Tak pernah aku sangka, kalau dendam yang aku miliki akan membuat aku terjerumus pada cinta laki laki yang menjadi alat balas dendamku.
Pusara dendam yang aku jalani membuatku terikat kuat oleh laki laki milik wanita yang membuat dendamku membara.
Di saat aku memutuskan pergi setelah semua dendam terbalaskan, kakiku malah terikat kuat dan tidak bisa melangkah walaupun satu langkah.
yuuk ikuti ceritanya.....!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeny chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. kelicikan Eduardo
Eduardo langsung mengajak Zavina pulang, sedangkan Narendra saat di ajak dia menolak dan beralasan akan menjemput tunangannya.
"Tenang sekarang?? "
tanya Eduardo saat keduanya masuk kedalam mobil.
"Iya sekarang lebih tenang dan makasih karena kamu mau ikut denganku. "
jawab Zavina dan Eduardo tersenyum mengangguk.
"Kita pulang yaa jangan ke kantor lagi. "
ucap Eduardo dan Zavina langsung menyetujuinya.
Zavina merasakan lega di hatinya karena dia sudah mengenalkan Eduardo pada Daren, Zavina yakin Daren disana menyetujuinya.
"Mau beli makanan dulu apa langsung pulang?? "
tanya Eduardo kembali saat Zavina terdiam menatap jalanan di luar mobil.
"Kayanya langsung pulang saja yaa, sekarang juga sudah mau sore. "
jawab zavina dan Eduardo langsung tersenyum mengiyakannya.
Zavina langsung menatap ke arah suaminya yang sedang menatapnya dengan senyumannya, senyum yang hanya di perlihatkan padanya karena Eduardo akan berubah dingin saat bertegur sapa dengan orang lain.
Tiba di kediaman nya, Eduardo langsung mengajak Zavina masuk ke rumah dan Zavina menggandeng lengan Eduardo saat memasuki rumahnya.
"Menurut kamu, Kak Naren bakal nerima gak yaa?? Aku khawatir deh. "
tanya Zavina dengan nada sedihnya.
"Menerima dan kamu jangan bersedih yaa, Narendra akan menerima. "
jawan Eduardo dengan nada yakin nya.
"Mudah mudahan saja yaa. "
ucap Zavina dan Eduardo mengiyakannya.
Zavina memilih membersihkan tubuhnya duluan karena Eduardo sedang menghubungi orang kepercayaannya yang ada di tanah air.
Zavina membersihkan tubuhnya hanya sebentar dan langsung keluar dari dalam kamar mandi, ternyata suaminya sedang duduk dan kepalanya bersandar sambil menatap ke arah langit langit kamar nya.
"Ada masalah kah?? "
tanya Zavina yang langsung duduk di samping Eduardo membelai pipinya.
Eduardo langsung reflek duduk lalu tersenyum hangat menatap Zavina yang begitu cantik menurutnya, bahkan Eduardo jatuh cinta setiap hari pada sang istri.
"Aku butuh pelepasan Sayang, boleh yaa?? "
jawab Eduardo dengan nada seraknya dan satu yang Zavina lupakan.
Zavina belum sadar kalau dia masih memakai handuk yang melilit di dadanya, hingga Eduardo terpancing dan ingin memakan nya.
"Kamu mesum sekali. "
ucap Zavina yang baru menyadari dirinya namun terlambat karena Eduardo sudah menarik ke atas pangkuannya dan mencium bibir Zavina yang ada di atas pangkuannya.
Zavina tidak bisa berontak karena saat ini tubuhnya terkunci oleh dekapan Eduardo yang begitu mengekangnya, Eduardo kembali mendapatkan keinginannya bahkan Zavina sendiri malah meresponnya.
.
.
Zavina terus mengerucutkan bibirnya karena ulah Eduardo dia kembali mandi dan makan malam pun terlambat, Eduardo yang gemas pun langsung mencium bibir Zavina tapi Zavina malah berbalik menggigitnya.
"Kenapa di gigit Sayang?? "
protes Eduardo saat melepas paksa ciuman nya.
"Sukurin kan semua karena kamu juga, aku tuh lelah tau. Tapi kamu malah memakan aku lagi. "
jawab Zavina dengan nada ketusnya.
"Salah sendiri coba kenapa malah datang ke hadapan suami kamu ini dengan hanya memakai handuk, hayo siapa yang salah?? "
ucap Eduardo dengan senyum mengembangnya dan Zavina hanya mendelik melihatnya.
"Malas debat sama kamu yang super mesum, aku kalah kan jadinya. "
ucap Zavina sambil memakan kembali makanannya.
