NovelToon NovelToon
Tak Akan Aku Biarkan Kau Ambil Suamiku, Mbak!

Tak Akan Aku Biarkan Kau Ambil Suamiku, Mbak!

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: Aryani Ningrum

Laras demi membahagiakan ibunya yang menginginkan cucu, rela menerima suami temannya yang dijadikan barang jaminan agar bisa mendapatkan uang yang banyak.

Seiring berjalannya Waktu, Laras benar-benar jatuh cinta pada suami jaminannya yang bernama Rayyan. Demikian pula Rayyan yang ternyata amnesia karena kecelakaan dan ditemukan oleh istri pertamanya( Naya) ia jatuh cinta pada Laras.

Mengetahui suaminya ternyata kaya raya, Naya ingin kembali pada suaminya dan melakukan berbagai usaha untuk memisahkan Rayyan dan Laras.

Akankah Laras bahagia dengan Rayyan? Siapakah yang akan dipilih Rayyan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.1 Permintaan Aneh Emak

Bab 1. Hinaan Tetangga.

"Mas aku menginginkan anak dari mu demi emak, Mas. Walau hanya suami kontrak aku rela mengasuh sendiri anak itu, saat nanti kontrak kita habis dan kau pergi meninggalkan aku," ucap Laras menatap sayu pada lelaki tampan yang kini berstatus sebagai suaminya itu. Saat ini diri wanita itu dalam kondisi naik syahwatnya karena pengaruh jamu yang setiap hari ia minum.

"Apa kau yakin, Laras? Apakah kau tidak menyesal?" tanya lelaki itu menatap penuh gejolak karena juga pengaruh dari jamu perkasa yang dibuat oleh ibu mertuanya.

"Iya, Mas. Aku yakin dan aku siap mengasuh anak kita walau itu harus seorang diri."

"Laraaas ...."

"Maas Rayyan ...."

"Aduh! Sakiiit ...!" pekik Larasati sembari mencengkeram kain yang menjadi penutup kasur empuknya.

"Mbak Laras, mbak baik-baik saja?" Rayyan menghentikan gerakkannya saat Laras memekik sakit. Ternyata sesakit itu hilang mahkota kesucian seorang wanita.

"Iya sakit, Mas. Kenapa besar sekali?!"

"Maaf, dulu enggak begini. Semua ini gara-gara emak kamu," jawab Rayyan tidak bisa ia cabut karena sempit dan sepertinya terjepit.

"Eh, Mas Rayan. Mmm ... Tidak apa-apa kok?" ucap Larasati malu-malu, dia mulai merilekskan dirinya agar bisa membuahkan hasil untuk sang emak. Mereka berdua adalah sepasang pengantin baru yang menikah mendadak karena sebuah perjanjian gadai suami.

Laras menikah dengan Rayyan hanya untuk bisa membuat ibunya bahagia. Namun keinginan sang ibu agar Laras menikah bertambah menjadi Laras harus punya anak. Barulah sang ibu akan tenang dan tidak mencoba bundir lagi.

Degh!

Degh!

Dada Rayyan juga bergemuruh hebat, sepasang pepaya putih menantang dan yang ia pikirkan saat ini adalah apakah Rayyan mampu menjadi perkasa, setelah minum jamu karena saat bersama Naya istri pertamanya dia tidak bisa bertahan lebih dari lima menit. Membuat Naya malas dan tidak hamil sampai saat ini.

"Kita berusaha bersama ya, Mbak. Aku akan pelan-pelan dan semoga jamu emak berkhasiat. Aku berjanji akan bertanggung jawab pada anak ini dan juga mbak nantinya. Aaakh ...." Rayyan kembali mendapatkan tenaganya dan berusaha untuk mempertahankannya agar Laras bisa mencapai puncak dan menjadi wanita yang bisa terpuaskan kebutuhan batinnya.

Alunan suara syahdu mendayu memenuhi ruangan itu, di malam yang dingin diiringi hujan dan petir yang menjadi saksi. Keduanya larut dalam deburan ombak kenikmatan surgawi hingga berakhir pagi hari menjelang subuh.

"Terima kasih, Mas. Semoga benih ini berkembang di rahimku. Sebelum setahun aku harap dia bisa lahir ke dunia ini agar aku tidak kesepian saat ditinggal oleh mu kembali pada mbak Naya," ucap Laras sembari mengusap keringat di dahinya.

Cup!

"Sudahlah, masalah itu pikirkan belakang saat ini aku hanya ingin menjadi suami mu seorang." Rayyan mengecup kening sang istri lalu tertidur pulas, dia merasa lega karena keperkasaannya telah teruji bersama Laras. Sindiran dan nyinyiran Naya -- istri pertamanya bisa ia patahkan berkat emak Harti--ibu Laras.

