupa tinggalkan komentar, like, dan share cerita ini. Tambahkan ke rak buku agar kalian tidak ketinggalan episode terbaru Contract With Devil.
Kalian juga bisa mendukungku dengan memberikan koin dan poin mereka agar cerita ini bisa terus update.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinya Flynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
“Gabbie?”
Gabriella akhirnya menoleh padanya setelah ia memanggilnya untuk yang ke dua puluh kali seraya menempelkan sebotol Coca-cola berukuran sedang di pipi kanan Gabriella. Wanita ini merengut kesal, meraih botol yang ia berikan tadi dan meminumnya beberapa kali teguk. Rasanya begitu Gabriella kembali setelah mengobrol sebentar dengan Renald tadi, wanita ini jadi terlihat aneh, terus melamun. Ia tidak tahu apa yang dibicarakan mereka berdua tadi karena posisi mereka yang jauh, tapi ia menduga itu ada hubungannya dengan keputusannya Gabriella yang mengakhiri hubungannya dengan Renald. Melihat sosok Renald tadi membuatnya gelisah. Ada yang salah dengan laki-laki itu. Ia tidak tahu apa itu. Laki-laki itu sangat pucat, tapi masih sanggup untuk berjalan normal. Intuisinya mengatakan kalau laki-laki itu berbahaya.
“Dingin tahu!” Gabriella menggerutu. Wajah memberengut Gabriella terlihat sangat imut.
Ia membalikkan letak kursi yang ada di sampingnya, lalu duduk dengan wajahnya menyandar di belakang kursi. “Aku tahu kamu ngerasa bersalah, Gabbie. Tapi sebaiknya kamu jangan terlalu dekat sama Renald.”
Gabriella menaikkan sebelah alisnya, terlihat kebingungan dengan perkataannya. Ia mengulang kembali perkataannya, mengira wanita ini tidak mendengar apa yang ia katakan tadi.
“Aku denger, dodol!” Gabriella menggembungkan kedua pipinya. “Maksudku, kenapa aku nggak boleh deket sama Renald? Dia baik, kok.”
“Ada yang salah dengan Renald. Aku nggak bisa jelasin, tapi aku bisa merasakannya.”
Gabriella mengangguk paham. “Bilang aja kamu cemburu, Cedric. Aku ngerti, kok. Renald itu baik, keren,
ceria. Coba aja waktu kamu nonton konsernya bareng aku, pasti kamu ngerti. Beda banget pokoknya sama seseorang yang ada di sampingku sekarang.”
Ugh. Ia menyesal mengatakan apa yang ia pikirkan tentang Renald tadi pada wanita ini. Rugi mengkhawatirkan manusia yang bahkan mengira kekhawatirannya itu sebagai cemburu.
“Ngaku aja. Aku gak marah kok.”
“Bukan.”
“Keras kepala sekali kamu itu!”
“Makanya, dibilang ini bukan karena aku cemburu!” Cedric berteriak kesal, hendak mencubit pipi Gabriella
saat hidungnya yang sensitif itu mencium bau darah. Perasaannya mulai tidak enak. Apa ini? Bau darah ini tidak salah lagi. Ini bau darah manusia. Ia berdiri, beranjak dari tempatnya.
“Cedric?”
“Ssst!” Ia meminta Gabriella untuk tetap tenang selagi ia melepaskan kacamata hitamnya, memandang
ke sekelilingnya. Sekali lagi ia mencoba mengendus bau darah itu.
“Tunggu di sini. Aku akan kembali setelah ini.”
Cedric berlari meninggalkan Gabriella yang berteriak menyuruhnya untuk kembali. Ia tidak menggubris.
Bau darah yang begitu kuat ini membuatnya khawatir. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mendengar suara teriakan dari kerumunan orang-orang yang berlari meninggalkan tempat ini. Ia mendecakkan lidahnya, berlari sekuat tenaga menuju ke belakang gedung kampus ini, tempat bau itu berasal.
Jantungnya berdetak kencang setibanya di belakang gedung kampus ini. Di hadapannya, ia melihat
tubuh teman Gabriella yang bernama Irna, penuh dengan darah, tidak sadarkan diri, dan Ari yang babak belur tengah bertarung dengan Renald. Benar firasatnya. Ada yang salah dengan laki-laki itu.
