NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Langitan

Pendekar Pedang Langitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Penyelamat
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Heryando Palar Vinkoert

Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.

Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.

Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Beda Pemahaman

Zhuiiiiiinng....!!

Suara tajam terdengar saat pedang membelah udara tipis.

Traaanggg...!!

Tebasan pedang Ni Kirana ditahan dengan tangan kosong oleh pria itu. Tidak terjadi apa apa. Jangan kan putus atau luka. Lecet atau sekedar jejak garis merah sedikit saja tidak ada.

Ni Kirana kaget. Dia serasa menghantam dinding karang yang sangat keras. Gadis cantik itu melirik tangan pria itu dengan penasaran. Dia melihat tangan pria itu berubah warna menjadi hitam.

"Heh itu ajian cadas ireng biarkan aku yang menghadapi orang itu Yayi Kirana." Danang Wesi segera memasuki arena pertarungan.

Pemuda ganteng putra tertua Ki Ageng berdiri di hadapan pria yang tadi menangkis pedang Ni Kirana dengan tangan kosong.

"Aku Danang Wesi. Kenalkan siapa adanya engkau Ki sanak."

Pemuda yang menjadi pemimpin kelompok lima pendekar muda itu tersenyum miring.

"Aku Badra. Orang rimba persilatan telah memberi julukan Lengan Watu pada ku. Mungkin karena pukulan yang keras dari dan bisa membunuh satu kerbau besar dengan sekali pukul." Lengan Watu berkata dengan jumawa.

"Hm... Mudah mudahan itu bukan sebuah gelar kosong. Majulah Lengan Watu. Gunakan seluruh kemampuan mu." Danang Wesi berkata dengan suara mantap.

Lengan Watu menatap tajam kepada Danang Wesi. Ujung bibir kirinya ditarik. Terlihat sekali pria yang jadi pemimpin kelompok pendekar muda padepokan Tapak Watu meremehkan Danang Wesi.

"Danang Wesi... Aku dengan senang hati mengantar mu kejalan bawah. Setelah itu aku akan. menikmati tubuh adikmu yang bohai itu, ha haa haaa wuaha ha ha ha haa haaa..."

Wajah Danang Wesi mengeras. Dia segera mengontrol emosi yang sempat melonjak di dadanya. Setelah menghembuskan nafas berat, Danang Wesi mengangguk.

"Kalau begitu majulah, kita lihatt seberapa mampu engkau." Kedua lengan Danang Wesi berubah warna menjadi kehitaman seperti besi.

Aura energi mendalam melonjak tinggi. Niat membunuh terpancar kuat dari diri Danang Wesi.

Lengan Watu kaget merasakan niat membunuh yang begitu kuat. Dia segera melepas aura kematian yang cukup pekat.

"Matilah untuk ku...!" Lengan Watu melesat dengan sangat cepat.

Whuuuuzzt....

Udara beriak. Energi mendalam yang besar menggumpal kuat dan menakutkan menderu kearah Danang Wesi.

Danang Wesi berlaku tenang. Udara beriak ketika energi mendalam yang kuat tersalurkan pada kedua tangannya.

Pukulan yang di lepas Lengan Watu semakin mendekat. Gumpalan udara yang sangat kuat mendahului serangan Lengan Watu.

Danang Wesi tiba-tiba bergerak. Dia membuat pukulan lurus yang sangat kuat. Suara mendesing terdengar ketika pukulan itu membelah udara.

Bllaaaaaaaamm...!  Kraaakk...!!

Terdengar suara ledakan yang sangat keras diikuti garingnya suara tulang patah. Terdengar suara jeritan disusul dengan tubuh yang terlempar.

Itu adalah tubuh Lengan Watu. Satu bayangan muncul dengan sangat cepat mengejar Lengan Watu yang masih terpental.

Tidak sampai sedetik setelah tubuh Lengan Watu menghantam tanah. Kilau sinar pedang berkelebat sangat cepat.

Craasssh...!  Aaaaaarrggghhh...!!

Lengan Watu menjerit. Lengannya yang tadi patah kini putus sejengkal dari pundaknya. Darah mengucur deras. Lengan Watu merintih.

"Kakang Watu...?!!" Empat orang yang juga sudah mengalami luka luka akibat tusukan dan goresan pedang. Bergegas menuju Lengan Watu.

"Kali ini kalian menang Danang Wesi. Suatu saat aku akan menagih sepuluh kali lipat.

Ayo pergi."

Lengan Watu berbalik dan menerobos malam.

"Kenapa kalian tidak membunuh mereka ?" Bagaga Alam bertanya dengan santai begitu Danang Wesi dan Ni Kirana duduk kembali.