"Sudah habiskan makannya, menolak tapi mendesah kan itu sangat aneh Sayang. "
ucap Eduardo dengan tangan mengusap rambut Zavina penuh sayang.
"Beruntungnya aku Zavina karena bisa memiliki kamu, wanita dengan sejuta pesona dan kadang sifat manja kamu membuat aku bahagia dan merasa di butuhkan, semoga secepatnya kita di beri kepercayaan dengan hadirnya buah hati agar kamu terkekang selamanya di dalam penjara cinta aku. "
gumam Eduardo dalam hatinya yang begitu bahagia dengan kebaikan Tuhan padanya karena menghadirkan Zavina di kehidupannya yang sekarang.
Setelah makan malam selesai, Zavina langsung menuju kamarnya di ikuti Eduardo dari belakang, untuk pertama kalinya Eduardo tidak membuka pekerjaannya saat akan tidur dan malah duduk bersandar di ranjang dengan Zavina yang bersandar pada dada bidangnya.
"Besok kita pulang ke tanah air?? "
tanya Zavina dengan tangan yang membelai dada Eduardo.
"Hummm.....karena lusa ada meeting penanam saham di perusahaan, kamu ikut pulang jangan tinggal di negara ini sendiri. "
jawab Eduardo yang menikmati belaian istrinya terasa damai sekali baginya.
"Mau menolak juga gak mungkin karena kamu akan memaksa, jadi aku ikut saja. "
ucap Zavina dengan sindirannya yang memang begitulah Eduardo dengan segala kelicikannya.
"hahahhaaa......sepertinya istriku sudah tahu dengan semua trik trik yang biasa aku pakai. "
ucap Eduardo dengan tawanya karena Zavina baginya sangat polos dan begitu membuatnya senang melihat kekesalan sang istri.
Zavina yang nyaman dengan usapan di punggungnya pun akhirnya terlelap, Eduardo langsung membenarkan letak tidurnya lalu menyelimbuti tubuh Zavina sambil mencium puncak kepalanya sebelum dia ikut terlelap.
.
.
Ke esokan harinya......
Zavina mendapatkan telphone dari Narendra yang memintanya bertemu, Zavina menyetujuinnya dan meminta Narendra datang ke perusahaan, Zavina berdoa semoga Narendra menerima permintaannya dan dia akan pulang ke tanah air dengan suaminya dalam kelegaan hatinya.
"Setelah dari perusahaan kita langsung ke Bandara, biarkan Asisten asisten kita yang mengurus berkas berkas Narendra. "
ucap Eduardo di sela sela makannya.
"Iya suamiku dan kira kita Kak Naren mau menerima atau menolaknya menurut kamu?? "
tanya Zavina dengan nada seriusnya.
"Di terima mana mungkin gak mau, lihat saja nanti yaa dan kalau gak menerima kamu harus ikhlaskan Davin untuk memimpin dan urusah perusahaan kamu yang lainnya nanti akan aku siapkan orang kepercayaan aku yang memimpin nya menggantikan Davin. "
jawab Eduardo tak kalah serius nya dan membuat Zavina lega mendengarnya karena suaminya pasti akan melakukan yang terbaik untuknya.
Setelah sarapan selesai, Zavina kembali ke kamar untuk melihat apa ada yang tertinggal atau tidak karena dia dan Eduardo tidak akan kembali lagi ke rumah ini.
Zavina merasa aneh dengan suaminya, apa tidak sayang karena meninggalkan pakaian banyak, terus akan membeli baru lagi kalau mengunjungi tempat lain.
Zavina tidak tahu saja, Eduardo tipekal laki laki yang malas melihat koper dan memilih membeli baru terus meninggalkannya, terasa sangat aneh tapi itulah Eduardo dengan segudang keanehannya.
Zavina kembali ke hadapan Eduardo dengan tas di selempang, Eduardo langsung mengajak Zavina menuju perusahaan karena supir juga sudah menunggu di luar dengan mobil yang sudah siap.
Selama perjalanan menuju perusahaan, Zavina malah bersandar dan menutup matanya pada lengan suaminya, Eduardo tidak merasa terganggu karena dia senang Zavina seperti ini, yang artinya Zavina bergantung padanya saat ini bahkan selamanya.
"Bangun sayang.......sudah sampai dan kita harus ke ruangan kamu sekarang, Narendra sepertinya sudah sampai loh. "
ucap Eduardo dengan tangan mengusap lembut pipi Zavina.
Zavina langsung membuka matanya dan mengedarkan pandangannya ternyata mobil sudah sampai di depan lobi utama perusahaannya.
.
.
Bersambung.......
mau mau minuman yang putih kental darimu....
🤣🤣🤣🤣🤣