“Apa-apaan kamu, Renald!” Ari menendang wajah Renald dengan kaki kanannya, tapi laki-laki itu berhasil menghindari tendangannya, melompat setinggi dua meter dan melancarkan tendangannya ke arah Ari. Mata Ari membesar. Jelas, ini bukan serangan yang bisa dihadapi manusia biasa.Sebelum tendangan itu mengenai Ari, ia berlari sekuat tenaga, menarik tangan Ari agar orang itu terhindar dari serangan Renald yang membabi buta. Bisa dikatakan, laki-laki itu bahkan sudah tidak memiliki akal sehat dengan menyerang orang lain di tempat terbuka yang penuh dengan manusia.
“Kamu nggak apa?”
Ari terkejut saat melihatnya. Mungkin juga karena ia tidak lagi mengenakan kacamata hitamnya, sehingga orang itu bisa melihat jelas mata iblisnya. Tapi keterkejutan orang itu hanya berlangsung sesaat. Orang itu tidak menjawab pertanyaannya. Matanya tertuju pada pacarnya yang terbaring tidak sadarkan diri di belakangnya—jauh dari Renald yang kesal karena pertarungannya terganggu, tampak menahan diri agar tidak menangis di depannya. Cedric mengamati sekilas keadaan Irna. Dilihat dari lukanya, wanita itu hanya mengalami syok dan luka sayatan di tubuhnya yang mengeluarkan banyak darah, tapi tidak di daerah vital. Setidaknya, jika ditangani dengan cepat, wanita itu akan baik-baik saja.
“Cepat bawa dia keluar dari sini.”
“Tapi kamu?”
“Biar aku yang urus. Tolong bawa Gabbie keluar dari sini.” Ia merapatkan giginya, memicingkan matanya ke
arah Renald yang perlahan berubah menjadi monster. Ternyata laki-laki itu monster hybrid juga.
“Aku mengerti. Hati-hati.” Ari berlari menghampiri Irna, dan mengangkat tubuh wanita itu, berlari meninggalkan tempat ini. Ia menelan ludah, teringat akan pesan Markus yang melarangnya untuk bertarung. Melihat Renald yang kini berubah menjadi harimau putih raksasa dengan kabut berwarna merah di sekeliling laki-laki itu, ia terpaksa harus melanggar pantangan Markus soal bertarung. Tangannya mengambil dua pisau belati di sneaker yang ia kenakan, sengaja mengecilkan ukuran senjatanya agar tidak ketahuan Gabriella, mengembalikan ukuran senjata itu seperti semula dan mengalirkan energi sihir pada senjatanya itu. Untung keputusannya untuk berjaga-jaga tidak salah.
“Cedric?” Suara Renald terdengar menggelegar saat menyebut namanya, seperti petir. Hebat. Kelihatannya
semua monster yang pernah ia hadapi tahu namanya. Wujud laki-laki itu yang sudah sepenuhnya berubah menjadi monster berjalan memunggunginya sesaat, lalu berbalik menghadapnya. “Ternyata kamu yang menggangguku tadi.”
“Apa yang kamu lakukan sama wanita itu?”
“Apa?” Renald tertawa keras. “Pernah dengar pepatah ‘Curiosity killed the cat’? Wanita itu terlalu banyak bertanya.”
Ia mengamati aliran energi dalam tubuh monster itu melalui mata iblisnya. Tidak stabil. Ada banyak senyawa aneh di dalam sana yang menyatu dengan seluruh organ tubuh laki-laki itu, membuatnya teringat akan informasi yang diberikan Sandra beberapa waktu yang lalu tentang satu-satunya kelinci percobaan Paolo yang sukses. Keadaan laki-laki itu sekarang persis seperti Gabriella waktu masih kecil, hanya saja senyawa itu ada dalam tubuh laki-laki itu dalam jumlah yang jauh lebih besar dari senyawa yang ada di dalam tubuh Gabriella waktu masih kecil.
Sial. Di saat kondisi tubuhnya belum stabil malah muncul beginian…
“Kupikir Gabbie bisa melupakanmu saat aku mendekatinya.” Monster itu mengaum keras, hingga membuat tanah bergetar karenanya. Ia masih dalam posisi berlutut, mengamati sekelilingnya. Bagus, tidak ada satu pun manusia di sini.
“Sayangnya nggak. Dia nggak mungkin tertarik dengan monster sepertimu.” Ia menyeringai, bersiap untuk menyerang monster itu begitu monster itu bergerak.
Monster itu tertawa keras. “Bukannya kamu sendiri juga bukan manusia? Apa masalahnya?”
