NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:922
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mari bersama membiasakan diri ...

"Hmmm ... Iya mama, Wita mengerti. Nanti akan Wita tanyakan sama Aldo. Have a nice vacation, Ma," ucap Wita di akhir percakapan dengan mamanya via ponsel.

Dilemparnya ponsel pintar itu ke atas ranjang. Dengan segunung kekesalan, dihempaskan tubuhnya di atas ranjang. Mencoba memejamkan mata menghalau pikiran yang dipenuhi amarah. Dadanya naik turun, berusaha mengatur napas yang mulai sesak.

Pintu kamar hotel terbuka. Suara Aldo terdengar ceria, "Iya, Mami. Tenang aja, nanti Aldo tanya sama Wita dulu ya. Aldo akan segera kabari Mami, biar nggak cemas terus."

"Cepat ya, Al. Mami tunggu siang ini kabarnya," sahut suara wanita di seberang telepon.

"Iya, Mami cantik. Always love you.Mmuuaach. Bye ... bye ...." Aldo menutup panggilan dari ponselnya.

Pandangannya mengarah kepada istrinya yang berbaring di ranjang. Dia berjalan mendekat.

"Eit, stop! Mau apa kamu? Berhenti di situ!" tangan Azra menunjuk sofa kamar, menyuruh Aldo duduk di sana.

Aldo tersenyum, berbalik arah menuju sofa, menuruti kemauan istrinya.

"Aku cuma mau duduk di ranjang Wita, mau ngobrol aja sama kamu." Aldo duduk di sofa dan menyilangkan kaki kanannya, menatap lembut ke arah Wita.

"Hadeh, berhenti modus! Kamu juga bisa bicara dari situ, nggak usah dekat-dekat. Ingat, aku belum menerima kamu sepenuhnya!" lanjut Wita memperbaiki posisi duduknya di atas ranjang.

Aldo menatap lama ke arah Wita. Dia tersenyum melihat istrinya yang mengenakan baby doll pendek tali spaghetti bahu warna merah dan pita di dada warna senada. Imut, batin Aldo.

Sadar dengan tatapan Aldo ke arah tubuhnya, Wita melotot. Diraihnya bantal, dilempar kuat ke arah Aldo, "Hei, mesum!"

"Hai!" Aldo menangkap bantal yang dilempar Wita.

"Ada apa?" tanya Aldo pura-pura bingung.

"Berhenti berpikir mesum, Tuan! Jangan coba-coba menggodaku," Wita turun dari ranjang, mengambil boneka beruang besar di sebelah meja rias.

Dipeluknya boneka beruang erat, menutup bagian depan tubuhnya dari tatapan Aldo.

"Cepat, kamu mau ngomong apa?" tanya Wita ketus.

Aldo menghela napas, tersenyum menatap Wita sambil berkata, "Mami tadi telepon, tanya, kita mau honeymoon kemana? Mami dan Papi yang akan memfasilitasi," Aldo menjeda perkataannya, menunggu reaksi Wita.

Wajah istrinya tetap datar dengan tatapan mata judes -nya. Aldo kembali bersuara, " Yaa, mau gimana lagi, salahkan dirimu ...."

"Eh ... emang apa salahku?" Potong Wita cepat, kembali melotot ke arah Aldo.

Aldo tertawa pelan, "Salahmu adalah ..., membuat kedua orang tuaku benar-benar menyukaimu. Dan menganggap kamu layaknya kelinci kecil yang patuh dan imut," ujar Aldo sambil mengamati reaksi Wita.

Blush!

Pipi Wita memanas, gadis itu menyembunyikan wajahnya di punggung boneka beruang.

"Padahal ... Sebenarnya kamu bukan kelinci imut, melainkan anak macan yang garang," lanjut Aldo sambil menghindar dari boneka beruang yang melayang ke arahnya. Tawanya berderai memenuhi Suite Room Hotel Permana.

"Aku tidak mau honeymoon .... Tidak untuk waktu dekat ini. Mama dan papa mengajak Vera berlibur ke London. Mereka berangkat pagi tadi." Suara Wita melemah. Matanya kembali berkaca-kaca.

Kedua lututnya ditarik rapat ke dada, menjadi tempat persembunyian terbaik bagi wajahnya yang sarat kesedihan.

Aldo terdiam. Dia hanya menatap Wita dari tempat duduknya. Tidak memeluk seperti yang sudah-sudah, kali ini ingin memberi ruang waktu untuk istrinya berpikir tenang.

"Baik, Wita. Berpikirlah dengan tenang di sini. Aku tidak akan menggodamu lagi. O iya, soal honeymoon, kita bisa melakukan itu kalau kamu benar-benar sudah siap."

Aldo berdiri, melangkah menuju pintu, "Aku ambil makan siang dulu ya, kita makan di kamar saja siang ini."

Perlahan ditutupnya pintu kamar. Lamat terdengar suara isak tangis Wita dari dalam kamar. Aldo melangkah ke ruang kantornya, yang berada di hotel itu juga.

Matahari perlahan turun, menyentuh garis cakrawala yang tampak jelas dari ketinggian balkon hotel.

