Hai ini karya terbaru saya, dukung saya dengan meninggalkan komentar like dan ikuti agar saya lebih semangat membuat cerita tentang hubungan Sashi yang panas dan penuh konflik.
Terimakasih ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lakuna Amerta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24, Kaget
Sashi selesai cuci muka dan gosok gigi, ia lekas keluar kamar mandi. Ia membawa handuk kecil yang ia pakai tadi untuk mengusap mukanya. Niat hati ingin di jemurnya di balkon.
Rio sudah mulai menyeruput minuman hangatnya, ia memandangi langit yang cerah sambil menikmati angin pagi yang menyejukkan.
“Ah… Segarnya.” Sashi duduk di sofa empuk, ia bersandar di bahu Rio yang sedang menikmati suasana pagi.
“Hari ini kamu pulang malem sayang?” tanya Rio memastikan.
“Iya. huft! Kamu balik Bandung kapan sayang?”
Sambil merangkul kekasihnya, “Nanti siang ya. Soalnya aku pegang proyek yang cukup rumit. Apalagi aku belum ada asisten sayang.”
“Oke deh nggak papa, nanti kita ketemu lagi kira-kira kapan sayang?” tanya Sashi sambil menyeruput minumannya.
“Mungkin 2 minggu lagi, maaf ya aku repot banget.”
“Nggak papa dong lagian aku juga ada banyak kerjaan kok.”
“Nanti kalo kangen tinggal telpon ya.”
Sashi mengangguk dengan senyumnya, Rio mengecup kening kekasihnya yang manis.
******
Rio sudah bersiap untuk pulang ke Bandung karena mendadak dapat telpon dari Kino. Padahal rencana awal ingin menyempatkan makan siang dulu dengan Sashi.
“Ah sial! Pake ada acara meeting dadakan minggu-minggu sih. Aku telpon Sashi aja dulu lah,” umpat Rio kesal.
Rio menelpon Sashi berkali-kali namun nggak ada jawaban,
“Mungkin sibuk ya,” pikir Rio.
“Aku chat aja lah.”
Rio mengetik pesan singkat kepada kekasihnya.
[Sayang, aku ada meeting dadakan, jadi nggak bisa lunch bareng. Sorry ya sayangku. Aku pamit balik Bandung ya, Love you]
Setelah itu ia memasukan ponsel dan meraih tasnya. Ia lalu berlalu meninggalkan apartemennya.
******
Pukul 11.45 Sashi baru selesai sibuk di ruang kerjanya. Rupanya ia ada pesanan parfum custom makanya ia harus meraciknya.
Sashi keluar dari ruangan peracikan dan menuju meja kerjanya, ia melepas atribut kerjanya seperti masker, kaos tangan, dan topi pelindungnya.
Sebelum dia duduk di kursi kerjanya, ia rogoh saku jasnya dan mengambil ponselnya. Ia membaca pesan yang dikirim Rio.
Karena tidak jadi makan siang bareng, Sashi jadi tidak perlu repot-repot untuk pulang. Dia menghela nafasnya dalam, ia jadi bingung mau makan siang apa.
Di mejanya yang cukup luas ia menyerahkan tubuhnya, ia lalu menyandarkan kepalanya ke meja. Penat di kepalanya serasa menumpuk sudah. Ia memejamkan matanya sebentar karena di banding lapar ia lebih merasa mengantuk.
Belum juga Sashi menikmati kesunyian, datang temannya menawari dia makan siang bareng.
“Mbak, mau makan siang bareng?” tanyanya.
Sashi bangkit, “Oh iya deh. Daripada makan sendirian sih.”
Dengan sedikit dorongan, Sashi beranjak bangun. Dia menggeliat meregangkan ototnya yang sedari tegang. Dia bergegas mengambil tasnya dan mengikuti temannya yang sudah berjalan lebih duluan.
Saat Sashi hendak keluar rupanya staff yang di depan menghampirinya.
“Mbak, ada yang nyari tuh.” Ujarnya sambil menunjuk tamu yang di maksud.
Tamu tersebut adalah seorang wanita dengan perawakan tinggi dengan rambut panjang dan jenjang kakinya yang indah. Wanita itu mengenakan dress oversize dan sepatu converse nya. Dari belakang saja Sashi sudah mengenalinya.
“Agatha?” tanya Sashi menebak.
Wanita itu berbalik, “Hai Sashi…”
“Hai kamu apa kabar?”
Sashi menghampiri Agatha dan mereka berdua cipika-cipiki. Sashi menyambut kedatangan Agatha dengan senyuman manis, ia mengelus lengan Agatha dengan lembut.