***

Larasati wanita berusia 29 tahun, dengan wajah cantik alami, hidung mancung, bulu mata lentik dan dagu yang membelah. Semua itu membuat Larasati menjadi pujaan kaum Adam saat dirinya masih berusia 20 tahun.

Cita-cita Larasati untuk bisa sukses, menyekolahkan adik-adiknya, memberi kehidupan yang layak untuk keluarga kecilnya membuat Larasati melupakan kalau umurnya sudah tertinggal jauh dengan teman sebaya yang sudah berumah tangga dan memiliki anak.

"Mbak Laras, kapan mbak nikah? Mbak ini cantik, dan sukses. Sudah banyak cabang butik yang mbak punya. Mengapa belum juga menikah? Pemuda seperti apa yang mbak cari sih? Banyak lho pelanggan yang mengira mbak laras ini sudah bersuami," ucap Gea -- asisten Laras.

"Sebentar lagi, Gea. Kalau sudah ada jodohnya, pasti aku akan menikah juga. Biarkan orang mau bilang apa, yang penting ketiga adikku lulus kuliah dengan nilai yang sempurna terlebih dahulu," jawab Laras seperti itu terus setiap kali ditanya tentang kapan ia akan menikah.

Laras tersenyum mengingat bagaimana sang sekretaris selalu menanyakan hal yang sama, belum lagi sang ibu yang terus mendesaknya untuk menikah.

"Nduk, Laras. Ibu sudah tua, adik-adikmu sudah menikah semua, mengapa kau sendiri tidak segera menikah? Apa harus nunggu emak ini meninggal baru kamu mau menikah?" ujar sang ibu dengan wajah yang serius dan terkesan frustasi. Ibu mana yang tidak akan sedih jika anak perempuannya belum menikah juga di usia menginjak kepala tiga.

"Ealah, Mak. Wong belum ada yang mau sama Laras. Apa Laras harus bikin pengumuman di media masa kalau Laras sedang mencari suami?" jawab Laras bercanda. Dia sudah jengah mendengar desakan sang ibu terus menyuruh dirinya menikah.

Mak Harti- ibu kandung Laras mencebik kesal, mendengar jawaban yang keluar dari mulut sang anak perempuan.

"Baiklah, Laras! Jika satu Minggu emak tidak dapat menantu, emak pastikan emak akan mogok makan!"

"Bukannya emak dah sering begitu, endingnya emak makan juga, karena gak bisa tidur kalau kelaparan! Mau ancem gak mau minum obat? Lah emak kerasa encok sedikit dah langsung minum tuh obat. Mau ancem Laras masuk sumur? Tuh sumurnya dah Laras ganti jadi pakai PAM! Gak ada yang bisa emak lakukan kan?" Laras tersenyum sinis, ancaman sang ibu tidak mempan untuknya.

"Duh! Gawat ... Tidak mempan ternyata! Baiklah aku akan keluarkan jurus pamungkas! Kali ini tidak boleh gagal lagi!!" ucap Mak Harti di dalam hati, menyusun rencana yang kali ini tidak boleh gagal.

Mak Harti ke dapur mau ambil pisau untuk menyayat pergelangan tangannya, seperti yang pernah dia ancamkan pada Laras tapi gagal karena takut lihat darah. Namun, tidak ada pisau satu pun yang ada di dapur, semua sudah dimasukkan ke dalam laci dan kuncinya dipegang oleh Laras.

"Mau kemana, Mak? Pisau sudah Laras simpan dalam laci!" teriak Laras sambil menunjukkan kunci laci dapur. Laras mengerling penuh kemenangan.

"Hmm ... Tidak ada pisau! Baiklah aku pakai itu saja!" ucap Mak Harti tidak mau kehilangan akal, pokoknya dia harus bisa membuat sang putri mau menuruti semua permintaannya.

Mak Harti berjalan lurus ke belakang, dan berbelok menuju tangga darurat lalu menghentakkan kakinya menapaki satu persatu tangga.

Laras menengok ke arah dapur, tapi ibunya sudah tidak ada. Dia pun bergegas bangkit dari duduknya untuk mengejar sang ibu. Laras takut terjadi sesuatu pada ibunya yang nekat itu.

"Mak ... Emak, dimana?!" teriak Laras khawatir tidak mendapati sang ibu di dapur. Laras berlari ke arah tangga darurat, dia berusaha mengejar ibunya. Entah mengapa Mak Harti begitu bersikeras ingin segera punya cucu.

1
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!