Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Di tengah kota, kerumunan orang telah berkumpul. Sebuah kereta kuda hitam berhenti, dan di belakangnya tergeletak sebuah peti mati. Saat Yunche tiba, kerumunan itu langsung terbelah, memberinya jalan. Tatapannya tertuju pada peti itu, di mana terukir lambang Shen—lambang keluarganya.
Dengan langkah pelan namun pasti, Yunche mendekat, diikuti oleh Gu Qingli yang memanggil namanya dengan cemas, "Yunche..." Namun, Yunche tidak menjawab. Ia membuka tutup peti itu dan seketika membeku.
Di dalamnya berbaring seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun, wajahnya pucat pasi. Yunche tidak mengenalnya, tetapi di leher pria itu melingkar sebuah liontin yang sama persis dengan miliknya.
Saat Yunche menyentuh liontin itu, tiba-tiba terdengar suara DING! Liontin miliknya menyala, memancarkan cahaya hitam. Yunche tersentak mundur. "Ini..."
Tiba-tiba, serangkaian tulisan muncul di udara:
DARAH TERAKHIR KLAN SHEN.
Yunche terpaku menatapnya, sementara Gu Qingli memandangnya dengan cemas. Tulisan kedua menyusul:
SATU TELAH KEMBALI. SATU MASIH HILANG.
Yunche mengernyitkan kening. "Apa maksudnya?"
Tulisan ketiga kemudian muncul:
TEMUKAN RATU LANGIT.
Jantung Yunche berdesir hebat. Ratu Langit... itu adalah ibunya, Bai Yuexin. Akhirnya, tulisan terakhir memperingatkan:
SEBELUM MEREKA MENEMUKANNYA.
Cahaya hitam itu pun menghilang, meninggalkan Yunche yang berdiri termenung. Gu Qingli mendekatinya pelan. "Yunche..."
Yunche menatap gadis itu. "Qingli, aku harus mencari ibuku."
Gu Qingli mengangguk tanpa ragu. "Aku ikut."
Yunche terkejut. "Qingli, ini berbahaya."
"Aku tahu."
"Mungkin aku tidak akan pernah kembali."
"Aku tahu."
"Mungkin..." Yunche ragu sejenak, "...mungkin di sana aku akan menemukan seseorang yang lebih penting daripada dirimu."
Seketika Gu Qingli terdiam, membuat Yunche langsung menyesali perkataannya. "Qingli, aku tidak bermaksud berkata begitu..."
Namun, Gu Qingli justru tersenyum kecil. "Kalau kau menemukan ibumu, aku akan ikut senang," ujarnya. "Kalau kau menemukan keluargamu, aku akan ikut senang. Kalau kau menemukan tempat untuk pulang, aku pun juga akan ikut senang."
Yunche menatapnya tak percaya.
"Tapi..." Senyum di wajah Gu Qingli perlahan memudar, menggantung di bibirnya. "...jangan lupakan aku."
Yunche terpaku.
Gu Qingli menatap lurus ke dalam matanya. "Aku tidak meminta kau untuk memilihku. Aku hanya... ingin tetap menjadi bagian dari perjalananmu."
Keheningan menyelimuti mereka berdua untuk waktu yang cukup lama. Yunche menatapnya, lalu perlahan mengulurkan tangannya. Gu Qingli memandangi tangan itu dengan bingung. "Apa?"
"Pegang," kata Yunche singkat.
"Kenapa?"
"Karena..." Yunche tersenyum kecil, "...karena aku tidak ingin kau tersesat."
Gu Qingli tertawa kecil menendengarnya. "Alasanmu buruk sekali."
"Tapi kau akan tetap memegangnya, kan?"
Gu Qingli terdiam, lalu perlahan menjatuhkan tangannya ke dalam genggaman Yunche. "Baiklah."
Jari-jari mereka saling bertaut erat. Tak ada lagi kata yang terucap, namun keduanya tahu: mulai hari ini, perjalanan mereka telah berubah. Ini bukan lagi tentang pencarian kebenaran mereka masing-masing, melainkan tentang mencari kebenaran bersama-sama.
Malam itu, di kediaman Keluarga Gu.
Yunche duduk seorang diri di pelataran halaman, menatap pendar rembulan yang menggantung tinggi di langit malam. Tak lama kemudian, Gu Qingli melangkah mendekat seraya membawa dua cangkir teh hangat.
"Ini untukmu," sodor Qingli.
Yunche menerimanya dengan senyum tipis. "Terima kasih."