“Kamu benar.” Ia berdiri, menggenggam erat pisau belatinya. “Karena itu aku nggak akan menyerahkan Gabbie padamu, Keparat!”
Segera ia berlari dengan kecepatan penuh menghadang monster itu begitu monster itu mengeluarkan
cakar kakinya, menyerang kaki monster itu dengan pisaunya.
ZRAATSS!!
Sayatan yang dihasilkan pisau itu berhasil melukai kaki monster itu hingga nyaris putus. Ia berlari menjauh,
mengamati pergerakan monster itu. Sesuai dugaan, lukanya menutup sempurna. Monster itu bahkan sama sekali tidak berteriak kesakitan, justru tertawa keras seakan menikmati rasa sakit itu.
“LEBIH BANYAK LAGI! INI BUKAN APA-APA UNTUK IBLIS SEPERTIMU, BUKAN!?”
“Itu baru pembukaan.” Ia mendecakkan lidah mencoba menyembunyikan rasa frustrasinya dengan bersikap tenang. Saat tadi ia menyerang kaki monster itu, ia mengamati tubuh monster itu secara menyeluruh. Tidak ada tanda tato di mana pun. Bahkan di belakang leher monster itu yang seharusnya memiliki tanda seperti tato juga
tidak ada. Padahal monster-monster yang pernah ia hadapi punya tanda itu. Di mana titik buta monster itu? Harusnya ia menanyakan lebih banyak lagi informasi pada Sandra.
Tidak ada waktu lagi. Yang terpenting sekarang adalah ia harus mengulur waktu agar bisa membaca serangan musuh.
Sosok harimau itu berderap, berlari ke arahnya dan menendangnya dengan kaki harimaunya yang
besar. Tubuhnya menghantam tembok gedung yang ada di sampingnya, membuat lubang menganga yang besar di tembok itu, menembus hingga ke depan gedung. Ia terbatuk akibat debu yang timbul dari reruntuhan bangunan gedung. Tangannya menggenggam erat senjatanya, memaksakan tubuhnya yang gemetar hebat karena daya hancur serangan yang sangat tinggi itu berdiri.
Ugh...
Sepertinya ia terlalu meremehkan kekuatan dari satu-satunya kelinci percobaan Paolo yang sukses. Dengan tubuhnya yang penuh racun, tidak mungkin baginya untuk mengalahkan monster itu.
“Cuma segini kemampuanmu, Cedric? Kudengar kamu pernah mengalahkan seratus ribu pasukan
musuh seorang diri. Jangan-jangan itu hanya gosip?” Monster itu berjalan melewati lubang itu, menghampirinya dengan tatapan siap menyantap mangsanya.
“Kayaknya kamu tahu banyak soal aku. Luang sekali waktumu, ya?”
Ia bisa merasakan tangannya yang menggenggam pisau belatinya gemetar hebat. Benar-benar pertarungan yang tidak menguntungkan. Rasa sakitnya menghilang seketika, menutup lukanya dengan cepat, tapi dibayar dengan staminanya yang terkuras habis. Ini berbeda dari kemampuan pemulihan dirinya yang biasanya. Kalau begini terus, habislah dia. Cepat atau lambat, ia pasti akan mati. Bagaimana ini?
“Cedric?”
Ia melotot, mendapati Gabriella yang berdiri tidak jauh darinya, memanggilnya dengan matanya yang berubah. Wanita itu mengaktifkan kekuatan warlock-nya. Sial. Ia pikir Ari berhasil membujuk wanita itu untuk segera pergi dari tempat ini.
“Jangan mendekat!” Cepat-cepat ia mengarahkan sihir iblisnya ke arah Gabriella, mengirim wanita itu agar menjauh dari medan pertempuran. Tidak. Gabriella tidak boleh terlibat dalam pertarungan ini. Ia sudah berjanji pada Theo bahwa ia akan menjaga Gabriella, walaupun mengorbankan nyawanya sendiri. Monster itu juga tidak boleh tahu keberadaan Gabriella.
“Ada pengganggu?” Monster itu menyeringai, mengintip ke luar, tapi tidak mendapati siapa pun.
“Lawanmu itu cuma aku, Kucing Siluman…” Cedric memaksakan dirinya untuk berdiri, mengusap sisa debu di wajahnya dengan kedua tangannya yang membuang pisau belatinya. Senjata andalannya yang biasanya cukup untuk membunuh musuhnya tidak mempan melawan monster ini. Tidak ada cara lain rupanya, selain menggunakan wujud iblisnya secara penuh dengan kedua sayapnya, menggunakan pedang iblis yang sudah lama tidak dia gunakan.