Semburat warna jingga, menyebar di kaki langit.

Angin sore berembus pelan, membawa kesejukan yang menyapu permukaan kulit Wita.

Sambil bersandar pada pagar pembatas besi yang terasa dingin, segelas teh hangat di tangan menemaninya memandang riuh jalanan di bawah sana yang perlahan memudar, berganti menjadi latar suara yang samar dan menenangkan.

'Lepas, Ayah. Ini sakit!' kata-kata Azra malam itu selalu memenuhi rongga kepalanya.

Apa hubungan Azra dengan lelaki yang sebelas tahun lalu resmi dia panggil papa?

Bukan hal mudah, menerima Hendra menjadi papa tirinya, tapi karena mamanya butuh pendamping, setelah papa kandungnya meninggal, akhirnya Wita mengalah.

Toh, Wita tidak pernah tinggal serumah dengan mereka. Jadi Wita ikhlaskan mamanya menikah lagi, supaya ada yang membantu mengelola perusahaan juga menjaga Vera dan mama.

Matanya menatap sendu ke arah lazuardi senja. Tangannya mengusap tengkuknya yang mulai terasa dingin. Namun, hatinya enggan beranjak.

Suara pintu balkon digeser. Wita bergeming, dia tahu siapa yang datang. Sepasang tangan menutupkan parka ke tubuhnya.

"Dingin, Wit. Masih ingin berlama-lama disini kah?" tanya Aldo yang berdiri di sebelahnya.

"Hmmm ..." jawab Wita pendek.

Aldo menghirup napas dalam-dalam.

"Wita, aku tahu, butuh waktu bagimu untuk menerima pernikahan ini. Aku akan menunggu sampai saat itu tiba." Aldo menyesap secangkir kopi hangat di tangannya, pandangannya lurus ke jalanan di bawah hotel.

"Aldo ... maaf. Nyatanya, kamu juga harus menerima perjodohan ini demi bisnis. Maaf." ucap Wita pelan, berusaha menahan air matanya yang sudah menggenang.

"Hehehe ...," Aldo terkekeh. "Nggak papa Wit, aku senang-senang aja kok menikah sama kamu."

"Mulai lagi kan. Nggombal terus!" sungut Wita kesal.

Aldo tersenyum. Dia mulai paham, Wita mudah dialihkan dari kesedihan. Hatinya tidak sekeras ucapan dan sikapnya.

"Kita sudah menikah, Wita. Tapi aku akan tetap menghormati privacy-mu. Cuma satu hal yang aku minta, bisakah kita berbagi?"

Wita menoleh ke arah Aldo.

"Berbagi suka dan duka, sesuai ikrar kita saat menikah. Kita coba bersama-sama. Pelan-pelan saja sampai kita terbiasa. Boleh?" tanya Aldo serius.

Mata Wita terkunci tatapan mata Aldo. Untuk beberapa saat dia ragu. Akhirnya refleks, dia mengangguk.

Aldo tersenyum. Dielusnya bahu Wita lembut.

Wita menghela napas panjang, "Papa meninggal ketika aku berumur 6 tahun," matanya menerawang kembali ke langit yang mulai menggelap.

Aldo menatap Wita dari samping. Indra pendengarannya mulai dia aktifkan.

"Tepat tiga bulan setelah Vera lahir. Sakit jantung papa tidak bisa diobati lagi." Wita termenung, berusaha menyusun memori kisah kepergian cinta pertamanya. Orang yang paling dia sayangi dan paling dekat dengannya.

"Masih kelas 1 SD ya waktu itu?" tanya Aldo.

"Hehe ... masih TK! TK Besar."

Aldo mengangguk-angguk.

"Karena saat itu aku masih TK, Vera masih bayi, dan Papa baru meninggal, akhirnya Opa dan Oma mengambil aku untuk diasuh oleh mereka di Guangzhou." Wita meminum hingga habis, tehnya yang sudah dingin.

Aldo merangkul bahu Wita dan mengajaknya duduk di kursi balkon.

"Di sana aku tumbuh besar sampai lulus kuliah kedokteran."

"Oo, jadi kamu tinggal sama Opa dan Oma dari kecil? Apa sekarang beliau berdua masih sehat?"

"Opa sudah wafat, dua tahun setelah aku lulus dari kedokteran. Tinggal Oma, ditemani keluarga adik papa." jawab Wita sambil tersenyum membayangkan keluarga lain yang dirindukannya.

"Di mana mereka? Apakah tidak datang waktu pesta pernikahan kita?" Aldo merubah posisi duduknya, menghadap Wita. Dia merasa bahagia, karena Wita mulai mau bercerita dan terbuka padanya.

"Mereka tinggal di Xinjiang. Mama sudah mengabarkan pernikahan ini dan mengundang mereka. Tapi mereka tidak bisa hadir."

Tiba-tiba Wita menatap Aldo dengan serius.

"Aldo, maukah kau mengantarkanku ke Xinjiang? Aku sungguh merindukan mereka." Wita meminta dengan tatapan penuh harap.

"As you wish, my Queen."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!