[New York Series - 1]
Rafael Alexander-The perfect CEO. Tampang, harta, muda, dan berbakat, bisa membuat setiap orang jatuh hati dengan lirikannya, membuat Rafael digila-gilai seluruh wanita di penjuru kota New York.
Alexa McBride-Seseorang yang bekerja di sebuah penerbit buku kecil harus mengalami hal yang sangat dia benci, yaitu berhubungan dengan Rafael Alexander. Meskipun semua orang mencintainya, tapi Alexa tidak. Dia hanya terobsesi dan bukan mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alviona27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 - Comeback
Meskipun Alexa sudah memukul dan mencurahkan semua rasa kesal dan marahnya kepada Rafael. Tapi, tetap saja, Alexa masih mengabaikan Rafael.
Rafael sudah sangat frustasi, dia bahkan ingat kata-kata Mia, kalau Alexa sudah marah atau kecewa, pasti akan sangat susah untuk membujuknya kembali, dan sekarang Rafael percaya ucapan Mia.
"Hari ini aku akan pergi dengan Mia," ucap Alexa datar.
"Tidak! Kau tetap disini."
Tatapan kesal dan marah Alexa langsung menyerang Rafael. "Apa kau pikir aku ini adalah sanderamu?"
"Iya ... kita harus ke rumah sakit hari ini, Ryan dan Rebecca sudah ada disana."
"Kau bisa pergi sendiri, dan aku akan menyusul setelah aku bertemu Mia."
"Jangan membantah ucapanku, Lexa!" ucap Rafael tegas membuat Alexa bungkam, dan ikut saja apa yang dikatakan oleh Rafael.
"Jangan mendiamkan aku seprti ini ... aku tidak suka," ucap Rafael saat mereka sudah berada di dalam mobil, Alexa mengabaikan Rafael dan lebih memilih melihat ke arah jendela.
Rafael yang sudah tidak tahan lagi, menarik dagu Alexa hingga dia menoleh kerah Rafael, dan Rafael dengan segera langsung mencium bibir Alexa. Alexa sudah meronta untuk melepaskan ciuman dari Rafael, tapi lama-kelamaan Alexa mengikuti alur yang dibuat oleh Rafael, dan membalas ciumannya.
"Maaf, Tuan. Kita sudah sampai," kata Robert membuat Rafael dan Alexa terpaksa berhenti melakukan hal intim itu, dan segera keluar dari mobilnya menuju ke ruang inap Antonio.
Kalau diingat kembali, Alexa marah karena ucapan Ethan yang mengatakan kalau dia tidak mencintai Alexa. Pikiran itu membuat senyum Rafael mengembang, Rafael sangat yakin itu adalah rasa cemburu, berarti Alexa menyukai Rafael dan tinggal satu lamgkah lagi membuat Alexa benar-benar mencintainya dan Alexa benar-benar menjadi milik Rafael.
"Kau tahu, Lexa," Rafael menunduk sedikit agar sejajar dengan wajah Alexa kemudian dia mendelatkan kepalanya ke teling Alexa. "Aku sangat dan sangat mencintaimu."
Rafael segera membuka pintu dan memegang pinggang Alexa untuk masuk kedalam kamar inap Antonio. Saat sudah berada di dalam kamar Antonio, Rafael dapat melihat semua temannya beserta Ryan dan Rebecca yang sudah kembali dari Madrid.
"Becky," teriak Alexa senang kemudian dia memeluk Rebecca uang juga ikut senangnya seperti Alexa. "Aku merindukanmu."
"Aku juga," Rebecca membalas pelukan Alexa. "Apa ada masalah dengan Kakakku itu?"
"Ya ... begitulah, aku tidak ada teman cerita selain dirimu. Aku ingin menceritakan semua hal denganmu."
"Kapanpun kau mau, Kak Lexa," Rebecca tersenyum kemudian dia meninju bahu Rafael dengan keras sehingga membuat Rafael mengadu kesakitan. "Dasar ********!"
"Apa?!" teriak Rafael marah. Benarkah? Adiknya barusan mengatakan kalau Rafael ********? Oh God ... apa Alexa menceritakan semua hal kepada Rebecca?
"Lebih baik kau tidak perlu menikah," Rebecca berkata datar hingga membuat suasana di dalam kamar Antonio menjadi sunyi dan menatap kearah Rebecca. "Kau tidak bisa menjaga janjimu sendiri Kak Rafael."
Rebecca berjalan keluar meninggalkan kamar Antonio, Alexa merasa tidak enak dengan apa yang diucapkan oleh Rebecca barusan. Saat Rebecca keluar, tatapan berganti kepada Rafael, mereka semua menatap Rafael bingung—kecuali teman-teman Rafael dan Alexa.
Mengabaikan semua tatapan yang diberikan oleh orangtuanya dan Ryan, Rafael langsung berlari keluar menyusul Rebecca yang sedang berjalan kearah rooftop.
"Becky," Rafael melangkah dengan anggun menghampiri Rebecca yang sedang berdiri sambil melihat kearah depan. "Ada apa denganmu?"
"Why? Aku tidak apa-apa," ucap Rebecca datar tanpa mengalihkan pandangannya "Aku menyukai Kak Alexa, hanya itu. Aku tidak mau dia menangis karena kau, Kak Rafael."
