Binar harus menikah dengan Gian, anak dari sahabat almarhum Ayahnya. Setengah tahun dari pernikahan Binar dan Gian, Ayah Gian meninggal.
Saat menjelang empat puluh hari kematian Ayahnya, Gian menikah secara sirih dengan Sarah, pacarnya semasa kuliah tanpa sepengetahuan Binar.
Binar yang mengetahui itu sangat terpukul, pasalnya dia sangat menghormati Gian sebagai suaminya, namun kali ini Gian menghianatinya.
Akankah Binar mempertahankan rumah tangga wasiat dari Ayahnya atau menyerah atas rasa sakit yang di berikan oleh Gian yang ternyata tidak pernah mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hujan Reda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Maaf. Maaf Binar."
Aku mengangguk. Ternyata semudah ini aku bisa memaafkannya ya? Melihatnya menangis dengan terus mengucapkan maaf ternyata membuat pertahananku roboh.
Meski pada akhirnya memang kita harus berpisah. Ya, itu tidak bisa di bantah.
"Kamu mau rujuk lagi gak Bin?"
Aku menggeleng. Tidak bisa. Meski bisa, aku harus menikah lagi. Lagi pula, aku tidak berencana untuk rujuk dengannya. Meski dia memang sangat aku cintai, tapi untuk bersamanya ku rasa tidak.
Seumur hidup itu selamanya dan itu sangat lama.
"Binar gak bakal rujuk lagi sama lo Mas."
Aku menoleh ke arah sumber suara. Itu berasal dari arah pintu. Mas Gian juga menoleh ke arahnya. "Kak Fatur?"
"Binar gak akan pernah balik lagi sama lo, paham?" katanya dengan penuh penekanan.
Entah sejak kapan kak Fatur berada di sana. Dari tadi atau baru saja sampai. Dia berjalan ke arahku, menepis tubuh Mas Gian agar menjauh dariku. Sekarang kak Fatur tepat di samping tubuhku.
"Maksud lo apa? Lo siapanya?"
"Gua calon suaminya. Kenapa?"
Mas Gian menoleh ke arahku. "Maksudnya apa nih Bin? Lo selingkuh sama dia?"
Aku menggeleng. "Enggak Mas. Bukan gitu."
"Lagi pula, emangnya kenapa kalau Binar selingkuh sama gua? Lo aja nikah lagi dia gak protes," sindir kak Fatur dengar nada sarkastiknya.
"Gak bisa gitu dong, dia lagi hamil lo ga—"
"Gak apa?" ejek kak Fatur. "Lo tahu dia lagi hamil kenapa lo cere in? Masih mending gua, dia lagi hamil terus gua ajak nikah. Gua kasih tanggung jawab. Lo?"
Mas Gian terdiam. Bagai bermain catur, kali ini Mas Gian mendapat skakmat. Tidak bisa bergerak kemanapun. Tidak bisa berbicara apapun.
"Udah lah Mas. Lo gak bisa balik lagi sama Binar. Terima konsekuensi dari apa yang lo perbuat. Lo gak malu?"
Lagi-lagi Mas Gian diam.
"Mending sekarang lo keluar dari sini. Istri lo nunggu, kenapa lo gak urus istri lo itu?"
Mas Gian tersenyum simpul. Dia mengangguk. "Oke," ucapnya.
"Gua nitip Binar sama lo. Cuma itu satu-satunya cara supaya gua bisa balik lagi sama dia. Set—"
Bugh ...
Bugh ...
Bugh ...
"Kak jangan kak," seruku kala kak Fatur memukul wajah dan perut Mas Gian secara terus menerus.
"Udah Kak."
"Kak Fatur, udah kak."
"Inget ini. Kalo nanti Binar nikah sama gua, gak bakal gua lepasin dan lo. Lo gak bakal lihat dia lagi. Paham?" Kak Fatur sedikit menghempas tubuh Mas Gian menjauh dariku.
"Gua gak bakal pernah lepasin Binar. Inget itu!" seru Mas Gian sedikit berteriak. Dia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ini.
Mas Gian. Ini tidak mudah bagiku. Tidak sama sekali. Jauh di dalam sana aku menginginkan kita hidup bersama. Tapi, tidak bisa.
"Lo gak kenapa-napa kan Bin? Kan gua udah bilang kalo ada apa-apa kabarin. Kenapa gak ngabarin? Kalo lo di apa-apain sama dia gimana?"
"Gua gak mau lo kenapa-napa lagi. Apalagi sampe ada luka-luka karena dia. Lo beneran gak kenapa-napa kan?"
Terlihat wajahnya sangat khawatir. Kak Fatur meraba-raba kedua tangan dan juga wajahku memastikan tidak ada yang terluka di sana. Kak Fatur menghela nafasnya.