"Eh...??  Bukankah sudah cukup jika kita mengusir mereka dengan melukai mereka Tuan ?" Danang Wesi bertanya dengan heran. Ni Kirana juga menatap Bagaga Alam dengan pandangan heran dan agak bingung.

"Aku merasakan aura kematian yang cukup kuat dari lawan mu Danang Wesi. Tidak tahu telah berapa banyak nyawa yang dia bunuh."

"Ng... Maaf Kang mas. Bukankah kita dari aliran putih harus bisa memberi kesempatan kedua kesempatan kedua untuk mereka itu ?"

Bagaga Alam tersenyum mendengar ucapan Ni Kirana. Dia melihat kepada kedua kakak beradik itu sejenak. Kemudian tersenyum arif. "Coba jelaskan pada ku, kenapa kalian memberi kesempatan kedua kepada mereka."

Danang Wesi dan Ni Kirana saling bertukar pandang. Tidak pernah ada yang bertanya hal begitu pada mereka berdua sebelumnya. Ni Kirana menatap Bagaga Alam penuh tanya. Danang Wesi diam merenung. Dia tidak langsung menjawab.

"Tuan... Bukankah kita orang orang golongan putih memang harus begitu ?  Bukankah kita selalu harus memberikan kesempatan kepada orang orang jahat itu ?"

"Siapa yang mengatakan begitu ?"

"Ayahanda Ki Ageng. Beliau selalu mengingatkan kami berdua untuk bisa mengontrol diri, mengontrol amarah. Harus sabar dan memberi kesempatan kedua kepada orang jahat. Mungkin dengan adanya kesempatan kedua, mereka bisa menjadi baik."

Bagaga Alam tersenyum dan berucap pelan. "Itu benar jika dilihat dari satu sisi. Tapi tidak dari banyak sisi yang lain."

Mata Danang Wesi dan Ni Kirana membesar. Dua kakak beradik itu melihat Bagaga Alam dengan sorot mata penuh tanya.

"Nanti kita bicarakan lebih lanjut. Sekarang kita makan dulu. Nih Danang, minumlah. Kirana ini untuk mu. Minumlah..."

Ni Kirana menerima air niro di gelas bambu yang diberikan oleh Bagaga Alam. Dia melihat air yang agak keruh seperti air cucian beras. Namun aromanya lembut dan menarik.

"Ini minuman apa Kang mas Bagaga ?"

"Di negeri saya orang menyebutnya niro. Air niro. Aromanya enak dan rasanya manis. Tidak akan membuat orang yang minum jadi mabuk.

Ciciplah sedikit."

Ni Kirana menyicip air niro. Wajah cantiknya terlihat lebih bersinar.

"Iya enak ternyata."

"Ayo kita makan. Lebih enak makan ayam bakar dengan air niro sebagai teman makan." Ucap Bagaga Alam dan meraih sepotong paha ayam dan memberikan pada Ni Kirana. Ni Kirana menerima dan senyuman yang sangat manis terukir di bibirnya. Wajah cantiknya terlihat makin menawan karena pancaran kebahagiaan.

"Terimakasih Kang mas." Ucap Ni Kirana dan mulai makan.

Malam ini rasa ayam bakar bikinan Danang Wesi terasa jauh lebih enak, lebih nikmat.

Mereka makan dengan lahap. Danang Wesi dan Ni Kirana masing masing menghabiskan satu ekor ayam panggang. Bagaga Alam menghabiskan setengah ekor bagian kaki dan paha ayam.

"Waaah wah... Bau ayam panggang enak sekali..." Tiba-tiba seorang pria yang sudah tua dengan rambut kelabu agak awut awutan muncul begitu saja.

Bagaga Alam sudah merasakan kedatangan pria itu sebelum dia berkata.

"Duduklah Ki, silahkan minum dulu. Ayam bakarnya hanya tinggal setengah, apakah tidak apa ?" Ucap Bagaga Alam sambil memberikan segelas air niro.

Tanpa ragu pria itu menerima gelas bambu dari Bagaga Alam dan meneguk dengan lahap. "Luar biasa. Aku tidak mengira bisa menikmati tuak muda yang manis ini. Ehh bukankah ini air niro dari Swarna Dwipa ? Kami menyebutnya tuak muda manis." Pria itu tertawa sambil mengelap mulutnya.

"Betul sekali Ki. Aku Bagaga Alam, boleh tahu aku berhadapan dengan siapa Ki ?"

"Kau Bagaga Alam ?  Tuhan sungguh baik. Ternyata aku bertemu dengan Pandeka Pedang Suling Kumala yang sangat terkenal."

Bagaga Alam, Danang Wesi dan Ni Kirana kaget pria tua itu mengenal gelar Pandeka Pedang Suling Kumala."

\=\=\=\=\=***\=©

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!