Gu Qingli mengambil posisi duduk tepat di sampingnya. Untuk beberapa saat, keheningan yang tenang melingkupi mereka berdua. Sampai akhirnya, Yunche memecah hening.
"Qingli."
"Hm?"
"Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu."
"Tanyakan saja."
"Kenapa kau selalu saja takut aku akan pergi?"
Gerakan tangan Gu Qingli seketika terhenti. Yunche menatap samping wajahnya dengan lekat.
"Saat kita di Gunung Tianyuan..." lanjut Yunche lirih, "...kau terus berpesan agar aku tak meninggalkanmu."
Gu Qingli menunduk, meremas cangkir di genggamannya. "Sebab... aku pernah kehilangan seseorang yang amat berharga."
Yunche membisu, memberi ruang bagi gadis itu untuk bercerita.
"Seorang kakak laki-laki," bisik Qingli pelan.
Yunche terhenyak. "Seorang kakak?"
Gu Qingli mengangguk. "Dia pergi menghilang saat aku masih sangat kecil."
"Ke mana dia pergi?"
"Aku tidak tahu."
"Apakah... dia sudah meninggal?"
Gu Qingli menggeleng ragu. "Entahlah."
Yunche menatapnya lekat. "Siapa namanya?"
Gu Qingli terdiam cukup lama sebelum akhirnya berbisik, "Gu Zhen."
Yunche tersentak. Entah mengapa, nama itu terasa begitu akrab di telinganya. "Gu Zhen...?"
"Hm."
"Kenapa nama itu terasa tidak asing bagiku?" gumam Yunche heran.
Gu Qingli menoleh padanya. "Kau mungkin memang pernah mendengarnya."
"Dari mana?"
Gu Qingli menggeleng pelan. "Dia... dulu pernah menjadi sahabat karib ayahmu."
Yunche bungkam seketika. Sahabat ayahnya?
"Kenapa dia bisa pergi?" tanya Yunche kemudian.
"Aku tidak tahu. Ayah pun tak pernah mau membahas soal dirinya sedikit pun."
Yunche kembali melemparkan pandangannya ke arah bulan. Makin hari, makin banyak benang rahasia yang terurai—menghubungkan nama demi nama dari masa lalu ke dalam hidup mereka.
Perlahan, Yunche kembali bersuara, "Qingli."
"Hm?"
"Jika suatu hari nanti... aku harus pergi ke tempat yang sangat jauh..."
Gu Qingli menoleh lurus padanya. "Seberapa jauh?"
"Sangat jauh."
"Berapa lama kau akan pergi?"
"Aku tidak tahu."
Gu Qingli terhenyak, membisu sejenak.
Yunche menyambung pelan, "Dan jika seandainya aku tidak bisa kembali—"
"Kau pasti kembali!" potong Qingli cepat.
"Qingli..."
"Kau pasti akan kembali, Yunche!"
"Bagaimana jika tidak?"
Gu Qingli menatap lurus ke dalam sepasang mata Yunche, lalu menyunggingkan senyum kecil yang amat manis. "Jika kau tidak kunjung kembali... maka aku sendiri yang akan berjalan mencarimu."
Yunche terpaku.
"Ke mana pun kau pergi," lanjut Qingli memperketat genggamannya pada cangkir, "seberapa jauh pun jaraknya."
Yunche tak mampu menahan senyum hangatnya. "Dasar idiot."
Gu Qingli terkekeh pelan. "Kau yang idiot."
Yunche memandangi paras gadis di sampingnya. Tanpa sadar, jemari Yunche bergerak perlahan, mengusap lembut pucuk kepala Gu Qingli.
Seketika, gerakan itu membuat mereka berdua membeku. Keheningan mendadak menyergap. Yunche yang baru menyadari tindakannya refleks menarik tangannya kembali dengan canggung. "Ma-maaf..."
Gu Qingli buru-buru memalingkan wajahnya yang merona. "Tidak apa-apa."
"Hm?"
"Jangan meminta maaf..." bisik Qingli pelan seraya menunduk. "...jika kau memang ingin melakukannya."
Yunche membelalak. "Apa katamu?"
Sadar akan ucapannya, Gu Qingli seketika beranjak berdiri panik. "A-aku mau tidur!"
Gadis itu berjalan setengah berlari meninggalkan halaman. Yunche masih terpaku di posisinya, merasakan hangat yang menjalar cepat ke seluruh wajahnya hingga memerah padam.
"Qingli!" panggil Yunche.
Langkah gadis itu terhenti di dekat pintu. "Hm?"
Yunche tersenyum paling tulus. "Selamat malam."