“Baik Sas,” balas Agatha sambil ia mengelus perutnya. “Kamu ada waktu nggak?”
Sashi melihat Agatha mengelus lembut perut yang sedikit membuncit itu. Agatha juga memperlihatkan ekspresinya dengan mengangkat kedua alisnya, ia ingin mengajak ngobrol Sashi.
Sashi menoleh ke arah 2 temannya, dan mereka lalu paham.
“Iya udah Mbak kita duluan ya.”
Shasi lalu mengajak Agatha untuk keluar dari store nya, dia mengarahkan Agatha ke resto yang berada di lantai 3. Sashi menuntun Agatha untuk mengikutinya.
“Udah 2 minggu ya kamu resign,” kata Sashi
“Iya Sas, kayak udah lama nggak kerja.”
“Trus sekarang sibuk apa Tha?”
“Di rumah aja aku Sas.”
Sampailah mereka di resto yang di pilih Sashi, ia lalu duduk di sudut. Itu spot favorit Sashi ketika makan disana. Mereka lalu memesan makanan saat pelayan datang menawarkan. Setelah pelayan itu selesai ia pun berlalu, Sashi pun membenarkan posisi duduknya agar ngobrol dengan nyaman.
“Kalo boleh aku tau, kamu resign karena apa?” tanya Sashi.
Agatha tersenyum dan membenarkan dress yang ia kenakan, dia menunjukan perut buncitnya itu, “Aku hamil Sas.”
Sashi mengernyitkan dahinya, sedikit kaget namun turut berbahagia. Dia berekspresi sedikit aneh, bahagia namun sedikit shock.
“Trus kenapa harus keluar sih?” tanya Sashi lagi. “Toh Rio nggak masalah kalo kamu hamil lho.”
Agatha mengangkat alisnya, “Nggak yakin aku kalo Rio nggak masalah sama kehamilanku.”
“Lho iya Tha. Kenapa harus dipermasalahkan?”
Agatha menatap Sashi penuh ragu, dengan ekspresi sombongnya ia memajukan badannya di hadapan Sashi.
“Masa?”
Sashi keheranan, “Ha..ha..ha emang kenapa sih?
Tanpa aba-aba keringat mengucur di punggung Sashi, ia sedikit tertekan entah karena ekspresi Agatha atau pemikirannya yang entah kemana-mana.
Saat mereka berdua terpaku dalam diam dan tatapan, pelayan datang membawa pesanan mereka.
Dengan berkeringat dingin Sashi mengalihkan pembicaraan, “Ah makan dulu aja. Kasian anak dalam perutmu pasti laper.”
“Oh iya.”
Sashi membantu Agatha, ia dekatkan makanan pesanan Agatha. Agatha membalasnya dengan memberi senyuman manis untuknya.
Agatha terlihat makan dengan tenang, dia menikmati nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya. Sedangkan Sashi makan sambil terus melihat ke arah perut Agatha.
Kalau dilihat perutnya tidak begitu besar, namun karena Agatha memakai dress tipis yang berkain katun lembut. Jadi terkadang perut Agatha terlihat buncit, dan kadang juga tertutupi.
Sashi makan dengan pergulatan pikiran di otaknya. Dia banyak pertanyaan dan kekhawatiran di hatinya. Bagaimanapun Sashi takut hal yang dipikirkan menjadi kenyataan.
Namun sesekali dia membuang pikiran bahwa Agatha dihamili pacarnya, Rio. Rio memang memiliki track record buruk dengan Sashi. Tapi Rio orang yang sedikit hati-hati.
Dengan dirinya saja, Rio tidak pernah mencoba untuk membuahinya. Mereka selalu memakai pengaman, Bahkan kalau stok pengaman mereka habis saja. Sashi bahkan Rio selalu melakukan cara agar tidak berhasil membuahi.
Pikiran positif dan negatif Sashi terus beradu dalam kepalanya. Bahkan Sashi sampai tidak fokus. Kejanggalan Agatha yang keluar tanpa sebab, serta perkataan Agatha menghasut Sashi untuk berpikir bahwa Agatha dihamili kekasihnya.
Namun ia mencoba membuang semua dengan berbagai keyakinan, apalagi Agatha dan Rio tidak pernah membuat Sashi curiga. Sashi mencoba untuk membuang pikiran-pikiran buruknya tentang Agatha.
Ia harus percaya dengan Rio, bagaimanapun Rio sudah berubah. Sashi mencoba tenang dan terlihat biasa saja. Karena saat itu dia sedikit terlihat pucat, cemas, dan gelisah.
Ayo Sashi. Jangan negatif thinking.