~NOVEL KE 7~
Ini adalah kisah tentang Sundari. kehidupan harmonis nya bersama sang suami, Atmaja, mulai diuji ketika sang suami di PHK dari tempat kerja nya.
Atmaja yang penyayang mulai berubah perangai jadi seorang yang pemarah.
Ditambah Atmaja pun mulai gemar berjudi. Sehingga hutang nya kepada rentenir pun perlahan menumpuk dan kian menumpuk.
Percekcokan pun mulai sering terjadi dalam keluarga kecil tersebut.
Bagaimana kelanjutan kisah nya? mampu kah Sundari bertahan? Terlebih ia memiliki Yuna dan juga calon bayi dalam perut nya.
***
kembali tersebar soundtrack karya mel dlm novel ke 7 ini.
1. "Mama" by Mel di eps. 6
2. "Tidurlah, Nak!" by Mel di eps. 16
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menutup Hati
Setelah pertengkaran besar pada Minggu siang itu, Atmaja pergi keluar entah ke mana.
Yuna yang baru pulang dari bermain pada sore hari nya, tak mengetahui kalau hubungan di antara Mama dan Papa nya kembali diterpa badai hebat.
Meski begitu, Yuna menangkap gelagat ganjil dari sang Mama. Terlebih saat dilihat nya salah satu pipi sang Mama membengkak.
"Mama..! Pipi Mama kenapa??" Tanya Yuna dengan raut khawatir.
Sundari menatap wajah polos sang putri. Dan ia sungguh ingin sekali merebahkan tubuh nya sambil memeluk putri nya itu.
Ia ingin meminjam kekuatan pada putri nya, karena saat ini Sundari merasa dirinya begitu terpuruk. Keterpurukan yang lagi-lagi disebabkan oleh ulah sang suami, Atmaja.
"Ma.. pipi Mama seperti ada gambar tangan nya. Ini.. Mama marahan lagi ya sama Papa? Apa Papa pukul Mama?" Tanya Yuna takut-takut.
Spontan, Sundari langsung menggelengkan kepala nya berkali-kali.
Ia sungguh ingin menutupi luka dan derita nya dari sang anak. Tak ingin ia biarkan anak nya tahu kepelikan yang sedang menimpa bahtera rumah tangga nya saat ini. Yuna masih terlalu kecil untuk mengetahui masalah di antara Papa Mama nya.
Sundari masih berharap agar ia bisa menyelesaikan perkara nya dengan Atmaja secara baik-baik. Namun, Sundari tak bisa mengatakan apa-apa untuk menenangkan hati sang putri.
Ia hanya mampu memeluk Yuna erat, sambil menangis dalam diam untuk waktu yang cukup lama. Dan Yuna pun membiarkan sang Mama memeluk nya seperti itu.
Tak ada kata-kata yang terdengar dari mulut keduanya selama beberapa menit berikut nya.
Bahkan hingga keduanya diusik oleh panggilan dari depan rumah mereka.
"Assalamu'alaikum!" Sapa suara dari depan rumah.
Sundari melepas pelukan nya pada tubuh Yuna. Terlebih dulu berdehem demi melancarkan tenggorokan nya yang sempat tercekat. Barulah kemudian ia menjawab salam seseorang yang bertamu di depan rumah nya saat itu.
"Wa'alaikum salam warohmatullah!! Ya! Sebentar!" Sahut Sundari langsung berdiri dan melangkah menuju pintu depan. Menjumpai tamu mereka.
Yuna yang penasaran, kemudian mengikuti langkah Sundari dari belakang. Namun ia tak sampai mengikut ke depan rumah. Remaja itu hanya berjalan sampai ke area ruang tivi saja untuk mengintip siapa tamu yang datang ke rumah nya pada sore hari itu.
Dan ternyata, dia adalah Paman Bayu. Sepupu jauh dari ibu nya.
Yuna lalu menyiapkan telinga nya untuk menguping pembicaraan Mama dan Paman Bayu nya itu.
"Silahkan duduk, Mas. Ehem! Ada apa ya. Mas Bayu ke sini?" Tanya Sundari dengan suara pelan.
Wanita itu tak berani menatap mata Bayu secara langsung. Tadi pun ia sudah menguraikan rambut panjang nya agar menutupi area pipi kanan nya yang masih membengkak akibat tamparan dari tangan Atmaja.
"Mas ke sini karena Mas mendengar kalau kamu ribut lagi sama Atmaja. Apa itu benar, Ndar?" Tanya Bayu dengan raut khawatir.
Mata Sundari sekilas sempat terangkat dan bertatapan dengan mata Bayu. Namun ia buru-buru mengalihkan pandangan nya lagi ke arah yang lain.
"Itu.. Maaf. Ndari rasa itu masalah pribadi kami. Jadi Mas gak perlu tahu soal itu," elak Sundari menutup diri.
Bayu tertegun diam. Ditatapnya wajah Sundari lekat-lekat. Dan ia sempat dibuat heran dengan sikap sundari yang tak biasanya menguraikan rambut hingga hampir menutupi sebagian wajah nya. Seolah-olah wanita itu seperti sedang menutupi sesuatu.
Mata Bayu memperhatikan lebih seksama lagi ke sosok wanita di hadapan nya itu. Dan, sekilas, ia bisa melihat lebam merah di bagian pipi Sundari yang tertutupi rambut.