ZRAATT!
Ia mengayunkan kedua pedang iblisnya yang ia panggil, memutarnya, lalu mengepakkan sayapnya, melompat dan menghunuskan kedua pedangnya yang penuh dengan energi sihir, mengarahkan serangan itu langsung pada monster itu.
SYUUNG!!
CRAAATS!
Pedang itu berhasil mengenai leher musuhnya. Sayangnya, luka yang ditimbulkan dari pedang itu hanya meninggalkan bekas sayatan ringan. Ia bergerak mundur, mengulangi serangannya secara bertubi-tubi. Bahkan pedangnya yang tajam itu tidak bisa melukai kulit monster itu yang tebal seperti baja. Tubuhnya terasa panas sekarang. Efek dari energi iblis yang sudah lama tidak ia gunakan untuk bertarung kembali mengaktifkan insting
membunuhnya. Ia merenggangkan otot lehernya yang kaku, menjilat bibir bawahnya saat mencium aroma darah yang keluar dari luka monster itu untuk sesaat sebelum lukanya tertutup sempurna.
“Maju, Kucing Siluman.” Cedric mengubah posisi berdirinya, menyiapkan kuda-kuda, bersiap untuk menghadapi serangan monster ini. Keadaan mendesak seperti ini tidak memungkinkan baginya untuk menggunakan akal sehat. Satu-satunya cara hanyalah menggunakan insting bertarung sepenuhnya. Yang itu berarti, ia tidak akan bisa lagi membedakan mana lawan yang harus ia hadapi dan mana pihak yang harus ia lindungi. Ia melirik sekilas pada Gabriella yang mengintip dari kejauhan, berusaha melepaskan diri dari mantra yang ia lilit di sekeliling Gabriella agar wanita itu tidak menghampirinya seperti tadi.
Setelah itu, ia kehilangan kesadaran sepenuhnya, menyerahkan sepenuhnya pada sisi lainnya yang sudah lama tertidur.
***
Gabriella menelan ludah.
200 meter dari tempatnya ia berdiri saat ini, di dalam gedung kampus jurusannya, ia melihat Cedric yang tengah bertarung dengan monster berwujud harimau raksasa berwarna putih dengan kabut merah mengelilingi tubuh monster itu, menyerang Cedric tanpa henti. Sekuat tenaga ia berusaha melepaskan diri dari mantra sihir yang dipasang Cedric sebelum laki-laki itu melanjutkan kembali pertarungannya dengan monster itu menggunakan
wujud iblis yang tidak pernah dilihat Gabriella sebelumnya. Kekuatan barunya ini sama sekali tidak membantunya melepaskan diri dari sihir Cedric.
Sial. Kalau begini terus, Cedric bisa mati. Padahal Markus sempat mengatakan padanya kalau tubuh Cedric penuh dengan racun yang akan menghancurkan tubuh laki-laki itu sepenuhnya jika digunakan untuk bertarung.
“Gabbie, cepat keluar dari sini!”
Ari menggendong tubuh Irna yang penuh dengan luka, setelah memintanya untuk menelepon ambulans
dan polisi.
“Mana Cedric!?”
“Dia…” Ari menoleh ke belakang, terlihat khawatir. “Sedang bertarung dengan sese..orang. Tapi itu gak penting. Pokoknya ikut aku sekarang. Di sini bahaya.”
Ia memejamkan kedua matanya, berteriak frustrasi karena masih belum bisa melepaskan diri dari sihir Cedric. Luka yang ada di tubuh Irna yang ia lihat tadi sudah jelas tidak mengenai bagian vital, tapi kalau dibiarkan cepat atau lambat, temannya itu pasti akan mati. Dari bekas luka itu, tidak salah lagi. Itu pasti bukan ulah
manusia. Ia mengobati luka Irna dengan ramuan yang akhir-akhir ini selalu bawa ke mana pun ia pergi, meminumkannya pada Irna. Setidaknya ramuannya itu bisa membantu mempercepat proses penutupan luka tersebut sebelum ambulans tiba di tempat ini.
“Cedric memintaku untuk membawamu pergi, Gabbie.”
Sudah pasti ia tolak permintaan Ari yang memintanya untuk ikut dengannya. Itu pasti permintaan Cedric agar ia tidak terlibat dalam pertarungan yang mungkin akan membunuhnya. Cedric selalu seperti itu. Egois, keras kepala, tidak mau mendengarkannya…
Apa laki-laki itu lupa kalau ia juga bisa bertarung?
