Abiseka Bagaskara X Arabella Chalinda
Abi, seorang Presiden Mahasiswa di salah satu kampus ternama. Bukan hanya jabatan yang membuat dia digandrungi banyak wanita, tapi ketampanan dan juga wibawanya membuat dia memiliki nilai plus. Tak sampai di sana, sikapnya yang ramah pada semua orang mampu membuat setiap orang yang dia dekati percaya dengan kata-katanya.
Sementara Ara adalah kebalikan dari Abi. Gadis yang tak suka berinteraksi dengan orang itu terpaksa harus mengikuti sebuah organisasi yang diketuai oleh Abi. Dari sanalah awal mula dia terjebak perasaan dengan Sang Presiden Mahasiswa.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Apakah Abi akhirnya akan melabuhkan hatinya pada Ara? Atau malah mencampakkan Ara yang telah jatuh sejatuh-jatuhnya padanya?
Nantikan kisah mereka hanya di sini!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zzykldn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deep Talk
Abi masih menunggu Ara yang katanya sedang bersiap-siap. Hari ini mereka memiliki janji untuk jalan-jalan sebelum besok mereka harus mengeksekusi kegiatan mereka.
"Udah, yuk!" ajak Ara yang baru saja keluar dari rumahnya.
Abi menoleh dan melihat kekasihnya sudah siap dengan penampilan santainya.
Mereka tak memiliki tujuan saat ini, Ara bilang dia hanya ingin berputar naik motor bersama Abi.
"Yuk. Udah bilang sama Bunda?" tanya Abi mengingatkan.
"Udah." Abi mengangguk saat dia telah mendapatkan jawaban dari Ara.
Mereka pergi meninggalkan halaman rumah Ara. Sebenarnya Abi tak begitu senang bisa bepergian dengan Ara.
Rasanya hampa dan serasa sedang pergi dengan teman saja.
"Bi!" teriak Ara dari belakang karena Abi tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Hhmm, kenapa?" tanya pria itu saat sudah tersadar dari lamunannya.
"Ini kamuh, aku haus. Mampir bentar ke Minimarket ya." Ara mengulang kembali apa yang tadi dia katakan pada Abi.
Abi mengangguk dan segera menghentikan motornya saat dia melihat Minimarket terdekat.
"Kamu mau juga gak?" tanya Ara saat gadis itu sudah turun dari motornya.
"Enggak deh." Ara mengerti dan segera masuk ke dalam. Sementara Abi menunggu di luar setelah dia tadi memberikan uang untuk membeli minum kepada Ara.
Tak lama, Ara kembali dengan satu botol air mineral di tangannya. Hanya sisa setengah, sepertinya gadis itu sudah meminumnya tadi.
"Lanjut?" tanya Abi.
Ara mengangguk. Mereka melanjutkan perjalanan mereka yang tak tentu arah.
Sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam menikmati pemandangan dan udara segar.
Tak terasa, saat ini mereka telah berada di puncak. Suasana yang sejuk membuat Abi menghentikan motornya.
"Berhenti dulu ya. Aku pegel," pinta Abi.
"Iya. Aku juga mau foto-foto." Tak henti-henti Ara mengabadikan pemandangan yang ada di hadapannya sementara Abi mengeluarkan rokoknya.
"Ih udah dibilang berkali-kali kurangin rokoknya," protes Ara.
"Iya ini juga lagi usaha. Buktinya hari ini aku baru habis satu batang doang," bela Abi.
Ara hanya menghela nafas. Memang susah merubah kebiasaan orang jika bukan kemauan orang itu sendiri.
"Ra," tanya Abi.
"Hmm," jawab Ara.
"Menurut kamu, kenapa sih cowok suka gonta-ganti cewek?" Entah setan apa yang merasuki Abi hingga dia mekamuntarkan pertanyaan seperti itu.
"Kalau menurut aku sih, cowok deketin cewek cuma karena penasaran. Kalau semua rasa penasaran dan semua pertanyaan yang mereka punya udah kejawab, ya mereka tinggalin cewek itu. Habis penasaran, habis juga hubungan mereka," jawab Ara.
Dia hanya mengatakan sesuai dengan apa yang dia rasakan dan tangkap dari beberapa mantan kekasihnya selama ini.
"Kamu yakin?" Abi kembali bertanya.
"Emang kenapa sih?" Ara penasaran kenapa Abi tiba-tiba bertanya seperti itu.
"Kamu gak penasaran apa yang sebenarnya cowok pikirin pas gonta-ganti cewek?" tanya Abi sambil memandang Ara dengan lekat.
Entah mengapa, Ara merasa saat ini Abi sedang serius. Jarang sekali Ara melihat Abi yang sedang seperti ini.
"Emang pandangan cowok gimana?" Akhirnya Ara bertanya.
"Kita sebagai cowok tentu mau seorang pendamping yang sempurna. Kita cari seorang wanita yang bisa ngurus dirinya sendiri, ngurus cowoknya dan sebagainya. Jadi, kita sebagai cowok mesti hati-hati memilih wanita buat pendamping."
Abi menjelaskan apa yang dia rasakan selama ini.
"Kalau setiap cowok mau cewek yang sempurna, terus ukuran sempurna buat kalian itu sebenarnya apa?" Ara kembali bertanya.