"Ndari! Apa itu di pipi mu? Ku seperti nya terluka?" Tanya Bayu sambil mengulurkan tangan nya ke wajah Sundari.
Lelaki itu bermaksud untuk membuka tirai rambut Sundari yang menutupi sebagian wajah nya. Namun gerakan tangan nya itu terhenti oleh sebuah suara yang lewat di depan rumah Sundari.
"Cih! Nuduh aku murahan! Tapi dia sendiri juga murahan! Suami pergi keluar, dia nya malah asik-asikan sama suami orang! Dasar pela cu* murahan!" Hina Hera yang lewat di depan rumah Sundari.
Wanita itu seperti biasa tampil dengan gaun slimfit yang menampakkan kaki jenjang serta tubuh nya yang sintal. Ia membawa kantong kresek hitam, yang Bayu duga berisi dua buah botol miras. Karena ia sempat melihat merek topi pada bagian atas botol tersebut. Sebuah merek yang terkenal menjual minuman-minuman keras untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah.
Saat itu, waktu sudah berada di penghujung sore. Langit pun mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan.
Kemunculan Bayu di waktu menjelang maghrib itu memang mengundang curiga tak hanya Hera saja. Namun juga beberapa pasang mata lain yang melihat ia dan Sundari berbincang di teras rumah wanita itu.
"Hera! Jaga ucapan mu! Sundari tak seperti yang kau katakan!" Tegur Bayu seketika.
"Halah! Kau sih sudah jelas akan membela nya, Bay! Kau kan memang menyukai sepupu mu itu, bukan?" Tuding Hera lebih lanjut.
"Hera! Jaga mulut mu! Aku sudah menikah! Jadi aku tak mungkin berkhianat pada istri ku!" Kecam Bayu sambil berdiri tiba-tiba.
"Lalu apa perlu nya kau di waktu seperti ini berkunjung ke rumah Sundari? Mana Atmaja? Ku dengar dia habis bertengkar dengan Sundari. Jadi mestilah Sundari hanya sendirian saja kan di rumah nya. Lalu sekarang kau datang ke sini, jangan bilang hanya untuk menghibur nya hah?! Omong kosong! Kalian pasti hendak berbuat mesum kan?!" Tuding Hera dengan asal.
Kedua mata Hera terlihat sedikit merah. Bayu menduga kalau Hera sedang dalam kondisi setengah mabuk.
Meski Bayu tahu kalau ia tak seharusnya meladeni ucapan Hera. Tapi tetap saja. Tudingan Hera terhadap integritas dirinya dan juga Sundari itu sungguh kelewatan.
"Kau seperinya harus pulang dan membenamkan kepala mu itu di bak, Her! Kau terlalu mabuk, hingga bersikap seperti orang gila yang asal main tuding ke sembarang orang!" Tegur Bayu mengingatkan Hera.
"Cih! Bilang saja kalau kalian ingin dua-duaan! Tak perlu mengusir ku! Aku juga sudah ingin pergi kok dari sini! Tak tahan aku mencium bau busuk dari wanita yang suka main serong di belakang suami nya. Seperti, Sundari ini!" Umpat Hera lalu berlalu pergi begitu saja.
"Hera!!"
Panggilan Bayu yang emosional tak digubris oleh wanita itu. Hera terus saja melajukan langkah nya ke depan dengan sedikit terhuyung.
Benar kiranya tebakan Bayu tadi. Bahwa wanita itu memang sedang dalam kondisi setengah mabuk.
Kemudian Bayu kembali duduk dan memperhatikan Sundari lagi.
"Jangan diambil hati ucapan wanita itu, Ndar. Dia itu mabuk. Jadi.."
Ucapan Bayu terpotong tiba-tiba oleh Sundari.
"Hera ada benar nya, Mas. Tak sepatut nya Mas berada di sini saat ini. Ndari gak mau tetangga salah paham tentang kita. Kasihan istri Mas kalau sampai termakan hasutan orang-orang. Jadi, pulanglah, Mas!" Usir Sundari secara halus.
Wanita itu lalu beranjak berdiri dan hendak meninggalkan Bayu begitu saja. Tubuh nya begitu letih. Seletih hati dan pikiran nya saat ini yang sungguh membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
Pertanyaan dan perhatian dari Bayu tak membuat nya merasa lebih baik. Yang ada justru Sundari semakin terpuruk dalam rasa penyesalan.
Sebersit penyesalan yang perlahan mulai muncul di benak wanita itu.
'Jika saja dulu aku menerima cinta Mas Bayu.. mungkin..' gumaman Sundari itu buru-buru ditepisnya menjauh.
'Ah! Apa yang ku pikirkan? Tak sepatutnya aku berpikiran seperti itu!' tegur Sundari pada dirinya sendiri.
"Ndar..baiklah. Mas pulang dulu ya," pamit Bayu pada akhirnya.
Sundari tak menoleh ke belakang untuk melihat kepergian Bayu. Wanita itu langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintu nya rapat-rapat. Ia juga menutup hati nya sekaligus dari perhatian orang-orang yang tak dibutuhkan nya pada detik ini.
***
perkedel jagung tapi
semangat menulis 🤗
ma'af baru mampir 😟
semangat, q ksih kmbang sepatu 🌺 y