Gu Qingli menyunggingkan senyum kecil di bibirnya tanpa berbalik. "Selamat malam, Yunche."
Gadis itu pun berlalu masuk. Yunche terus memandangi ambang pintu tempat Qingli menghilang. Perlahan, dia menyentuh dadanya yang berdegup kencang seraya berbisik pada angin malam:
"Sepertinya... aku benar-benar telah jatuh hati padanya."
Di sisi lain kediaman, Gu Qingli menyelinap masuk ke dalam kamarnya dan merapatkan pintu kayu dengan berdebar. Bersandar lelah pada daun pintu, rona merah di parasnya kian memancar hangat.
"Idiot..." bisiknya lirih seraya jemarinya perlahan menyentuh puncaknya—meniti jejak Usapan lembut telapak tangan Yunche yang masih terasa nyata.
Kedua matanya terpejam gemetar, lalu bibirnya mengulas senyum tipis yang hangat. "Dasar idiot..."
Namun, binar kebahagiaan itu pudar seketika sewaktu ketukan pelan terdengar berulang menghantam bingkai jendela.
Tok. Tok.
Gu Qingli membelalak. "Siapa di luar?"
Tak ada sahutan sedikit pun. Ketukan berikutnya kembali bergema, kini kian mendesak.
Gadis itu dengan cepat menarik gagang pedangnya, melangkah perlahan menghampiri jendela, lalu menyingkap tirai dengan satu hentakan cepat. Tak ada sosok manusia yang berdiri di sana. Hanya selembar gulungan kertas surat yang tergeletak di atas ambang jendela.
Qingli memungutnya dengan kening berkerut. Tanpa nama pengirim, ia langsung membentangkan lembaran itu. Sebuah kalimat tunggal tertulis di sana dengan tinta hitam pekat:
KAKAKMU MASIH HIDUP.
Kedua tangannya gemetar hebat. Dadanya bergemuruh hebat, guncangan hebat melanda seluruh jiwanya. Tepat di bawah kalimat tersebut, goresan tulisan kedua tertera:
DAN DIA AKAN DATANG UNTUK MENCARI SHEN YUNCHE.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Gu Qingli mendobrak pintu kamarnya dan berlari menembus kegelapan halaman. "YUNCHE!"
Di lorong pelataran, Yunche yang tengah berjalan santai menuju kamarnya mendadak berbalik kaget. "Qingli?"
Qingli berhenti tepat di hadapannya dengan napas memburu dan raut pias. Yunche yang menyadari kepanikan luar biasa itu refleks mencengkeram kedua bahu Qingli. "Ada apa? Apa yang terjadi?!"
"Jangan pergi..." bisik Qingli parau seraya menggenggam erat jemari Yunche. "Jangan pernah melangkah pergi dari kediaman ini!"
"Kenapa, Qingli? Katakan padaku!"
Dengan tangan yang gemetar, Qingli menyodorkan lembaran surat tersebut. Yunche dengan cepat melahap tiap kata yang tertera di sana. Wajahnya seketika menegang keras. "Kakakmu... Gu Zhen... dia masih hidup?"
Qingli mengangguk pelan dengan binar mata berkaca-kaca.
Tatapan Yunche berganti terkunci pada baris kalimat terakhir: Dia akan datang untuk mencari Shen Yunche.
"Kenapa dia mengincarku...?" gumam Yunche kebingungan.
"Aku... aku sungguh tidak tahu, Yunche," sahut Qingli bergetar.
Sebelum hening sempat memanjang, sebuah gema suara dingin terdengar berwibawa menembus malam dari atas benteng tembok halaman.
"Sebab..."
Yunche dan Qingli serta merta mendongak bersamaan. Sesosok pemuda berjubah hitam kelam tengah berdiri tegap di atas pembatas tembok. Rambut panjangnya terurai diterpa angin malam, menyorotkan sepasang mata tajam berhias paras tampan yang dingin.
Seluruh persendian Gu Qingli seketika kaku. "Ka-Kak..."
Pria di atas tembok menatap gadis itu lurus-lurus. "Qingli."
Air mata Gu Qingli menembus pipinya tanpa sanggup dibendung lagi. "Kakak... Kak Gu Zhen..."
Dengan gerakan seringan bulu, Gu Zhen melompat turun dari tembok tinggi, mendarat anggun tepat beberapa langkah di hadapan mereka.
CLANG!
Yunche dengan refleks kilat menarik pedangnya, memasang kuda-kuda siaga penuh.
Gu Zhen mengalihkan iris matanya yang dingin pada pemuda di hadapannya. "Shen Yunche."