"Relatif. Setiap orang punya ukuran sempurna masing-masing."
"Kalau kamu?"
Abi memandang Ara sat dia mendapatkan pertanyaan seperti itu.
"Buat sekarang, orang yang bisa bikin aku nyaman adalah yang sempurna buat aku," jawab Abi.
"Sekarang? Berarti bisa berubah?" tanya Ara.
"Hmm, seiring bertambahnya usia, pikiran kita tentang sesuatu juga pasti berubah. Dan itu gak menutup kemungkinan buat rubah juga ukuran sempurna di mata aku."
Tanpa Abi sadari, jawaban yang diberikannya itu cukup membuat Ara takut.
Takut kehilangan, takut gagal dan takut ditinggalkan, lagi.
Lama mereka saling diam sebelum kemudian Abi kembali bertanya.
"Ra, kamu pasti sering dengar kabar jelek tentang aku kan dari orang lain?" tanya Abi.
Ara mengangguk. Hampir setiap hari dia mendengar hal yang tak mengenakan hatinya tentang Abi.
"Menurut kamu gimana?" tanyanya.
"Tenang aja. Aku gak akan percaya cuma karena hal yang aku dengar doang. Aku gak semudah itu. Kecuali kalau suatu saat nanti aku benar-benar liat kamu lakuin itu."
Tubuh Abi menegang. Dia akui jika dia belum cinta pada Ara. Dia hanya merasa nyaman.
Tapi, membayangkan Ara akan meninggalkannya, membuat Abi cukup ketakutan. Dia tak ingin Ara pergi dari hidupnya.
"Aku pastiin kalau aku gak akan nyakitin kamu," ujar Abi.
"Kalau aku nyakitin kamu, sama aja kaya aku nyakitin Ibu aku sendiri," ujar Abi yang mendapatkan anggukan dari Ara.
"Aku harap apa yang kamu ucapin barusan bisa kamu pegang. Cowok itu yang bisa dipegang cuma omongannya," ujar Ara.
Abi membuang rokok yang tak ingin lagi dia hirup. Tangannya beralih menggenggam tangan Ara yang ada di sebelahnya.
"Maaf ya kalau sebelumnya aku pernah nyakitin kamu," ucap Abi.
Ara mengangguk. Dia sudah melupakan apa yang Abi lakukan dulu dan dia harap pria itu tak akan mengulanginya lagi.
"Udah, mau lanjut?" tanya Abi mengakhiri percakapan mereka yang cukup dalam.
"Yuk!!" Mereka melanjutkan perjalanan. Kali ini hati Abi terasa lebih nyaman dari sebelumnya.
"Sini, peluk. Aku kedinginan." Abi menarik tangan Ara untuk melingkar di perutnya. Ara tak protes. Gadis itu juga menyimpan dagunya di bahu Abi.
Bersandar pada bahu pria itu adalah yang ternyaman saat ini.
"Kalau ngantuk tidur aja," ucap Abi yang diiyakan oleh Ara.
Mana mungkin dia tertidur. Pemandangan indah di samping kiri dan kanannya sangat sayang jika dia lewatkan.
Sudah kurang lebih satu jam setengah mereka menempuh perjalanan dan tangan Abi kesemutab karena menarik gas.
"Ra. Makan siang dulu yuk," ajak Abi. Kebetulan perutnya sudah berbunyi sejak tadi meminta asupan.
"Boleh, mau makan di mana?" tanya Ara.
"Biar aku cari warung. Nanti kalau ada aku berhenti," jawab Abi.
Ara hanya mengikuti apa yang pria itu katakan karena saat ini perutnya juga sudah keroncongan.
Tak lama, mereka menemuka sebuah warung kecil yang cukup nyaman.
Abi menghentikan motornya dan mereka segera turun.
"Permisi Bu," sapa Abi saat dia memasuki warung itu.
"Eh Mas. Mau pesan apa?" tanya Ibu warung itu.
"Saya mau mie rebus aja," jawab Abi.
"Kamu?" Kali ini pria itu mengalihkan pandangannya untuk bertanya pada Ara.
"Samain aja." Abi menganggu.
"Dua ya Bu."
"Siap, Mas."
"Mau pada kemana Mas?" tanya Ibu warung sambil menyiapkan makanan yang mereka pesan.
"Gak tau Bu. Mau jalan-jalan aja," jawab Abi sambil terkekeh.
dion dion dion
berasa jdi setan gue,
dirix mau selingguh sdang bgian cwex yg slingkuh gk boleh...😏😏😏😏
msih ad cwe jaman skarang kyk gtu ea,
qw dh pngalaman kyk gtuan tinggalin aja pake acara nangis lagi, selingkuhin kalau bisa 🤣🤣🤣😉😉😉
sebab it pengalaman..
qw ngrasain kyk gtu 1x 2x dh milih yerah capek tau mgalah, mikirin,maafin 🙄🙄🙄
cuma arax aja kurang peka,tk pantas untk menangisi orng sperti dy 😏😏😏
bkin ingat masa lalu ngepaksain yg seharusx jd sahabat jdi pcar lalu di tinggalkn 😕😕😕😕
org sperti it gk perlu dtangisi,