Saling mengenal, nyaman, jatuh cinta hingga akhirnya memutuskan untuk menikah, semua itu adalah proses yang di lalui dua insan yang di pertemukan oleh semesta untuk saling melengkapi satu sama lain.
Kehidupan rumah tangga yang penuh suka duka terlewati dengan canda tawa, nyatanya tidak menjadi jaminan bahwa pondasi yang terbangun akan terus kokoh. Milda Anggraini, harus menelan pil pahit karena mendapati sang suami mempunyai wanita idaman lain.
Sakit dan sudah tidak sanggup untuk menjalani pernikahan yang telah hancur Milda meminta untuk diceraikan, tetapi di saat yang bersamaan ia dinyatakan hamil. Terjebak dalam situasi yang rumit akhirnya Milda tetap bertahan meski sulit.
Sampai pada suatu hari seorang pria bernama Dewa kembali datang di kehidupannya dan membantu ia untuk melewati masa-masa sulit. Bagaimana kisah mereka selanjutnya akankah Milda tetap bertahan menjadi istri Devan atau meminta cerai dan menerima Dewa menjadi pria pengganti Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alya aziz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.24
Milda berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Namun Dewa malah terlihat seperti orang kebingungan. Dewa meraih tab itu dengan raut wajah lemas. "Baiklah terima kasih." Kepalanya kembali terangkat melihat Milda. "Milda, sebenarnya aku ... Aku me--"
Truutt...truuutt.
Getar ponsel Dewa mengacaukan segalanya. Dalam hati Dewa menggerutu kesal, kenapa ponselnya malah berdering disaat dia tengah sangat mengumpulkan nyali.
Langsung saja dia menerima panggilan telepon itu. "Ya hallo, kenapa kamu menelpon di saat jam kerja seperti ini?"
"[ Kak, kerumah sakit sekarang. Ayah pingsan.]
Dewa segera berdiri dari posisinya. "Apa! Ya baiklah aku segera ke sana."
"Ada apa Pak?" tanya Milda saat wajah Dewa tiba-tiba terlihat panik.
"Ayahku masuk rumah sakit, aku harus segera kesana," jawabannya sambil memakai jas lalu meraih kunci mobil diatas meja.
"A-apa. Pak saya mau ikut," pintanya. Ayah Rania dan Dewa Sudah Milda anggap sebagai ayahnya sendiri karena beliau begitu baik dan perhatian kepadanya.
"Baiklah, ayo."
**
Selama perjalanan, Milda khawatir dengan cara menyetir Dewa yang terlihat tidak sabar hingga menyalip dengan kecepatan tinggi.
"Pak cobalah untuk tenang. Saya yakin ayah anda pasti akan baik-baik saja," ucap Milda.
"Bagaimana aku bisa tenang, jika ayahku sudah masuk rumah sakit itu berarti penyakit jantungnya kumat dan aku sangat takut kehilangannya," ucap Dewa seraya terus fokus melihat jalanan.
Milda tidak bisa mengatakan apapun lagi karena dia paham bagaimana posisi Dewa saat ini. dia mencoba untuk kembali diam dan membiarkan Dewa menyetir semaunya hingga detik selanjutnya tiba-tiba ada mobil yang melintas secara mendadak.
Dewa segera menekan pedal rem sekuat tenaga hingga mobilnya hampir saja menabrak mobil lain.
Mobil Dewa pun terhenti, wajahnya terlihat kaget ketika hampir saja mengalami kecelakaan.
"Kak Dewa baik-baik saja?" Milda begitu sigap menangkup wajah Dewa dengan kedua tangannya. "Jangan panik, semua akan baik-baik saja. Kak Dewa lihat aku."
Sejenak Dewa terdiam melihat ekspresi Milda yang terkhawatir kepadanya. Perlahan dia mendekat dan langsung memeluk Milda dengan erat. "Maaf, hampir saja aku membuatmu celaka. Aku benar-benar tidak bisa mengontrol pikiranku."
Tangan Milda menepuk-nepuk pelan punggung kokoh Dewa. "Aku yakin semua akan baik-baik saja. Sekarang biarkan aku yang menyetir, Kak Dewa."
Dewa mengeratkan pelukannya, rasanya begitu nyaman dan rasa paniknya perlahan hilang.
Setelah beberapa saat Milda melepaskan pelukan mereka. "Ayo bertukar posisi, aku yang akan menyetir." Dia hendak turun namun Dewa tiba-tiba menahannya.
"Tidak usah, Aku sudah lebih baik. Kita lanjutkan perjalanan, kamu harus pakai sabuk pengaman lagi." Dewa bergerak cepat, memasangkan sabuk untuk Milda.
Milda tiba-tiba merasa gugup, karena perlakuan Dewa. Perasaan apa ini, hufftw tidak boleh. Milda, ingatlah dia milik orang lain, batin Milda.
***
Sesampainya di rumah sakit Milda langsung memeluk sang sahabat. Rania tidak bisa menahan tangisnya ketika mendapatkan pelukan dari Milda.
"Sudah tidak apa-apa, kamu yang sabar ya. Kitaw harus tetap optimis Ayah kamu Akane baik-baik saja," ucap Milda mencoba menenangkan Rania.
"Bagaimana keadaan Ayah, Ran?" tanya Dewa.
"Ayah sudah sadar. Tapi masih lemas, menurut dokter spesialis jantung, secepatnya Ayah harus dioperasi untuk pemasangan ring jantung. Aku mohon Kakak coba untuk meyakinkan Ayah untuk setuju di operasi. Aku yakin jika kakak yang meminta, Ayah pasti akan setuju.
Bersambung 💕
*pelakor, dia akan menunjukkan sifat aslinya dengan rayuan menjijikan dan mengunakan tubuhnya untuk menjerat mangsa dan merusak rumah tangga orang
*pebinor ini yang bahaya, lelaki licik, dia tidak akan menunjukkan sifat asli tapi dengan liciknya dia akan datang sebagai pahlawan menjijikan dia akan menunjukkan sifat palsu sok baik, sifat buruknya dia sembunyikan, dia dengan licik mendekati istri yang sedang ada masalah rumah tangga dan sok beri saran tapi sebenarnya dia dengan licik menghasut supaya istri bercerai, sesudah bercerai baru dia melancarkan aksinya,
faktanya pebinor lebih licik dari pelakor
tapi karena author dan reader rata wanita labil jadi mereka kebaperan dengan kebaikan lelaki lain alias pebinor
Dan utk Devan ada saatnya km menyesal. Menyesali semua yg tlh trjd kemudian kecewa, kecewa berkepanjangan. Slmt menikmati kebahagiaan sesaatmu Devan yg pd akhirnya penyesalanmu tak ada gunanya lg