"Siapa kau sebenarnya?!" tuntut Yunche dengan pedang terangkat lurus.
Gu Zhen tersenyum tipis. Dari balik pinggangnya, ia perlahan menarik sebilah pedang berukir—pedang yang memancarkan pendar lambang Kuno Keluarga Shen.
"...Aku adalah orang yang selama tujuh belas tahun belakangan ini mengarungi dunia hanya demi mencari jejak ayahmu," ujar Gu Zhen pelan. Ia mengangkat pedang itu tinggi-tinggi. "Dan malam ini... aku hadir untuk menuntaskan segala urusan takdir yang sempat terputus."
Gu Qingli tanpa ragu langsung melangkah pasang badan di antara kedua pedang yang teracung. "Kakak, hentikan!"
Langkah Gu Zhen terhenti seketika. "Qingli, pinggirkan dirimu."
"Jangan bertindak gila! Dia bukan musuhmu!" seru Qingli histeris.
"Kau sama sekali tidak mengerti apa yang dibawanya di dalam darahnya, Qingli," pangkas Gu Zhen dingin.
"Aku tahu! Aku tahu segalanya!"
"Dia mengemban darah mulia milik Shen Tianyu," tegas Gu Zhen. "Dan lebih dari itu... dia adalah pewaris tunggal dari darah Ratu Langit."
Kata-kata itu menghantam benak Yunche dan Qingli seketika.
Gu Zhen menatap Yunche rapat-raptat. "Dan tujuanku kemari... adalah untuk membawamu pulang menuju Istana Langit."
Genggaman Yunche pada hulu pedangnya kian mengencang. "Atas dasar apa aku harus ikut denganmu?"
"Sebab ibumu..." Gu Zhen menahan kalimatnya sejenak, tatapannya menyayat dingin, "...telah menantikan kehadiranmu di sana selama belasan tahun."
Yunche terpaku sepenuhnya. Gu Qingli memandang kakaknya tak percaya.
"D-Dia..." cicit Yunche parau.
"Bai Yuexin masih hidup," tegas Gu Zhen penuh ketetapan.
Untuk pertama kalinya dalam tujuh belas tahun hidupnya, Yunche mendengar kepastian tentang keberadaan sang ibu—bukan lagi lewat bisikan legenda, ramalan Kuno, atau pendar bayangan masa lalu, melainkan dari mulut sesosok pria yang berdiri nyata di hadapannya.
"Di mana...?" bisik Yunche dengan suara gemetar. "Di mana ibuku berada saat ini?"
"Di Istana Langit," sahut Gu Zhen singkat.
Yunche memutar pedangnya dan memasukkannya kembali ke dalam sarung. "Kalau begitu... antarkan aku ke sana sekarang juga."
"Yunche!" jerit Gu Qingli refleks memutar tubuh menatap pemuda itu.
"Aku harus pergi melangkah, Qingli," sahut Yunche lembut namun penuh keteguhan.
Gu Qingli menggenggam jemari Yunche sekuat tenaganya. "Kalau kau pergi... maka aku akan tetap berdiri di sisimu!"
Gu Zhen memotong tegas, "Tidak, Qingli. Kau tidak boleh ikut."
Qingli menoleh menantang tatapan kakaknya. "Kenapa aku tidak boleh ikut?!"
"Sebab perjalanan menuju Istana Langit..." Gu Zhen melirik Yunche dingin, "...akan membawanya ke sebuah pusaran takdir yang mungkin tak akan pernah memberimu jalan untuk pulang kembali."
Gu Qingli tak membalas argumen kakaknya. Dia justru mengencangkan cengkeraman tangannya pada Yunche, menyatukan jemari mereka tanpa renggang sedikit pun.
"Kalau begitu..." Qingli menatap sepasang mata Yunche dengan kehangatan mutlak, "...aku tidak akan pernah membiarkan dia berjalan sendirian."
Yunche menatap gadis itu dengan pendar takjub yang mendalam.
Gu Zhen menghela napas panjang, meredam gejolak di dadanya. "Qingli... kau sungguh tak pernah berubah."
"Memangnya kenapa kalau aku tak berubah?!" cetus Qingli membela diri.
Gu Zhen menyunggingkan senyum samar yang penuh misteri. "Kau selalu saja menjatuhkan pilihan pada orang yang salah."
Kening Qingli bertaut tajam. "Yunche bukanlah pilihan yang salah!"
Gu Zhen menatap sepasang anak manusia di hadapannya untuk waktu yang lama, lalu berbisik pelan, "Semoga saja dugaanmu itu benar..."
apa gk syok tuh thor