ZRAATS!!
ZRAATS!!
Suara pedang Cedric beradu dengan monster yang sama sekali tidak menggunakan senjata apa pun itu selain menggunakan kaki depannya dan cakarnya yang tajam itu. Ia mengintip pertarungan itu dari tempatnya. Mata warlocknya itu memudahkannya untuk melihat dengan jelas seperti apa pertarungan Cedric dengan monster itu. Gerakan mereka berdua sangat cepat, sehingga sulit untuk dilihat olehnya walaupun sudah dibantu dengan kemampuan matanya.
DRAP! DRAP!
Cedric berlari, melompat dan berputar menghindari serangan monster itu, dan berpindah ke sisi kanan, menendang perut kanan monster itu hingga tubuh monster itu terpental jauh menghantam gedung tadi. Monster itu kembali bangun, tanpa luka sedikit pun di tubuhnya, berlari menyerang Cedric yang tertawa keras, terlihat sangat menikmati pertarungan itu. Bukan Cedric yang ia kenal sama sekali. Laki-laki itu yang ia kenal itu kini terlihat haus akan darah dan pertempuran, berbeda jauh dengan kepribadian Cedric biasanya yang lembut.
“Halo, Nona Gabriella Paradox?”
Ia tersentak kaget saat seseorang menepuk pundaknya, memutar tubuhnya, mendapati bahwa Markus berada di belakangnya, memintanya untuk tidak berisik sementara laki-laki itu membuka mantra sihir Cedric yang menyelimutinya itu dengan mudah. “Kelihatannya aku datang terlambat. Mana adikku?”
“Di sana.” Gabriella langsung menunjuk ke luar, mengarah pada gedung tadi.
“Dasar *****!” Markus mendecak kasar sambil membantunya berdiri. “Sudah dibilang jangan bertarung, malah nekat.”
“Ada korban…” Gabriella bisa mendengar suaranya yang mulai serak saat mengatakannya, menahan diri agar tidak menangis. “Temanku…”
“Frida?” tanya Markus, cemas.
“Bukan. Irna. Frida sudah mengungsi keluar dari tempat ini.”
“Syukurlah. Kukira dia yang kenapa-kenapa.” Markus menarik napas lega. “Apa temanmu yang itu baik-baik
saja?”
“Seluruh tubuhnya penuh luka. Tidak di bagian vital memang, tapi tetap saja parah, jadi kuberikan ramuan yang setidaknya membantu untuk menghentikan pendarahannya.”
“Bagus. Tindakan tepat.” Markus langsung memeluknya. Kelihatannya Markus tahu ketakutannya. “Ada aku sekarang.”
Pelukannya sama seperti pelukan Cedric waktu itu. Hangat, dan bisa memberikan rasa aman. Tapi bukan ini yang ia butuhkan sekarang.
“Cedric belum memutuskan kontraknya denganmu, benar?”
Ia mengangguk lemah.
“Berarti masih ada kesempatan. Ada separuh nyawa Cedric di dalam tubuhmu. Tapi bukan berarti aku memintamu untuk mengembalikan lagi nyawa Cedric. Yang kubutuhkan sekarang untuk membantu adikku adalah kamu harus memperkuat kembali ikatan kontrak kalian.” Markus mengintip ke luar, lalu kembali menatapnya. “Wujud Cedric yang seperti itu tidak akan bisa bertahan lama. Ia akan mati. Gunakan kekuatanmu itu untuk menambah energi iblis Cedric. Untuk sementara, kurasa itu cara yang paling tepat. Kamu bisa melakukannya?”
“Terus ritual yang waktu itu untuk apa?”
“Itu untuk mengembalikan ingatanmu, dan meningkatkan kemampuanmu melacak iblis. Itu berbeda dengan yang akan kita lakukan sekarang.” Markus terlihat sangat gelisah, kesal karena menurut laki-laki itu, apa yang ia tanyakan itu tidak penting. “Aku tanya sekali lagi, Nona. Apa kamu bisa melakukannya?”
Gabriella menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap. “Akan kucoba.”
***
Dalam waktu dekat author sedang mempertimbangkan untuk membuat season 2 dari cerita ini. Kalau menurut kalian, siapa karakter dalam cerita ini yang kalian pengen author bahas di season selanjutnya? Kalian bisa balas dengan berkomentar di sini. 😊
Terimakasih author
lanjut
mampir lagi ya ke Reborn little army