"Syukur kalo lo gak di apa-apain sama dia. Lain kali kabarin ya Bin, biar gua gak khawatir." Kini nadanya lebih melembut dari sebelumnya.
Dia benar-benar mengkhawatirkan ku ya?
"Aku gak kenapa-napa kak. Dia Ayah dari anak ini, gak mungkin Mas Gian nyakitin aku lagi."
Kak Fatur menggeleng. "Enggak. Gua gak bakal biarin dia nyentuh lo barang sejengkalpun. Anak ini," ucap kak Fatur menggantung sambil menunjuk perutku.
"Anak ini, Ayahnya gua. Bukan dia. Meskipun gua bukan Ayah kandungnya, dia tetep anak gua Bin. Apapun itu."
"Kak Fatur?"
Dia mengangguk. Senyumnya sangat hangat. Dia bahkan tidak menginginkanku terluka sedikitpun. "Udah ya. Maaf tadi gua sedikit kasar depan lo. Maaf juga tadi gua sempet pake nada tinggi ngomong sama lo. Gua khawatir Bin."
"Gak apa-apa kak," ucapku diakhiri dengan senyum. "Makasih banyak."
"Mau makan apa nih jadinya?"
Ah iya, aku sampai lupa. Aku harus makan. Anakku tidak boleh kelaparan di dalam sana. "Apa ya kak yang enak?"
"Lo lagi pengen makan nasi apa enggak?"
Aku menggeleng. "Enggak."
"Mau makanan berat ato cemilan doang?"
"Kalo mie boleh gak?"
"No! Enggak! Gak boleh makan mie dulu ya?"
Rasanya seperti ini ya? Rasanya di bujuk. Rasanya di larang. Rasanya di penuhi keinginannya. Selama ini aku tidak pernah berpacaran. Aku langsung menikah dengan Mas Gian. Selama itu, aku tidak mendapatkan apa yang sekarang aku dapatkan dari kak Fatur.
"Apa dong?" tanyaku dengan nada lesu.
"Em ... mau makan roti?"
"Martabak aja deh."
Kak Fatur mengangguk. "Boleh. Manis ya?"
"Ih mau yang asin."
"Manis dulu cantik. Kalo asin nanti ada minyaknya. Belum boleh."
"Ya udah deh," ucapku pasrah.
Kak Fatur mengelus puncak kepalaku dengan lembut. Memberi tatapan hangat dan rasa nyaman. "Ya udah, pesen dulu ya."
"Loh engga kakak yang beli keluar?"
Ia menggeleng. Tatapannya masih pada layar ponselnya. "Buat apa?"
"Ya ... kirain kakak yang bakal beli sendiri."
"Itu kemauan dedek?"
"Dedek? Siapa?" tanyaku bingung.
"Anak kita."
Anak kita? Dia baru saja bilang anak yang aku kandung ini juga anaknya? Aku di pertemukan dengan Maa Gian yang sangat kasar sampai aku mengira kalau lelaki baik sudah tidak ada.
Ternyata, kak Fatur membuktikan kalau lelaki baik masih ada di dunia ini.
"Em ... " Aku tersipu.
"Kenapa?"
"Em ... enggak. Ya bukan dia yang minta. Gua juga gak minta kakak yang beli langsung keluar."
"Ya udah bagus kalo gitu," ucapnya. "Ngomongnya aku-kamu aja deh yu Bin?"
"Hah?"
"Iya ... aku-kamu aja."
"Kenapa emangnya?"
"Ya, enak aja di dengernya."
Senyumku mengembang. Dia terlihat sangat manis kali ini. Aku bahkan tidak pernah menyangka kalau hubungan kita akan seperti ini. Sejak pertemuan pertama, hingga hari ini. Semuanya begitu mengejutkan.
"Ya udah," kataku menuruti.
"Iya gitu. Pokonya nanti kalo misal Gian dateng lagi kesini pas aku gak ada. Langsung kabarin ya? Jangan kaya tadi."
"Emang kenapa kak?"
Dia mengerutkan dahinya. Wajahnya terlihat sangat tidak suka dengan pertanyaanky barusan. Memangnya apa yang salah dari pertanyaanku.
"Binar. Aku gak mau calon istriku di sakitin lagi sama dia atau siapapun. Gak ada yang berhak nyentuh kamu. Gak ada yang boleh perlakuin kamu gak layak kaya gitu. Kamu gak berhak dapet perlakuan gak adil Binar. Jangan tanya kenapa."
"Kak?"
"Jangan tanya kenapa."
"Bukan."
"Terus?"
"Aku emang udah bilang kalo aku mau nikah sama kamu?"
dn mudh lengket..mestinya Binar inijaga jarak dari mna2 lelaki kok mudh ya dpegang tangn nya Adeeeh...terlalu senang dhmpiri
💪💪💪💪💪💪💪
lanjut kak semangat terus up nya... penasaran Banget😁