Dan itu adalah sebuah kejadian langka, mengingat Rebecca sangat-sangat tidak suka dengan semua wanita yang dekat dengan Rafael, bahkan dirinya memilih langsung dengan wanita itu dan mengatakan untuk menjauhi Rafael kalau tidak mau hidup wanita itu hancur berkeping-keping.
Lihat sekarang, Rebecca sangat menyukai Alexa, bahkan dia tidak ingin melihat Alexa menangis karena Rafael. Tersenyum senang, Rafael mendaratkan tangannya diatas kepala Rebecca dan mengelus rambutnya naik turun.
"Apa Alexa menceritakan semuanya kepadamu?"
"Iya, bahkan dia menceritakan awal kalian bertemu. Di penthouse Kak William. Bukan begitu?"
Entahlah, Rafael tidak habis pikir. Kenapa Alexa begitu terbuka dnegan Rebecca dan sangat tertutup dengan Rafael. Apakah Rafael terlihat seperti orang yang tidak menyimpan rahasia?
"Apa lagi yang dia ceritakan kepadamu?"
Rebecca langsung menatap Rafael dengan tatapan marah dan kesalnya. Kemudian memghempaskan tangan Rafael yang ada di kepalanya. "Pikirkan sendiri. Kenapa bertanya denganku?!" Rebecca pergi meninggalkan Rafael yang termenung sendiri.
* * *
"Apa Becky benar-benar marah?" tanya Alexa khawatir, dan itu adalah kalimat pertama yang keluar dari bibir cantiknya itu disaat Rafael berusaha untuk membuat Alexa berbicara.
Rafael langsung memeluk Alexa dan menciumi pucuk kepala Alexa. Dan memeluk Alexa adalah suatu hal yang sangat nyaman menurut Rafael untuk dilakukan setelah bertengkar aneh dengan adiknya sendiri. Bahkan untuk pertama kalinya Rafael bertengkar dengan Rebecca.
"Tidak, dia tidak marah. Hanya kesal," ucap Rafael menenangkan yang masih saja memeluk Alexa. "Aku mencintaimu."
"Dan kau berkali-kali mengucapkan dua kata yang membuatku bosan."
Rafael terkekeh tanpa melepaskan pelukannya. Biarkan mereka seperti ini, toh mereka sedang ada di mansion Rafael, jadi tidak ada yang akan menganggu mereka berdua.
"Fael ... I'm coming," Alexa segera melepaskan pelukannya saat mendengar suara Olivia yang berteriak. "Oh, Fael. Kau punya tamu? Aku sangat meridukanmu, kau tahu?" Olivia langsung mendekat kearah Rafael, melingkarkan tangannya di leher Rafael, dan mengecup singkat pipi Rafael mengabaikan Alexa yang terpaku di tempatnya, menatap langsung apa yang dikatakan oleh Ethan memang benar adanya.
Dan benar, itu adalah Olivia. Olivia yang punya cita-cita sebagai model dan Olivia yang sering membawakan nasi goreng buatan Ibunya kepada Alexa.
"Olivia?" suara Alexa membuat Olivia melepaskan lingkaran tangan di leher Rafael dan menatap Alexa, dan seketika Olivia terdiam. "Apa kau benar Olivia yang sering membawakanku nasi goreng?"
"Alexa?"
Alexa mengangguk, tapi tidak bisa tersenyum layaknya seorang teman yang senang saat teman lamanya kembali. Alexa tidak seperti itu saat melihat Olivia, yang Alexa lakukan hanyalah menatap datar Olivia tanpa memperdulikan tatapan bingung dari Rafael.
"Kenapa kau kesini?" tanya Rafael kesal. Rafael harus memecat orang yang menjaga gerbang rumahnya, menyuruh Olivia masuk adalah kesalahn yang fatal. "Ada perlu apa? Oh, jangan sebut dia tamu disini tamu adalah kau."
Alexa masih diam mendengarkan saja apa yang Rafael katakan, tetapi Olivia menatap Alexa dan seperkian detik kemudian Olivia langsung memeluk Alexa membuat Alexa bingung, mereka dulu dekat, tetapi tidak seperti kedekatannya dengan Mia. Mereka hanya dekat saat berada di kampus. Hanya itu.
"Aku merindukanmu, Alexa," ucap Olivia membuat Alexa tercengang, bahkan Rafael menatap Olivia datar. "Kau tahu, setelah kita lulus, dan aku lamgsung pergi ke Hollywood. Aku tidak bisa mendaptkan kontakmu. Aku merindukanmu."
Alexa hanya dia bergeming menatap Olivia. Ini memang sebuah teman yang merindukan teman lamanya atau Olivia ingin Rafael kembali disisinya dengan memanfaatkan Alexa? Alexa tidak tahu saat ini, jelas-jelas Alexa tidak bisa percaya disaat Olivia adalah mantan pacar—atau mungkin mantan tunangan Rafael.
Olivia menatap Alexa dengan mata berkaca-kaca, kemudian dia menatap kearah Rafael, setelah beberapa detik Olivia menatap Rafael, dia langsung pergi meninggalkan mansion Rafael.
"Aku juga sangat merindukanmu, Fael," lirih Olivia sambil menghapus bulir air mata yang jatuh di pipinya dan melamgkah jauh meninggalkan mansion Rafael.
TBC
knp jd k Riyan sih marahy .