Bagaimana jadinya jika istri sah menjadi seorang pelakor, hanya karena ingin balas dendam pada sang suami?
Kaira wanita malang yang dibunuh dan dikubur hidup hidup oleh suaminya, kini menaruh dendam yang tak bisa di kendalikan.
Setelah pembunuhan itu terjadi, kaira masih bisa bertahan hidup karena Gina, sang sahabat yang menolongnya di waktu yang tepat.
Jika Gina tak datang mungkin Kaira sudah mati dengan perut yang ditusuk pisau dan suluruh tubuh yang tertibun tanah.
Setelah kejadian pembunuhan, Kaira kini merubah diri, ia sengaja melakukan operasi wajah dan seluruh badan agar terlihat seperti gadis pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Arip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Iya, saya. "
Sosok dokter yang menangani Gina, kini menyuruhku untuk ikut dengannya.
"Bisa ikut saya sebentar?"
"Ya, dok!"
Mengikuti langkah sang dokter, masuk ke ruangan, aku berharap tidak terjadi hal yang fatal pada Gina.
"Silahkan duduk. "
Aku mulai duduk dengan perasaan tegang, menghela napas, berusaha tetap tenang. Dokter mulai menunjukkan sebuah kertas putih untuk aku tanda tangani. Sebelum menandatangani kertas itu, aku mulai bertanya pada dokter, akan kondisi Gina saat ini.
"Bagaimana dengan kondisi sahabat saya, dok?"
Kedua mata dokter terlihat sayu, ia menundukkan pandangan, " Pasien Gina mengalami trauma berat, karena banyak luka pada badan dan sobekan pada daerah kewanitaan. "
Deg ….
"Jadi Gina mendapatkan tindak kekerasan seksual?"
"Seperti itu!"
Bolpoin yang aku pegang terjatuh ke atas lantai, tangan bergetar membuat aku tak bisa mengendalikan diri.
"Sekeji itu, Gunawan. "
"Apa anda baik baik saja. "
"Ah." Perlahan kuusap kasar air mata yang terus mengalir dengan punggung tanganku, membaca setiap baris kata yang tertera pada kertas putih.
"Operasi."
Baru saja mengatakan kata operasi, dokter kini berucap, " Ya kami akan melakukan tindakan operasi, untuk menyelamatkan masa depan pasien. "
Semakin mendengar tutur kata dokter dan penjelasannya, membuat aku merasa bersalah.
"Kenapa semua ini harus terjadi padamu Gina."
Menghela napas, aku mulai mengambil bolpoin di atas lantai. Menandatangani lembaran kertas berwarna putih itu.
"Jadi kapan, operasi dilakukan. "
"Secepat mungkin. "
"Boleh saya menemui Gina. "
Dokter menganggukkan kepala, dimana ia memberitahu untuk tidak membahas. Siapa orang yang sudah melakukan pemerkosaan kepada Gina.
Aku mulai melangkahkan kaki untuk segera menemui Gina, membuka pintu ruangan sang sahabat.
Gina tampak duduk merenung menatap jendela di ruangannya.
"Gina."
Aku mencoba memanggil nama -nya berharap jika Gina langsung merespon panggilanku.
Gadis itu tak menatap ke arahku sama sekali, ia tetap saja diam, sembari menitihkan air mata perlahan demi perlahan.
"Gina."
Aku semakin mendekat ke arahnya, memegang kedua bahunya dengan menyapa, " Gina. "
Gadis itu pada akhirnya melirik ke arah wajahku, " Kaira."
Senyuman yang biasa diperlihatkan Gina, kini memudar membuat aku berusaha merayunya.
"Gina, apa kamu baik baik saja. "
Menyunggingkan bibir, Gina tampak terlihat sinis, ia seperti orang asing saat didepanku.
"Gina?"
"Iya!"
"Maaf."
Gina melirik ke arahku sekilas, dimana ia tiba tiba berteriak tanpa alasan yang jelas. Aku yang berada dihadapannya panik.
Memegang kedua bahu gadis itu dengan berkata, " kamu tenang ya, kamu harus tenang. "
Padahal aku tidak membahas apapun pada sahabatku ini, hanya menyapa saja, tapi ia terlihat begitu agresip.
"Kalian, kalian sudah membuat aku terluka, menyingkir. "
Teriakan berulang kali dilayangkan Gina, membuat aku tak bisa mengendalikan dia, kenapa ini terjadi pada Gina, kenapa tidak padaku saja.
"Kalian, pergi. "
Trauma yang dialami Gina sangatlah menyakitkan, apalagi dia seorang gadis yang sebentar lagi bertembuh dewasa.
"Pergi."
Teriakannya, mengundang para perawat berlarian, membuat aku yang ada di ruangan Gina hanya menangis, terisak isak. Menahan rasa sesak di dada.
"Gina."
Setiap kali memanggil namanya, ia seperti tak suka, membuat ia berteriak menyuruhku untuk pergi dari hadapannya.
" Maaf bu, anda sebaiknya keluar dulu, pasien sepertinya tak ingin diganggu. "
"Baiklah."
Aku hanya bisa menurut dengan hati rapuh, berjalan pergi meninggalkan ruangan sang sahabat.
"Maafkan aku Gina, karena aku kamu jadi seperti ini. "